
Seharusnya, hari ini adalah hari yang indah buat pasangan pengantin pada umumnya. Tetapi, tidak dengan Andrew. Pernikahan ini seperti menelan obat yang sangat pahit baginya.
Di kanan kiri keluarga dan kerabat menyaksikan Andrew dan Vivian mengucap janji suci. Pengantin wanita menangis haru. Keluarga dan para tamu menyambut gembira.
Pasangan pengantin berjalan menemui para tamu. Memang senyum yang terlihat di wajah Andrew, tetapi tidak di hatinya.
"Selamat ya! Kalian memang pasangan serasi." seorang tamu menjabat tangan Andrew.
"Terima kasih." jawab Andrew.
Vivian menggandeng mesra tangan Andrew. Seolah tidak mau terpisah sedetikpun. Buatnya, Andrew melebihi dari cintanya. Bahkan, Andrew adalah kehidupannya.
***
Lelaki gunung es itu tidak dapat memejamkan matanya, hatinya gelisah. Pikirannya menerawang pada suatu tempat. Padahal sudah dini hari.
"Aku kira, aku bisa terus bersembuyi darimu. Ternyata hatiku ingkar. Aku akan segera menemuimu..." katanya lirih.
Diambilnya koper, lalu dimasukan beberapa baju ke dalamnya. Tiket pesawat pun segera dipesannya untuk penerbangan besok pagi.
"Kak, semua gambar sudah saya email. Beberapa hari saya akan ke luar kota." pesan text dikirimkan kepada atasannya.
"Ok, selamat berlibur Tom! Beberapa tahun ini kamu bekerja terlalu keras. Liburan memang cocok untukmu." pesan text balasan dari Tiza atasan Tom.
"Terima kasih kak." jawabnya.
Pria itu masih asik dengan telepon genggamnya. Sebuah nama sudah tertulis di sana. Dia mengetik pesan, tidak lama dihapusnya. Selalu seperti itu sampai beberapa kali.
"Sall" akhirnya satu pesan text singkat terkirim pada seorang gadis.
"Hai Tom." pesan text jawaban dari gadis itu diterimanya.
Ternyata Sally belum tidur juga. Atau malah terbangun karena pesan text darinya. Akhirnya diurungkan melanjutkan pesan text.
Dia tertunduk memeluk kedua lututnya.
***
Malam ini kerongkonganku terasa kering. Aku terbangun, lalu kuambil segelas air dan langsung meminumnya.
Telepon genggamku bergetar. Ada pesan text baru di sana. Saat ku lihat ternyata dari Tom. Pesannya sangat singkat, bahkan namaku pun tidak lengkap.
"Hai Tom." kujawab pesan textnya.
Ku tunggu beberapa saat tetap tidak ada jawaban. Aku masih mengantuk, ku letakan telepon genggam kembali di tempatnya.
__ADS_1
Tidak lama aku pun melanjutkan tidurku.
***
Siang ini aku menerima pesan text dari Tom. Dia mengabarkan kalau sedang ada di Contento.
"Kok mendadak sih Tom? Oh semalam kamu kirim pesan text untuk mengabari aku ya?" tanyaku melalui telepon.
"Sengaja sih, biar surprise hahha.." jawab Tom diikuti tawa.
"Terus kalau sudah di sini, kamu sempat ketemuan ga? Kalau mau aku traktir sih." kataku.
"Ya iyalah, masa sudah jauh-jauh tidak menemui sahabatku." jawab Tom.
"Tom.. tapi, nanti saya ajak Dean boleh?" tanyaku.
"Dean? Maksud kamu Dean teman sekolah kita? Dia ada di sini?" tanya Tom dengan suara berubah tidak seceria tadi.
"Iya, dia ada di sini Tom. Bagaimana?" kataku.
"Baiklah." jawab Tom pasrah.
"Ok, sampai nanti sore!" kataku.
"Ya, sampai nanti sore." jawab Tom mengakhiri percakapan kami.
"Dean, Tom ada di sini. Nanti kita makan malam bersama dia yuk! Kamu juga sudah lama tidak bertemu dia kan?" pesan text untuk Dean.
"Ok, nanti aku jemput kamu." jawab Dean.
***
Aku dan Dean sudah menunggu di rumah makan lebih dari 30 menit. Tetapi, tidak juga ada tanda kehadiran Tom.
Apakah dia berbohong kalau ada di Contento? Lalu apa alasan dia berbohong? Telepon genggamnya pun sudah tidak aktif.
Minuman yang kami pesan sudah hampir habis.
"Kita makan duluan saja sayang. Nanti kamu sakit." Dean memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Ok.." jawabku tidak bersemangat.
Ku coba telepon kembali. Masih tidak aktif juga. Tom.. Tom.. kamu kembali bertingkah misterius lagi.
Sampai kami selesai makan, Tom tidak datang juga. Aku dan Dean memutuskan pulang.
__ADS_1
***
Jam 6 lewat 20 menit, berarti lebih awal 10 menit dari waktu yang Tom dan Sally sepakati. Tom sudah duduk di rumah makan yang dikatakan Sally. Segelas minuman sudah habis setengah.
Tatapan Tom tertuju pada pintu masuk rumah makan. 25 menit kemudian, sepasang pria dan wanita yang dia kenal ada di sana.
Sepasang manusia itu terlihat sangat akrab, bahkan lebih dari itu. Tangan mereka saling bertautan erat. Sesekali sang pria mengelus mesra rambut wanita itu.
Tom merasakan sakit yang sangat pada dadanya. Terlebih melihat tatapan mesra pasangan itu.
Ditaruhnya selembar uang pada meja di mana dia berada. Dirapatkan mantelnya, kemudian menyusup ke luar di antara para tamu.
Pikirnya harus segera pergi dari ruang itu. Lagi-lagi dia terlambat. Dia tidak akan kuat menghadapi gadis pujaannya mesra dengan pria lain di hadapannya.
Sebuah taksi diberhentikannya.
"Pak, ke hotel smurk!" pintanya pada sopir taksi.
Dimatikan telepon genggamnya. Dia menatap nanar ke luar jendela mobil. Sepertinya, keputusannya ke kota ini adalah keputusan yang salah.
Gadis itu sudah menjadi milik orang lain. Orang yang selalu mengganggu gadis pujaan yang dia lindungi dengan segenap hati.
Ternyata, kesabarannya menunggu tidak membuahkan hasil. Sally tidak pernah mencintainya sebagai seorang laki-laki.
Setelah sampai di hotel dia langsung check out.
"Mba, saya mau check out dari kamar 305." katanya pada bagian reservasi.
"Baik Pak. Tunggu sebentar." jawab staff yang bertugas.
"Sudah clear semua. Kami tunggu kehadirannya kembali di hotel kami. Terima kasih." kata staff reservasi.
"Ok, terima kasih!" jawab Tom.
Seolah alampun mengerti kepedihannya. Hujan turun saat dia keluar dari hotel.
Dengan taksi Tom menuju bandara untuk kembali ke kotanya.
"Haruskah aku bersembunyi selamanya dari mu Sally!" kata Tom dalam hati.
Dengan menengok sekali lagi ke luar sana. Akhirnya Tom memantapkan kakinya menuju ruang boarding.
---
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
__ADS_1
salam
vatty.