
Setelah mempelajari report yang diberikan oleh kantor pusat. Investor baru juga akan mengecek beberapa hotel dan resort yang potensial. Glaede Resort termasuk di dalamnya. Mereka akan melihat apakah data yang di atas kertas sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Kesibukan hampir tidak pernah absen belakangan ini di resort kami. Sehingga aku dan para pekerja lainnya harus bekerja extra. Melelahkan sih, tetapi justru dengan kesibukan ini menandakan kehidupan bagi para pekerjanya bisa terus berlanjut.
Walau dalam keadaan lelah para pekerja tetap berusaha menikmati pekerjaannya. Senyuman dan kata ramah selalu keluar dari mulut mereka. Meskipun wajah lelah mereka terlihat.
"Selamat siang Ibu! Ada yang bisa kami bantu?" kata Nina dengan senyum manisnya menyapa tamu yang baru saja datang.
Tidak perduli tamu istimewa ataupun bukan. Semuanya dilayani sebaik mungkin dengan keramahan.
Tiap kali pekerja kami berpapasan dengan para tamu, pasti akan menyapa atau paling tidak memberikan senyuman. Tidak perduli senyuman atau sapaannya akan dibalas atau tidak.
***
Menurut kabar, investor akan datang sore ini. Seluruh staff sudah siap daritadi.
Tidak lama datanglah Pak Rolf Direktur Utama kami bersama seorang Pria. Di belakang mereka ada para staff masing-masing. Pak Lucas menyambut dengan ramah.
"Pak Albert, ini Pak Lucas pemimpin di resort ini." Pak Rolf memperkenalkan Bapak Investor dengan Pak Lucas.
"Selamat sore Pak, Saya Lucas. Selamat datang di resort kami." kata Pak Lucas sambil mengulurkan tangan.
"Selamat sore juga Pak Lucas." jawab Pak Albert sambil menjabat tangan Pak Lucas.
"Ini para manager di sini Pak." Pak Lucas mengenalkan kami para manager satu persatu kepada Pak Albert.
Aku seperti pernah melihatnya. Bisa jadi hanya mirip. Karena di resort ini banyak orang datang dan pergi. Wajah mirip bukan hal yang aneh.
"Hai Nona, senang bertemu kembali!" sapa Pak Albert kepadaku, saat giliran aku dikenalkan.
"Jadi Bapak?" kataku terkejut.
"Iya saya, laki-laki tua yang lupa membawa kartu akses dan lupa nomor kamar." katanya sambil tersenyum.
"Senang bertemu dengan Bapak kembali. " jawabku disertai senyum ramah.
Pak Rolf dan Pak Lucas pun terkejut. Tidak menyangka kalau Pak Albert pernah berkunjung ke resort ini sebelumnya.
***
Setelah beberapa hari berlalu. Kami dapat kabar dari kantor pusat kalau Pak Albert setuju menginvestasikan uangnya di perusahaan kami.
Dan beliau minta Glaede Resort Contento dijadikan percontohan buat hotel dan resort yang tergabung di Ferie Group.
"Untuk seluruh pekerja pada resort ini. Kantor pusat sudah memberikan instruksi. Kita semua mendapatkan bonus!" kata Pak Lucas di meeting kali ini.
Langsung disambut ungkapan kegembiraan dari semua pekerja.
Setiap usaha pasti akan membuahkan hasil. Apalagi jika dilakukan sepenuh hati dan tanggung jawab.
Hasil kali ini tidak didapat dari satu bagian saja. Tetapi hasil dari usaha bersama. Hal ini juga dimulai dari Pak Lucas yang menganggap kami semua sebagai sahabat dan keluarga.
Belum lagi Pak Lucas meminta kami untuk selalu saling membantu dalam pekerjaan. Bukan sebagai saingan antar bagian. Mulai dari bagian terendah sampai ke atas.
__ADS_1
Semua itu menciptakan suasana kerja yang hangat dan akrab.
Walaupun begitu, untuk hal-hal tertentu Pak Lucas bisa bertindak sangat tegas. Apalagi jika menyangkut penghianatan dan penyelewengan kekuasaan.
***
"Hei!" kataku memegang kedua pundak Dean dari belakang.
"Kamu Sally! Baru pulang?" jawab Dean yang sempat terkejut.
Kujawab dengan anggukan.
"Kamu sedang apa di sini? Melamun lagi." kataku melihat Dean sedari tadi duduk di taman apartement malam seperti ini seorang diri.
"Menunggu kamu!" jawabnya asal.
"Ah masa?" kataku sambil pura-pura terkejut.
"Betul, aku menunggu kamu menerimaku. Kalau kami bilang iya, sabtu nanti kita pulang ke dusun. Ayahku akan segera melamarmu kepada Pa." jawabnya santai sambil tersenyum memandangku.
"Please Dean, jangan bercanda seperti itu terus ah. Saya mau naik ke kamar." kataku sambil kutinggalkan Dean sendiri.
***
"Sally, ada yang ingin aku bicarakan. Bisa?" pesan text dari Dean masuk di telepon genggamku.
"Mau membicarakan apa Dean? Kalau ngelantur lagi saya tidak mau ya." ancamku melalui pesan text.
"Ini hal serius Sally. Aku mohon, sebentar saja. Aku tidak akan berbuat macam-macam." pintanya.
"Ok" jawabku.
Tok tok tok!
"Ya..sebentar!" jawabku sambil mengalungkan tasku di leher dan berjalan menuju pintu.
Kulihat Dean yanga ada di depan pintu.
"Ayok!" ajak Dean berjalan di depan menuju lift.
***
Dean mengajakku ke sebuah dermaga. Hari sudah mulai gelap. Mentari tinggal sedikit lagi akan berganti malam.
"Ada apa sebetulnya Dean, sedari tadi kulihat wajahmu kusut seperti itu?" tanyaku.
"Sally! Apakah saat ini sudah ada ruang untukku di hatimu, walaupun sedikit saja?" tanya Dean balik.
"Dean, ayolah kenapa mengulang pertanyaanmu tadi di taman?" kataku.
"Baiknya kamu ceritakan masalahmu. Siapa tahu saya bisa memberikan solusi. Kalaupun tidak, kita coba cari solusinya sama-sama." lanjutku.
__ADS_1
"Masalahnya.. saat ini Ayahku sakit keras, dia ingin segera melihatku menikah. Katanya sebelum dia pergi untuk selamanya. Ayahku sudah menjodohkanku dengan sepupu jauh dari pihak Ayah." Dean menarik dalam napasnya.
"Aku kira kamu sangat tahu Sally. Siapa wanita yang sampai detik ini aku mau untuk jadi pendampingku." lanjut Dean menatap mataku dengan sendu.
"Aku tidak mau seumur hidupku menyesal tidak mengatakannya kepadamu tentang perasaanku. Aku juga tidak mau menikah dengan orang lain selain kamu. Aku akan siap menunggu sampai kamu siap. Tetapi, waktu yang dimiliki Ayahku terbatas. Aku mohon jawaban darimu." kata Dean sambil memegang tanganku. Masih dengan tatapan sendunya.
"Dean.. kamu sangat baik kepadaku selama ini. Saya.." aku tidak tahu akan melanjutkan apalagi.
"Jika kamu bersedia. Aku akan memperjuangkan kamu di depan Ayahku. Aku akan menolak sepupu jauhku. Aku pastikan dapat meyakinkan Ayahku untuk menerimamu." kata Dean penuh keyakinan.
Waktu itu, setelah Pa menolak lamaran Ayah Dean. Ayah Dean sangat marah. Dean bahkan tidak boleh berhubungan lagi dalam bentuk apapun denganku. Ayah Dean merasa harga dirinya terhina. Anak petani biasa, bisa-bisanya menolak pinangan orang terpandang sepertinya.
"Dean.. maaf saya tidak bisa." cuma itu yang keluar dari mulutku.
Entah mengapa bulir bening mengalir dari kedua mataku. Dean mengusap aliran itu dengan ibu jarinya. Aku hanya berdiri mematung. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan.
Dean memelukku dengan erat. Tangannya mengelus rambutku. Aku menangis di dadanya. Aku tak kuasa menolak pelukannya.
"Menangislah sayang jika itu membuatmu lega. Maafkan aku yang meminta keputusanmu mendadak." bisik Dean.
"Urusan dengan Ayahku dan sepupuku akan aku urus sendiri nanti." lanjutnya.
"Dean.. tapi?" kuangkat wajahku menatapnya.
"Sst.. tidak usah berkata apa-apa lagi." jawab Dean sambil meletakan telunjuknya di bibirku.
Tatapan matanya seolah menembus jantungku. Tatapan itu tajam sekaligus teduh. Dia tersenyum melihat aku tertegun karena tatapan matanya.
"Tidak.. aku tidak akan memaksa kamu lagi Sally. Aku tidak akan memaksa jika diriku tidak pernah ada di hatimu." katanya lembut.
"2 hari lagi aku akan pindah dari apartement. Aku tidak akan menggangu kamu lagi. Namun jika kamu membutuhkan bantuanku, kamu bisa mengubungiku." pesannya kepadaku.
Merasa tangisanku mulai mereda, Dean mengendurkan pelukannya. Tangannya mengacak puncak rambutku.
"Hei.. jaketku basah semua ini terkena air matamu." katanya sambil melihat jaketnya.
"Maaf, nanti saya cuci deh." jawabku ketus.
"Sudah malam, kita sudah bisa pulang Nona?" tanya Dean.
"Ok" jawabku.
Kami pulang bersama menembus dinginnya malam.
***
Dean betul-betul menepati perkataannya. Dia sudah pindah dari tempat ini. Urusan perjodohan dan Ayahnya aku tidak tahu lagi seperti apa.
Aku kembali sendiri lagi.
---
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
__ADS_1
salam
vatty