Hai Cinta Kembalilah

Hai Cinta Kembalilah
bab 51. Cinta Kita


__ADS_3

Aku dan Dean baru saja sampai kota Harapan. Kami langsung menuju Bandara untuk lanjut ke kota Contento.


Dean langsung ke counter check in. Sedangkan aku disuruhnya menunggu. Dia memperlakukan ku bagai seorang putri. Terlebih sejak kami terikat dalam pertunangan.


Aku duduk di kursi tunggu dengan telepon genggam di tanganku. Sesekali aku memperhatikan ke sekeliling bandara.


"Hai, apa kabar?" seseorang menegurku dari arah belakang.


Aku menoleh ke arah itu.


"Ah.. Hai Drew!" jawabku agak terkejut.


"Ehem.. Kamu mau kembali ke Contento?" tanyanya lagi.


"Iya, kamu mau ke mana?" kataku tetap berusaha ramah.


"Aku.. biasalah urusan bisnis." jawab Andrew.


"Oh.." kataku.


Andrew tiba-tiba menutup tangan kanannya dengan tangan kirinya. Aku lihat sebuah cincin melingkar di sana. Itu menandakan dia sudah menikah.


"Selamat ya!" kataku sambil mengulurkan tangan.


"Ah iya, terima kasih!" jawabnya sambil salah tingkah.


Mukanya langsung berubah kecut saat melihat cincin melingkar di jari manis tangan kiriku.


"Oh iya! Ini punya kamu, kebetulan kita bertemu." kataku sambil memberikan kotak cincin milik Andrew yang tertunda sangat lama untuk mengembalikannya.


"Ini.." kata Andrew tertahan.


"Sayang, ayo!" kata Dean yang sudah di dekatku.


"Sudah selesai ya. Ok!" jawabku sambil bangkit berdiri.


"Oh iya, Dean.. Perkenalkan Andrew temanku. Dan Andrew, ini Dean tunanganku." kataku memperkenalkan mereka berdua.


Mereka berdua saling berjabat tangan.


"Drew, kami duluan ya." pamitku.


"Ya, kalian hati-hati di jalan!" jawab Andrew.


Dean menggandeng tanganku erat. Aku dan Dean menuju ruang tunggu boarding. Andrew tertinggal di belakang. Dia masih saja melihatku yang berjalan menjauh.


***


Walaupun sekarang aku sudah memiliki orang lain. Dan kamu juga sudah menjadi milik orang lain. Aku tetap selalu mencintaimu Sally.

__ADS_1


Andrew membuka kotak kecil yang ditangannya. Cincin itu masih sama sejak dia membelikannya untuk Sally. Nama Sally terukir indah di sana.


Andrew memasukan kotak cincin itu ke dalam sakunya. Dia pun berbalik arah, kemudian berjalan menjauh.


Kisah cintanya sejak remaja harus berakhir seperti ini. Cinta yang dirawatnya bertahun-tahun berakhir jauh dari harapan. Tidak rela, tetapi dia harus menghadapi kenyataan.


"Ya, aku baru mau menaiki pesawat. Jaga diri kamu baik-baik juga Vi." Andrew menjawab panggilan yang masuk ke telepon genggamnya.


Saat ini, dia adalah seorang pria yang sudah menikah. Ada Vivian dan calon anak mereka di rahim Vivian. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.


Dia harus mengubur rapat-rapat kisah cinta masa lalunya.


***


Dean baru saja mengantarku ke apartment. Dia sudah menuju rumah baru yang dibelinya untuk kami tempati nanti. Selama kami belum menikah, Dean tinggal di sana seorang diri.


Rumah itu masih satu lokasi dengan rumah Ricard dan Ann. Jadi nanti kami akan menjadi tetangga. Aku sangat senang tidak akan kesepian.


"Ya, Ann!" jawabku pada Ann yang meneleponku.


"Kamu, sudah sampai Contento?" tanyanya.


"Iya, ini baru sampai apartment. Kamu kenapa suaramu lelah seperti itu?" tanyaku balik.


"Ternyata jadi Ibu itu lelah ya. Ini Timmy baru saja tertidur. Belum lagi rapih-rapih rumah. Ricard untungnya mau bantu sih." jawab Ann.


"Memang aku sangat bangga dan bahagia sih. Cuma boleh dong aku berkeluh kesah sejenak. Kamu yang bertemu Timmy sekali-kali sih ga kerasa. Nanti saat jadi Ibu baru deh." jelas Ann.


"Iya Ann." jawabku sambil tertawa kecil.


"Ya sudah aku mau memasak dulu. Kamu jangan sia-sia kan masa bulan madu kalian. Saat ada anak, waktu kalian berdua jadi terbatas. Selama belum ada anak, kalian nikmati saat itu." kata Ann pamit.


"Ok, terima kasih nasehatnya." jawabku.


"Bye!" kata Ann.


"Bye!" jawabku.


***


Aku sedang di minimarket saat ada seseorang menyapaku.


"Hai Sally!" sapanya.


"Ya ampun Tom!" kataku terkejut.


"Kamu kemana saja?" tanyaku.


"Aku.. Boleh minta waktu kamu sebentar ke suatu tempat?" pintanya.

__ADS_1


"Hmm.. oke. Tapi sebentar ya?" kataku.


"Iya." jawabnya.


Tom memintaku memasuki mobil sewaannya. Kami menuju suatu tempat.


***


Kami ada di sini



Sebuah pantai landai dengan deburan ombak. Kami duduk di salah satu kursi di tempat itu.


"Selamat atas pertunangan kamu." kata Tom sambil melirik cincin di jari manisku.


"Terima kasih Tom" jawabku.


"Aku rindu kamu Sally. Aku rindu kebersamaan kita. Aku merindukan semua waktu yang kita lalui berdua. Setiap saat, tiap peristiwa yang kita jalani. Aku masih sangat mengingatnya." kata Tom.


"Aku sangat bahagia pada saat itu. Saat aku bisa berada dekatmu seperti ini. Saat aku bisa menatap wajahmu dari dekat. Dan.. saat kamu menangis di dadaku." kata Tom tertunduk.


"Sebentar lagi semua itu tidak akan pernah bisa terulang lagi. Aku.. tidak bisa mengubah rasa yang sudah ada. Aku sudah berusaha tetapi, aku tidak bisa. Aku sudah mencintaimu sejak lama." sambung Tom.


"Tapi Tom.." kataku.


"Tidak Sally, aku tidak akan memaksa kamu harus berada di sisiku. Aku tidak punya keberanian untuk merebut kebahagiaanmu demi kebahagiaanku sendiri." kata Tom.


"Untuk itu, sekarang untuk terakhir kalinya. Tolong ijinkan aku berada di sini di dekatmu. Bercerita mengenai kenangan kita, dan semuanya." kata Tom.


Tom menatap mataku. Seperti ada beban berat di sana. Tatapannya memohonku dengan sangat.


Ku anggukan kepalaku, sebagai tanda setuju.


Kami habiskan malam itu dengan bercerita segala hal kenangan kami. Yang seru, yang lucu, yang menyenangkan, dan yang menyedihkan.


Kadang gelak tawa menghiasi percakapan kami.


Cinta Tom tidak pernah egois. Dia selalu melindungiku dari belakang. Selalu menjagaku, menghiburku, dan selalu siap untukku. Tidak.. dia tidak pernah memaksaku untuk menerima cintanya.


Padahal dia punya kesempatan untuk itu.


----


Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.


salam


vatty

__ADS_1


__ADS_2