
Matahari sudah muncul dan aku sedang bersiap-siap ke sekolah. Hari ini aku sudah menyuruh temanku untuk berangkat lebih pagi dengan alasan hari terakhir masuk ke sekolah. Para temanku pun menyetujuinya. Alhasil sekarang mereka sudah tiba di basecamp menungguku bersiap.
Aku segera menyusul mereka dan langsung cuss berangkat ke sekolah. Berangkat pagi ke sekolah itu enak ya, udara masih bersih. Masih dingin sekali udaranya jadi tambah segar menjalani hari apalagi kalau hari ini merupakan hari terakhir aku melihat kak Diki.
Semangat 45 menyengat ke tubuhku. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya, sehari tak bertemu saja sudah rindu apalagi nanti berahad-ahad (berminggu-minggu) tidak bertemu dengannya. Pasti aku jadi kepingan debu yang dilanda rindu.
Sesampainya di sekolah, hanya ada aku, para temanku, penjaga sekolah, dan penjaga warung yang sedang merapikan dagangannya. Aku langsung mencari kelas yang sudah dibuka setidaknya tempat sementara untuk duduk menunggu para warga sekolah lainnya datang sampai dimulainya kegiatan remedial di kelas itu.
Aku dan para temanku sepakat pulang sampai jam 5 sore. Menikmati hari terakhir sekolah dan sekalian untuk merencanakan program liburan yang akan datang. Maksudnya jadwal main. Mungkin saat diliburan nanti hanya sesekali bisa main ataupun kumpul bareng karena Iren dan Zena sedang ada urusan penting yang harus diurus.
Aku dan para temanku sepakat hari Ahad kita main di basecamp. Oiya aku lupa beritahu, karena rumahku dekat sekali dengan sekolahan makanya setiap liburan aku bisa bermain di lapangan sekolah itu, sangat luas lapangannya cocok sekali untuk dijadikan arena bermain nanti.
Keadaan sekolah sudah mulai ramai, hanya menunggu hadirnya pengumuman remedial yang akan memakai ruangan ini, jika sudah seperti itu pertanda aku dan para temanku harus enyah dari kelas ini. Harus mencari tempat nyaman sebagai pengganti tempat ini.
"Bu, bu, bu, saya remed tidak bu?" begitulah keadaan di luar kelas. Ramai dan berisik sekali sampai-sampai ibu guru kewalahan diserbu siswanya yang sangat haus akan informasi. Aku saja yang melihat dari dalam kelas sudah pusing apalagi bu guru.
Setelah keadaan mereda, aku dan temanku keluar dari kelas itu, karena sudah ada pengumuman remedial, kami pun tahu diri makanya kami langsung keluar kelas mencari tempat naungan yang lain. Sebelum mencari tempat naungan, aku dan temanku melihat papan informasi yang sudah terpampang begitu saja dan tidak ada lagi siswa yang peduli akan informasi itu. Seketika semua kaget karena ada nama Zena di papan informasi itu, berarti Zena harus mengikuti remedial.
"Sial banget si pake kena remed segala, aku kurang belajar ini. Sedihhh." ucap Zena
"Semangat, Zen. Jangan sedih, kami selalu ada di sini kok, enggak bakal ninggalin kamu. Cepetan masuk kelas, keburu ditutup tuh kelasnya." ucapku
__ADS_1
Dengan berat hati Zena masuk ke kelas itu. Aku dan temanku yang lainnya menunggu Zena di depan kelas. Sesekali aku dan temanku melihat Zena sedang mengerjakan remedialnya. Tampak serius sekali.
Saat menunggu Zena, aku juga sering memperhatikan lingkungan untuk mencari mata yang ku rindukan itu. Aku lihat dari barat ke selatan tapi tak ada satupun tanda hadirnya sepasang mata itu. Mungkin dia sedang di kelasnya.
Kemudian aku menjelajahi tiap sudut sekolah bersama Iren dengan alasan menghilangkan rasa jenuh karena duduk terus, sedangkan Naren, ia masih duduk di depan kelas setia menunggu Zena. Aku dan Iren mulai berjelajah, mataku disetting tajam setajam mata kucing. Tidak berkedip sedetik pun. Terus-menerus mencari buronan hati. Sepertinya tak kunjung bertemu. Kemana si kakak Diki itu.
Setelah sampai ke lantai tiga, Iren kebelet buang air kecil, ia pun meminta untuk ke toilet lantai dua. Pas sekali dekat kelas kakak Diki. Tanpa menjawab apapun, aku langsung ngibrit ke lantai dua. Semoga ia ada di sana.
Setelah sampai di depan kelasnya, aku pun mencuri-curi pandang ke kelasnya, tapi aku juga tidak kunjung melihat dia. Sampai ke depan toilet, aku menunggu Iren buang air kecil. Pas aku menunggu, ada kakak kelas keluar dari kelasnya kak Diki. Aku mendengar omongan mereka, sepertinya mereka juga ingin balik ke rumah karena hari ini sudah tidak ada jadwal remedial untuk kelasnya. Pantes saja aku tak melihat batang hidung kak Diki yang tidak belang itu.
Kalian pasti pernah merasakan hal seperti itu, dimana kalian sudah bela-belain untuk berangkat pagi dan sudah bela-belain untuk naik turun tangga demi melihat orang yang disuka. Hal seperti ini belum seberapa, harus banyak perjuangan lagi agar bisa mendapatkannya.
Setelah Iren selesai, aku dan dia langsung menghampiri Naren, Naren sendirian di depan kelas. Jalan secepat mungkin biar langsung sampai tujuan. Sesampainya di tempat, Zena belum juga selesai mengerjakan remedialnya, cukup lama juga ya menunggu. Kasihan Zena, harus mikir lagi. Semangat, Zena.
Aku, Iren, dan Naren bernyanyi-nyanyi kecil di depan kelas, saking gabutnya.
"Heiiiii, ayo balik. Kasihan amat si nunggu di depan kelas, berkumpul seperti itu. Maaf yaa, jadi nungguin akuuu." ucap Zena
"Ehh, udah kelar tohh. Wihh, gimana remedialnya? Gampang enggak?" ucap Naren
"Gampil dong, sudah di atasi semuanya, tenang saja." ucap Zena
__ADS_1
"Ini baru Zena." ucap Iren
Aku dan teman-temanku langsung ke basecamp untuk beristirahat. Sekiranya hilang sedikit rasa lelah, kami langsung memikirkan kegiatan liburan. Kegiatan liburan pertama kami, harus terkenang pokoknya. Jangan lupa dokumentasi untuk dijadikan album SSTB. Pasti kalau kami sudah jadi orang nanti, dan waktu bersama seperti ini sudah habis, pasti album itu bakal jadi sejarah banget buat kami. Waktu tidak bisa kembali, maka jangan membuang-buang hal yang nantinya bisa dikenang. Teruslah membuat hal-hal baik agar menjadi kenangan terindah seperti ini.
Sudah sepakat hari ahad nanti bermain apa saja yang bisa dimainkan, bisa main bola bekel, karaoke, foto-foto, lari-larian, apapun itu yang penting bisa dilakukan bersama.
Oiya, dihari ini aku pun mulai membuka diri mengenai perubahan diriku pada waktu itu, aku mulai menceritakan secara detail hal yang aku rasakan. Hari ini aku sedih sekali, karena aku tidak bertemu dengan kakak sebangku ku. Aku suka dengan dia, karena waktu itu aku pernah memainkan hal konyol ke dia (aku pun mempraktikan hal konyol itu, suara dan hitungan yang sama persis di kala itu, seperti hitungan ke tiga nengok berarti dia jodohku, sa... tu.., du.... a, ti..... ga) serentak temanku tertawa semua. Ada yang percaya ada pula yang bilang itu hanya tak sengaja.
Aku juga bilang ke mereka, kalau kakak itu berbeda dengan cowok lainnya, yang aku lihat kakak itu bukan anak nakal, dia itu tidak banyak omong, tidak rusuh, anaknya kalem. Aku baru lihat cowok yang seperti ini. Ganteng juga kakak itu. Makanya aku jadi suka, walaupun dia rese juga si. Dia waktu itu aneh banget, masa aku bilang ke dia mau numpang lewat, tapi dia malah bilang "ohh, jawaban nomor ini, ini tohh." kan gak jelas banget, bilang aja mau bareng aku terus pas ngumpulin kertas ujian. Terus dia juga pernah ngomong ke aku, ya walaupun cuma ngomong "mau lewat ya, dek?" tapi suaranya itu loh, lembuttt banget. Siapa yang enggak suka sama kakak itu.
"Aku engga suka kok sama kakak itu." ucap Zena
"Aku juga enggak suka." ucap Iren
"Sama, aku juga enggak suka." ucap Naren
Sebenarnya pril, kami bertiga sudah tahu kalau kamu sedang jatuh cinta sama kakak itu, tapi kami sengaja tidak bilang ke kamu supaya kami dengar sendiri pernyataan dari kamu. Yaudah deketin dia aja, Pril. Sepertinya kakak itu orang baik-baik. Kami di sini juga sudah nyadar kok, kalau waktu itu kamu pernah ngumpet-ngumpet mencoba cari nama kakak itu, tadi juga kamu sengaja kan keliling untuk mencari kakak itu? Tenang aja, kami semua akan menjaga rahasiamu. Kamu itu tidak bisa bohong sama kami, makanya nanti jangan ada hal yang diumpeti yaaa, selalu cerita aja ke kami.
Kalian paling pengertian sekali, kalian memang sahabatku, maaf ya, aku baru bisa cerita sekarang. Aku baru berani cerita, karena hal ini masih baru. Aku jadi malu dan takut menceritakannya.
Aprilia sudah besar ya, sudah tahu cinta-cintaan. Cieee cieee sukanya sama kakak Diki.
__ADS_1