Hai Cinta Kembalilah

Hai Cinta Kembalilah
bab.30. Tidak Disengaja


__ADS_3

1 jam lagi pesta besar dimulai. Para wanita bergaun indah dan para pria berstelan jas mahal berlalu lalang.


Saat Sally melewati taman samping di perjalannya menuju pulang. Dia melihat Ami dan Chika. Saat itu Chika sedang menangis. Ami terlihat kewalahan berusaha mendiamkan Chika.


"Ami, kenapa ada di sini? Hari mulai gelap." tanyaku pada Ami.


"Eh Ibu. Ini Chika rewel, sedangkan Tuan dan Nyonya sedang sibuk." jawab Ami.


Melihat kedatanganku Chika malah memandangku dengan tatapan sendu di tengah tangisnya.


"Chika kenapa sayang?" tanyaku pada Chika.


"Eumm.. maaaaa.." kata chika sambil melihatku.


Chika malah mengangkat kedua tangannya seolah ingin ku gendong. Ami pun memberikan Chika kepadaku.


Aku ajak Chika melihat kapal laut yang melewati lautan. Di saat mentari menyisakan cahaya jingga yang sebentar lagi akan berganti gelap.


"Wah... ada kapal, yah.. kapalnya menjauh.. bye..bye.. kapal. Nanti ke sini lagi ya main sama Chika." kataku membujuk Chika, Chika mulai tenang.


Tiba-tiba lampu taman mulai menyala.


"Lampunya mulai menyala sayang. Banyak ya lampunya. Kita hitung yuk.. satu.. dua.. tiga.. empat.." kataku.


Chika pun mulai terlihat ceria lagi. Tetapi tiba-tiba..


"Ami!! Kenapa kamu biarkan orang sembarangan menyentuh Chika?" seorang wanita cantik datang langsung berteriak memarahi Ami.


Ami hanya tertunduk ketakutan.


Aku pernah melihat wanita itu kemarin di Lobby bersama Chika dan Ami. Mungkin itu Mama Chika, pikirku.


"Chika sayang, sama Kakak Ami dulu ya." bujukku kepada Chika. Chika menuruti dan beralih tangan kepada Ami.


"Maaf atas kelancangan saya. Bukan Ami yang salah tetapi saya. Sekali lagi saya mohon maaf." kataku mengaku salah.


"Hmm" jawab wanita itu.


"Saya pamit pergi" kataku hendak melangkahkan kaki pergi.


Di saat yang bersamaan datang seorang pria. Aku tidak melihat wajahnya karena tertunduk.


"Ada apa istriku tersayang yang paling cantik?" tanya laki-laki itu pada Mama Chika.


"Ami ceroboh dan lancang memberikan Chika pada sembarang orang." kata Mama Chika masih dengan nada kesal.


Mendengar itu kuurungkan untuk melanjutkan langkah. Karena cemas akan nasib Ami. Tidak tega melihat Ami yang sudah kelelahan tetapi masih mendapat hukuman.


"Oh begitu. Ya sudah yang penting Chika tidak apa-apa. Dan kamu jangan ulangi lagi Ami!" kata pria itu.


"Baik Tuan, maafkan saya Nyonya.. Tuan.." jawab Ami dengan wajah ketakutan.


Sepertinya keadaan sudah aman. Aku melanjutkan langkahku untuk pergi dari tempat itu. Tetapi..

__ADS_1


"Maaama..mamaaa.." terdengar suara Chika menangis lagi.


Aku menoleh sekilas, kulihat Chika melihat kearahku dengan tangan menggapai-gapai seolah memanggilku.


"Ini mama sayang." kata Mama Chika.


Namun seperti tidak perduli, Chika malah menangis semakin keras dan tetap melihat ke arahku. Melihat itu kedua orang tuanya juga ikut melihatku. Dan ternyata pria itu.. yups!! dia adalah Chris. Pantas saja waktu aku melihat mama Chika kemarin seperti familiar.


Aku tetap melangkah menjauh. Walaupun hatiku iba melihat Chika. Tetapi tidak mungkin aku berada di sana. Aku mempercepat langkahku.


Seseorang dari belakang menahan pundakku. Reflek akupun menoleh ke belakang.


"Hai Chris, apakabar? Maaf atas kelancanganku terhadap Chika." kataku.


"Hmm Sally aku perlu bicara." katanya seolah tidak memperdulikan ucapanku tadi.


"Chris, saya lelah. Saya mau pulang." kataku.


"Ok, kalau begitu aku minta nomor teleponmu kita berbicara di lain waktu." katanya sambil mengeluarkan telepon genggamnya.


"Buat apalagi Chris?" tanyaku.


"Aku akan menjelaskan semua kepadamu Sally." jawabnya.


"Apalagi yang mau dijelaskan Chris? Semuanya sudah jelas. Saya tidak perlu penjelasan apa-apa. Kamu lihat sendiri saya baik-baik saja kan? Dan kamu, saya kira kamu juga sudah bahagia dengan keluargamu Chris." kataku.


"Tetapi.. aku.." katanya tertahan.


"Sudahlah Chris. Saya tidak menyalahkanmu, saya mengerti akan pilihan hatimu. Karena hati seseorang tidak bisa dipaksa. Sayapun sudah bahagia dengan kehidupan saya sekarang. Jadi tolong tinggalkan saya, jangan masuk ke hidup saya lagi. Dan kamu hiduplah dengan baik!" kataku dengan tegas.


"Sally! Ternyata kamu di sini." kata Dean yang muncul tiba-tiba.


"Dean, ini Pak Chris atasan saya waktu bekerja di Grande Corp." kataku memperkenalkan Dean dengan Chris.


"Dean!" kata Dean sambil mengulurkan tangannya.


"Chris!" jawab Chris sambil menjabat tangan Dean.


"Kami pulang dulu ya Pak Chris." pamitku pada Chris sambil menarik tangan Dean untuk menjauh dari sana.


***


Dean terlihat aneh tersenyum ga jelas. Aku baru sadar, ternyata aku belum melepas tangannya. Segera kulepaskan genggaman tanganku.


"Yah.. kok dilepas sih, tempat parkir motor masih jauh di sana." protesnya.


"Apaan sih kamu, huuh!" jawabku.


"Kamu kenapa ada di sini Dean?" tanyaku.


"Tadi aku pulang awal dari kantor. Pikirku sekalian aku jemput kamu. Aku tanya satpam kamu belum keluar resort. Aku tunggu berjam-jam tidak muncul juga. Jadi aku beranikan masuk." jawabnya acuh.


"Kan saya sudah bilang Dean, ga perlu repot-repot jemput. Saya bisa pulang sendiri kok!" kataku ketus.

__ADS_1


"Kalau aku mau memangnya kenapa? Ga repot juga kok, malah aku senang. Aku sudah tunggu berjam-jam malah dimarahi!" kata Dean sambil bersungut.


"Ya..ya.. terima kasih Dean. Sudah ah pulang yuk, saya lelah." ajakku.


"Siap Nona" jawabnya.


***


Di suatu sudut tampak seorang pria menatap kesal pada Sally dan Dean yang tadi jalan bergandengan. Perkataan wanita di sebelahnya seolah dianggap angin lalu.


"Drew, kalung ini cocok ga sih sama gaunku?Lihat deh.. Drew.. Drew!!" kata wanita itu.


"Ya, ada apa?" tanya Andrew kepada Vivian.


"Ini kalungku cocok atau engga. Kalau engga aku mau naik lagi ganti dengan yang lain. Kamu kenapa sih masih saja tidak perduli padaku. Apalagi sejak 2 hari ini tambah menjaga jarak denganku. Salahku apa Drew?" kata Vivian.


"Ini sudah cocok, tidak perlu ganti lagi. Acara sudah mau dimulai" jawab Andrew sambil berjalan menuju venue meninggalkan Vivian yang kesal.


***


Di sebuah kamar hotel seorang wanita cantik masih bersolek melengkapi penampilannya.


"Aku masih kesal sama kamu Chris. Ami sudah jelas-jelas bersalah, kamu malah tidak menghukumnya sama sekali. Kamu juga lihat sendiri kan tadi?" kata wanita itu.


"Sudahlah Jo, Ami sudah lelah menjaga Chika yang menangis sejak tadi. Akan kamu beri hukuman apalagi? Apa yang dilakukannya saja sudah berat." kata Chris sambil membetulkan dasinya.


"Kamu itu ga perduli sama Chika. Apa karena Chika bukan anak kandung kamu jadi kamu seperti itu?" kata Jo kesal.


"Kamu bicara apa Jo? Kamu sangat tahu bagaimana aku menyayangi Chika. Aku menganggap dia sebagai anakku sendiri. Malah kamu yang sering mengungkit kalau Chika darah daging baj*ng*n itu." sahut Chris kesal.


"Aku sudah selesai. Aku pergi duluan. Kamu menyusul saja!" kata Chris kemudian pergi dari kamar itu.


***


Chris tidak ke venue, tetapi dia terduduk di salah satu kursi bar dengan segelas minuman sambil memandang lautan.


Hatinya gundah setelah bertemu Sally tadi. Padahal dialah yang mencampakan Sally demi cinta pertamanya.


Saat itu yang ada dipikirannya hanya Jo yang sedang terbaring di rumah sakit. Gadis cinta pertamanya. Jo mendapat perlakuan kasar dari mantan suaminya, apalagi saat itu Jo sedang mengandung 7 bulan. Untung saja tidak keguguran. Chris sangat mencintai Jo.


Setelah bayi itu lahir Chris menikah dengan Jo. Chris menyayangi Chika seperti anaknya sendiri. Jo, tetap sibuk dengan dunia modelingnya. Jadi sebagian besar waktu Chika dihabiskan bersama Ami.


Tetapi kemunculan Sally tiba-tiba membuat hatinya kacau. Bahkan tadi seolah tidak perduli dengan Jo yang memanggilnya. Chris tetap mengejar Sally yang pergi.


Hatinya sakit melihat Sally pergi. Tangisan Chika tadi yang mengharap Sally kembali, sama seperti perasaan Chris.


Awal Chris bertemu Sally di dusun pertama kali. Saat itu Chris seperti melihat gambaran Jo pada diri Sally. Gadis polos berbaju biru langit dengan bunga putih kecil bersama sepedanya. Persis seperti photo Jo yang dia ambil saat kencan pertama mereka dulu.


Tetapi sekarang saat bertemu lagi dengan Sally, mengapa seperti menemukan bagian dirinya yang hilang. Namun di sisi lain tidak dapat diraihnya.


---


Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca.

__ADS_1


salam


Sally.


__ADS_2