Hai Cinta Kembalilah

Hai Cinta Kembalilah
bab. 44. Saat Aku, Kamu Menjadi Kita


__ADS_3

Sehabis memeriksa semua data keuangan resort. Aku berdiri sebentar menatap indahnya samudera dari balik jendela besar ruang kerjaku.


Suara debur ombak yang menderu, bercengkrama dengan lambaian nyiur di tepian pantai. Para tamu kecil besar, tua muda asik dengan kesibukan mereka sendiri.


Mentari perlahan masuk ke dalam laut di ujung sana. Sinarnya yang jingga keemasan, seolah pamit menandakan tugasnya selesai di hari ini.


Ring! ring!


Telepon genggamku berbunyi. Nama Ann terlihat di sana.


"Hai Ann! Apa kabar? Tidak biasanya kamu menelepon di jam seperti ini?" tanyaku kepada Ann.


"Sally!!! Aku senang !!!" teriak Ann dari seberang telepon.


"Waah! Senang karena apakah sahabatku terkasih?" tanyaku lagi.


"Hmm.. eheem.. ehem.. sebentar.. sebentar.. aku tenangkan diri dulu!" jawab Ann sambil menarik napas dalam dan menghembuskannya beberapa kali.


"Ok..ok.. Ricard melamarku Sally!!" kata Ann antusias.


"Wow! Selamat Ann, saya ikut senang mendengarnya." kataku tak kalah bersemangatnya.


"Dalam 2 bulan dia akan menemui orang tuaku. Dan rencananya kami akan melakukan resepsinya di Contento 1 bulan kemudian. Aku butuh bantuanmu dan Dean. Jadi.. kosongkan semua jadwal kalian. Ini perintah!" jelas Ann sambil bergurau.


"Siap boss Ann! Asal info lebih awal ya, kamu tahukan sesibuk apa saya. Belum jadwal shooting, belum jadwal pemotretan ya kan?" jawabku menimpali gurauannya.


"Ya deh.. ya deh.. Nanti aku info paling pertama setelah keluargaku. Miss you baby!" sambung Ann.


"Wokeh! Ga salah alamat tuh miss miss nya?" kataku.


"Ga lah! Kamu kan sahabatku nomor 1, sama seperti kecap ya kan?" kata Ann masih diselingi tawa.


"Apa aja deh! Buat orang lagi senang, bebas aja!" jawabku.


"Btw.. maaf ganggu jam kerja kamu. Lagi kerjakan sekarang kamu?" tanya Ann.


"Ya enggalah! Sayakan sepanjang waktu liburan di sini. Kerja cuma selingan. Sekarang aja asik melihat ombak, pohon kelapa, dan para tamu dari balik jendela." kataku asal.


"Iiih.. mauuu!!" kata Ann.


"Makanya cepat ke sini. Lagian lowongan yang waktu itu ga diambil." jawabku.


"Ya gimana lagi. Aku sangat kepingin ambil. Tetapi, tidak enak dengan Pak Greg. Apalagi saat itu kantor sedang sangat sibuk. Kalau sudah menjadi Nyonya Ricard kan, aku ada alasan tepat untuk ke sana." kata Ann.


"Iya deh calon Nyonya Ricard yang cerewet." kataku.


"Biarin sih cerewet juga kamu kangen sama aku kan? Aku kerja dulu. Ga enak ijin ke toilet lama-lama. Hihi.. bye.." pamit Ann.


"Ok Ann. Sampai nanti ya. Bye.." jawabku mengakhiri.


***

__ADS_1


3 bulan berlalu. Sore ini kami sudah bersiap di Pantai Elsker. Di sana sudah berdiri tegak altar sederhana namun manis.



Sebentar lagi sahabatku akan mengikat janji bersama pria pilihannya. Acara ini hanya dihadiri keluarga inti dan para sahabat dekat.


"Sally! Apakah bunga-bunga ini sudah tertata dengan baik di rambutku?" tanya Ann memastikan riasannya.


"Sudah Ann, semua sudah sempurna. Kamu sangat cantik." pujiku pada sahabatku.


"Terima kasih Sally." jawabnya sambil tersenyum.


Rona kebahagiaan sangat terlihat dari wajahnya.


Gaun putih lace selutut bermodel sabrina. Rambut yang di gerai ikal dengan hiasan bunga kecil di beberapa bagian. Rias wajahnya pun sederhana. Namun kebahagiannya yang terpancar dari hati, membuat sahabatku sangat mempesona saat ini.


Acara berlangsung dengan khidmat. Kedua insan berjanji suci diiringi deru ombak yang tak pernah berhenti sedari tadi. Hembusan angin pun tak mau ketinggalan dalam harmoni.


"Sayang.." kata Dean sambil menggenggam tanganku erat.


"Hmm.." jawabku sambil menoleh ke arahnya.


"Kamu sangat cantik hari ini." kata Dean dengan tatapannya itu, sambil merapihkan anak rambut yang jatuh di keningku.


Tatapan yang selalu membuat jantungku berdegub kencang. Tatapan yang selalu membuat hatiku hangat sekaligus sejuk di saat bersamaan.


"Terima kasih." jawabku tersenyum sangat manis.


"Kayanyaa.. ada yang bikin acara sendiri nih!" kata Ricard dengan senyum lebar mengembang.


"Ya udah sih, segera resmikan saja." timpal Ann juga ikut menggoda.


"Apa sih kalian mengganggu momen romantisku aja!" jawab Dean melotot.


"Kalian kan tahu sendiri, anak ini susah diajak romantis. Yang ada dia ketawa, saat aku mulai romantis." protes Dean kepada Ann dan Ricard.


"Ok.. ok.. kami tinggal dulu kalian. Kami juga mau romantis-romantisan ya kan istriku tercinta?" kata Ricard sambil memeluk pundak Ann.


"Tentu saja suamiku tersayang!" jawab Ann tak kalah mesranya sambil menyandarkan kepalanya di dada Ricard.


"Yah.. ini berdua cantelan pintu malah meledek." kata Dean kepada mereka.


"Kepinginkan? kasihaan.." jawab Ricard sambil berjalan menjauh bersama Ann di pelukannya.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka.


***


Dean mengantarku pulang ke apartment. Kali ini tidak dengan motornya. Entah dapat pinjaman mobil dari mana. Alasannya karena hari ini aku memakai gaun.


"Sayang! Boleh kalau aku minta sesuatu?" tanya Dean di dalam mobil saat kami sudah tiba di tempat parkir apartment.

__ADS_1


"Apa? Jangan aneh-aneh ya!" kataku memperingatkan.


"Dean.. apaan..?" tanyaku karena terkejut saat ditariknya tangan kananku.


Dengan keadaan demikian tentu saja posisi kami saling bertatapan.


"Kamu mau menemani sepanjang usiaku? Bersama berbagi dalam tawa, tangis dan apapun yang terjadi?" tanyanya dengan mata penuh harap.


"Hmm.." lidahku kaku tak dapat menjawab.


Tatapan mautnya kali ini membuatku tertunduk. Rasanya tak kuasa melihatnya.


"Sayang.. apa kamu mau?" tanyanya lagi.


Aku hanya bisa mengangguk.


"Terima kasih sayang." dipeluknya erat tubuhku.


Sesaat kemudian, diambilnya sebuah cincin dari dalam saku jasnya. Dipasangkannya cincin putih dengan permata kecil di atasnya itu, ke jari manisku.


"Mulai saat ini dan selanjutnya. Aku.. kamu.. menjadi kita." katanya sambil mengangkat daguku yang tertunduk sehingga kami kembali bertatapan.


Beberapa detik kemudian bibir hangat menyentuh bibirku. Untuk kali pertama semenjak kami bersama. Bibir kami bersatu.


"Terima kasih sudah membantu mengabulkan mimpi indahku." kata Dean sambil menyentuh pipiku lembut.


"Sudah malam, boleh saya turun?" pintaku karena dadaku serasa ingin meledak.


"Oh iya sayang." kata Dean sambil ikut turun mengantarku sampai depan lobby apartment.


"Saya naik ke kamar dulu ya. Terima kasih untuk segalanya." pamitku dengan tersenyum.


"Iya sayang. Beristirahatlah dengan baik. Aku tidak mau calon istriku sampai sakit." jawabnya dengan senyum yang sangat manis. Lebih manis dari biasanya.


"Kamu juga. Hati-hati di jalan." pesanku padanya.


Pintu lift terbuka dan kami berpisah.


***


Seperti anak kecil, aku tersenyum sendiri. Cincin yang indah ini sudah bertahta anggun di jari manisku.


Kupejamkan mata karena kantuk pun mulai datang. Senyuman seolah tidak luntur dari wajahku sampai menyertaiku ke alam mimpi.


---


Terima kasih buat kalian yang menyukai cerita saya, membaca, dan mampir ke sini.


Semoga kebahagiaan juga selalu hadir bagi kalian semua. ☺️


salam

__ADS_1


vatty.


__ADS_2