
Hari ini aku libur. Seperti rencana aku dan Ann sebelumnya, aku akan mengajak Ann keliling kota Contento.
"Ann! lama amat sih!" protesku karena sedari tadi Ann belum selesai bersolek.
"Iya iya! Tinggal sebentar lagi selesai kok!" jawabnya.
"Nah.. selesai, Yuk pergi!" ajaknya.
Di dalam lift Ann masih berkaca pada kaca bagian dalam lift. Aku hanya menggelengkan kepala melihat aksinya.
Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, ku lihat sudah ada 2 laki-laki itu lagi.
"Yuk!" ajak Ricard.
"Loh!! Ann kamu ajak mereka?" tanyaku pada Ann.
Ann menjawab dengan anggukan sambil tersenyum. Arrrgh.. Ann mulai keterlaluan, seenaknya mengajak mereka tanpa bilang kepadaku terlebih dahulu.
Di sana Dean terlihat seperti minta penjelasan kepada Ricard. Ricard hanya bilang akan berjalan-jalan, lalu meminta Dean menemani. Dean tidak tahu kalau ternyata mereka akan pergi berempat. Pantas sedari tadi Ricard bilang nanti.. dan nanti, saat Dean menanyakan kenapa tidak berangkat juga.
"Ayolah Sally! Jika naik taxi atau kendaraan umum lainnya, langkah kita akan terbatas. Maka itu aku meminta bantuan Ricard untuk mengantar." Ann memohon.
"Lagi pula kalian para wanita, akan lebih aman jika ada pria dalam perjalanan kalian." Ricard menyambung omongan Ann.
"Ayolah Sally! Please! Hari semakin siang, sedangkan waktu ku di kota ini tidak banyak. Mau ya?" bujuk Ann dengan wajah memelasnya.
"Ya udah!" jawabku ketus.
"Gitu dong! Terima kasih Sally!" kata Ann sambil mengecup pipi kananku.
Selanjutnya Ann berjalan ke luar apartement bersama Ricard. Aku dan Dean mengikutinya dari belakang.
Di tempat parkir, Ann sudah siap pada kursi belakang motor Ricard. Aku dengan berat hati ikut di motor Dean.
Selama perjalanan kulihat Ann dan Ricard asik mengobrol di motor depan. Sedangkan aku dan Dean hanya saling terdiam.
***
Tujuan hari ini ke Pantai Elsker. Pantai berpasir putih dengan lautan biru bersih. Pantai ini sepi karena letaknya agak jauh dari pusat kota Contento.
Ann dan Ricard asik bermain ombak dan berkejar-kejaran. Persis seperti iklan paket wisata pengantin baru di tv.
Aku dan Dean sibuk menata barang bawaan kami.
"Masa sahabat seperti itu, malah asik senang-senang sendiri. Saya ditinggal seolah tidak ada." gerutuku kesal kepada Ann.
Dean malah tersenyum melihatku yang marah.
"Apaan sih kamu malah tersenyum?" kataku kepada Dean.
"Hihi.. Kamu tambah lucu Sally, kalau lagi marah seperti itu." jawab Dean sambil tertawa kecil.
"Kamu tahu? Saya sedang kesal. Ini malah tertawa. Huuh.." kataku sambil bangkit berdiri lalu berjalan menyusuri pantai meninggalkan Dean.
"Maaf Sally, kalau membuat kamu bertambah marah." kata Dean yang baru saya menyusulku.
Aku tetap tidak menjawab.
"Hmm.. Aku punya ide, bagaimana kalau kita kerjai kedua orang itu? Bukan cuma kamu, aku juga dua kali dibohongi mereka." kata Dean sambil menujuk ke arah Ann dan Ricard.
"Caranya?" tanyaku tertarik dengan tawaran balas dendam bersama, kepada dua mahluk yang sedang dimabuk cinta itu.
__ADS_1
Dean menjelaskan apa yang akan kami lakukan. Aku mengangguk menyetujui. Tidak lama kami lakukan aksi kami mengerjai Ann dan Ricard.
***
"Aku lelah dan lapar Card. Kita makan dulu yuk!" ajak Ann
"Yuk!" jawab Ricard.
"Mereka di mana?" tanya Ann kebingungan saat tidak dilihatnya aku dan Dean beserta seluruh barang bawaan kami.
"Tidak mungkin mereka pergi meninggalkan kita." kata Ricard sambil berjalan menuju tempat dia memarkirkan motor.
Ternyata motornya juga tidak ada di sana. Ann dan Ricard terduduk lemas. Pakaian mereka basah, perut lapar, tidak ada telepon genggam, bahkan motor pun lenyap.
"Bagaimana ini Card? Hiks hiks hiks" kata Ann mulai menangis.
"Kita tunggu saja Ann. Mereka pasti tidak akan terlalu tega kepada kita." jawab Ricard.
"Tetapi aku lapar, hiks hiks" kata Ann lagi.
Ricard memeluk Ann yang menangis di dadanya.
***
"Dean, kasian Ann. Kita keluar dari persembunyian yuk?" pintaku.
"Kamu memang sudah tidak kesal lagi?" tanyanya.
Aku gelengkan kepala. Aku sungguh tidak tega melihat keadaan sahabatku Ann. Walaupun dari kemarin malam dia selalu bertindak seenaknya bersama Ricard.
Saat ini, kami sedang bersembunyi sambil berjongkok di balik batu-batu besar. Posisiku berada di depan Dean, mengintip Ann dan Ricard dari sela-sela batu. Kepala Dean berada di atas kepalaku sekitar 10 senti meter.
"Dean.. sudah yuk. Kasihan Ann!" pintaku lagi sambil wajahku menghadap kepadanya dan tanganku menarik tangannya.
"Dean.. Dean.. ayo kita keluar dari sini!" ajakku lagi mengingatkan.
"Aah.. ya!" jawabnnya.
Kami keluar dari tempat persembuyian bersama-sama.
"Sally!! Aku kira kamu benar-benar marah dan balas dendam, sampai meninggalkanku kelaparan dan kedinginan di sini." kata Ann begitu melihatku mendekat.
"Tidak enak kan ditinggal begitu saja? Sama seperti yang saya rasakan dari semalam sampai tadi." kataku mengingatkan Ann.
"Iya deh, iya maaf!" jawab Ann.
***
Kami main air berempat sampai matahari mulai naik keperaduannya. Kemudian kami beranjak pulang.
Sebelum motor Dean jalan. Dia meletakan tanganku di pinggangnya.
"Posisi seperti ini akan memudahkanku mengendarai motor. Kalau tanganmu pada besi belakang, akan melawan arah angin. Apalagi saat malam angin pantai di sini bertiup kencang." kata Dean menjelaskan maksudnya.
Sepertinya karena kelelahan dan hembusan angin aku hampir tertidur di motor. Dean menghentikan motornya.
"Kamu mengantuk Sally?" tanyanya.
"Hah! Maaf.. maaf saya hampir ketiduran." kataku, tetapi mataku terasa berat.
Melihatku yang sangat mengantuk. Dean melepaskan jaket yang dipakainya. Kemudian dilingkarkannya di pinggangku dan diikat di perutnya. Tanganku dirapatkan menyatu pada perutnya. Sedangkan kepalaku di senderkan pada punggungnya.
"Tidurlah! Nanti kalau sudah sampai aku bangunkan!" Pesan Dean.
__ADS_1
***
"Sally.. kita sudah sampai." katanya lembut membangunkanku.
Tangan kanannya mengelus kepalaku yang masih bersandar di bahu kirinya. Ikatan jaket pada perutnya sudah dilepaskan. Tangan kirinya menahan tubuhku agar tidak jatuh.
"Sally.. kita sudah sampai apartment." katanya lagi.
"Hmmm... maaf.. maaf Dean. Saya tertidur lama ya?" tanyaku langsung turun dari motornya.
Dean hanya tersenyum.
"Ann dan Ricard mana?" tanyaku lagi.
"Mereka sudah dari 30 menit yang lalu masuk ke apartment." jawab Dean.
"Kok Ann meninggalkan saya sih?" gerutuku lagi.
"Tidak Sally, tadi Ann hampir membangunkan kamu. Tetapi, aku lihat kamu tertidur sangat pulas. Jadi aku minta Ann masuk ke apartment terlebih dahulu menaruh barang bawaan. Dan aku menunggumu bangun." jawabnya.
"Maaf Dean merepotkan." kataku malu.
"Mau jawaban jujur atau tidak?" katanya bertanya.
"Maksudnya?" tanyaku balik.
"Kalau mau jawaban jujur. Punggung aku pegal. Tetapi di sisi lain, aku senang saat kamu peluk aku dan sandarkan kepalamu di punggungku. Seandainya bisa, punggungku bersedia menopang kepalamu sampai besok pagi." jawabnya dengan tersenyum.
"Dasar kamu! Terima kasih untuk hari ini." kataku malu.
"Sally, kamu sudah bangun?" tanya Ann yang sudah tiba di tempat parkir untuk menjemputku.
"Iya, ayo masuk!" ajakku pada Ann.
"Sekali lagi terima kasih Dean, saya masuk dulu." pamitku kepada Dean.
"Jangan lupa bersihkan diri dulu, sebelum lanjut istirahat Sally!" pesan Dean.
"Ok!" jawabku sambil tersenyum.
Dean menangguk dan tersenyum.
***
Segarnya sehabis mandi. Badanku yang lelah ingin segera rebah di kasurku yang empuk.
Pesan text masuk di telepon genggamku.
"Selamat beristirahat Sally!" pesan dari Dean.
"Selamat beristirahat juga Dean!" jawabku.
Segera kuletakan telepon genggamku. Tidak lama akupun terlelap.
Hadir di mimpiku taman bunga milik dewa dewi. Taman yang indah dengan kupu-kupu beraneka warna. Kupu-kupu itu juga seolah sedang asik menari di dalam hatiku saat ini.
Menimbulkan gelitik-gelitik kecil di sana.
---
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
__ADS_1
vatty