Hai Cinta Kembalilah

Hai Cinta Kembalilah
bab.28. Pesta Besar


__ADS_3

Aku sudah satu tahun berada di Kota Contento. Pagi ini aku baru saja melangkah memasuki lobby kantor.


"Pagi Bu!" sapa Pak satpam dan bellboy sambil menundukan kepala.


"Selamat pagi juga Pak Rama.. Anton.." jawabku sambil tersenyum kepada mereka lalu masuk ke lobby.


Demikian juga para Staff yang kutemui memberikan senyum dan anggukan. Ku balas dengan senyuman manis dan anggukan juga.


Saat aku berjalan menuju lift untuk ke ruanganku. Tiba-tiba..


"Maammaa.. maamma.." seorang balita cantik berkuncir dua berlari memelukku. Mungkin sekitar 1 atau 2 tahun.


Aku sempat terkejut. "Hai cantik, nama kamu siapa?" tanyaku sambil mengelus kepalanya.


Anak itu langsung menatap ke arahku sambil tersenyum lebar. Deretan gigi susu tersusun rapih. Ditambah dua buah lesung pipi menambah manis senyumannya.


"Chika!! Chika!!" seseorang berpakaian baby sitter berlarian sambil menoleh kiri kanan mencari sesuatu.


Tidak lama baby sitter itu melihatku dan berjalan mendekatiku.


"Aah.. kamu di sini Chika, ayok ikut kakak main." katanya kepada anak kecil yang memeluk kakiku.


"Oh nama kamu Chika ya? Itu kakak mencari kamu untuk bermain." kataku kepada anak ini.


Bukannya melepasku malah tangannya terangkat seolah minta aku gendong. Ku angkat dan gendong anak ini.


"Yuk sama kakak dulu ya? Kasihan kakak mencari-cari kamu cemas. Nanti sore kalau tante selesai bekerja dan bertemu kamu lagi. Tante janji kita akan main bersama." kataku kepada Chika sambil memberikannya kepada Baby Sitternya.


"Terima kasih Bu, maaf merepotkan." kata Baby Sitter Chika.


"Tidak apa-apa mba, tetapi sebaiknya lebih hati-hati. Di resort ini banyak tamu, anak sekecil Chika jangan lepas dari pengamatan." pesanku.


"Iya Bu, terima kasih sudah diingatkan. Tadi Chika menumpahkan susu. Jadi saya pergi sebentar mencari tissue. Begitu saya tengok Chika sudah hilang." katanya menyesal.


"Oh begitu. Baiklah saya pamit dulu." jawabku.


"Bye.. Chika!" kataku sambil melambaikan tangan kepadanya, saat pintu lift terbuka. Chika pun membalas lambaian tanganku.


***


Besok di resort kami akan ada pesta besar. Pesta pernikahan yang mewah dan megah. Sedari kemarin para staff hotel sudah sibuk mempersiapkan semua. Sebagian besar kamar kami pun di sewa untuk para tamu undangan.


Menurut informasi yang kuterima, hari ini calon pengantin dan tamu undangan akan tiba di sini. Calon pengantinnya adalah seorang putri konglomerat dan pasangannya adalah seorang pengusaha muda.


"Glen, ini indah sekali. Kamu memang hebat!" kataku saat melewati venue acara sehabis makan siang.


Glen adalah temanku yang bertanggung jawab untuk pesta ini.


"Menurutmu seperti itu Sally. Sayangnya bukan kamu client kita. Fiuuuuh..." jawabnya terlihat lelah.


"Loh.. memangnya kenapa Glen?" tanyaku.


"Kamu tahu, ini dari 6 bulan lalu bolak balik berubah. Bahkan sampai tadi malam mereka minta bunganya diganti dengan bunga khusus. Tadi saat aku kirimkan photo sih sudah ok. Semoga saja saat melihat aslinya tidak banyak koreksi lagi." jawab Glen.


"Sabar ya Glen, ini Hot Cappucinno buat kamu biar semangat lagi!" kataku sambil memberikan segelas kopi kepadanya.


"Aah.. terima kasih Sally. Seperti air di padang gurun. Sedari tadi aku merindukan kopi, tetapi belum sempat." jawabnya lagi dengan senyuman lebar.


"Syukurlah ternyata waktunya tepat." kataku sambil tertawa kecil.


"Baiklah Glen, selamat bekerja. Aku harus naik ke atas lagi." sambungku.


"Ok Sally, selamat bekerja juga!" jawab Glen.

__ADS_1


Aku pergi meninggalkan venue dan kembali ke ruang kerjaku.


***


Saat aku turun ke lobby untuk pulang. Suasana lobby resort sedang ramai. Sepertinya rombongan calon pengantin dan para tamu undangan sudah tiba.


Neny dan Willy bagian check in kami terlihat sangat sibuk.


"Maammaa.. mamaa.." seperti suara yang aku kenal. Tetapi kali ini seperti sedang menangis.


Ku datangi asal suara. Ternyata betul suara itu adalah suara Chika. Kali ini dia berada di kereta bayi mewah. Di sebelahnya seorang wanita cantik sedang asik berbincang dengan temannya.


Tidak lama wanita itu memanggil Baby sitternya Chika. Lalu Baby sitter itu membawa pergi Chika yang sedang menangis.


"Hai Chika!!" sapaku kepada Chika saat melewatiku yang sedang berdiri.


Chika menyengir lucu seperti sudah mengenaliku. Padahal baru bertemu tadi pagi.


"Sus, boleh saya ikut main dengan Chika? Oh iya, nama Suster siapa? Nama saya Sally, seperti yang tertulis di kartu karyawan ini." kataku sambil menunjukan kartu karyawan.


"Boleh Bu, asal tidak merepotkan Ibu. Nama saya Ami Bu." jawabnya.


"Ayo kita ajak Chika main ke taman samping!"ajakku.


"Mari Bu." jawab Ami sambil mendorong kereta dorong Chika mengikutiku.


Sekitar 1 jam kami bermain, kemudian telepon genggam Ami berbunyi.


"Iya Bu.. baik Bu.. baik saya ke sana." jawab Ami pada seseorang di sana.


"Bu, saya dan Chika pamit dulu ya. Mamanya Chika menunggu." kata Ami.


"Ok Ami.. bye Chika!" kataku sambil melambaikan tangan kepada Chika yang pergi bersama Ami.


***


Bugh!


"Sorry! sorry!" kata pria yang baru saja menabrakku.


"Tidak apa-apa" jawabku sambil memungut tasku yang terjatuh.


"Daniel! Apa sudah ketemu sepatuku?" tanya wanita di belakangku, pada pria yang tadi menabrakku.


Suara yang aku kenal. Barusan dia memanggil Daniel? Itu nama Papa Andrew.


"Ini ada sayang, tadi hampir saja terbawa oleh mobil yang menjemput kita." jawab pria itu.


Aku menoleh sedikit ke belakang. Ternyata benar itu Claudia dan Daniel. Ibu dan Ayah Andrew. Sepertinya mereka salah satu tamu undangan dari calon pengantin. Dunia sepertinya sempit kalau di kalangan pengusaha besar. Mereka seperti saling terhubung satu dengan yang lainnya.


Kemudian aku berlalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


***


Sehabis makan malam, saat aku sedang membaca sebuah novel kesukaanku.


Riing.. ring.. telepon genggamku berbunyi


"Ya Glen?" tanyaku saat kuangkat telepon.


"Sally, maaf mengganggu malam-malam. Tetapi ini urgent sekali. Tiba-tiba client minta merubah karpetnya. Aku sudah menghubungi vendor langganan, tetapi tidak ada barang yang client mau. Aku juga sudah menghubungi vendor lain, tetapi mereka minta DP dulu sisanya setelah acara. Saat ini aku sudah tidak ada uang lagi. Boleh minta bayarkan DP dari kamu? Client pasti bayarkan over budgetnya. Tetapikan tidak bisa langsung." kata Glen cemas.


"Sebentar ya, coba saya tanyakan ke Pak Lucas dulu. Sambil menunggu jawaban dari Pak Lucas. Kamu tolong email permintaan tambahan dana ke saya, dan cc kan ke Pak Lucas." jawabku.

__ADS_1


"Ok Sally, aku email sekarang!" jawab Glen kemudian mematikan sambungan telepon.


***


"Ok Sally, jalankan saja seperti email Glen." jawab Pak Lucas setelah aku jelaskan permasalahannya.


"Baik Pak!" jawabku.


Aku segera berganti baju dan membawa tas ku. Dengan taxi aku menuju resort, karena token internet bankingnya ada di kantor.


"Malam Bu, kok malam-malam ke sini?" tanya satpam kantor.


"Iya Pak, ada perlu." jawabku singkat sambil tersenyum kemudian berjalan cepat menuju lift. Karena pembayaran DP ditunggu secepatnya agar barang dapat segera dikirim.


Selesai mentransfer pembayaran, aku kirimkan buktinya ke Glen agar bisa dia teruskan ke vendor.


"Glen, ini bukti transfernya. Good luck ya!" pesan text dariku untuk Glen.


"Thank you so much Sally, maaf merepotkan malam-malam." jawaban pesan text dari Glen.


Aku segera keluar dari ruangan ku, lalu menuju venue. Mungkin ada yang bisa kubantu. Mumpung aku sudah ada di sini.


"Sally.. Sally.. Sally.. akhirnya aku selamat, sebentar lagi barangnya sampai!" kata Glen antusias saat melihatku, kemudian mencengkram bahuku dengan dua tangannya.


"Syukurlah Glen, oh iya ada yang bisa aku bantu? Kebetulan aku sedang di sini." tanyaku kepada Glen.


"Sebetulnya ada sih, tapi kamu nanti kelelahan besok pagi. Kamu pulang aja deh. Bantuan kamu tadi sudah besar buatku." jawab Glen.


"Ga apa-apa Glen, aku bisa di sini sampai jam 10. Lumayan ada 1 jam 30 menit." kataku.


"Ok, kalau kamu memaksa. Aku minta tolong kamu awasi anak kitchen, jangan sampai merek ada yang terlupa bahan makanan yang dipesan client kita. Kalau denganmu mereka kayanya lebih nurut." kata Glen.


"Sip!" jawabku sambil berjalan ke arah kitchen.


Sesampaiku di area kitchen, semua juga tampak sibuk menyiapkan bahan makanan untuk masakan besok.


"Hai semua!" sapaku kepada mereka.


"Sally, tidak biasanya malam-malam ke sini" kata Jordan Chef Kepala di sini.


"Iya tadi ada perlu, melihat kalian sedemikian repot. Saya jadi mau ikutan." jawabku sambil tersenyum memamerkan gigiku.


"Boleh saya cek kelengkapannya dulu?" ijinku kepada Jordan penguasa di kitchen ini.


"Tentu saja boleh Nona, aku sudah hampir pingsan mengurusi ini." jawabnya.


Satu persatu kulihat dan kutandai check list pada daftar yang tadi diberikan Glen kepadaku.


"Ok, sudah lengkap semua. Saya pamit dulu ya, selamat bekerja teman-teman semua!" kataku berpamitan pada semua yang di kitchen.


***


Setelah menyerahkan kertas laporan kelengkapan bahan makanan kepada Glen aku pulang.


Saat melewati area lobby, mataku tidak sengaja tertuju pada sosok yang pernah kukenal. Di sebelahnya seorang wanita menggandeng dengan mesra.


Wajahnya tidak banyak yang berubah. Cuma terlihat dingin tidak seperti dulu.


----


Terima kasih ya teman-teman yang sudah mampir dan membaca.


salam

__ADS_1


vatty


__ADS_2