
Aku baru saja menutup laptopku, saat telepon genggamku bergetar.
"Aku sudah di depan sayang." pesan text dari Dean.
"Ok, aku segera turun." jawabku.
Satu bulan berlalu sejak pertemuan kami di dermaga. Satu bulan pula, aku dan Dean bisa dibilang sebagai sepasang kekasih.
Kalau dipikir cinta itu aneh. Dari awalnya kami tak saling bersinggungan. Kemudian menjadi bermusuhan. Dan sekarang, kami berada pada tahap ini.
Yang aku tahu, hari-hariku bertambah menyenangkan saat Dean hadir. Caranya memperhatikan dan melindungiku, cukup tidak berlebih. Aku suka itu. Sebab kadangkala aku butuh diakui, bahwa aku bisa melakukan sesuatu sendiri. Satu hal lagi, tatapan matanya hampir selalu membuatku tak berkutik. Seperti sinar laser yang menembus jauh ke jantungku.
***
"OMG Sally! Kamu terlihat lebih charming deh belakangan ini. Coba aku tebak.. hmm.. kayanya ada bau-bau cinta deh." kata Glen yang bertemu denganku di lobby resort, saat aku akan pulang.
"Ah.. Masa?" kata ku menimpali perkataan Glen.
"Ho..oh! Aku ga pernah salah soal ini. Mungkin, karena terbiasa menghandle wedding event. Aku sering melihat pasangan pengantin dengan berbagai macam ekspresi. Jadi.. buat wajah-wajah kaya gini nih! Absolutely, wajah anak gadis sedang jatuh cinta." katanya sambil menunjuk wajahku.
Aku hanya tersenyum malu.
"Ya kan? ya kan? Ah.. telat deh! Baru aku mau mengajukan proposal menjadi calon mempelai pria buatmu. Ternyata keburu disabet orang." kata Glen berdrama dengan ekpresi seperti orang patah hati.
"Yah, bagaimana lagi. Kamu kelamaan sih. Saya tunggu ga direspon juga." timpalku menanggapi candaannya.
"Mungkin sudah nasibku Sally." kata Glen berpura-pura sedih.
"Udah ah dramanya, nanti orang kira apa lagi. Malu kalau ada tamu resort lihat. Saya pulang dulu ya Glen. bye.. bye.." pamitku sambil melambaikan tangan.
"Baiklah.. bye.. bye.. Sally!" jawab Glen membalas lambaian tanganku sambil tersenyum.
***
Dari kejauhan Dean sudah tersenyum melihatku. Aku juga membalas senyumannya.
"Kali ini, aku bawakan jaket. Nanti kamu bawa sendiri. Padahal, aku lebih suka kamu memelukku dari belakang seperti waktu itu. Cuma, kamu ga suka terlihat mesra di tempat umum kan? Ya, daripada kekasihku yang tersayang ini sakit. Lebih baik aku bawakan jaket."kata Dean sambil memberikan jaket untukku.
__ADS_1
"Oke boss! Terima kasih loh!" sambil kupakai jaket dan helm kemudian naik ke motor.
"Oh iya. Itu jaket baru, aku baru belikan buat kamu. Jangan dirusak apalagi dihilangkan. Cicilannya masih sisa 11 kali. Kalau rusak atau hilang, sisa cicilannya kamu yang tanggung." katanya lagi.
"Iya saya yang tanggung, dan kamu yang bayar. Lebih adil kan? Tetapi, bagaimanapun cara mendapatkan jaket ini. Terima kasih atas niat baiknya." jawabku menimpali.
"Dasar geblek kamu!" kata Dean kemudian tertawa.
"Yang mulai ngaco kan kamu Dean. Saya sih orang baik. Masa iya orang mau ngaco saya ga balas. Kan kasihan.. Ini motornya ada bensinnya ga sih? Kok dari tadi ga sampai juga deh. Malah bergerak aja engga." kataku dengan ekpresi seperti orang kebingungan.
"Udah deh ngaconya. Kalau ga berenti aku langsung bawa ke catatan sipil nih!" ancam Dean.
"Iya deh ga ngaco lagi. Ayoklah kita mari pulang bersama-sama gelang sipatu gelang." jawabku.
"Eh.. malah nantangin!" lanjut Dean.
"Engga.. engga.. Ayok pulang Dean. Saya laper ini." jawabku dengan nada memelas.
Dean pun mengantarku pulang ke Apartment, setelah sebelumnya kami mampir makan malam sebentar.
***
"Malam!" jawab pria itu.
Setelah 3 bulan dia baru sempat menginjakan kaki di tempat ini. Kali ini tujuannya datang, berbeda seperti sebelumnya.
Para staff resort sudah tidak asing dengan wajahnya. Setelah mendapat kartu akses, dia segera menuju kamarnya. Sepertinya ini akan jadi pelarian yang menyenangkan.
Setelah pertengkaran hebat itu. Rasanya baru kali ini dia merasakan kebebasan yang betul-betul bebas.
Beberapa rencana sudah terancang di otaknya. Tinggal tunggu saat yang tepat untuk melaksanakannya. Sebotol red wine sudah habis setengahnya.
"Kali ini, aku tidak boleh melakukan kesalahan yang sama." geramnya sambil menjambak rambutnya.
Matanya mulai terkantuk. Dilepasnya jubah mandi yang sedari tadi dia gunakan. Lalu direbahkannya tubuhnya pada ranjang yang empuk.
***
__ADS_1
Aku baru saja akan beranjak tidur. Kubuka laci di sisi tempat tidur untuk mencari novelnya yang belum selesai dibaca. Tetapi sayang, karena terlalu kencang menarik laci. Laci itu terlepas dari meja menumpahkan semua isinya.
"Yah.. kerjaan lagi!" kataku merutuk.
Aku turun dari tempat tidur dan memungut semua benda yang jatuh dari laci. Sebuah cincin berdenting karena menyentuh lantai. Segera kupungut cincin itu. Cincin ini harus kembali kepada pemiliknya. Aku akan mengembalikannya.
ringg..ring..
"Ya Dean!" jawabku pada Dean yang meneleponku.
"Sayang belum tidur?" tanyanya basa basi.
"Sudah! Lihat saja, sudah terlelap seperti ini." jawabku kesal.
"Jangan galak-galak kenapa sih? Kalau galak nanti cepat dilamar orang loh!" kata Dean.
"Itu pendapat ahli dari mana yang bilang, kalau galak cepat dilamar?. Coba kenalkan ke saya? Atau saya bisa baca buku karangannya di mana?" jawabku.
"Nih kenalkan Profesor Dean! Ahli dalam membuat kekasihnya rindu. Boleh tanya? Wanita yang saya sayang sedang apa ya?" kata Dean.
"Oh Profesor itu. Ini sedang ambil barang yang terjatuh dari laci. Ya biasalah namanya juga pahlawan wanita bertenaga super. Sekali jentik laci lepas beserta isinya berhamburan." jawabku.
"Ooh.. ga heran sih! Jangan tidur larut malam, karena kalau malam kekuatan super mu akan turun melewati titik 0. Aku duluan menembus mega dan menggapai cakrawala." kata Dean.
"Baiklah terima kasih. Selamat beristirahat juga." kataku.
Aku dan Dean sama-sama menutup sambungan telepon.
Tidak lama akupun menyusul Dean ke alam mimpi. Sedang niat meneruskan membaca novel kuurungkan.
---
Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
vattu
__ADS_1