
Hari demi hari, aku semakin kerasan tinggal di kota ini. Aku berjanji pada diriku sendiri. Suatu saat aku akan ajak Pa, Ma, dan Mey ke sini untuk berlibur.
"Ok, saya kira meeting hari ini cukup. Jangan lupa tiap bagian segera kirimkan revisi reportnya ya!" kata Pak Lucas pimpinan kami di resort ini.
"Baik Pak!" jawab masing-masing kepala bagian.
"Oh iya Sally, nanti tolong segera kirimkan hard copy laporan kamu ke ruangan saya." pesan Pak Lucas kepadaku.
"Baik Pak. Nanti setelah saya copy, akan saya kirimkan ke ruangan Bapak." jawabku.
"Ok, terima kasih!" jawab Pak Lucas sambil keluar dari ruangan meeting.
Satu persatu kami meninggalkan ruangan meeting dan kembali ke ruang kerja kami masing-masing.
***
Bekerja di Glaede Resort sangat menyenangkan. Di samping lokasinya yang pernah kuceritakan, juga atasan kami yang sangat mensupport dan mengayomi kami dengan sifat ke Bapakannya.
Pak Lucas, seumuran Pa. Beliau tetap masih energik di usianya sekarang. Semua staff mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi hormat kepadanya. Jadi kami bertindak hati-hati agar tidak mengecewakan dia bukan karena takut kepadanya.
Tok tok tok!
"Ya masuk!" jawaban dari Pak Lucas dari dalam ruangan saat mendengar ketukan pintu dariku.
"Permisi Pak, ini report yang Bapak minta." kataku sambil menyerahkan dokumen.
"Ok terima kasih Sally." jawabnya.
"Apa ada yang Bapak perlukan lagi?" tanyaku.
"Saat ini belum ada. Nanti kalau ada saya hubungi kamu. Sekarang sudah lewat 30 menit dari jam kerja. Kamu pulang saja!" jawab Pak Lucas.
"Baik Pak, terima kasih. Saya pamit dulu." kataku.
"Ya Sally, hati-hati di jalan!" katanya lagi.
"Terima kasih Pak" jawabku sambil keluar dari ruangan Pak Lucas.
***
Aku tidak langsung pulang, karena ada hal yang perlu aku selesaikan. Tidak terasa sudah 2 jam lewat dari jam kerja. Akupun berkemas untuk segera pulang.
Saat sampai di pintu keluar resort ada seseorang yang memanggilku.
__ADS_1
"Sally!" katanya.
Ternyata Dean yang memanggilku. Dia duduk di sebuah rumah makan kecil dekat pintu keluar resort.
"Kamu kenapa di sini Dean?" tanyaku kepadanya.
"Menjemput kamu.." jawabnya malu-malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kan saya sudah bilang Dean, tidak perlu repot apalagi sampai menjemput." kataku kepadanya.
"Tadi aku telepon kamu, niatnya mau mengajak makan malam bersama. Tetapi aku telepon dan kirim pesan berkali-kali tidak kamu respon. Aku tanya staff apartment, katanya kamu belum pulang. Kemudian aku telepon ke kantor kamu, mereka bilang kamu masih ada di kantor. Jadi... sekarang aku di sini." jelasnya sambil tersenyum.
"Hmmh.. aku tadi pulang telat karena ada yang perlu kuselesaikan, dan aku belum sempat memeriksa telepon genggamku." kataku.
"Jadi maaf kalau tidak merespon telepon dan pesanmu" sambungku.
"Kita mau makan dekat sini? atau mau langsung pulang dan makan di sekitar apartment?" tanya Dean.
"Aku kira baiknya langsung pulang. Nanti takut kemalaman" jawabku.
"Tunggu sebentar aku ambil motorku" pinta Dean langsung berlalu tanpa menghiraukan jawabanku.
Tidak lama Dean datang. Motornya model motor pria yang besar dan lumayan tinggi untuk orang setinggi aku.
"Dean.. tapi ini.." kataku terputus
Dean seolah tahu maksudku kalau aku kesulitan menaiki motor ini. Segera dimiringkan motornya.
Untung saja hari ini aku memakai setelan kemeja dengan celana panjang. Tidak lama motor melaju di antara ramainya lampu-lampu jalan yang kami lewati. Kota Contento seolah tidak pernah tertidur dengan ke meriahannya.
Di kursi belakang aku agak kedinginan. Kulipat kedua tanganku. Sayangnya kemeja lengan panjang tipis tidak berhasil menghalau dinginnya angin yang menembus kulit.
"Kok berhenti Dean?" tanyaku. Karena aku lihat motor Dean berhenti.
"Sally maaf, aku cuma bawa 1 jaket. Kalau kamu bersedia boleh mendekat kepadaku dan memasukan kedua tanganmu ke dalam kantung jaketku." kata Dean.
"Ooh.. tidak terima kasih Dean. Aku tidak telalu kedinginan kok." jawabku dengan suara yang goyang karena menahan dingin.
"Sudah tidak usah berbohong, itu bibirmu bergetar dan membiru. Maaf.." katanya sambil memasukan kedua tanganku ke dalam kantung jaketnya.
"Jangan dilepas. Aku tidak punya maksud apa-apa, daripada besok kamu sakit." katanya beralasan.
__ADS_1
Aku berpikir betul juga alasannya. Daripada besok aku sakit, jadi kuturuti saja.
***
Kami sampai di apartment.
"Dean, boleh minta tolong miringkan sedikit. Saya mau turun" pintaku sambil mengeluarkan tanganku dari jaketnya.
Dia segera memiringkan motornya.
"Terima kasih Dean, jangan seperti ini lagi ya. Aku tidak mau merepotkan."kataku kepadanya.
"Aku tidak repot kok, nanti makan malamnya kamu mau ke luar lagi, atau kamu mau pesan makanan online?" tanya Dean.
"Sepertinya aku akan pesan online saja. Aku masuk dulu ya." pamitku.
"Ok!" jawabnya kemudian berlalu menuju parkir motor.
***
Aku baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutku dengan handuk kecil. Tidak lama bel kamarku berbunyi, aku berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Hai Sally, tadi aku pesan makanan berlebih. Aku kira daripada dibuang sebaiknya kita makan bersama." ajak Dean.
"Dean, setelah ini tolong jangan seperti ini lagi ya. Aku tahu kita berteman dari kecil. Tetapi aku sangat tidak nyaman kalau kamu merepotkan diri seperti ini." pintaku.
Dean tertunduk kecewa.
"Nanti kalau sesekali makan bersama boleh kok. Asal tidak terlalu sering." sambungku saat melihat raut wajah Dean.
"Hmm.. kalau begitu ambil ini untukmu. Aku pamit kembali ke kamarku."timpal Dean sambil pergi menuju lift, setelah memberi satu kantong makanan untukku.
"Dean, terima kasih sudah menjemputku, dan terima kasih juga untuk makanan ini." kataku.
Dean menengok sebentar ke arahku sambil tersenyum.
"Sampai besok Sally!" katanya sambil melambaikan tangam dan pergi.
-----
Terima kasih teman yang sudah mampir dan membaca.
salam
__ADS_1
vatty