Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 16


__ADS_3

Aku buru-buru keluar kelas agar tidak mengantri parah untuk mengambil air wudhu. Selesainya aku dan temanku berwudhu. Aku dan temanku mengambil mukenah di penitipan mukenah. Saat aku ingin mengambil mukenah. Kaki bersama bangsanya berjalan ke arah musholah.


Muka yang cerah itu sudah bisa ku lihat dari kejauhan. Mataku tak sanggup berpaling darinya. Aku terus saja melihatinya sampai-sampai Kaki langsung menengok ke arahku. Aku kepergok lagi, aku langsung salting. Dia melihat ke arahku sambil tersenyum sampai aku tak berdaya. Senjata andalannya itu adalah senyuman mautnya.


Setiap orang yang melihat senyuman maut sang Kaki, pasti orang itu langsung klepek-klepek, seperti aku, makanya aku yakin banget 100% pasti klepek-klepek, andai kalian bisa melihatnya. Pasti kalian juga dibuat klepek-klepek. Aku yakin itu.


Bagaimana si bentuk rupa kedua orang tuanya, sampai bisa mendapatkan anak seperti itu. Kalau bisa bertemu, aku ingin memberikan CV ku agar diterima menjadi menantunya kelak.


Aku dan teman-temanku langsung ke lantai atas Mushola, karena teruntuk perempuan, sholatnya di atas. Selesainya sholat Dhuha, aku sengaja berlama-lama di Mushola, turun paling belakang agar tidak dorong-dorongan ketika turun tangganya.


Saat semua siswa sudah turun, aku dan teman-teman ku baru enyah dari mushola. Ketika aku sampai di tangga terakhir, Kaki muncul di depanku. Ia bilang padaku, yang rajin ya dek sholatnya sambil tersenyum lebar. Aku langsung terbang ke angkasa tanpa arah sambil teriak sekencang-kencangnya. Hatiku hanyut melihat penampakan sosok itu. Arghhh kenapa si kak, kenapa harus begitu. Bisa gila aku dibuatnya. Manis sekali suaranya. Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman.


Saat aku menyadari sesuatu, ternyata teman-temanku tidak ada di belakangku. Mereka turun tangga belakangan dengan pelan-pelan berbeda denganku yang sangat antusias menuruni tangga. Saat mereka melihat Kaki menuju ke arahku. Mereka menghentikan langkahnya untuk menuruni tangga lalu memutuskan untuk naik lagi ke atas. Wahh hebat sekali kalian, kompak yaa membiarkan ku terjatuh oleh Kaki.


Kejadian itu membuat teman-temanku semangat menyudutiku. Memang mereka seperti itu. Tidak heran lagi.

__ADS_1


Sesampainya di kelas, aku langsung memakai sepatu dan langsung cuss ke warungku. Makanan pokok ku dan temanku yaitu nasi goreng dua ribuan. Murah, enak, sehat, dan mengenyangkan.


Di samping warungku itu ada jalanan yang menghubungkan ke SMP, jalanan itu ditutup oleh pintu yang berjaring. Jadinya aku harus mutar lewat depan baru bisa sampai ke SMP. Aku memang sering banget melihat jalanan itu. Saat aku melihat ke arah jalanan itu, Kaki muncul ku kira itu hanya ilusiku tapi ternyata real dia. Lagi-lagi dia yang muncul. Muka itu lagi. Nama itu lagi. Pokoknya dia lagi, dia lagi.


Dia telah selesai jajan di warung yang berada di SMP. Warung itu memang sejajar dengan warung ku, cuma dibatasi oleh jarak saja. Dia melihat ke arahku, dan aku juga melihat ke arahnya. Aku dan Kaki sama-sama diam membatu saling memandang. Terus terhanyut sampai ku sadar. Aku tersenyum kepadanya dan buru-buru meninggalkannya. Enggak kuat dengan debaran jantungku.


Kamu tau tidak, debaran itu sekuat baja. Makanya aku memilih meninggalkannya daripada jantungku sakit karena detakan yang sangat kuat sekali. Coba bilang padaku, bagaimana si debaran kalian ketika ketemu orang yang disuka?


Aku kembali ke kelas, berusaha menenangkan diriku agar bisa kembali normal sedia kala. Memang rese sekali kakak itu. Dia merasa seperti aku juga enggak si? Sungguh penasaran sekali.


Hari itu aku lewati dengan perasaan campur aduk, di dalam pembelajaran pun aku masih memikirkannya. Jantung ku hanya tenang sedikit. Sedikit saja. Aku bahagia namun cemas. Bahagia karena ketemu dia dan cemas karena memikirkan kesehatan jantungku.


Aku menceritakan semua kejadian tadi kepada temanku. Mungkinkah aku berjodoh dengannya? Karena di setiap tempat aku selalu bertemu dengannya. Atau mungkin karena masih satu lingkungan yang membuatku terus bertemu padanya? Justru sebelum aku kenal, aku belum pernah melihat dirinya. Benar-benar muka yang pertama kali aku lihat di sekolah ini.


Temanku sepakat pada pikiran ku, bahwa aku berjodoh dengannya. Kamu pikir aja, bagaimana bisa di sekolah yang luas ini, di sekolah yang memiliki banyak warung di berbagai sudut ini, masa sih bisa bertemu secara kebetulan. Memang sudah jodohnya kali ya. Bukannya banyak orang di luar sana yang berjodoh dengan kakak kelas di sekolahannya? Begitulah argumen temanku.

__ADS_1


Aku hanya bisa berharap seperti itu. Aku ingin sekali berjodoh dengannya. Kalau berjodoh dengannya, aku tidak perlu mencari informasinya lagi, karena informasinya sudah ku pegang erat-erat.


Kaki itu seorang yang ku kagumi karena perkataannya yang lembut, perhatian, pengertian, dan tidak pernah ku lihat ia dekat dengan perempuan lain. Dia selalu bersedekah lewat senyumannya. Tutur katanya yang baik, tidak kasar, hmm pokoknya dia itu seorang lelaki yang berbeda dengan lelaki lainnya. Dia itu orang yang pertama yang membuatku jatuh cinta. Cinta pertamaku. Kakilah orangnya.


Dia yang selalu bisa memunculkan semangat hidupku, menambahkan kebahagiaanku, membuatku bisa terbang di langit yang dihiasi dengan bunga-bunga indah bermekaran. Membuatku tersenyum-senyum seperti sekarang ini, membuatku hanyut dalam aliran yang terus menghanyutkanku sampai ke muara cinta. Dia juga bisa memerahkan pipiku secara alami tanpa make-up hanya dengan melihatnya saja, bisa membuat ku mengenal apa itu cinta. Dia itu cukup indah buatku dan sayang untuk dilewatkan. Dia itu teristimewa buatku.


Aku masih terus memikirkannya, sampai Naren mengerutkan dahinya saat melihatku. Ia sudah hapal banget dengan kebiasaan baru temannya ini. Naren terus saja melihatku dengan tatapan aneh. Seolah-olah aku makhluk teraneh di dunia ini. Mungkin aku bisa dibilang si aneh, bukan dia doang yang bilang padaku dengan panggilan aneh, aku juga akan bilang aneh ke diriku sendiri.


***


Suasana di dalam kelas sangat hening sekali, pelajaran ke dua adalah matematik. Semua siswa sangat sunyi karena tahu akan hoaks yang menyebar di sekolah ini tentang guru matematika itu. Banyak kakak kelas yang bilang bahwa guru itu bisa membaca pikiran. Wahh bisa gawat aku.


Saat guru matematika itu masuk, aku langsung mengumpati pikiran-pikiran tentang dirinya (Kaki). Aku berusaha semaksimal mungkin agar bisa menutup rapat pikiranku.


"Aprilia, coba jawab soal yang ibu berikan ini."

__ADS_1


Nampaknya, aku ditanya oleh guru itu, pasti guru itu tau kalau pikiranku sedang kacau karena selalu tidak fokus saat materi sedang menjelaskan materi. Aku pun langsung mengerjakan perintah guru itu."


Sampai ketika bel pulang berbunyi, aku dan temanku menuruni anak tangga, saat aku turun dari tangga. Ada hal aneh yang terjadi pada pandangan ku. Aku melihat semua orang berwajah kaki. Kenapa wajah orang lain mukanya sama persis dengan kaki? Apa aku ilusi? Apa ini penyakit baru yang hinggap ditubuhku atau dipikiranku? Aku bingung sekali kenapa ada kejadian yang seperti ini. Sungguh aneh hidupku ini.


__ADS_2