Hai Cinta Kembalilah

Hai Cinta Kembalilah
bab 55. Aku dan Lea


__ADS_3

"Hai kamu? Kamu cantik sekali. Mamamu mana?" kata Chris kepada gadis kecil berkuncir dua.


"Mami..ii tuch.." kata gadis kecil itu.


"Ayo kita ke Mami mu." ajak Chris sambil menggendong anak itu.


Di lorong sebelah tampak seorang wanita berdress mini A Line sedang mencari-cari sesuatu.


"Lea.. kamu di mana sayang?" panggil wanita itu.


"Tuch.. Mamiii..tuch.." kata gadis kecil itu cadel sambil menunjuk wanita tadi.


Chris hanya melihatnya dari belakang.


"Permisi!" sapa Chris.


Ternyata...


"Kamu?" kata wanita itu.


"Sally.." kata Chris pelan.


"Mamii.. Mamii.." kata Lea minta berpindah tangan kepadaku.


"Kamu dari mana sayang? Mami baru aja menengok sebentar kamu sudah pergi. Nanti jangan seperti itu lagi ya? Mami kuatir." kataku kepada Lea.


Dijawab anggukan darinya.


Segera kuambil Lea dari Chris. Kupeluk dan kucium belahan jiwaku itu.


"Jadi??" tanya Chris.


"Hai Chris apakabar? Iya Lea anakku." jawabku.


"Aku.. ya seperti kamu lihat. Pantas wajah anak ini mengingatkanku akan seseorang." kata Chris tersenyum.


Chris terlihat kurusan. Wajahnya pun mulai dihiasi kumis, jambang dan jenggot. Berbeda dari dulu.

__ADS_1


"Kamu bersama siapa?" tanyanya.


"Cuma berdua bersama Lea. Kami permisi dulu." pamitku.


Chris sebetulnya ingin menghentikan langkah Sally, dan ingin berlama-lama dengannya.


Tetapi dia masih tidak mampu untuk memulainya.


***


"Dean.. aku sangat rindu kamu. Apa kabar kamu di sana? Lea anak kita sudah lebih dari 2 tahun. Semakin besar mata dan hidung terlihat sepertimu. Mata yang selalu membuatku tak berdaya dengan tatapannya." kataku pada suamiku tercinta.


1 tahun yang lalu Dean pergi meninggalkan kami. Dia tidak menceritakan tentang penyakitnya kepadaku.


Dulu sewaktu sekolah Dean menjadi orang yang tertutup dan pemalu. Itu karena penyakit yang dideritanya. Sampai kejadian di depan kelas denganku di waktu itu. Perlahan semangatnya tumbuh. Beberapa tahun kemudian dia dinyatakan sehat.


Sampai 2 tahun lalu, ternyata penyakitnya kambuh lagi. Dean tidak pernah mengeluh atau apa. Dia selalu berusaha terlihat baik saja di depanku. Namun harus berakhir pada kepergiannya. Waktu itu Lea baru berumur satu tahun.


Aku sangat terpukul saat itu. Aku tidak rela kehilangan kekasihku. Belum lagi buah cinta kami yang masih sedemikian kecil.


Tetapi, aku harus bangkit demi Lea. Aku pikir Dean pun tidak ingin aku terus meratap. Hidupku saat ini untuk Lea. Perlahan beberapa bulan belakangan ini aku baru bisa menerima kepergian Dean.


Lea hanya menatap dan memperhatikanku.


Pada saat Dean tahu aku mengandung Lea, dia sangat senang sekali. Terlebih saat Lea lahir. Kami menikmati saat-saat menjadi orang tua. Yah.. walaupun tidak berlangsung lama. Setidaknya Dean sempat melihat putri cantiknya, buah cinta kami.


"Selamat beristirahat sayang. Saya selalu mencintaimu. Saya akan selalu menjaga anak kita. Sampai berjumpa lagi jika waktu saya tiba." kataku sambil menatap photo Dean di atas batu nisan.


Aku dan Lea beranjak dari sana. Kami berjalan menuju tempat di mana mobil kami terparkir.


***


Chris sudah tahu mengenai semua kabar tentang Sally. Tak ada sedikitpun cerita tentang Sally yang luput darinya.


Ingin rasanya dia menghibur gadis yang dicintanya itu. Tetapi, dia tidak tahu bagaimana caranya. Dia takut akan melakukan kesalahan lagi.


Diambilnya pisau cukur. Dibabatnya habis jengot, jambang, dan kumisnya. Sehabis membersihkan diri dibaringkan tubuhnya di tempat tidur.

__ADS_1


Rasa rindunya kepada Sally belum juga hilang. Apalagi, setelah tadi siang tidak sengaja bertemu di supermarket. Membuat kerinduannya bertambah.


***


Suara bel rumahku berbunyi.


"Hai Tom! Silahkan masuk." kataku pada Tom.


Lea sudah mengenal Tom. Sudah beberapa kali Tom bertemu dengannya. Tom datang menghiburku dan bermain bersama Lea.


Saat kami asik bermain bertiga...


"Sally.. boleh jika aku tetap menunggumu?" kata Tom.


"Hmm.. maksudmu?" aku terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.


"Aku... masih dan selalu mencintaimu. Apakah boleh aku menjadi ayah bagi Lea?" tanya Tom sambil menatapku.


"Aku hanya butuh jawaban apakah masih ada kesempatan untukku menunggumu. Aku tidak masalah butuh berapa lama. Aku bersedia sampai menunggu sampai kamu siap." lanjut Tom.


"Tom.. saya tidak bisa menjanjikan apa-apa. Sekarang ini, hidup saya hanya untuk membesarkan Lea sebaik mungkin. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." jawabku.


"Saya belum mau membahas itu untuk saat ini. Maaf Tom." kataku lagi.


"Ok" jawab Tom singkat


***


Pagi ini di meja kantorku sudah ada setumpuk coklat.


"Rasa manis dari coklat bisa menenangkan hati yang gundah. Makanlah sebanyak yang kamu mau." Itu yang tertulis di dalam kartu yang terlampir di antara coklat.


Lagi-lagi dari orang misterius itu. Beberapa kali dalam sebulan ada saja yang dikirimnya. Dan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.


---


Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.

__ADS_1


salam


vatty


__ADS_2