
Ini sudah sejak lama..
Saat aku merasakan jantungku berdebar.
Ini sudah sejak lama..
Saat aku merasa bahagia didekatmu.
Ini sudah sejak lama..
Saat aku ingin selalu menjagamu.
Ini sudah sejak lama..
Saat aku mau kita menjadi satu.
Ini sudah sejak lama..
Saat aku menunggu waktu yang tepat mengutarakan isi hatiku.
Ya.. sudah sejak lama..
Saat hatiku seluruhnya milikmu.
Namun..
Perjalanan hidup manusia siapa yang tahu.
Semua berjalan mengikuti takdirnya.
Mauku..
Inginku..
Harapku..
Kamu.. aku.. kita.. menjadi satu..
Hanya berhenti sebatas mimpi..
Kamu...
Saat ini ada di dekatku.
Tetapi bukan milikku.
Gaun putih dan riasan tipis cukup membuatmu bak bidadari.
Senyum indahmu yang selalu membuatku tertegun.
Tatapan matamu yang teduh dan anggun.
Semua itu yang selalu menghiasi tidurku hingga terbangun.
Kamu..
__ADS_1
Ada dia di sana..
Dia akan menemanimu sepanjang usia.
Dia yang akan memelukmu dengan bangga.
Kesempatanku sudah berhenti..
Waktu pun telah berganti.
*Tom poem
***
"Sally, kamu terlihat cantik sekali!" kata Ann kepadaku.
Aku mengenakan gaun putih dan riasan tipis pada wajah. Tiara bunga liar menghiasi rambutku yang di tata bergelombang.
Di sisiku ada Dean yang mengenakan kemeja putih dan celana berwarna khaki dengan gagahnya.
Hari ini, hari pernikahan kami. Teman, sahabat, kerabat, dan keluarga sudah ada di sana. Ma, Pa, dan Mey ada di sisi kanan barisan kursi. Ayah dan Ibu Dean ada di sisi kiri barisan kursi.
Termasuk Tom, Mena, dan Kela, mereka hadir pada acara pernikahan ini.
Ann dan Ricard hadir bersama Timmy anak mereka. Mereka terlihat tersenyum gembira melihat dua sahabat mereka mengikat janji suci. Menandakan babak baru dalam kehidupan kami sebagai pasangan akan dimulai.
"Selamaaaat Sally!!" teriak Mena sambil memelukku.
"Terima kasih Mena." jawabku.
"Selamat Sally dan Dean atas pernikahan kalian." kata Tom kepada kami.
"Terima kasih Tom." jawabku.
Dean dan Tom saling berpelukan. Aku tidak mendengar jelas percakapan di antara mereka berdua. Aku hanya melihat gerakan bibir mereka.
Semua tamu ikut larut dalam acara ini. Di temani mentari yang perlahan memasuki singgasananya. Kemudian berganti dengan rembulan yang hadir dengan anggunnya.
Semua bersuka cita sampai gelap menjelang, dan pesta pun berakhir.
***
"Silahkan tuan putri.." kata Dean mempersilahkanku masuk ke rumah kami.
"Terima kasih." jawabku sambil tersenyum menerima perlakuan seperti ini.
Ma, Pa dan lainnya memutuskan untuk menginap di sebuah rumah yang di sewakan. Padahal aku dan Dean sudah menawari mereka untuk tinggal di sini. Tetapi, mereka tidak mau.
Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Berada di pantai dengan aktifitas seperti tadi membuatku berkeringat.
Dean juga melakukan hal yang sama. Dia ke kamar mandi di lantai bawah.
Selesai mandi, aku segera turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk kami. Cuma nasi goreng sosis dengan telur dadar. Rasanya aku lelah jika harus masak yang lebih ribet.
Saat aku tata makanan di meja makan. Dean keluar dari kamar bawah.
__ADS_1
"Hmm.. baunya enak nih. Akhirnya aku makan masakan istri di rumah kita." kata Dean sambil tersenyum menggoda.
"Semoga rasanya pas di lidah kamu." jawabku.
"Tenang aja, aku paling cerewet masalah makanan. Kalau enak aku bilang enak. Kalau kurang sesuatu aku akan bilang. Aku tidak akan berbohong kepada istriku." katanya sambil berjalan ke arahku.
Dia cuma mengenakan pakaian rumah. Celana pendek dan Tshirt putih. Apaan sih mata ini, kenapa tubuh tinggi dengan roti sobek itu menyita perhatianku.
Segera aku alihkan perhatianku. Kembali ku tata meja makan.
Dean memeluk pinggangku dari belakang. Kepalanya di letakan di pundakku.
"I love you baby.." katanya berbisik di telingaku, membuatku geli.
"Me too, ayo kita makan dulu." kataku berusaha mengalihkan.
Jujur saja, saat ini hatiku tak karuan. Yang barusan dilakukan Dean membuat darahku berdesir dan jantungku berdegub kencang.
Dean menurutiku. Dia duduk di sebelahku dan mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Benar dugaanku. Ini betul-betul enak. Beruntung sekali aku." kata Dean sambil terus menikmati makananannya.
"Terima kasih." jawabku sambil tersenyum.
Selesai makan Dean memintaku untuk duduk menunggu saja. Sementara dia yang mencuci piring yang tadi kami pakai.
Aku duduk sambil memperhatikan Dean. Tanganku bertumpu pada meja makan menopang daguku.
"Dean!! kamu.." Pekikku.
Karena tiba-tiba saja Dean berbalik ke arahku dan mencipratkan air ke wajahku. Itu membuatku terkejut.
"Hahaha.. makanya jangan bengong. Ganteng ya suamimu? Iyalah, istrinya juga cantik kaya ini." kata Dean.
Beberapa detik kemudian dia mengacak-acak rambutku dengan gemas. Aku berlari menghindarinya, kejar kejaran terjadi di rumah ini.
Dean berhasil menangkapku, dan kamipun terjatuh di sofa depan tv. Aku gantian menggelitiknya agar lepas dari pelukannya.
Ternyata aku salah, dia tahan akan gelitikan. Saat ini aku malah tambah terperangkap dipelukannya yang semakin erat.
Pada suatu ketika, tatapan kami beradu. Kami berdua saling terdiam. Dean perlahan mengarahkan wajahnya kepadaku. Sedetik kemudian bibir kami berpaut.
Sejak saat ini, aku adalah milik Dean seutuhnya. Demikian juga Dean, dia adalah milikku seutuhnya.
Kami menyatu tanpa adalagi pembatas yang menghalang.
---
Hai... maaf jarang-jarang update.
Terima kasih yang buat teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
vatty
__ADS_1