
"Terima kasih sudah mengantar saya ke kantor." kataku kepada Dean saat kami baru saja sampai di resort.
"Ya sayang!" jawab Dean tersenyum sambil meletakan kedua tangannya di kepalaku.
Tindakannya tadi, mengingatkanku akan apa yang dia lakukan beberapa tahun lalu kepadaku.
Aku berjalan menuju lobby resort, sambil sesekali menengok ke belakang melambaikan tangan kepada Dean. Dia masih di sana menatapku dengan senyum indahnya.
***
Jauh sebelumnya, saat kami masih duduk di sekolah menengah atas. Saat itu sekolah di dusun sebelah mengadakan pentas seni. Sekolah kami diundang untuk ikut mengisi acara.
Dean dan bandnya salah satu yang mewakili sekolah kami. Dean saat itu sudah berubah dari seorang yang pemalu, menjadi murid yang gaul.
Di gengnya yang terdiri dari pria-pria nakal. Ternyata memiliki bakat dalam seni. Mereka terbiasa latihan band bersama di rumah Dean.
Dua hari sebelum Dean tampil, dia bertengkar denganku. Aku sangat kesal karena dia berlagak sok hebat. Semakin aku marah dia semakin mengejek.
"Kamu kenapa sih Dean? Saya yakin sebetulnya kamu anak yang baik. Ga usah seperti itu. Tunjukan diri kamu sesungguhnya. Kami akan lebih menerima kamu." kataku.
"Kamu siapa? Apa hak kamu mengatur aku?" katanya sengit.
"Ya sudah!" aku pergi meninggalkannya dengan kesal.
Bel sekolah berbunyi kami semua masuk ke dalam kelas.
Saat itu guru mendata para siswa yang akan ikut mendukung teman kami yang tampil di pentas seni nanti. Aku tentu saja tidak akan hadir, apalagi ada si menyebalkan Dean. Sementara hampir 1 kelas ikut.
"Aduh!" pekikku pelan, karena seperti ada yang melempar sesuatu dan mengenai kepalaku.
Aku menengok ke arah lemparan itu berasal. Ku lihat Dean melihatku seperti berharap sesuatu. Aku hanya melotot sinis lalu memalingkan wajah.
***
Tibalah hari pentas seni di mulai. Sekolah kami menyewa mobil penumpang untuk membawa para siswa yang tampil dan pendukungnya.
"Dean, ayo naik nanti kita terlambat!" pinta Nic, karena Dean belum juga mau naik ke dalam mobil.
Dean terlihat mencari-cari seseorang, namun tidak juga dilihatnya. Akhirnya dia naik ke dalam mobil. Mobil pun melaju ke tempat pentas seni.
Satu persatu peserta tampil. Sebentar lagi giliran Dean dan bandnya. Tetapi Dean masih terlihat kurang bersemangat. Berharap ada muzizat seseorang yang diharapkan, akan hadir mendukungnya.
***
Kupikir tidak akan melihat pentas seni itu. Di samping lokasinya yang jauh. Di sana juga akan ada Dean.
__ADS_1
Tom, Mena, dan Kela ikut serta untuk menyemangati teman-teman kami yang tampil. Terlebih Nic tampil, Kela pasti ada dibarisan depan pendukungnya.
Akhirnya, pagi ini aku putuskan akan pergi juga. Beky kukayuh dengan kuat, berharap tidak tertinggal mobil yang akan mengantar.
Sampai sekolah keadaan sudah sepi.
"Pak, mobilnya sudah pergi ya?" tanyaku kepada penjaga sekolah.
"Iya, sudah dari 30 menit yang lalu mereka pergi." jawab Pak Yo.
"Oh seperti itu, terima kasih Pak." kataku kemudian menuntun sepedaku pulang.
Di jalan aku bertemu Pa dan Pak John yang akan ke kota. Pak John menghentikan kendaraannya.
"Sally! Kamu mau kemana? Mau pulang lagi?" tanya Pa.
"Hai Pa! Hai Pak John!" sapaku pada mereka berdua.
"Iya Pa, mobilnya sudah pergi 30 menit yang lalu. Jadi saya mau pulang saja." jawabku tertunduk.
"Acaranya di dusun sebelah kan? Ayo ikut Pa dan Pak John, kami lewat dusun itu." kata Pa sambil menaikan sepedaku ke bak mobil.
Aku menurut ikut Pa dan Pak John. Beberapa ratus meter dari tempat acara aku turun. Beky dibawa di mobil Pak John. Rencananya aku akan pulang ikut mobil yang di sewa sekolah.
Syukurlah, acara masih berlangsung. Di kursi penonton aku lihat para sahabatku. Ku hampiri mereka.
Suara Mena yang lumayan keras, membuat beberapa orang ikut menengok ke arah kami. Aku menaruh telunjuk di mulut, agar Mena memelankan suaranya.
"Maaf!" kata Mena pelan.
Tidak lama Dean dan bandnya tampil. Ada tatapan terkejut darinya, saat melihatku ada di sebelah Mena. Dia tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.
Dean dan bandnya bermain dengan baik. Disela lagu yang dinyanyikannya, sesekali dia menatap ke arahku.
***
Acara pentas seni berakhir. Aku dan para sahabatku, menunggu teman kami yang tadi tampil ke luar dari belakang panggung.
Dean keluar dengan senyum lebar. Dia menghampiriku. Tiba-tiba dia meletakan kedua tangannya di atas kepalaku. Sambil tersenyum lega.
Ini kali pertama seseorang pria selain Kakek atau Pa menyentuh kepalaku. Bahkan mereka biasanya mengusap puncak kepalaku dengan 1 tangan. Tidak seperti yang dilakukan Dean, aku tidak tahu maksudnya apa.
"Cieee.. cieee!" dengan kompaknya teman-temanku menggoda kami. Setelah melihat tindakan Dean tadi kepadaku.
"Iih apaan sih!" protesku kesal.
__ADS_1
"Bagaimana tadi penampilanku?" tanya Dean kepadaku.
"Bagus sih! Tapi kamu kurang minum air kayanya. Jadi agak sedikit tercekik." jawabku asal, kemudian tidak memperdulikannya lagi.
Dean terlihat agak kesal mendengar jawabanku yang acuh.
Tom menarik tanganku untuk menjauh dari Dean. Takut Dean melakukan sesuatu kepadaku.
Setelahnya mobil mengantar kami semua, menuju sekolah kami di dusun Lembah Asri.
***
Mobil sewaan sampai di sekolah. Lalu kami semua pulang ke rumah masing-masing.
Aku pulang ke rumah di antar Tom dengan sepedanya. Kulihat Dean di bawah pohon mangga memperhatikan kami dengan sinis. Seperti sikap Dean yang biasa kulihat sehari-hari.
Jujur kalau dipikir, tindakan Dean tadi agak aneh. Seorang musuh melakukan hal itu kepadaku. Akupun ke pentas seni untuk mendukung semua teman yang unjuk kebolehan. Bukan hanya dia.
Hey! Lalu untuk apa aku pikirkan kalau tidak perduli. Buang.. buang.. semua pikiran ga jelas.
"Sally.. Sally.." panggil Tom.
"Eh.. iya Tom, ada apa?" tanyaku yang baru tersadar dari lamunan.
"Di depan, kita akan lewat jalan berbatu. Aku takut kamu jatuh. Kamu bisa berpegangan pada perutku." pinta Tom.
"Oh ok!" kupegang ujung baju kanan dan kirinya.
"Bukan seperti itu, seperti ini." kata Tom sambil menarik kedua tanganku untuk melingkari pinggangnya.
"Sa.." kataku terpotong.
"Menurut sedikit kenapa sih? Nanti kalau kamu jatuh aku yang bersedih..." kata Tom dengan samar-samar aku tidak mendengarnya jelas.
"Kenapa Tom?" tanyaku minta dia mengulang kata-katanya.
"Oh, jangan sampai kamu jatuh. Aku mau mengayuh dengan kencang." kata Tom, kemudian mengayuh sepedanya lebih kencang.
Aku akhirnya menuruti Tom untuk berpegangan erat, dengan melingkarkan tangan di perutnya.
Angin sejuk pedesaan menyertai perjalanan kami.
---
Terima kasih buat semua yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
__ADS_1
salam
vatty