Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 17


__ADS_3

Sepanjang hari di kelas 8 semua kehidupan ku tentang Kaki. Tiada hari tanpa dirinya. Di kelas 8 ini aku ahlinya dalam membuat kisah tentangnya. Kamu tahu, aku dan Kaki pasti selalu bertemu di sudut sekolah tanpa satupun janji bertemu.


Oiya, setelah dua ahad sekolah, tepatnya pada hari Senin, Iren datang ke sekolah dan menjadi siswa di kelas 84. Wahh, sahabatku komplit lagiii. Gembira sekali rasanya.


Sangat indah sekali hariku di kelas 8, memadukan kasih dengan sahabat dan Kaki. Setiap hari semangat datang ke sekolah, tanpa kenal lelah. Energi selalu meningkat karena diisi oleh vitaminku yang hanya ada di sekolah ini.


Kejadian-kejadian ku dengannya selalu ku ukir jelas. Di kelas 8 ini juga ada hal yang sangat menakjubkan. Saat ulangan tengah semester tiba, aku dan Kaki pun dipertemukan lagi dalam satu ruangan. Hanya saja dia duduk dengan teman yang absennya di belakangku. Senangnya lagi di UTS kali ini aku bisa duduk dengan kakak kelas perempuan. Enggak bakal canggung lagi seperti UKK kemarin tapi ternyata aku tetap saja canggung dengan orang yang tidak ku kenal dengan baik. Sepertinya akan lebih bagus lagi kalau aku duduk dengan kakak laki-laki yang lain, biar aku bisa lihat, apakah kaki cemburu atau tidak.


Hari itu saat ulangan pertama, jantungku berdegup. Ku kira karena gugup mau ulangan, ternyata ada Kaki di ruangan ku. Aku pun duduk di bangku ku. Lalu ulangan segera dimulai. Hari itu berjalan biasa saja tapi hatiku tidak biasa menerima kehadirannya.


Hari pertama dan kedua berjalan mulus sedangkan hari ketiga, Kaki menyolek ku dari belakang, ia ingin meminjam rautanku. Kenapa dia tidak minjam ke teman duduknya atau ke teman yang lainnya? Kenapa harus minjam ke aku? spekulasi bermunculan. Aku langsung memberikan rautanku.

__ADS_1


Dia mengembalikan rautanku dengan menyolek ku lagi, benar-benar seperti tanpa mulut. Tidak bersuara padahal kan lebih bagus kalau dia manggil namaku.


Saat Kaki menyolek kembali untuk mengembalikan rautan, aku menengok tapi tidak sampai melihat ke wajahnya. Aku tidak mau kehilangan fokus karenanya. Aku langsung mengambil rautan yang sudah disodorkan di samping bahuku. Karena aku tidak melihatnya dengan benar, aku tidak sengaja malah mengambil ujung tangannya bukan rautannya.


Otomatis aku kaget dan melihat apa yang aku lakukan itu, aku langsung salah tingkah, dan buru-buru mengambil rautanku itu. Tenanglah Pril, tenang. Fokus ke ujian dulu.


Aku kembali mengerjakan ujian. Pengawas sudah menyuruh untuk mengumpulkan kertas ujian. Aku langsung mengumpulkannya. Setelah semua sudah dikumpulkan, pengawas menyusun kertas sesuai dengan absen. Di saat itu semua siswa sudah beranjak dari tempat duduknya. Sudah berisik sekali. Kakak kelas yang duduk denganku sudah pindah ke teman-temannya. Aku masih menetap di tempat dudukku.


Sampai bel tiba, ia baru beranjak dari tempat duduk dan bergabung dengan temannya. Syukurlah. Teman-temanku, Iren dan Zena pun langsung menghampiriku. Aku dan teman-temanku membawa bekal, kami pun makan bersama setelah itu langsung kembali mengingat materi yang nantinya akan diuji.


Setiap saat bangku sebelah ku kosong, kakak itu selalu saja gerak cepat untuk duduk di bangku kosong itu. Sebenarnya sih aku suka Kaki duduk di sampingku, tapi aku juga tidak nyaman jika ia berada di sampingku. Begitulah aku.

__ADS_1


Dalam hari terakhir ulangan, Kakak kelas yang duduk di sampingku orangnya sangat jail. Super jail. Bukannya ngerjain soal, malah main stabilo sambil coret-coret meja. Aku yang sedari tadi lelah berpikir, akhirnya melihati tingkah lakunya. Tanganku tiba-tiba ditarik oleh kakak kelas samping ku, aku bingung. Ini kakak kelas kenapa lagi, nama kakak kelas itu Aisyah. Memang iya, dia terkenal dengan kejailannya di kelas itu. Setelah tanganku ditarik, aku ingin berontak tapi aku takut, soalnya dia kakak kelas. Sekali dia ngomong bakal menggelegar satu kelas. Aku enggak mau hal itu sampai terjadi, akhirnya aku pasrah aja.


Kakak Aisyah menarik tiga jari ku, jari telunjuk, tengah, dan manis, lalu ketiga tanganku diarahkan ke tempat ia menyoret meja dengan stabilonya. Benar saja, seketika tanganku kotor semua dengan stabilo. Kakak itu mencetak sidik jari ku di tumpukan kertasnya. Memang kurang kerjaan sekali. Aku pun memasang mimik kesal di wajahku. Cemberut tak ada senyum-senyumnya dan tak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya.


Setelah kejadian itu, kira-kira apa yang terjadi?


Dengan terkejutnya aku, ketika sudah istirahat, Kaki menghampiriku, lalu ia bilang "De, de, senyum dong jangan cemberut terus." Jiwaku serasa dicabut dan langsung terbang tinggi, setinggi bintang di angkasa. Mukaku merah melebihi merahnya darah. Tempo detakan jantungku lebih cepat dari kecepatan biasanya saat ku bertemu dia. Sayangnya aku masih kaku dihadapannya, aku diam tak menunjukan senyumku dan masih tetap cemberut. Kak Diki pun duduk di sampingku lagi. Diam membisu.


Aku bingung banget dengan kakak itu, apa dia seperti itu dengan cewek yang lainnya? atau hanya denganku saja? Aku takut GR sendirian. Aku takut hanya aku saja yang mempunyai perasaan ini. Aku juga takut kalau ternyata dia bukan jodohku. Oh La, masih kecil sudah ngomong jodoh-jodoh saja.


Kakak itu seperti mendekat, selalu mendekat kepadaku, apakah boleh kalau aku mempunyai pikiran semacam ini? Pikiran tentangnya, pikiran bisa hidup bersamanya, berpikir agar bisa menjadi vitamin hidupnya sama sepertiku yang menjadikan dia sebagai vitamin hidupku. Aku suka tapi aku gengsi. Aku suka tapi aku malu, aku terlalu kaku kak, aku memang seperti ini orangnya, andai saja jika kamu memberikan kelenturan di hidupku, atau mungkin memberikan kehangatan untuk mencairkan kebekuan ku terhadap kehidupan ku yang sangat dingin dengan orang lain. Ajarkan aku bagaimana caranya agar bisa akrab dengan mudah kepada kamu dan orang lain. Aku selalu saja kikuk di depan kamu dan orang lain. Bahkan aku bisa saja berdiam diri menjaga jarak dengan orang-orang di kelas ku. Aku tidak terbiasa akan hal itu. Aku tidak seperti yang lainnya, yang bisa bebas mengungkapkan ekspresi, bahkan mengungkapkan pendapat saja aku tidak bisa ka. Hidupku seperti ini, sedari kecil aku tidak pernah bebas mengungkapkan pendapat ku, bagaimana bisa jika aku diberi kesempatan untuk memilih yang pada akhirnya pilihanku tidak akan didengarkan, bahkan jarang sekali aku memiliki kesempatan itu. Mungkin kamu adalah pilihanku yang pertama, pilihan hatiku yang sudah lama ku nanti. Aku sangat berterima kasih kepadamu, karena kamu, aku bisa merasakan debaran, merasakan kesenangan, gelisah, galau, rindu, dan masih banyak lagi yang lainnya. Terima kasih ka.

__ADS_1


Ulangan tengah semester ku di hidupkan dengan warnamu.


__ADS_2