Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 32


__ADS_3

Sudah terbiasa hidup sendiri, jadi aku sudah kebal dengan kesepian. Aku menikmati kehidupanku walaupun tanpa kisah cinta yang berakhir indah. Aku harus tetap menatap ke depan, aku tidak ingin cinta membuat hidupku berantakan, aku tidak ingin berharap dengan siapapun. Aku hanya bisa menunggu seseorang yang siap menerimaku.


Katanya, hidup tanpa cinta itu tidak menarik. Aku rasa tidak juga. Justru hidup tanpa cinta terbebas dari penjara. Kamu harus izin dulu lah mau kemana, kamu juga harus izin dulu mau melakukan apa, tidak boleh ini, tidak boleh itu, apalagi saat doi cemburu, banyak ngatur, ngambek, alaaahhhh ribet banget pokoknya. Belum jadi siapa-siapa kok bisa seperti itu. Sungguh aku bingung dengan perilaku itu.


Aku akan berjalan dengan ringan kalau kedua orang tua ku selalu menyertaiku dengan doa-doanya yang tulus, aku juga akan semangat berjalan kalau para sahabatku menyemangati ku. Kehadiran mereka sudah cukup untuk ku dalam menjalani hidup.


Hidup itu dibawa santai aja, toh semua emosi selalu berganti, semua rezeki selalu bergulir, semua rintangan selalu datang, dan semua yang sedang dihadapi akan menjadi masa lalu yang mungkin akan penting untukmu.


Saat ini, aku sedang disibukkan oleh tugas-tugas kuliah yang sangat banyak. Oiya aku lupa, aku tidak boleh mengeluh. Terima saja, toh itu memang tugasnya seorang mahasiswa, mumpung masih ada tugas yang bisa kamu dapatkan. Kalau sudah lulus, pasti kamu akan rindu dengan tugas-tugas menumpuk itu.


Aku bekerja keras agar bisa lulus tepat waktu. Sekarang ini, aku sudah semester 8, waktu cepat sekali berjalan. Sepertinya dulu aku baru menjadi maba sekarang aku sudah harus mencari judul untuk skripsiku nanti. Berat sekali dalam mencari judul skripsi, kamu harus mempertimbangkan banyak hal, mulai dari problem yang akan dibahas sampai memikirkan ketersediaan bahan materi yang menunjang skripsi kamu. Pokoknya harus teliti.


""Hmmm... Sepertinya ini judul yang tepat."


"Eh tapi kayaknya rada susah deh nyari sumbernya."


"Kayaknya kalau yang ini tepat nih."


"Tapi.... kayak ada yang kurang."

__ADS_1


Sore itu, aku sedang memikirkan judul skripsi untuk ku ajukan. Dari sore itu sampai hari ini, sudah tiga hari aku memikirkan judul yang tepat, tapi tak kunjung datang. Sampai akhirnya saat aku sedang sholat, muncul ide brilian, judul yang sangat tepat bagiku.


Akhirnya aku mengajukan judul itu dan langsung diterima. Beginilah proses perjuangan semester akhir, adanya proses itu membuat hidup menjadi lebih kuat dan pastinya akan menghargai hasil dari jerih payah.


Aku yang sudah tidak ada lagi mata kuliah di kelas, kini berganti menjadi mata kuliah di toko buku kelontong. Mencari-cari referensi skripsiku, dari toko satu ke toko yang lain sambil berbicara serta menunjukkan gambar buku yang ku cari, tapi buku itu sedang kosong.


Malang sekali, aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini karena sudah terlatih dari semester 3, lelah, berjalan ke sana ke mari mengunjungi tiap toko sambil bertanya-tanya tapi tak ada yang menjual buku itu. Hari sudah petang, aku harus mengantri untuk naik busway, sampai terminal terakhir, aku harus jalan kaki agar bisa sampai rumah. Pengorbanan sekali.


Mahasiswa semester akhir itu, sudah tidak memikirkan fashion lagi, yang dahulunya cantik, ganteng, rapi, muka kinclong semua, terawat, wangi, bibir dan pipi seperti delima, sekarang kenyataan itu terbalikannya. Muka terlihat letih, jarang tidur, mata hitam, kusut, baju kusam, stres, bahkan tidak ada senyuman di wajahnya. Mungkin para mahasiswa semester akhir ingin menyimpan senyuman indah saat wisudaan nanti. Menyimpan parfum yang berkelas, baju yang menawan, wajah yang gemilang yang nantinya akan ia pamerkan saat penantian akhir nanti. Berharap hari itu akan segera datang.


Mengumpulkan sumber buku sebanyak-banyaknya, mengambil informasi yang sesuai dengan judul skripsi, mengetik informasi itu sampai akhirnya aku tidak bisa tidur malam lagi. Setiap hari aku mengerjakan hal itu.


Aku terus meyakinkan diriku bahwa esok akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Terus berdoa dan percaya bahwa aku pasti akan bisa.


Esoknya aku gugup setengah mati, sidang berjalan lancar walaupun aku menjawab dengan gugup. Alhamdulillah semua sudah beres.


"Wahh, selamat Pril."


"Ihhh, kalian kok ada di sini? kenapa tidak bilang-bilang?"

__ADS_1


"Biar surprise."


"Makasih ya, Iren, Naren, dan Zena."


Selain ada mereka, Puma dan Lia pun datang, terima kasih, terima kasih sekali, saat aku selesai gugup, kalian baru datang.


"Sebenarnya aku rada ngambek dengan mereka semua, aku kan butuh penyemangatnya tadi, sebelum aku masuk ruangan, kalian beri semangat saat cemasku sudah selesai."


"Maaf, Pril. Kami di sini tau kalau kamu bisa melewati semuanya dengan sendiri, makanya kami ingin membiarkan dirimu menghadapi semuanya tanpa kita. Aku tau kamu kuat, makanya kami sengaja melakukan ini. Lihat saja buktinya, kamu sudah lega kan, sudah selesai sidang dengan kepercayaan dan semangat dari dirimu sendiri, walaupun tadi kami tidak menyemangatimu, tapi kami selalu berdoa untukmu Pril, agar kamu dipermudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan."


"Uuhhh, so sweet."


"Ayo kita pulang, bantuin bawa kertas-kertas yakk, berat banget nih."


"Tenang ae, sini sini." (sambil mengambil kertas-kertas yang sudah dimasukan ke dalam tas).


Huhhh, beban hidup berkurang, aku seperti hidup kembali, udara malam menyelimutiku seketika seperti menjabat tanganku dan berkata selamat untukmu. Begitupun bulan yang menyorotkan cahayanya ke arahku hanya untuk memberikan ucapan selamat padaku. Tubuhku seperti ringan, dan semua pemandangan yang ku lihat saat menaiki motor sangat indah sekali.


Menunggu hari wisuda tiba, aku telah menyiapkan semuanya, aku tidak sabar menyambut hari itu, hari yang memancarkan kebahagiaan diseluruh wajah yang hadir di acara itu. Kehadiran yang dinanti-nantikan oleh setiap mahasiswa. Hari itu akan sebentar lagi ku jalani. Aku selalu siap untuk hadir di acara itu. Aku akan mengenakan toga yang hanya sesekali kupakai, lalu aku menggunakan topi yang nantinya akan dipindahkan tali topinya oleh dekan. Lalu aku memancarkan senyum semeringah yang sudah ku tahan-tahan sejak menyusun skripsi. Aku sangat bersyukur karena sebentar lagi namaku akan mendapatkan gelar. Gelar yang kuperjuangankan selama ini, gelar yang dapat mengubah hidupku menjadi orang yang nantinya akan dijadikan sebagai contoh. Semoga dengan gelar ini, aku bisa bekerja sesuai dengan gelar yang kudapat, dan semoga gelar ini dapat ku pertanggungjawabkan.

__ADS_1


__ADS_2