
"Hoaam!" aku terbangun di pagi hari saat matahari menyusupkan sinarnya melalui celah jendela kamar kami.
Dean sudah tidak ada di sisiku.
"Sayang!" panggilku kepada Dean.
Oh iya, sejak kemarin Dean minta aku memanggilnya dengan sebutan sayang. Jadi, aku mulai memanggilnya juga dengan sebutan itu.
Dean tidak menyahut. Aku melangkah ke kamar mandi. Tidak kutemukan juga sosoknya. Aku turun menuju lantai bawah. Ternyata lelakiku sedang sibuk di dapur.
"Sayang.. maaf aku kesiangan. Jadi kamu yang masak." kataku sambil menunduk.
"Kamu sudah bangun. Ga apa-apa, aku sengaja ga bangunin kamu. Kata orang kalau beberapa hari sebelum dan hari-hari pertama perempuan datang bulan, kondisinya lemah. Jadi sengaja aku biarkan kamu tertidur pulas." kata Dean.
"Tapi kan.." jawabku terpotong.
"Ga usah ada tapi-tapi an. Ga apakan kalau suamimu memasakan sarapan untukmu. Aku yakin, sekali kamu coba pasti akan ketagihan. Ini pancake banana with chocolate sauce, special for my lovely wife." katanya.
Sehabis menaruh makanan di meja makan. Dean memegang kedua bahuku. Mengarahkan aku agar duduk di meja makan. Dia juga memberikan pisau dan garpu kepadaku.
Suapan pertama pancake masuk ke dalam mulutku.
"Hmmm.. betulan enak!" kataku sambil tersenyum cerah.
"Iyalah.. yang buatkan laki-laki ganteng kesayangan kamu. Pasti enak!" jawab Dean dengan bangga.
"Iya.. iya.. terima kasih." kataku.
Selesai sarapan Dean melarangku mencuci piring kotor. Dia malah menyuruhku untuk mandi. Dean sudah mandi terlebih dahulu. Dia tinggal mengganti dengan baju kantor.
***
"Sayang.. sudah siap?" tanya Dean kepadaku sambil mengancingkan jaketnya.
"Sudah! Yuk!" jawabku.
Kami berdua berjalan menuju carport. Tempat motor Dean terparkir.
"Ga apa-apakan kita masih naik motor seperti ini?" tanya Dean.
"Ya jelas ga apa-apa dong. Yang terpenting siapa yang mengendarai, bukan jenis kendaraannya." kataku ketularan gombal dari Dean.
"Aiih.. sedap.. Istriku mulai ketularan gombal." katanya sambil tersenyum menggoda.
"Virus gombal kamu menular sih." jawabku seenaknya.
"Hahaha.." Dean hanya menjawabku dengan tawanya.
Kami berdua menuju kantor. Sebelumnya Dean mengantar ke resort tempatku bekerja. Baru setelahnya dia menuju hotel.
"Sampai nanti sore sayang. Hati-hati di jalan." kataku pamit.
"Selamat bekerja cintaku. I love you so so much!" jawab Dean.
Tidak lama motornya berlalu.
***
Resort mulai didatangi banyak tamu. Hari ini 85 persen occupancy dari ketersediaan kamar. Bahkan dari reservasi yang kami terima, 2 hari lagi full booked.
__ADS_1
Seluruh pekerja sedang sibuk-sibuknya.
Hal ini juga terjadi di hotel Smurk tempat Dean bekerja. Sebagai bagian dari Ferie Group. Walau sesibuk apapun, pelayanan sebagai penginapan bintang 5 tidak boleh berkurang apalagi sampai membuat kesalahan.
"Wow.. pengantin baru, ceria sekali wajahmu." sapa Glen dengan antusias kepadaku.
"Kamu bisa aja Glen. Gimana sudah ok semua?" tanyaku pada Glen.
"Sudah siap semua sih. Cuma, semoga saja berjalan dengan lancar. As we know lah ya.. secara tamu-tamu kita seperti apa. Semoga aja masih bisa kita akomodir." kata Glen.
"Hopefully!" jawabku.
Glen bertanggung jawab atas event-event di resort yang ada selama musim liburan kali ini. Tangan kreatif Glen memang tidak perlu diragukan lagi. Tetapi, tamu-tamu kami sering ada permintaan aneh. Oleh karena itu kami harus selalu siaga untuk mengantisipasinya.
***
Selesai mengecek ke beberapa bagian, kulihat sudah jam 6 sore. Dean bilang hari ini belum tahu bisa pulang jam berapa. Dia menanyakan apa aku bisa pulang lebih dulu atau akan menunggunya.
Aku putuskan menunggu saja di resort. Karena pekerjaanku juga lumayan banyak.
"Bu, ini ada kiriman bunga untuk Ibu." kata Jason staff resort.
"Dari siapa Jason?" tanyaku.
"Kurirnya tidak memberitahu dari siapa, dan di amplopnya juga tidak tertulis dari siapa Bu." jawab Jason.
"Ok, terima kasih Jason." jawabku.
Setelah Jason meninggalkan ruanganku, ku buka kartu yang ada di rangkaian bunga itu. Tidak ada nama, cuma tertulis : "Selamat atas pernikahanmu. Aku selalu menunggu apapun keadaanmu."
Bunga tanpa jelas pengirimnya siapa.
***
Saat kami sedang duduk beristirahat sambil menonton tv. Seseorang memencet bel rumah kami.
"Kamu mau kemana? Biar aku saja yang buka pintunya." kata Dean menahanku.
Aku tunggu beberapa saat, Dean tidak kembali juga. Aku susul Dean ke depan rumah.
"Surprise!!" kata Dean.
Sebuah city car berwarna abu-abu sudah ada di depan rumah kami.
"Maksudnya?" tanyaku kebingungan.
"Ini untuk kamu sayang." kata Dean.
"Dean.. ini kan mahal." jawabku.
"Mau mahal atau tidak. Kita tetap membutuhkannya. Apalagi kalau nanti sudah ada bayi lucu yang keluar dari sini." kata Dean sambil mengusap perutku.
"Itu masih kosong sayang. Baru isi nasi, lauk, dan sayur." kataku sambil tersenyum lebar.
"Ga lama juga ada kok." kata Dean yakin.
"Iya sayang. Terima kasih hadiahnya." kataku sambil kupeluk gemas Dean.
"Iya sayang." jawab Dean.
__ADS_1
Kami berdua masuk ke dalam rumah dan beristirahat.
***
Hari ini hari libur. Setelah sibuk mengurusi para tamu yang datang berlibur selama 2 minggu ini, akhirnya kami bisa beristirahat juga.
Aku bangun lebih siang. Kulihat Dean masih tertidur di sebelahku. Ku ambil sembarangan Tshirt Dean yang letaknya terdekat dari tempat tidur kami. Ukurannya yang besar, membuat Tshirt ini seperti daster mini untukku.
Aku menuju dapur di lantai bawah untuk membuat sarapan. Rambutku ku gelung asal ke atas. Selesai membuat sarapan aku membawa makanan kami ke kamar.
Tuan besar masih tertidur pulas ternyata.
"Sayang.. ayo bangun. Sarapan dulu.." bisikku pada telinga Dean sambil kuusap lebih pipinya.
"Hmm.." jawabnya.
"Sayang..." panggilku lagi.
Dean malah tiba-tiba menarikku. Di posisi seperti ini aku terkunci.
"Salah kamu, siapa suruh membangunkan macan tidur." kata Dean.
"Masa? Setahu saya, kamu itu suami saya bukan macan." kataku meledeknya.
"Kamu itu..." kata Dean.
"Tunggu.. tunggu.. makan dulu ya? Saya lapar, kamu juga kan? Nanti setelahnya terserah." kataku memohon.
"Ok!" jawab Dean.
Kami makan dengan lahapnya.
***
Siang ini di kantor, datang lagi bunga dari orang yang tidak dikenal untukku. Tetapi kali ini disertai sekotak coklat tersegel dan diberikan pita cantik.
Di kartunya tidak tulis apapun. Betul-betul kosong tanpa ada garis ataupun titik.
Lilac sudah siap-siap. Karena seperti biasa, jika aku dapat kiriman bunga. Aku akan langsung memberikannya kepada Lilac. Dia sangat menyukai rangkaian bunga.
Coklatnya kami nikmati bersama-sama.
Aku bingung harus tetap menerima atau menolak bunga-bunga itu. Kalau kuterima tidak tahu dari siapa. Jika kutolak kasian toko bunganya.
Akhirnya aku putuskan..
"Nanti kalau ada kiriman apapun untuk saya tanpa nama. Minta tolong kalian tolak ya." pesanku pada staff resort.
"Baik Bu." jawab mereka.
Aku tidak mau menerima lagi apapun dari orang tidak jelas itu.
---
Terima kasih teman-teman yang masih setia mampir dan membaca cerita saya.
salam
vatty
__ADS_1