
Chris sedang berbincang dengan Paman Geo di teras, sementara aku bersiap-siap. Bibi Gina membuat minuman di dapur.
Hari ini aku mengenakan baggy jeans dengan atasan flanel kotak coklat putih oversize. Separuh rambut kuikat ke belakang. Sepatu sneakers putih melengkapi penampilanku.
"Hai sayang, kamu sudah siap?" tanya Chris saat aku tiba di depan pintu.
"Iya, semua sudah kukemas semua di dalam sini." jawabku sambil menunjuk koperku.
Bibi Gina sudah bergabung duduk bersama Paman Geo dan Chris. Rick sudah pergi sekolah sejak 30 menit lalu.
Tak lama kemudian aku dan Chris berpamitan kepada Paman Geo dan Bibi Gina. Pak Paul memasukan koperku ke dalam bagasi mobil setelah diterimanya dari Chris.
***
Sampai bandara kami memasuki jalur untuk pesawat pribadi. Setelah melewati beberapa tempat dan pemeriksaan kami sampai di landasan. Di sana sudah terparkir pesawat milik Chris.
Aku duduk bersebelahan dengan Chris kali ini. Tidak lama kemudian dia datang. Iya.. Andrew ikut dalam pesawat ini.
"Hai Om.. hai Sally.." kemudian berjalan menuju kursi di belakang.
"Hai Drew" jawabku
Dia terlihat biasa saja. Malah mungkin sangat biasa dari biasanya.
Sepanjang perjalanan Chris menggenggam tanganku. Sesekali dikecupnya lembut punggung tanganku.
***
Saat kami sampai di Agria, Pak Don sudah menunggu kami di Bandara. Aku berjalan beriringan dengan Chris yang merangkul pundakku. Andrew berjalan di belakang kami.
Aku duduk di sebelah Chris di kursi belakang, dan Andrew duduk si sebelah Pak Don. Mobil berjalan menuju rumah Chris terlebih dahulu. Andrew bilang dia perlu segera menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Jadi dia minta diantarkan lebih awal.
"Terima kasih Pak Don dan Om Chris, hati-hati di jalan Sally bye.." kata Andrew saat turun dari mobil.
"Bye.." jawabku kepada Andrew.
Setelah Andrew turun, Chris mulai lagi bertingkah manja kepadaku. Chris menyandarkan kepalanya di pundakku dan tangannya menggenggam tanganku. Ku lihat dari spion Pak Don menahan senyum.
"Tidak apa-apa ya aku seperti ini. Besok aku harus kembali ke kota Harapan, setelahnya aku harus ke beberapa kota lainnya. Kurang lebih sekitar 2 minggu. Aku pastikan akan sangat merindukanmu." kata Chris.
"Iya Chris.. Aku juga akan merindukanmu. Tetapi selesaikan tugasmu dengan baik. Aku akan menunggumu di sini." jawabku.
"Seandainya kamu sudah lulus kuliah dan menikah denganku. Aku tidak perlu menahan rindu. Akan aku ajak kamu kemanapun aku pergi." katanya lagi.
"Chris.. ayolah 2 minggu tidak lama kok." jawabku.
"Iya sayang" katanya sambil mengecup pipiku.
***
Kami sampai di depan Mess. Chris mengantarku sampai depan gerbang. Penjaga Mess yang melihatnya menundukan kepala.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengantarku. Dan terima kasih untuk semuanya sepanjang liburan kita." kataku kepada Chris.
"Ya sayang, beristirahatlah.. Besok kamu sudah disibukan dengan pekerjaan dan jadwal kuliahmu." kata Chris sambil mengacak puncak rambutku.
"Iya, kamu juga" jawabku sambil tersenyum manis padanya.
"Hmm... kenapa di sini ada cctv sih." kata Chris kesal.
Mendengarnya aku hanya tertawa.
"Kamu itu, kekasihnya kesal malah ketawa. Apa perlu aku minta dimatikan cctvnya tiap kali aku mengantarmu ke sini?" kata Chris masih dengan raut wajah kesalnya.
"Kamu lucu Chris, jadi aku tertawa. Sudahlah.. kita masih banyak waktu. Kasihan Pak Don lama menunggu. Hati-hati di jalan!" kataku.
"Ok, kenapa kamu masih di sana? Masuklah ke dalam!" perintah Chris
"Aku kan menunggu kamu Chris!" jawabku tidak mau kalah.
"Kamu semakin pintar melawan ya. Kalau kamu bersikap seperti ini, jangan salahkan aku kalau tidak bisa menahan diri. Persetan ada cctv atau tidak." ditariknya tanganku hingga tubuhku berada di pelukannya. Kemudian dia mencium bibirku.
Dalam keadaan seperti itu aku mencoba berbicara untuk mengingatkan Chris soal cctv. Tetapi saat aku membuka mulut malah mendapat reaksi berbeda dari Chris. Dia malah menciumku semakin dalam.
"Hufft.. Chris ada cctv di sini, aku jg kehabisan nafas." kudorong tubuhnya sekuat tenaga sehingga bibirku bisa terlepas darinya.
Dia malah tersenyum jahil.
"Ok sayang.. aku pulang." bisiknya di telingaku lalu berjalan menuju mobil.
Aku melambaikan tanganku saat mobil Chris berlalu. Kemudian aku masuk ke dalam Mess.
***
Ringg..ring.. telepon genggamku berbunyi. Nama Chris terlihat di layar.
"Ya Chris" jawabku.
"Sayang aku sudah di pesawat, kamu jangan nakal ya selama aku pergi." pesannya.
"Iya, kamu hati-hati di jalan ya." kataku.
"Iya sayang, I love you so much!!" kata Chris.
"Terima kasih, I love you too!" jawabku.
***
Aku kembali dengan kesibukanku. Selesai bekerja aku menuju tempat kuliah. Hari ini Andrew mengajar di kelasku. Kelas berjalan lancar. Andrew juga fokus mengajar, tetapi tidak seperti biasanya yang terkadang curi pandang kepadaku.
Selesai kuliah aku langsung menuju parkir motor. Saat melewati selasar kampus aku lihat Andrew masih berbicara dengan beberapa mahasiswi.
"Permisi, selamat malam Pak!" kataku saat meminta sedikit bagian jalan karena kerumunan mereka memenuhi ruang selasar.
__ADS_1
"Ya " jawab Andrew singkat tanpa melihatku dan langsung melanjutkan perbincangannya dengan para mahasiswi itu.
Akupun langsung bergegas menuju parkir motor. Tanpa menghiraukan mereka lagi.
***
11 hari berlalu sejak aku kembali ke Agria. Melalui telepon Chris mengabarkan kalau dia sebentar lagi akan menuju kota ketiga dalam perjalanan bisnisnya kali ini. Telepon dan pesan text dari Chris semakin intens.
Cuma.. ada yang beda. Selama 11 hari juga tidak ada lagi telepon atau pesan text satu pun dari Andrew. Biasanya dia paling rajin mengirimkan pesan text padaku, walaupun isinya kadang sangat remeh. Bahkan di kampus tidak pernah lagi ada interaksi seperti sebelumnya. Tidak pernah lagi ada makan malam atau pergi bersama di akhir pekan.
Tok tok tok!
suara pintu kamarku diketuk dari luar.
"Ya.. siapa?" tanyaku.
"Hiks..hiks.. ini aku Ann" suara Ann terdengar seperti orang menangis.
Segera kubuka pintu kamar.
"Sally.. Brian jahaaaat.. hwaaa hiks hiks" tangis Ann pecah kemudian di memelukku.
Ku ajak Ann duduk di pinggir tempat tidurku.
"Ada apa dengan kamu dan Brian?" tanyaku.
"Hiks..hiks.. Brian.. sudah tidak mau menghubungiku lagi. Itu karena dia melihatku pergi bersama Cello. Aku suka Brian dan aku suka Cello. Tetapi saat itu aku belum bisa memilih di antara mereka hwaa..hiks hiks." cerita Ann terputus karena tangisnya.
"Disaat aku belum memutuskan untuk memilih salah satu di antara mereka. Brian malah sudah menutup aksesnya untukku beberapa hari ini hiks hiks hiks." lanjut Ann.
"Sabar Ann" sambil kutepuk-tepuk punggung sahabatku.
"Tapi aku rindu Sally.., aku rindu Brian. Aku sangat merindukannya hwaaaa.... Aku rindu semua tingkah lucunya, kecerewetannya, dan keisengannya. Saat aku sedih dia selalu berusaha menghiburku. Saat aku kesulitan dia yang lebih dulu maju. Setiap hari tidak pernah absen telepon dan pesan text darinya. Walaupun yang ditanyakan hanya hal remeh seperti sudah makan belum, jangan tidur larut malam dan lainnya hiks..hiks.." ceritanya terputus-putus dengan tangisan
"Awalnya memang aku risih dengan perhatian dia yang berlebih. Tetapi setelah dia menutup aksesnya, aku sangat.. sangat.. kehilangan dia Sally. Aku harus bagaimana? hwaaaa...hiks hiks" kata Ann lagi.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi aku hanya bisa memeluk dan menepuk punggung Ann. Entah mengapa perkataan Ann tadi seperti menusuk hatiku juga.
Aku juga merasakan ada yang hilang. Harusnya aku tidak boleh berpikir seperti itu. Saat ini aku adalah kekasih Chris. Aku bahagia bersama Chris. Aku tidak boleh mengharapkan perhatian dari lelaki lain. Apalagi lelaki itu adalah Andrew.
Tetapi di dalam hatiku sungguh aku merindukan hari-hari kami, kebiasaan-kebiasaan kami. Aku merasa ada ruang hatiku yang kosong seperti ditinggal penghuninya.
Tanpa terasa akupun ikut menangis di punggung Ann.
"Ann.. kita merasakan hal yang sama." kataku dalam hati.
"Maaf Ann, kali ini aku tidak dapat memberikan solusi" bisikku pelan.
-----
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir 😍
__ADS_1
salam
vatti