Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 22


__ADS_3

Emang dasarnya kak Aisyah orangnya jail, dia ingin menjaili ku lagi, aku orangnya pasrah banget, enggak mau melawanlah istilahnya, karena kalau melawan pasti urusannya ribet, cuma dijaili hal seperti itu saja, biarkan sajalah. Kalau jail yang berlebihan mungkin aku akan berontak.


Saat kak Aisyah mau mengambil tanganku lagi. Kaki tiba-tiba lewat dan menjitak kepala kak Aisyah, Kaki izin kepada guru pengawas, setelah diizinkan, ia langsung keluar kelas. Mungkin ia kebelet buang air kecil. Jitakan Kaki bisa menghentikan perbuatan jailnya kak Aisyah. Baguslah. Akhirnya aku terbebas dari kejailan kak Aisyah.


Kaki cepat sekali kembali ke kelas, matanya dingin menusuk kak Aisyah, kak Aisyah pun terdiam. Tak berkutik sama sekali.


"Makasih loh ka, tumben baik banget, jadi sayang." ucapku di dalam hati kepada kak Diki


Guru pengawas menyuruh untuk mengumpulkan lembar soal dan jawaban ke depan kelas. Aku langsung buru-buru bertanya kepada Ahmad apakah dia sudah selesai atau belum. Memang aku dan Ahmad itu selalu saling memastikan, apakah semua soal sudah dijawab apa belum, kalau belum, aku dan dia pasti memberi tahu jawabannya. Pasti seperti itu. Itu yang namanya setia kawan. Sayangnya jarak aku dengan Zena dan Iren berjauhan jadinya enggak bisa saling membantu.


Karena Ahmad sudah selesai, makanya aku langsung buru-buru mengumpulkan ke depan kelas. Zena dan Iren pun ikut-ikutan mengumpulkan soal dan jawabannya. Kalau tidak ada yang kepala-in mengumpulkan soal dan jawaban pasti tidak akan dikumpulkan soal dan jawabannya itu.


Pengawas pun berjalan-jalan memutari siswa yang belum mengumpulkan soal dan ujian. Kalau tidak seperti itu, pasti teman-teman yang sudah selesai memberikan jawabannya. Makanya, pengawas sudah lebih dahulu memutari siswa yang belum selesai. Kemudian, kelas menjadi ramai karena sudah banyak yang selesai. Pengawas pun tidak langsung keluar dari ruangan, beliau harus menyusun soal dan jawaban.

__ADS_1


Saat-saat seperti ini, pasti kak Aisyah pindah duduk ke tempat duduk teman-temannya dan Kaki pun ikut-ikutan pindah ke samping tempat duduk ku. Hadeuhh, kenapa si itu kakak kelas. Kayaknya suka banget duduk di sampingku. Kalau gitu aku juga suka banget kok sama kakak. Hahaha. ucapku mengomentari dalam hati.


Kakak itu duduk di sampingku dengan adatnya itu. Pasti kalian sudah hapal banget adatnya seperti apa. Adatnya itu, diam tanpa sepatah katapun yang terucap. Aku juga sama sih seperti kakak itu, diam tanpa suara. Hening. Mungkin detakan jantungku bisa terdengar saking senyapnya diantara kami.


Kaki duduk dengan santai di sampingku. Kok bisa ya dia duduk santai seperti itu? sedangkan aku, lagi tersengal-sengal menahan jantungku yang tak karuan ini. Aduhhh kakak, gantian dong ngerasain jadi aku, biar kamu tahu gimana perasaanku ketika bertemu denganmu.


Ketika di dekatmu rasanya aku ingin mati, karena tak kuat menahan kebahagiaanku, di saat berjauhan denganmu, rasanya aku juga ingin mati, karena tak bisa menahan rindu bertemu. Serba salah kek Raisa. Dunia percintaan itu memang rumit yaaa.


Aku heran dengan temanku, ketika Kaki duduk di sampingku, pasti mereka tidak duduk di dekatku, tapi saat Kaki sudah tidak lagi duduk di sampingku, teman-temanku langsung menghampiriku, apakah mereka sengaja tidak mendekatiku saat ada Kaki?


Kriiing...kriinggg


Bel sudah berbunyi tanda istirahat, anehnya Kaki tak kunjung keluar dari tempat duduknya, kalau dia tetap berada di sampingku, aku tidak bisa bangun ataupun bergerak karena saking nervous-nya. Bisa-bisa seharian disitu kalau Kaki tak kunjung berdiri. Teman-temannya pun sengaja menarik paksa agar Kaki beranjak dari kursinya. Saat temannya menarik paksa, muka mereka lucu-lucu sekali. Lucu-lucu banget.

__ADS_1


Melihat muka teman-temannya yang berusaha untuk mengeluarkan Kaki dari bangkunya, aku senyam-senyum sendiri. Saat aku senyum, Kaki menengok ke arahku, dan aku juga menengok ke arahnya, dia pun dengan sendirinya berdiri dan berjalan keluar kelas. Temannya bingung dan mengejar dia keluar kelas. Sangat lucu sekali tingkah mereka.


Sebenarnya aku heran kenapa Kaki beranjak keluar saat ia menengok ke arahku. Yaudahlah, yang penting ia tidak duduk di sampingku lagi. Jantung, tolong berdetak normal kembali, aku takut kamu jadi keikut sakit, cukup pikiranku aja yang sakit karena Kaki, kamu jangan ya tung.


Temanku menghampiriku, dan bertanya-tanya mengenai pelajaran yang nantinya akan diuji. Aku, Iren, dan Zena pun belajar bareng. Kalau ada mereka, Kaki kan enggak bisa duduk di tempat kak Aisyah lagii. Untung mereka langsung duduk di situ.


Beberapa menit kemudian, Kaki dan kawannya pun kembali ke kelas. Mereka juga membuka buku pelajaran yang nantinya akan diuji. Mereka sama seperti aku, Iren, dan Zena, sama-sama belajar bareng. Udah sesuai banget sama aku. Memang lelaki idaman banget. Baik iya, kalem iya, rajin iya, pokoknya cocok banget.


Sedang asik-asiknya belajar, bel masuk berbunyi. Siswa-siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing untuk menyiapkan dirinya. Saat aku nitip tas ke Ahmad biar sekalian taruh di depan, Ahmad malah meledekku. Aku cubit saja tangannya biar meringis kesakitan tapi Ahmad masih saja meledekku. Ahmad pun hanya meledek saja, tas aku belum juga diambil olehnya. Saat aku menyodorkan tasku, bukannya Ahmad yang ambil, justru Kaki yang menenteng tas ku. Belum sempat berterima kasih dengannya, dia malah jalan saja ke depan.


Guru pengawas datang, menyuruh siswanya untuk memimpin doa, setelah itu beliau membagikan lembar soal dan jawaban. Hari itu sedang ujian mata pelajaran bahasa Arab, berhubung guru bahasa Arab yang tidak perfect dalam menjelaskan materinya membuat para siswanya tidak paham, jadinya aku bingung sekali menjawab soal-soalnya. Saat itu di barisan belakang berisik sekali, karena correction tape-nya jatuh ke lantai, semua mata otomatis memandang ke belakang karena saking nyaringnya bunyi benda jatuh itu. Saat menengok ke belakang, aku dan Kaki saling berpandangan, arghhhhh lagi-lagi disituasi kikuk seperti ini, aku ingin sekali bilang terima kasih, bukannya bilang terima kasih, aku malah nanya kosa kata bahasa Arab ke dia, karena saking gugupnya. Arghhh, Aprilia kenapa siii, kikuk banget dihadapan diaa. Malu-maluin kan nanya ke diaa.


Disitu aku beneran gugup saat tiba-tiba saja aku menanyakan kosa kata ke dia, aku beneran malu banget. Setidaknya kenapa aku tidak mengucapkan terima kasih, kenapa harus seenggakjelas itu nanyanya. Masa tiba-tiba nanya kosa kata bahasa Arab sih. Mau taruh dimana muka kamu, Aprilia!!!!! Kalau nervous pasti berantakan kayak gini.

__ADS_1


"Aaaaahhhhh...Malu banget di depan gebetan malah enggak jelas kayak gitu. Aprilia, Aprilia... hobinya memalukan diri sendiri."


__ADS_2