Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 36


__ADS_3

Saat kesedihanku datang melanda, apalagi saat hari ahad, saat hari kerjaku libur, aku pasti punya waktu lenggang yang takut membuatku kepikiran lagi tentangnya, mau tidak mau aku harus melupakannya.


Driiinggg.....Driiinggg......


"Oi Pril, aku ada di depan rumah nih, cepetan keluar."


"Loh, loh, Zena. Kenapa enggak bilang dulu kalau mau datang. Sukanya dadakan mulu kayak tahu bulat."


(aku langsung jalan cepat menuju ke Zena)


"Hehehe, kan mau mengejutkan kamu, udah ah jangan banyak tanya, ayolah masuk ke kamar, Pril."


"Masuk aja."


beberapa menit kemudian..


"Assalamu'alaikum, April."


"Wa'alaikumsalam, sudah ku duga."


"Waduh wkwk, sudah lama kan kita tidak ngumpul lagi."


"Masuklah masuk, di dalam udah ada Zena tuh."


Kedatangan mereka yang sangat tiba-tiba, tapi tidak mengapa, mereka yang akan mengisi waktu liburku. Karena sudah lama tidak bertemu, waktu liburan hanya diisi dengan cerita-cerita seakan cerita itu sangat menghibur sampai tidak disadari waktu terus berjalan.


"Yah, sudah sore aja ya, enggak kerasa banget. Kita kurang pagi nih mainnya."


"Mau pagi jam berapa lagi? Yaudah main sampe malem aja, gimana?"

__ADS_1


"Besok aku nugas nih, jadi harus pulang buru-buru."


"Yaudah deh, kalau gitu."


"Bye Zena, nanti main lagi ya."


"Siappp."


"Aku sama Iren nanti aja ya pulangnya."


"Yaudah sini aja. Biasanya juga pulang kebelakangankan?"


Iren dan Naren menemaniku sampai malam, aku curhat kepadanya mengenai kejadian Kaki waktu itu. Naren dan Iren pun menyemangatiku, agar aku tidak lagi memikirkan tentangnya.


Naren dan Iren pun menceritakan kejadian yang menimpa padanya, kami saling bercerita. Naren juga bilang kalau ia sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


"Oke dehhh, ingat ya, undangannya enggak pake partner, kalau ada tulisan partner, nanti aku enggak bakal datang."


"Yeh April, jangan gitu dong."


"Tau nih si April, kalau gitu aku datang sama partner boleh kan,Ren?"


"Iya boleh kok, tapi nanti si April kasihan, dia sendirian nanti. Kamu mau lihat zombie berkeliaran di pesta pernikahan ku?"


"Hahahaha, iyaya, bukannya gembira, nanti para tamu bisa ketakutan ngeliat kejombloan zombi kita."


"Heiii....."


"Hahahaha bercanda, Prill."

__ADS_1


"Cepetan gih nyari doi, apa mau aku kenalin dengan seseorang?"


"Enggak ah, enggak perlu, nanti juga jodoh datang sendiri. Mending aku perbaiki kualitas diri dulu, biar nanti enggak malu-maluin."


Pada malam itu, asik sekali bergurau. Meledek status jomblo ku yang sekian lama harus dikasihani. Tak tega teman-temanku melihat aku sendirian sampai setengah abad.


Saat jam 10 malam, mereka baru balik ke rumah. Aku sendirian lagi deh. Sebenarnya, sudah lama banget aku tidak bercerita-cerita seperti itu, sudah lama tidak tertawa lepas. Aku sangat berterima kasih kepada kalian, karena sudah menemaniku. Disaat yang seperti ini.


Aku membersihkan diri kemudian beres-beres tempat tidur lalu tidur deh. Kualitas tidurku sangat bagus sekali malam ini. Kehangatan dari sahabatku masih melekat erat di kamarku. Itu yang membuat kualitas tidurku membaik.


Aku bangun sebelum subuh lalu bersiap diri untuk melaksanakan sholat subuh dan merapikan peralatan tulis dan bahan ajar, serta laptop yang nantinya aku bawa ke sekolah, setelah itu menunggu Iren, baru deh berangkat ke sekolah.


Semua hari ku jalani seperti biasa saja, seperti hari-hari kemarin saat aku belum menerima kabar buruk dari Kaki. Untuk saat ini, aku lebih suka menyibukkan diriku untuk melakukan hal yang berguna, aku jadi suka menggambar, berkebun, memasak, berjualan, dan lain-lain. Ternyata banyak loh yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu senggang.


Aku juga bisa melakukan hal-hal yang aku sukai, aku bisa berkumpul dengan orang tua dan adikku. Kualitas waktu semakin membaik. Aku mulai bisa menerima semuanya.


Setelah bertemu saat itu, aku jadi sering bertemu dengan Kaki lagi, dia juga sering datang ke guru piket saat aku sedang jaga. Dia suka menitipkan barang yang ketinggalan seperti buku tulis, buku paket, bekel, dan lain-lain. Sering sekali.


Saat dia datang lagi, lagi, dan lagi. Aku menyadari kalau detak jantungku tidak kacau seperti dulu saat aku melihat wajahnya, aku sebentar lagi akan mendekati fase yang biasa aja ketika bertemu dengannya. Aku juga sering melihat dia menjemput anaknya. Intinya aku akan bisa biasa saja, perasaan ku akan berubah, tidak seperti dulu yang menyakiti tubuhku sendiri.


Iren yang awalnya khawatir saat melihat Kaki datang lagi ke meja piket, sekarang ia sudah lega, ia tahu kalau aku bertindak yang seharusnya aku tindak. Iren tahu kalau pikiranku sudah berubah terhadap Kaki. Bahkan hatiku sudah terhempas dari rasa yang tak terbalaskan semenjak bertahun-tahun lamanya.


Hidupku jadi lebih ringan dari sebelumnya, aku juga bisa memberikan senyuman hangat untuk semua warga sekolah yang ada di sini. Aku tidak ingin bersedih hari karena masalah-masalah percintaan yang belum ku mengerti. Aku masih bisa hidup kok tanpa dia, kalau melepaskan dia, aku jadi lebih bisa mengenali diriku sendiri, aku jadi tidak sibuk mencari tahu urusannya yang seakan menjadi urusanku juga. Aku lebih memiliki waktu sendiri, menciptakan pikiran-pikiran positif yang lebih banyak lagi.


Aku ucapkan selamat tinggal ka, aku mohon jangan tinggal di hatiku lagi. Aku akan melepasmu jadi kamu dengan bebas berkeliaran dimana pun kamu mau, terserah, aku tidak akan berharap lagi padamu. Semoga hidup mu akan terus berjalan dengan baik, semoga kamu bisa membahagiakan anak dan istrimu. Kenangan masa SMP ku dengan kamu, akan ku bungkus dengan rapat. Jejak kenangan pun ku hapus dengan detail agar tidak ada celah yang membuatku memikirkan kenangan itu. Sebuah kenangan bisa menjadi menyeramkan, saat kenangan mengambil waktumu dan berharap berlebihan tentang seseorang yang ternyata tidak pernah ada. Orang itu hanya ilusi-ilusi diri yang bisa membuat lupa diri sampai akhirnya patah sendiri dengan ilusi yang telah dibuat.


Sekarang aku dan kamu adalah orang lain yang tidak pernah memiliki kenangan bersama, kamu dan aku adalah orang yang tidak sengaja bertemu, sudah itu saja. Tidak lebih dari itu, dan cukup seperti itu.


Selamat tinggalkan, aku akan bangkit dari tempat duduk yang selama ini menemaniku untuk menunggu, bangku itu juga telah dimakan usia, sudah tak berfungsi lagi, sudah harus ditinggalkan. Sama seperti mu, yang sudah tidak berfungsi jika aku tetap menunggumu, tidak ada hal yang indah saat aku menunggumu, kekhawatiran, kecemasan selalu menghantui aku, apalagi setiap kamu jauh dari ku atau kamu menghilang, tidak ada kabar dariku, bagiku itu sangat menyakitkan, tapi itu dulu, saat aku masih tertipu dengan wajah polosmu.

__ADS_1


__ADS_2