
Malam ini Chris duduk menatap tv di kamarnya. Sesekali dia bangkit berjalan menuju pintu, tetapi diurungkannya lagi. Bolak balik seperti orang kebingungan.
Diputuskan dia akan coba untuk tidur. 1 menit dicoba untuk memejamkan mata, tetapi tidak bisa.
"Arrrgh.." gumamnya.
Akhirnya diputuskan keluar kamar. Ditutupnya pintu kamar dengan keras. Dia berjalan menuju lift. Entah mau kemana.
***
Aku duduk di tempat tidur sambil memeluk kedua lututku dan bersandar di bagian kepala tempat tidur. Aku kenapa? Kenapa aku ikut-ikutan menikmati perlakuan Chris tadi?
Apakah aku sebegitu kesepiannya? Apakah aku serendah itu?
"Bodoh.. bodoh.." kataku pada diri sendiri.
Apakah dengan yang kulakukan tadi berarti aku berkhianat kepada Dean? Apa aku berkhianat pada cinta kami?
Atau... memang sedari dulu ada tersisa cinta yang lain di hatiku? Lalu kalau nanti aku terluka lagi bagaimana?
Ah.. sudahlah.. aku bukan anak baru besar yang sedang jatuh cinta. Apapun itu, aku akan mendahulukan Lea dalam hidupku.
Drrrt!
Telepon genggamku bergetar. Muncul notifikasi pesan di sana.
"Sally, aku di taman atas sebelah Sky Bar. Aku tunggu kamu di sini. Aku akan tetap tunggu sampai kamu datang." pesan text dari Chris.
Sedari dulu belum berubah sikap memaksanya. Aku terdiam menimbang-nimbang akan pergi menemuinya atau tidak.
Aku putuskan akan menemuinya. Aku perlu tahu apa yang akan dia katakan.
Kuraih Cardigan di kursi. Kupakai untuk melapis dress yang saat ini kupakai.
Aku berjalan menuju Sky Bar.
***
Aku lihat Chris sedang menunggu di sana. Tatapannya ke arah pemandangan jauh di bawah sana.
"Chris!" panggilku.
Chris berbalik, senyum sumringah menghiasi wajahnya.
"Terima kasih sudah datang. Kamu mau pesan apa?" tanyanya.
"Engga usah. Kamu panggil saya ke sini ada apa?" aku bertanya balik.
"Aku.. aku.. tidak bisa tertidur. Di pikiranku dipenuhi kamu. Aku bahagia kita punya kesempatan menghabiskan waktu bersama, walaupun dalam pekerjaan. Setidaknya aku bisa ada di dekatmu. Aku bisa menatap kamu dari dekat. Melihat tatapan dan senyumanmu. Juga mencium aroma tubuhnya yang selalu kurindukan." kata Chris.
"Chris besok kita akan kembali ke kota pagi-pagi. Jangan berkata yang tidak-tidak beristiratlah!" kataku berusaha tenang sambil menahan gejolak di hatiku.
"Aku harap.. saat kita kembali ke kota. Kita tetap bisa bersama seperti ini paling tidak. Perasaanku dan cintaku kepadamu tidak pernah berubah. Ini cinta yang sesungguhnya." kata Chris.
"Bukankah kita memang tetap bisa berteman. Dan juga perusahaan kita masih memiliki project bersama. Bahkan, saya mengijinkan kamu bertemu Lea kan?" kataku.
"Iya" jawab Chris sambil tertunduk.
"Kalau begitu ayo kita kembali ke kamar masing-masing." kataku sambil berbalik badan.
Kuharap apa yang hatiku rasakan tidak bisa terbaca oleh Chris. Aku ingin segera berlalu, takut aku tidak bisa mengendalikannya lagi.
Aku merasakan hangat saat tiba-tiba tubuh Chris memelukku dari belakang.
"Aku mohon Sally.. jangan pernah pergi lagi dariku. Kembalilah cintaku.. kembalilah kepadaku.." bisik Chris lirih di telingaku.
"Aku tidak bisa jauh dari kamu lagi. Aku bisa merasakan kalau kamu juga merasakan hal yang sama. Jadi.. aku mohon sekali lagi. Kembalilah kepadaku." pintanya memohon.
__ADS_1
Aku hanya berdiri mematung. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan lagi. Nalarku berusaha menolak dan ingin menjauh. Tetapi hatiku tidak.
Kedua tanganku menyentuh kedua tangannya yang memeluk tubuhku. Sedetik kemudian Chris membalikan tubuhku.
Kami saling menatap dari dekat. Kali ini tatapannya berbeda. Ada ketulusan di dalamnya.
"Aku sungguh mencintai kamu dan Lea juga." kata Chris berbisik.
Tangan kanan Chris membelai rambutku. Kemudian mengarahkan kepalaku lebih dekat kepadanya, sementara dia sedikit menunduk menyamping. Bibir Chris menyentuh bibirku, dan kami saling perpautan. Hangat dan lembut terasa. Mata kami berdua terpejam.
Itu terjadi cukup lama. Sampai aku hampir kehabisan napas dan Chris melepasku.
"Terima kasih sayang. Aku sudah tahu jawabannya. Dan.. aku sangat senang." kata Chris sambil membelai pipiku.
Kami berdua tersenyum.
"Ayo kita beristirahat. Aku antar kamu ke kamarmu." kata Chris sambil menggenggam tanganku mengajakku melangkah.
***
Kami sudah sampai di depan pintu kamarku.
"Terima kasih sudah mengantar. Kembalilah ke kamar mu!" kataku sambil menempelkan kartu di pintu masuk.
"Saya masuk dulu. Sampai besok pagi!" pamitku.
"Aku.." kata Chris tertahan.
Saat pintu kamar akan aku tutup Chris menahannya.
"Ada apa lagi Chris?" tanyaku.
"Ehem.. boleh aku ikut masuk dan tidur di sana?" tanya Chris sambil menoleh ke dalam kamarku.
"Aku baru bisa tertidur lelap saat bersamamu. Kamu ingat waktu di Resort? Itu adalah tidur terlelapku." kata Chris.
"Chris, apa yang terjadi sekarang. Bukan berarti kita bisa seenaknya melakukan apapun. Kamu lihat status saya! Kamu ingin membuat orang memandang saya rendah dengan memasukan sembarang pria ke dalam kamar?" tanyaku.
"Chris.. tolong mengerti aku. Kalau kamu tetap memaksa aku akan pergi lagi darimu." kataku mengancam.
"Ok.. ok.." jawab Chris ketakutan.
"Bye.." kataku, dan segera kututup pintu saat Chris lengah.
Kudengar langkah Chris menjauh dari pintu.
"Fiuuh.. hampir saja. Untung saja nalarku masih bisa berkuasa. Kalau tidak terjadilah." kataku sambil berjalan menuju tempat tidur.
Tidak lama akupun tertidur lelap.
"Sally.. Sally.. sayang.. ini aku." suara Dean memanggilku.
Mataku terbuka, saat ini aku dan Dean ada di padang bunga matahari. Dean menuntunku menapaki tiap jalannya. Dia membelai rambutku dan mencium keningku lembut.
"Sayang, ikuti kata hatimu. Aku bahagia di sini. Dan sudah saatnya kamu juga bahagia. Cinta kita tidak akan pernah hilang, kamu pun tidak berkhianat. Jodoh kita sudah berakhir." kata Dean.
"Jika memang suatu saat aku dan kamu terlahir kembali. Aku akan datang kepadamu, dan mencintaimu lagi. Kita akan habiskan waktu lebih banyak lagi bersama." sambung Dean.
"Aku sudah harus pergi. Jagalah anak kita dan berbahagialah bersamanya." Dean mengakhiri perkataannya dan pergi menjauh.
"Dean!! Dean!!" panggilku.
Tetapi Dean sudah hilang dari pandangan mataku. Aku menangis seorang diri. Hingga aku terjaga, dan aku betulan menangis.
Laki-lakiku hadir di mimpiku. Dia menjawab kegundahan hatiku.
"Aku akan menjaga anak kita. Aku juga akan menunggu saat kita akan bertemu lagi sayang." bisikku lirih.
__ADS_1
***
Pagi ini aku akan pulang bersama Chris. Aku sudah menelepon sopir kantor untuk tidak usah menjemputku.
Selesai bersarapan kami pulang menuju kota.
Selama perjalanan Chris menggenggam tangannku erat, seperti enggan untuk dipisahkan.
***
Kami sudah sampai di depan rumahku.
"Mau mampir?" tanyaku pada Chris.
"Dengan senang hati, aku sudah sangat rindu kepada Lea." kata Chris sambil membuka pintu mobil dan turun.
Chris membantu membawa koperku. Pak Paul yang menyupiri kami pun ikut turun.
"Mami!!" teriak Lea dan lari ke arahku.
Kupeluk erat dan kucium belahan jiwaku.
"Hai Lea!" sapa Chris kepada Lea.
"Hwaa.. Om.. main!" kata Lea dengan mata berbinar.
"Lea sayang, Omnya masih cape. Mainnya nanti ya." kataku pada Lea.
"Ah siapa bilang, aku yang mau main dengan Lea kok. Yuk!!" kata Chris sambil menggandeng Lea.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Chris dan Lea bermain sampai Lea kelelahan dan tertidur.
"Chris.. ini min.." kataku terpotong. Aku membawa baki berisi minuman.
Chris menaruh telunjuknya di bibir, kemudian menunjuk Lea yang tertidur di pangkuannya.
Ternyata dada bidang Chris bukan hanya nyaman untukku. Lea saja sampai tertidur di sana.
Aku menginstruksikan Chris agar mengikutiku ke kamar ku. Karena memang Lea dan aku tidur bersama. Lea juga tidak bisa berpindah tangan jika tertidur. Jadi Chris terpaksa aku ijinkan masuk ke kamarku.
Sementara Lea berada di gendongannya.
Chris meletakan Lea dengan hati-hati. Chris membelai rambut Lea dengan lembut. Lalu berjalan ke arahku.
"Anaknya sudah tidur. Sekarang tinggal urusan aku dengan dengan Ibunya." kata Chris menggoda sambil memelukku.
"Chris.." kataku.
"Iya sayang.. hmm.." jawab Chris malah tambah nakal.
"Kamu pulang dulu istirahat. Kan tadi kita menempuh perjalanan ja.." tidak selesai ucapanku.
Chris malah menyentuh bibirku dengan bibirnya. Chris semakin konsisten dan menggila. Sebelum terjadi yang seharusnya tidak terjadi. Aku dorong tubuh Chris sekuat tenaga.
"Cukup Chris!" kataku berbisik keras agar Lea tidak terbangun.
"Maaf.. aku terbawa suasana." kata Chris.
"Tolong jangan aneh-aneh. Jaga saya baik-baik sampai waktunya tiba. Itu jika kamu sungguh mencintai saya. Saat ini bukan hanya kehormatan saya saja. Tapi juga untuk Lea." kataku.
"Iya sayang. Sekali lagi maafkan aku." kata Chris menyesal.
Aku mengantar Chris ke mobil. Sampai dengan mobilnya pergi.
---
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
__ADS_1
salam
vatty