
Karena besok aku akan pergi ke rumah Bibi Gina di kota harapan. Jadi hari ini aku hanya mengajak Chris berjalan-jalan di tempat yang tidak jauh dari rumah.
Dress putih selutut cukup kayanya untuk perjalanan kami hari ini. Rambut kubiarkan tergerai karena belum terlalu kering juga sehabis keramas.
***
Tok tok tok!
"Sally, tolong bukakan pintu!" kata Ma saat aku membantu Ma menata meja untuk sarapan.
Aku bergegas ke depan membuka pintu.
"Hai!" sosok pria itu lagi.
Dipamerkan deretan gigi putihnya dengan senyum yang sedemikian rupa mempesona. Celana Jeans biru dan kemeja putih polos menambah kesan sempurna di tubuhnya.
Hei.. apa kubilang barusan? Mempesona? Loh.. apa aku sudah terkena pemikatnya. Aargh.. tidak! tidak! Tanpa sadar kugelengkan kepala.
"Hei.. ada tamu kok bukannya dipersilahkan masuk? Malah kamu bertingkah aneh sambil menggelengkan kepala. Sudah terima saja, jangan ditolak. Semakin kamu menolak akan semakin menempel di otak dan hati kamu." kata Chris menggoda, seolah tahu apa yang kubicarakan di dalam hati.
"Apaan sih kepedean kamu? Aku tadi agak pusing jadi aku menggelengkan kepala. Ayo masuk" jawabku kemudian mengajaknya masuk.
"Kamu sakit?" tanpa permisi diletakan punggung tangannya di keningku.
"Engga panas kok!" katanya.
"Iih kamu itu. Jadi mau masuk ga nih?" jawabku ketus sambil mengendalikan jantungku yang berdebar saat tangannya menyentuh dahiku.
"Iya iya, kamu kenapa sih galak sama aku? Lebih baik kalau aku punya salah kamu katakan. Dan kalau kamu menyukaiku, atau bahkan mencintaiku tolong ungkapkan!" katanya sambil berlalu mendahului ku masuk ke dalam rumah.
Ku telungkupkan kedua tanganku di wajah menahan kekesalan.
"Nak Chris ayo bergabung! Kita sarapan bersama!" ajak Pa.
Pria ini semakin tidak tahu malu saja. Tidak segan-segan langsung berjalan menuju meja makan ikut sarapan bersama kami. Sedangkan hampir setiap malam dia ikut makan malam di rumah kami.
***
Selesai sarapan ku ajak Chris pergi ke sungai. Betul, sungai dekat rumah kami yang merupakan salah satu tempat favorit ku yang kuceritakan sebelumnya.
__ADS_1
"Sally, apa perlu kita bawa ini semua?" tanya Chris berhenti sejenak kelelahan berjalan sambil membawa ember, jaring penangkap ikan, alat pancing, dan bekal makan siang kami.
Aku menganggukan kepala sambil melanjutkan perjalanan kami.
Sengaja aku biarkan dia membawa semua sendiri, sebagai balasan dia sering membuat aku kesal. Aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan tanpa membawa apa-apa. Sesekali aku tersenyum licik.
Sampai juga kami di sungai. Ku bantu Chris menurunkan semua bawaannya. Terakhir aku bantu melepaskan jaring ikan dari pundaknya. Tiba-tiba dia menarik tanganku, menghempaskan badanku ke tubuhnya, lalu memelukku dari belakang.
"Aku tahu kamu sengaja mengerjai aku kan dari tadi?" bisiknya di telingaku membuat bulu kudukku meremang.
"Chris apa-apaan sih ini. Cepat lepaskan aku!" pintaku.
"Tidak.. tidak akan aku lepaskan! Aku sudah mengikuti permainanmu membawa semua semua peralatan ini sendiri. Anggaplah ini upahku sebagai seorang pembawa barang." katanya lagi sambil mengencangkan pelukan.
"Chris.. aku bisa mati kehabisan napas kalau seperti ini, atau setidaknya aku bisa pingsan. Tolong lepaskan aku!" aku memohon kepadanya
"Kalau kamu pingsan malah bagus. Saat Pa dan Ma meminta pertanggungjawaban kenapa anak gadisnya pingsan. Aku bisa langsung melamarmu sebagai bentuk tanggung jawabku!" masih dengan posisi yang sama.
Aku semakin keringat dingin dibuatnya. Dada bidang hangatnya membuatku nyaman sekaligus membuatku takut. Aku takut akan terlalu nyaman berada di sana dan akhirnya tidak ingin lepas. Duuh.. apa sih yang otakku pikirkan? Kenapa jadi kacau begini.
"Aku akan melepas pelukanku dengan satu syarat. Kamu harus menjawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya. Tidak boleh kamu tutupi dengan keangkuhanmu. Aku perlu pengakuan jujur dari bibirmu." kata Chris.
"Aku.. aku sudah mencintai kamu, apakah kamu memiliki rasa yang sama kepadaku? Tolong jawab jujur sesuai dengan apa yang hatimu rasakan. Di sini kita bukan atasan dan bawahan. Di sini hanya ada aku dan kamu sepasang pria dan wanita dewasa."kata Chris dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Jawab dengan jujur sayang.., atau kamu memang suka berada di posisi ini hmm?" bisiknya lagi dengan lirih karena melihatku masih saja bergeming.
"Hmm.. aku.. iya.." jawabku terbata-bata.
"Iya apa sayang? Katakan dengan jelas!" katanya lagi.
Kupejamkan mata untuk berkonsentrasi dan mengumpulkan sisa-sisa asa yang ada padaku.
"I..iya.. aku juga.. menyukaimu." jawabku.
"Kamu itu kenapa sulit sekali sih. Aku tidak yakin hanya sekedar menyukai. Dentuman jantungmu yang saat ini kurasakan menyentuh tanganku mengatakan hal lain." kata Chris memaksa.
"Chris, aku tidak tahu apakah ini yang disebut dengan cinta? Yang aku tahu, saat dekat denganmu hatiku bergetar. Saat bersamamu aku menyukainya. Saat ini aku seperti lemas kehilangan tenaga, dan aku.. merasa nyaman bersandar di dadamu." kataku sedikit berteriak menyuarakan apa yang kurasakan sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, karena kamu sudah mau jujur." perlahan Chris merenggangkan pelukannya.
Dia membalikan tubuhku sehingga saat ini posisi kami berhadapan. Dengan tangan kiri dipeluknya pinggangku. Dan dengan tangan kanannya diangkatnya daguku. Ditatapnya mataku lekat-lekat. Beberapa detik kemudian ditundukan wajahnya dan mendaratkan kecupan di bibirku.
Aku tertegun sejenak, saat dia melepaskan bibirnya dan pelukannya dariku. Kemudian dia berjalan duduk di batu besar.
"Itu hukuman atas kenakalan kamu mengerjai aku ke Bukit Penantian." katanya sambil melempar batu kecil ke sungai.
"Maksud kamu?" tanyaku bingung.
"Iya, ciuman tadi hukumannya. Tetapi besok-besok aku tidak mau menjadikannya sebagai hukuman. Aku harap jika terjadi lagi itu ungkapan cinta kita." katanya lagi sambil menepuk tempat di sebelahnya agar aku duduk di sana.
Diulurkan tangannya membantuku duduk di batu besar di sebelahnya. Tangannya kemudian merangkul pundakku.
"Cinta kita?" tanyaku.
"Dasar bodoh.. pengakuan isi hati mu tadi mengungkapkan kalau kamu juga mencintai aku." katanya sambil menjentikan jarinya di keningku, kemudian menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Chris!" aku coba menolak meletakan kepalaku di sana.
"Tadi kan kamu yang bilang sendiri, kalau kamu merasa nyaman bersandar di sini. Aku dengan sangat senang hati memberikannya sebagai sandaran kepalamu." katanya sambil mencium puncak kepalaku.
Aku pasrah menyerahkan kepalaku untuk bersandar di dadanya. Ga pasrah-pasrah amat sih, tetapi memang nyaman berada di sana. Untung saja tadi pagi aku sempat mencuci rambut. Kalau tidak Chris bisa pingsan kebauan. Memikirkannya tidak sengaja senyum terlihat di bibirku.
"Tuh kan kamu kesenangan sampai senyum-senyum sendiri." godanya.
"Bukan kok bukan karena itu." kataku sambil mencoba melepaskan sandaranku.
"Apa sih? Mau kemana kamu? Sudah aku suka pada posisi ini." kata Chris sambil menahan kepalaku agar tetap bersandar di sana.
Di sini di sungai ini menjadi tempat bersejarah kami. Untuk pertama kalinya sebagai wanita dewasa aku memiliki seorang kekasih. Kekasih yang tidak pernah terpikir olehku sebelumnya.
Jangankan memiliki kekasih. Kalau ada pria yang coba mendekat dengan maksud selain menjadi sahabat yang ada aku selalu merasa risih. Tetapi kali ini, dengan kegigihkan Chris dia bisa memenangkan hatiku.
----
💘Love is in the air..
Terima kasih teman-teman yang sudah mampir membaca cerita saya.
__ADS_1
salam
vatty