
Jam 4 lewat 30 menit, beberapa jam melewati dini hari. Aku terbangun dari mimpi indahku. Kiranya aku sedang terbang tinggi di awan. Ternyata, aku masih ada di sini. Di kamar ku yang bernuansa coklat dan putih.
6 buah panggilan tak terjawab. Nomor yang tidak kukenal muncul sana. Sudah menjadi kebiasaan di saat aku tertidur, telepon genggam pada mode getar.
Telepon ku kembali bergetar. Ku angkat karena kuatir kalau itu telepon penting.
"Hallo!" jawabku.
"Akhirnya kamu angkat juga. Aku di sini, aku mencarimu, aku merindukanmu. Mengapa kamu tidak datang juga? Hah!!" terdengar suara di seberang sana.
Tidak lama terdengar suara kegaduhan, dan kepanikan dari telepon yang belum ditutup oleh orang itu.
"Hallo.. hallo.., ini siapa ya?" tanyaku.
Telepon terputus, tidak ada jawaban lagi dari sana.
"Ah.. sepertinya telepon dari orang iseng. Tetapi, kenapa ada kegaduhan di sana. Apa yang terjadi?" pikirku.
Aku telepon balik seseorang di sana. Nada sambung terdengar, menandakan telepon itu masih aktif. Namun tidak ada tanda-tanda diangkat. Setelah mencoba beberapa kali, aku putuskan untuk tidak meneleponnya lagi.
***
"Selamat pagi sayang, hari ini aku antar ya?" pesan text dari Dean masuk.
"Kamu telat, saya sudah di perjalanan ke kantor." jawabku.
"Kok pagi amat?" tanya Dean.
"Iya, ada meeting pagi. Aku harus recheck report dulu sebelum meeting." jawabku.
"Yah, gagal ketemu kekasih di pagi hari deh 😥" kata Dean.
"Maaf 🙄" jawabku.
"Semoga meetingnya lancar ya sayang." kata Dean menyemangati.
"Terima kasih. Kamu juga semangat ya kerjanya." jawabku lagi.
Aku baru saja sampai di Glaede Resort.
Begitu sampai di ruangan kantor, beberapa staff sudah datang. Sepertinya ada sesuatu yang seru. Mereka tampak berkumpul.
"Kasihan ya padahal hidupnya terlihat sempurna. Semoga saja lukanya tidak serius." kata Claire.
"Yah, apa yang terlihat tidak selalu seindah kenyataan." timpal Jean.
"Selamaaat pagi!! Pagi- pagi sudah ada yang seru sepertinya." sapaku kepada mereka.
"Pagi Bu Sally! Itu Bu, di bar kita tadi subuh ada yang jatuh menimpa meja kaca. Untunglah tidak serius lukanya. Walaupun dia jatuh sendiri dalam keadaan mabuk, semoga saja dia tidak memperkarakan resort kita." jelas Jean.
"Oh seperti itu. Ayo kita mulai kerja! Kalian datang awal untuk mempersiapkan meeting nanti kan?" tanyaku.
"Hehe.., iya Bu." jawab Jean lalu menuju meja kerjanya. Diikuti staff lainnya memulai perkerjaan mereka masing-masing.
***
"Apaan ini? Saya minta, kalian harus ganti rugi! Harusnya kalian melayani tamu dengan baik!!" teriak seorang pria dengan tangan berbalut perban kepada staff resort yang menunduk ketakutan.
"Maaf atas kelalaian kami Pak. Kami akan berusaha memenuhi permintaan ganti rugi dari Bapak." jawab Customer Relations Manager resort.
"Ok, saya mau langsung bertemu Finance Manager kalian. Saya tidak mau bertemu kalian lagi. Saya tunggu sampai jam makan siang." jawabnya.
"Baik Pak!" jawab para staff hotel.
Permintaan aneh-aneh dari para tamu VIP memang sering kami terima. Apalagi saat ini salah satu tamu VIP tersebut mengalami masalah di bar resort kami.
***
__ADS_1
Tok tok tok !
"Ya masuk!" jawabku dari dalam.
"Sally, aku butuh bantuanmu!" kata Neth Customer Relations Manager kami.
"Tadi subuh ada tamu VIP kita yang kecelakaan di bar saat mabuk. Aku sudah mengunjunginya. Tetapi beliau meminta ganti rugi, dan minta kamu untuk langsung menemuinya. Aku sudah ijin ke Pak Lucas. Menurut Pak Lucas, baiknya kita menuruti keinginan tamu itu. Makanya aku diminta untuk menemuimu." jelas Neth kepadaku.
"Ok, kapan aku bisa temui tamu itu?" tanyaku.
"Secepatnya sebelum jam makan siang!" jawab Neth.
"Apa? 30 menit lagi dong." kataku kaget.
Aku langsung berkemas menuju kamar di mana tamu itu berada. Neth mengantarku sampai depan kamar.
Tingtong! Ku tekan bell kamar.
"Siapa?" tanya suara di dalam.
"Saya Sally Finance Manager di resort kami Pak!" jawabku mengenalkan diri.
"Ok, hanya kamu yang boleh masuk" jawab pria yang di dalam kamar.
Aku sempat ragu, karena nanti di dalam hanya aku dan pria itu. Neth meyakinkanku, akan berjaga-jaga di depan kamar kalau aku butuh bantuannya.
Pintu terbuka, seseorang pria membelakangiku berjalan menuju sofa.
"Tutup pintunya!" perintah pria itu kepadaku.
Aku tutup pintu kamar, setelah sebelumnya meminta Neth agar jangan pergi dari depan sana.
"Maaf atas kelalaian kami, mohon Bapak dapat memaafkannya. Kami berjanji akan meningkatkan pelayanan kami dengan lebih baik lagi." kataku membuka pembicaraan.
"Hmm.." jawab pria itu masih membelakangiku.
Aku perlahan menuju sofa yang dia tunjuk.
Dia berbalik melihat ke arahku.
"Aku mau kalian mengganti rugi atas kelalaian kalian. Aku tidak butuh uang. Aku butuh dalam bentuk lain." katanya.
"Anda?" kataku terkejut.
Sesaat kemudian aku mencoba menenangkan diri dan bersikap profesional.
"Maaf, saya kurang mengerti apa yang Bapak maksud? Kami akan berusaha memenuhi ganti rugi sesuai yang Bapak inginkan." jawabku.
"Ok, aku mau kamu yang merawatku sampai luka-lukaku sembuh total." katanya.
"Tapi Pak.." jawabku terpotong.
"Tidak ada pengecualian. Itu ganti rugi yang aku minta. Dan aku tidak mau orang lain yang melakukannya. Sehari 2x pagi dan sore kamu harus ke sini dan merawat lukaku." katanya.
Aku tarik napas dalam-dalam. "Baik Pak!" jawabku menyerah demi nama baik resort kami. Toh bukan pekerjaan yang berlawanan dengan moral.
"Good! Nanti sore kamu ke sini. Karena pagi sudah lewat, dan sekarang jam makan siang. Aku minta kamu menemaniku makan siang di sini!" perintahnya.
"Baik Pak! Sebentar saya pesankan makanannya. Bapak mau makan apa?" tanyaku.
"Apa saja!" jawabnya.
Tidak lama makanan datang. Neth sudah kembali ke ruangannya, aku sudah menjelaskan apa permintaan ganti rugi dari tamu kami.
"Semoga makanan yang kami siapkan cocok dengan selera Bapak. Selamat menikmati!" kataku sambil mempersilahkannya makan.
"Bukan seperti itu yang aku mau. Suapkan makanan itu kepadaku. Kamu tidak lihat sebelah tanganku dibalut?" katanya dengan nada kesal.
__ADS_1
"Baik Pak!" aku mendekat untuk menyuapkan makanan kepadanya.
"Kamu tidak rela ya melakukannya? Masa tidak ada senyum sama sekali." katanya sambil tangannya yang tidak luka menggenggam tanganku erat.
"Chris! Saya mohon cukup mempermainkan saya. Saya sudah menyanggupi permintaan kamu sebagai ganti rugi resort kami. Tetapi tolong jangan menyulitkan lagi." mohonku kepadanya dengan wajah tertunduk
"Lihat aku Sally! Apa tidak ada tersisa sedikitpun perasaanmu yang dulu kepadaku?" tanyanya sambil mengarahkan wajahnya kepadaku.
"Chris, masa lalu sudah berlalu. Jangan kamu ungkit lagi. Lagipula kamu sudah memiliki keluarga. Dan aku sudah memiliki kehidupanku sendiri." jawabku berusaha menghindar dari wajahnya yang mendekat.
"Tidak Sally! Aku sudah hancur. Sudah tidak ada keluarga lagi. Jo tidak pernah betul-betul mencintai aku. Yang dicintainya adalah karir. Aku begitu bodoh mau menerima dia lagi. Suami pertama Jo pun dinikahinya hanya untuk mengejar karir. Saat ini dia meninggalkanku untuk orang lain yang lebih menunjang karirnya." kata Chris dengan raut wajah sedih.
"Maaf Chris.. Saya tidak mau tahu mengenai kehidupan pribadimu. Saat ini saya hanya mewakili resort, tidak lebih!" kataku.
"Tetapi yang aku cintai itu kamu Sally! Aku baru sadar saat bertemu kamu lagi di sini saat itu. Aku sadar ternyata aku tidak mencintai Jo, aku hanya mengejar obsesiku." kata Chris.
"Maaf Chris, saya harus kembali bekerja lagi. Kamu lanjutkan sendiri makanmu. Nanti sore saya datang kembali untuk mengganti kasa lukamu." jawabku sambil beranjak dari sofa dan menepis tangan Chris yang pegangannya mulai mengendur pada tanganku.
Chris terdiam mematung saat aku tinggal sendiri di kamarnya.
***
Sore hari, aku kembali ke kamar Chris untuk melakukan tugasku.
Aku lebih banyak terdiam, dan berbicara seperlunya saja. Chris tampak memperhatikanku yang sedang membalut luka ditangannya.
"Ok, sudah! Saya pamit pulang. Besok pagi saya ke sini lagi." kataku dengan wajah datar kemudian beranjak dari sofa untuk pergi.
Chris pun turut beranjak dari sofa, tetapi dia menuju mini bar mengambil sebotol alkohol lalu menenggaknya langsung.
Melihat itu, aku menghampirinya. Mencoba menghentikan perbuatannya agar tidak timbul masalah baru lagi pada resort kami.
"Chris, cukup! Saya tidak biarkan kamu mabuk dan menambah masalah di resort ini." kataku sambil merebut botol itu darinya.
"Apa perdulimu? Pergi kamu! Itukan yang kamu mau?" kata Chris merebut kembali botol minumannya dari ku, lalu meminumnya lagi.
"Chris, aku mohon!" kataku memelas.
"Aku mau menghentikannya, kalau kamu malam ini menemaniku. Aku butuh teman, dan aku mau kamu." tantangnya.
"Aku tidak bisa Chris." jawabku.
"Ya sudah kalau tidak bisa. Kamu tidak berhak melarangku." katanya sinis.
"Kamu jangan berpikir, kalau aku memintamu menemaniku tidur sepanjang malam. Aku tidak serendah itu. Aku hanya butuh seseorang untuk berbagi kesedihanku. Setidaknya sampai aku tertidur. Cukup hanya di malam ini." sambungnya.
Aku ragu untuk meninggalkannya dengan resiko dia akan mabuk, lalu membuat masalah baru. Atau menemaninya berkeluh kesah.
Baiklah aku akan menemaninya. Semoga saja dia tertidur cepat.
"Dean, saya lembur di kantor. Ada hal yang harus saya selesaikan." kukirim pesan text kepada Dean.
Kenyataannya aku tidak berbohong kepada Dean. Apa yang aku lakukan, bagian dari pekerjaanku menjaga nama baik resort. Hanya itu tujuanku.
"Ya sayang, jangan telat makan. Jaga kesehatan. I love you so much." jawab Dean
"I love you too." jawabku kepada Dean mengakhiri pesan text kami.
"Ok, berikan botol itu kepada saya. Saya temani kamu berkeluh kesah malam ini." kataku.
Chris memberikan botolnya kepadaku. Lalu tersenyum senang.
---
Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
__ADS_1
vatty