
Waktu berlalu begitu cepat. Andrew sudah bergabung di Grande Corp sejak 2 tahun lalu di kota Salaria. Kota Salaria berjarak beratus-ratus kilo meter dari kota Agria.
Tidak ada pamit maupun kata perpisahan dari Andrew. Dia pergi tanpa berkabar sama sekali.
Hari kami bertemu di pesawat pribadi Chris 3 tahun lalu, adalah hari terakhir dia berbicara denganku sebagai teman. Selebihnya berbicara seperlunya hanya sebagai dosen dan mahasiswi sampai habis semester itu.
"Selamat Sally, kamu dinyatakan lulus pada sidang skripsi ini!" kata dosen penguji di ruang sidang.
"Terima kasih Pak." Sally menyalami satu persatu dosen pengujinya.
Saat ini akupun sudah menyelesaikan kuliahku. Tinggal menunggu waktu wisuda.
Bulan depan Pa, Ma dan Mey akan datang ke Agria menyaksikan wisudaku. Tadinya aku akan menunggu di sini sampai mereka datang. Tetapi..
"Sayang, kamu ambil cuti saja satu atau dua minggu. Aku lihat kamu sangat sibuk belakangan ini. Aku antar ya pulang ke dusun Lembah Asri." kata Chris.
"Tapi Chris pekerjaanku banyak. Tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja." jawabku.
"Urusan itu biar aku yang atur. 2 minggu lagi aku jemput kamu di bandara sekembalinya aku dari Milan." kata Chris sambil menggenggam tanganku.
"Baiklah." jawabku.
Pikirku setidaknya aku bisa beristirahat sejenak setelah berjibaku dengan tugas akhir, dan di saat bersamaan disibukan dengan tugas kantor yang sedang banyak.
***
Saat ini Chris sudah ada di Milan untuk urusan bisnis. 1 minggu lagi kami akan pergi bersama ke dusun Lembah Asri.
"Sayang Milan sangat indah. Suatu saat aku akan membawamu ke sini. Pasti akan terasa lebih menyenangkan. Aku sangat merindukanmu sampai hampir gila." pesan text disertai gambar kota Milan dari Chris.
"Aku juga sangat merindukanmu Chris." jawabku pada pesan text.
Malam hari setelah selesai mandi, kubuka laptopku. Mulai berselancar membaca berita di dunia maya. Di pojok atas tampil iklan dari website lowongan kerja. Aku terusik untuk membukanya.
Setelah membaca-baca beberapa lowongan pekerjaan yang terpampang di sana. Aku iseng memasukan resume pada beberapa perusahaan yang menurutku menarik.
Bukan aku tidak betah dengan kantor yang sekarang. Tetapi aku agak risih dengan privillege yang kudapat. Seandainya aku bekerja di tempat lain, orang akan murni melihat hasil kerja kerasku. Bukan dari siapa pasanganku.
Riing.. ring.. nama Chris yang muncul.
"Ya Chris" kataku menjawab panggilan telepon darinya.
"Sayang.. aku..u.. rindu kamu." kata Chris dari seberang sana.
"Aku juga, tinggal 1 minggu lagi kita bertemu." jawabku.
"Hmm.. aku ada kejutan untukmu, tetapi baru akan aku berikan saat kita sampai di dusun Lembah Asri." katanya berteka teki.
"Apa itu?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Rahasia dong! Kalau aku katakan sekarang tidak menjadi kejutan untukmu." katanya menggoda.
"Ok..ok.. aku tunggu. Tetapi harus seru ya! Kalau tidak seru, sia-sia penantianku 1 minggu untuk kejutanmu itu." kataku tidak mau kalah.
"Bisa seru... bisa tidak sih. Tergantung respon kamu nanti." katanya lagi bermain kata.
"Baiklah aku tunggu." kataku menyerah.
"Nah.. kalau begitu kan akan lebih mudah bagiku untuk menyiapkan kejutanku. Sayang.. maaf sebentar lagi meeting. Aku tutup dulu ya teleponnya, I love you and I miss you so much!!" kata Chris sebelum menutup teleponnya.
***
Pada suatu jam makan siang. Telepon genggamku berbunyi. Terlihat nomor telepon yang tidak ku kenal. Saatku angkat..
"Selamat siang dengan Nona Sally, kami dari Ferie Group. Kami menerima aplikasi anda beberapa hari lalu untuk posisi Manager Keuangan. Apakah anda bisa datang ke kantor kami 3 hari lagi untuk wawancara? Jamnya bisa kapan saja sesuai dengan waktu anda. Kami bisa mulai jam 9 pagi sampai jam 7 malam." tanya suara wanita dari telepon di seberang sana.
"Iya betul saya Sally. 3 hari lagi ya, sebentar.. Ya saya bisa tetapi setelah jam 6 sore." jawabku.
"Baik, alamat kami di Smurk Hotel. Sampai bertemu 3 hari lagi di tempat kami. Nanti anda langsung bertemu dengan saya Anatastasia. Terima kasih untuk waktunya." kata wanita itu mengakhiri pembicaraan.
"Baik, terima kasih kembali untuk kesempatannya." jawabku.
Kemudian telepon masing-masing di tutup.
Waah.. aku dapat panggilan wawancara dari Ferie Group. Perusahaan Denmark yang memiliki banyak resort dan hotel mewah.
***
"Semangat anda dan kualifikasi anda sesuai dengan apa yang kami cari. Kami menerima anda bergabung dengan perusahaan kami. Tetapi untuk penempatannya nanti di kota Contento. Apakah anda bersedia?" tanya Anastasia.
"Sebelumnya terima kasih untuk kesempatan yang telah diberikan. Apakah boleh saya meminta waktu untuk mempertimbangkannya?" tawarku kepadanya.
"Baik, kami beri waktu 1 minggu untuk anda dapat mempertimbangkannya." jawab Anastasia.
"Terima kasih" jawabku.
"Terima kasih juga untuk waktunya. Kami sangat menunggu jawaban anda." sambung Anatasia.
"Saya akan segera memberikan jawabannya." kataku sambil berdiri dan menyambut jabatan tangan Anastasia.
Diperjalanan pulang aku berpikir, apakah harus aku terima atau tidak kesempatan itu? Jika aku menerimanya, alasan apa yang tepat untuk kukatakan kepada Chris.
Baiklah akan kuceritakan semua dahulu kepada Chris. Akan kulihat bagaimana reaksinya nanti. Toh masih ada waktu menjawab.
***
Pagi-pagi Pak Don menjemputku di Mess untuk di antar ke bandara atas perintah Chris. Aku akan naik pesawat pertama. Setelahnya akan bertemu Chris di kota Harapan dan bersama menuju rumahku di dusun Lembah Asri.
"Terima kasih Pak Don." kataku selesai Pak Don memberikan koperku dari dalam bagasi mobil.
__ADS_1
"Terima kasih kembali Bu Sally, hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai tujuan." jawab Pak Don.
"Amin, terima kasih doanya Pak." kataku.
Kemudian Pak Don mengangguk dan masuk ke dalam mobil kemudian pergi. Sedangkan aku masuk dalam bandara menuju bagian check in.
***
Aku sudah tiba di bandara kota Harapan.
Sudah 2 jam lebih belum kulihat kedatangannya. Ku telepon pun, masuk ke dalam mail box. Aku kuatir terjadi sesuatu padanya. Seharusnya menurut hitungan waktu dia sudah tiba 30 menit lebih awal dari pada pesawat yang mengantarku.
Cacing-cacing dalam perutku sepertinya mulai protes.
"Pak Paul, ayok ikut saya makan siang dulu! Chris belum juga tiba, mungkin ada delay." ajakku kepada Pak Paul yang sedari tadi menunggu di depan bandara.
"Tidak terima kasih Bu Sally. Saya belum lapar." jawab Pak Paul menolak halus.
Tetapi tidak lama perut Pak Paul berbunyi kruuukk..
"Tuh kan Bapak betulan lapar. Ayok jangan menolak lagi!" paksaku mengajak Pak Paul untuk makan siang.
"Maaf Bu" jawab Pak Paul malu-malu. Pada akhirnya mengikuti langkahku di belakang.
***
Total 3 jam kami menunggu Chris. Tetapi belum juga kutemukan sosoknya. Nomor teleponnya masih belum bisa dihubungi.
Ring ring.. telepon genggam Pak Paul berbunyi.
"Ya Bu, baik Bu.. baik Bu." jawabnya pada seseorang di seberang sana.
Tidak lama teleponnya dimatikan.
"Bu Sally, tadi Bu Claudia bilang, saya diminta antar Ibu terlebih dahulu ke dusun Lembah Asri. Bu Claudia juga berpesan kalau Pak Chris akan menyusul kemudian. Pak Chris terlambat karena ada urusan di Milan yang belum selesai. Mari Bu, saya ambil mobil dulu ya." jelas Pak Paul kemudian pamit untuk mengambil mobil di tempat parkir.
"Ok Pak!" jawabku, lalu menuju di lobby bandara menunggu Pak Paul menjemput.
"Mengapa Chris tidak dapat kuhubungi? Lalu kalau dia bisa menghubungi Kak Claudia, mengapa tidak memberitahu aku langsung? Ah mungkin telepon genggamnya habis battery dan yang diingat nomor telepon rumahnya." Pikirku positif.
Tidak lama mobil datang, aku dan Pak Paul menuju dusunku. Pesan text dariku untuk Chris sedari tadi belum terkirim juga. Itu menandakan telepon genggamnya belum aktif juga.
----
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
vatty ☺️
__ADS_1