
Sejak pertemuan mereka kembali. Andrew hari ini kembali berlibur ke kota Contento. Tentu saja di Glaede Resort tempat Sally bekerja.
"Pak Andrew, ini kuncinya." kata Willy bagian reservasi kepada Andrew.
"Terima kasih!" jawab Andrew.
"Terima kasih kembali Pak." sahut Willy.
Andrew memencet tombol lift.
Sambil menunggu lift. Dilihat telepon genggamnya kalau-kalau ada hal penting di sana.
805, itu nomor kamar Andrew. Berada di lantai 8 gedung dengan nomor urut 5. Sebuah kamar suite yang berhadapan langsung dengan lautan.
Karena dia tiba sudah malam, setelah membersihkan diri Andrew pun tertidur. Berharap besok pagi dapat bertemu dengan pujaan hati.
***
Di bagian dunia lain, jauh di benua Eropa sana. Seorang lelaki duduk seorang diri disebuah balkon rumah. Sebatang rokok dan sebotol minuman menemaninya.
Sejak bertemu kembali dengan Sally, hatinya tidak tenang. Bukan hanya dipenuhi rasa bersalahnya terhadap gadis itu. Tetapi juga penuh dengan rasa kerinduan yang tidak dapat disembunyikannya.
Dia baru sadar, kalau ternyata wanita yang sesungguhnya dicintainya adalah Sally. Dia rindu tawanya, cara bicaranya, keketusannya, dan segala yang ada padanya.
Dan..
Dia pun baru menyadari, apa yang dia rasakannya pada Jo hanya sebatas obsesi masa lalu yang belum tersampaikan. Saat ini saat dirinya hidup bersama Jo, dia merasa hampa. Itu jelas bukan cinta.
Lelaki itu kian hanyut dalam pikirannya. Cairan dalam botol ditangannya tinggal beberapa teguk lagi.
"Hoaam.. Chris kamu belum tidur ternyata!" kata suara wanita yang baru saja masuk dan berjalan ke arah Chris.
Karena dia lihat Chris masih ada di sana.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang? Sudah ingat jalan pulang ke rumah?" jawab Chris yang mulai terpengaruh alkohol.
"Maksud kamu apa Chris? Aku bekerja selama sebulan ini. Kamu kira aku main-main?" jawab wanita itu sengit tidak terima dengan perkataan Chris.
"Kamu itu punya anak Jo, kasihan Chika. Setidaknya sisihkan waktumu untuk dia. Kamu bukam wanita lajang tanpa anak. Ingat itu!!" kata Chris membentak.
Chris tidak suka akan perlakuan Jo kepada Chika selama ini.
"Kamu tahu Chris? Untuk pada di posisi saat ini sudah banyak yang sudah aku korbankan? Termasuk aku pergi meninggalkan cintamu saat itu. Walapun pada akhirnya kita bertemu lagi." jawab Jo.
"Dan, aku tidak akan melepas ini demi anak itu. Anak dari Pria yang suka memukulku. Semua model sangat menginginkannya berada pada posisiku. Tidak mungkin dengan mudahnya aku tinggalkan." sambung Jo lagi lalu pergi menuju kamar.
Tinggal Chris sendiri dengan penyesalannya yang bertambah. Menikah dengan boneka barbie tidak seenak seperti yang orang kira. Sepertinya mereka lebih mencintai diri mereka sendiri, dibanding anak dan keluarganya.
Gambaran indah dari film atau cerita berbanding terbalik dengan kehidupan Chris saat ini.
***
Di bagian lain dari negri para pujangga. Ada seorang pria sedang sibuk dengan goresan-goresan lurus baik tegak maupun melintang. Penggaris dan alat gambar sudah menjadi temannya sehari-hari.
"Iya Kak, ini sudah tahap finishing kok." jawan Tom.
Diteguknya kopi pahit kental untuk membuatnya tetap terjaga. Tidak tampak sebatang pun tembakau di dekatnya. Itu.. karena dulu ada seseorang yang memarahinya sewaktu mencoba benda kecil yang mengeluarkan asap itu.
"Tom! Kamu merokok?" tanya Sally saat memergoki Tom bersama anak laki-laki kelasnya merokok di balik dinding sekolah.
"Ya ga apa-apa sih, cuma kalau sayang diri sendiri sebaiknya jangan.Tetapi.. kalau mau gabung sama kita, kamu cuci tangan dan cuci muka dulu. Aku sangat tidak suka baunya." lanjut Sally waktu itu.
Itu terjadi saat mereka duduk di kelas pertama sekolah menengah pertama.
Seolah seperti mendapat perintah. Mulai saat itu, dia bertekad tidak akan menyentuh benda itu lagi. Menurutnya apa yang Sally tidak suka, tidak seharusnya tetap dia lakukan.
Sebuah benda jatuh dari mejanya. Sebuah jam saku terbuat dari perak dengan ukiran sederhana.
__ADS_1
Dibukanya jam itu, di sisi bawah seperti jam sama pada umumnya memperlihatkan lingkaran angka dan jarum. Tetapi pada sisi atasnya, tampak gambar seorang wanita yang tersenyum manis dengan deretan giginya yang rapih.
Photo itu adalah photo Sally gadis yang selalu mengisi ruang hatinya. Pikirannya membawanya pada kejadiaan saat photo itu diambil.
"Kita photo yuk?" ajak Tom pada sahabat-sahabatnya saat acara berkemah diadakan di sekolahnya.
"Aku mau! aku mau!" jawab Mena berisik.
Setelah photo bersama-sama, belakangan Tom minta sahabat-sahabatnya berphoto sendiri-sendiri.
Sebetulnya itu cuma alasan dia saja. Dia ingin mendapat photo Sally seorang diri. Untuk nantinya dia taruh pada jam saku yang baru diterima dari ayahnya. Menurut ayahnya jam saku itu langka karena merupakan warisan turun temurun di keluarganya.
Saat ini dipandanginya photo itu sambil sesekali menarik napas panjang kemudian mengembuskannya.
"Semoga, semuanya berjalan lancar. Aku akan tetap bekerj keras. Maaf Sally! Aku sudah mencoba mengembalikan perasaanku sebagai perasaan seorang sahabat. Tetapi tetap tidak bisa." bisiknya lirih.
***
Sudah sejak 1 minggu lalu Sally tidak ada di Contento. Dia sedang berlibur ke dusunnya. Dean kembali menjalani kehidupannya tanpa Sally sampai 1 minggu lagi ke depan.
Dean tidak dapat mengambil cutinya. Karena beberapa bulan lalu sudah diambilnya untuk pulang ke dusun saat Kakaknya menikah.
Seperti pria kesepian tanpa kekasih. Dean menatap nanar keluar jendela. Dia rindu, iya.. dia rindu gadis itu. Dia rindu Sally.
Makanan yang dibelinya beberapa saat lalu sudah dingin, tetapi masih enggan di sentuhnya.
"Seandainya ada kamu di sini Sally." bisiknya.
---
Terima kasih teman, yang sudah mampir dan baca cerit saya.
salam
__ADS_1
vatty