
Malam dingin disertai hujan deras. Seorang anak kecil baru genap 10 tahun, terjaga seorang diri dengan beberapa bagian tubuh mengeluarkan darah.
"Mommy!! bangun... aku takut Mommy! hiks hiks.." kata anak itu pada tubuh wanita yang saat ini kaku tak berdaya di samping tempat duduknya.
Tidak mendapat respon dari sang Ibu, lalu dengan susah payah dia menggerakan badannya ke arah pengemudi. Di sana ada tubuh seorang pria dewasa yang juga berlumuran darah dengan wajah menelungkup pada kemudi.
"Daddy!! bangun... Daddy... hiks hiks..." panggilnya pada pria itu.
Mobil yang tadi mereka tumpangi sudah tidak berbentuk lagi.
Anak itu tidak ingat apa yang baru saja terjadi. Dia hanya ingat, beberapa saat lalu sedang tertidur dipangkuan ibunya. Kemudian tubuh kecilnya merasakan guncangan.
Saat sadar keadaan sudah seperti ini. Dia sangat ketakutan tidak tahu harus berbuat apa.
"Tolong!! tolong kami!!" teriaknya dengan tenaga tersisa meminta bantuan.
Berharap ada orang yang lewat membantu. Namun sampai dia tidak kuat berteriak lagi. Tidak ada seorang pun yang datang.
Air hujan yang menembus masuk ke dalam mobil dari kaca yang pecah, menambah dinginnya malam ini. Dia menggigil menahan sakit, sangat ketakutan dan kedinginan. Dipeluknya tubuh sang bunda, seolah meminta perlindungan.
"Mommy... aku takut.. Mommy aku takut!" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Sampai fajar datang, seorang penduduk setempat lewat di tempat itu. Perlahan warga lain pun mulai berdatangan. Beberapa saat kemudian, pihak berwajib juga tiba di tempat itu.
"Cepat bantu keluarkan mereka!" teriak seseorang.
"Anak ini masih hidup, segera berikan pertolongan pertama!" perintah pria itu lagi pada rekannya.
***
Aku sedang menyingkirkan semua botol minuman yang ada di kamar ini, sebelum aku pulang. Sedangkan Chris sudah tidur dari 30 menit yang lalu.
"Mommy.. Mommy.. Mommy!!!" suara teriakan Chris terdengar.
Aku beranjak menuju tempat Chris tertidur. Matanya terpejam, tetapi dia terus berteriak sambil terisak.
"Chris! bangun Chris! Chris!" kataku sambil mengguncang tubuhnya agar terjaga dari mimpinya.
"Hiks..hiks.. Aku takut Sally, aku takut sekali." kata Chris memeluk tubuhku.
Tubuhnya menggigil ketakutan, sepertinya baru saja bermimpi buruk. Kutepuk perlahan punggungnya mencoba menenangkan.
__ADS_1
"It's ok Chris.. itu cuma mimpi." kataku.
"Sally, aku betul-betul takut!" kata Chris sambil menangis memelukku.
Saat dia mulai tenang, kubantu menyenderkan badannya pada sisi atas tempat tidur.
"Tolong ambilkan obat di laci kedua!" pintanya lembut.
Aku beranjak menuju tempat yang dimaksud. Ku ambil tabung obat di sana. Kuberikan obat itu kepadanya beserta segelas air putih.
"Sejak kapan kamu mengkonsumsi obat ini Chris?" tanyaku setelah membaca label obat penenang yang baru saja dia minum.
"Sejak mimpi buruk itu kembali." jawabnya sambil menghela napas panjang.
"Mohon jangan pergi Sally! Temani aku di sini." Dia mohon sambil menggenggam tanganku.
"Kenangan pahit itu, sungguh sangat menyiksaku. Malam itu saat hujan turun dengan derasnya, aku dan keluargaku dalam perjalanan pulang. Entah bagaimana, mobil yang dikendarai Daddy keluar dari jalurnya dan terbalik." Chris menghentikan ceritanya sejenak untuk mengambil napas panjang.
"Kulihat darah mengalir dari tubuh kedua orang tuaku. Akupun merasakan sakit pada kepala dan tubuhku. Kupanggil mereka, tetapi tidak ada jawaban. Aku berteriak meminta tolong, tidak ada satupun orang yang datang." matanya menerawang.
"Barulah dipagi hari, ada warga yang menemukan kami. Kedua orang tuaku dinyatakan meninggal. Hanya aku seorang diri yang selamat. Sejak kejadian itu, aku mulai bermimpi buruk." sambung Chris tertunduk.
"Mimpu itu menggangguku hingga 2 tahun setelah kejadian. Syukurlah, kemudian aku dapat hidup normal. Hingga beberapa bulan lalu... Mimpi itu datang lagi." kata Chris sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Beberapa saat kemudian Chris terlelap dipangkuanku, seperti seorang anak kecil. Aku mengambil sebuah bantal, untuk mengganti pangkuanku.
"Beristirahatlah Chris. Saya pulang." bisikku kepadanya.
Kuambil tasku dan kututup pintu kamar perlahan. Ada beberapa pesan text di telepon genggamku.
"Sayang, kamu masih di kantor? Mau aku jemput?" tanya Dean memalui pesan text 2 jam lalu.
Dean tahu, saat aku sibuk dia tidak akan telepon ataupun mengirim pesan berkali-kali. Karena Dia pikir itu akan menggangguku.
"Sally, apa Chris ada di sana? Jika iya tolong jaga dia untuk kami." pesan masuk dari Kak Claudia.
kujawab satu persatu pesan itu sambil berjalan ke luar menuju lobby.
"Iya Dean, saya masih di kantor. Tetapi, sudah mau pulang kok. Kamu tidak usah jemput." kukirim pesan kepada Dean.
"Iya, dia di sini Kak" kukirim jawaban kepada Kak Claudia.
__ADS_1
Tidak menunggu lama pesan text baru masuk di telepon genggamku.
"Hati-hati sayang, besok pagi aku jemput kamu. Aku sangat merindukanmu." pesan dari Dean.
"Iya, terima kasih. Sampai besok pagi. Saya juga rindu." jawabku.
***
Saat aku akan beristirahat telepon genggamku berbunyi. Ternyata telepon dari Kak Claudia. Kuangkat telepon itu.
"Hallo Kak!" kataku.
"Sally, tolong bantu kami jaga Chris. Aku tahu ini terlihat tidak tahu malu. Tetapi, aku dan Daniel sangat mencemaskannya." pinta Kak Claudia.
"Tetapi Kak.." jawabku terpotong.
"Aku mohon Sally!! Dia kembali mengingat kejadian, saat kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Padahal dia sudah lama sembuh dari luka traumatis itu. Sepertinya karena beberapa hal buruk terjadi padanya belakangan ini. Itu yang menjadi pemicunya." kata Kak Claudia.
"Memang apa yang terjadi dengannya Kak?" tanyaku.
"Jo meninggalkan dia, demi seorang laki-laki yang dapat meningkatkan karirnya. Chris, sudah menyayangi Chika sebagai anaknya sendiri, Chika pun menganggap Chris sebagai ayahnya. Perpisahannya dengan Jo, tentu saja menjadi perpisahannya juga dengan Chika. Chika menangis sangat pilu, berpisah dengan Chris." jelas Kak Claudia.
"Tangisan Chika, mengingatkannya akan tangisannya pada malam kecelakaan itu. Selain itu.." kata Kak Claudia terputus.
"Sigh.. Chris pernah cerita, kalau dia sangat menyesal meninggalkanmu. Dia ternyata sangat mencintaimu Sally. Dia selalu mengutuki dirinya sendiri. Hari-harinya diisi dengan mabuk-mabukan. Hingga pada suatu hari dia hilang entah kemana, telepon dari kami tidak diangkat. Syukurlah tadi kamu membalas pesanku." kata Kak Claudia mengakhiri ceritanya.
"Jadi seperti itu. Tetapi Kak, maaf saya tidak dapat berbuat lebih kepada Chris." jawabku.
"Aku mohon Sally! Aku kira hanya kamu yang dapat mengobati traumanya. Dia sudah berobat, tetapi tidak ada hasil. Menurut psikiater, mungkin dia bisa sembuh jika menemukan cintanya lagi." pinta Kak Claudia.
"Antara saya dan Chris sudah lama berakhir. Dan saat ini, sayapun sudah memiliki orang lain. Maaf kan saya Kak, tetapi saya akan mencoba membantunya sebagai seorang teman." jawabku.
"Terima kasih Sally. Maaf kalau merepotkan kamu. Dan tidak tahu malu seperti ini. Maaf juga sudah mengganggu di malam larut seperti ini. Selamat beristirahat Sally!" kata Kak Claudia lirih.
"Tidak apa-apa kak. Selamat malam dan selamat beristirahat juga kak!" kataku mengakhiri.
---
Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca tulisan saya.
salam
__ADS_1
vatty