
"Hei pria tua, apa yang kau lakukan di sini? mengapa tidak bergabung dengan hingar bingar pesta di dalam?" tanya Andrew yang melihat Chris duduk seorang diri di bar resort sambil melihat lautan.
"Kamu sendiri kenapa ke sini?" bukannya menjawab Chris malah bertanya balik.
"Kau kan tahu, kalau aku tidak suka keramaian seperti itu. Berisik! Aku butuh ketenangan. Lalu kau Om, kenapa tidak bersama istrimu yang jelita itu? Tadi dia mencari-cari mu." jawab Andrew.
"Bukan hanya kamu yang butuh ketenangan. Aku juga butuh, termasuk ketenanganku yang tidak diganggu oleh Jo. Mau berbagi isi botol ini denganku?" kata Chris.
"Usul yang bagus!" jawab Andrew.
Kemudian Chris memanggil pelayan untuk mengambilkan gelas baru buat Andrew.
Di saat yang lain berpesta besar di dalam venue. Dua orang pria dewasa itu menikmati pestanya sendiri. Mungkin tidak tepat dibilang pesta. Sepertinya yang cocok adalah meratapi nasib atas kesalahan mereka sendiri..
***
Pagi ini Sally agak malas ke kantor. Karena mengingat sebagian besar tamu undangan pesta semalam belum check out. Dengan begitu ada kemungkinan bertemu Chris atau Andrew.
Dengan bawahan rok A line selutut dan memakai atasan kemeja putih berenda. Ditapakinya lobby resort, berharap tidak bertemu satupun baik itu Chris ataupun Andrew.
"Permisi Opa, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku saat seorang laki-laki tua tampak kebingungan.
"Ini, tadi saya turun sarapan cuma kartu akses saya tertinggal di dalam. Dan saya lupa nomor kamar saya juga " jawab pria tua itu.
"Oh seperti itu, mari Opa bisa ikut saya?" ajakku.
"Ah iya.. iya.." jawabnya.
Kutanyakan pada bagian reservasi untuk melihat ada di nomor berapa kamar pria ini dan minta tolong di antar ke kamarnya untuk dibukakan pintu. Setelah menyebutkan nama lengkapnya. Bagian reservasi akhirnya menemukan nomor kamarnya.
"Nah Opa bisa ikuti teman saya." kataku kepadanya.
"Terima kasih ya Nak. Maaf saya merepotkan!" jawabnya dengan suaranya yang parau.
"Sama-sama Opa, nanti kalau ada yang diperlukan bisa hubungi kami lagi." kataku.
Dia menjawab dengan anggukan.
Pria itu mengikuti rekanku ke kamarnya. Sedangkan aku melanjutkan perjalan ke ruanganku.
***
Dari ruang makan Andrew mengawasi gerak gerik Sally tadi. Saat Sally pergi, Andrew pun berjalan ke arah bagian reservasi.
"Permisi, kalau boleh tahu wanita tadi siapa ya? Apakah dia staff resort ini?" tanya Andrew pura-pura tidak tahu.
"Iya Pak, beliau salah satu manager kami. Ada yang bisa saya bantu?" tanya bagian reservasi.
__ADS_1
"Saya tidak sengaja menemukan ini. Saya kira milik dari wanita itu. Bisa saya menemuinya? Karena tidak mungkin saya titipkan barang seperti ini." kata Andrew sambil menunjukan sebuah cincin indah bermata berlian walaupun kecil.
"Maaf dengan Bapak siapa?" tanya Bagian reservasi kepada Andrew.
"Saya Andre" jawab Andrew menyebutkan namanya tidak lengkap.
"Sebentar coba saya tanyakan ya Pak, apa beliau bisa ditemui." jawab bagian reservasi sopan. Kemudian memencet tombol pada teleponnya.
Setelah menunggu beberapa lama..
"Pak, Ibu Sally bilang itu bukan miliknya, dan Bu Sally sebentar lagi akan meeting. Tetapi beliau bilang sebelum jam makan siang bisa ditemui." kata bagian reservasi kepada Andrew.
"Saya sangat yakin kok ini milik dia. Ok, saya akan tunggu." jawab Andrew.
"Baik Pak. Sebelumnya kami berterima kasih, karena Bapak mau menyerahkan barang yang Bapak temukan. Bu Sally bilang nanti sebelum jam makan siang bisa bertemu di ruangan beliau. Walaupun beliau merasa itu bukan miliknya. Namun karena barang itu ditemukan di area kami. Kami akan menyimpan sampai ada tamu yang merasa kehilangan barang tersebut." kata bagian reservasi lagi.
"Ok" jawab Andrew kemudian berlalu. Ada senyum mengembang di bibirnya.
***
"Mari Pak bisa ikuti saya" kata seorang staff resort kepada Andrew.
Andrew pun mengikuti dari belakang.
Tidak lama sampailah di ruanganku.
Tok.. tok.. tok..!
"Silahkan masuk Pak!" kata staff hotel kepada Andrew.
"Bu, Pak Andre sudah datang. Saya pamit!" kata staff itu kepadaku lalu pergi meninggalkan Andrew dan Aku.
"Iya Kenan, terima kasih." jawabku pada staff hotel yang baru saja mengantar tamu ke ruanganku.
Andrew pun memasuki ruanganku. Saat aku melihat siapa yang datang, seketika itu juga aku terkejut.
"Kamu Drew? Tadi katanya Pak Andre?" tanya ku.
"Ya betul dong Sall, memang itu namaku kan? Cuma tidak aku tambahkan huruf W di belakangnya." kata Andrew tidak mau kalah.
"Okelah.. Tadi kata bagian reservasi, kamu menemukan sebuah cincin ya? Itu saya pastikan bukan milik saya. Tetapi kami bisa menyimpannya sampai ada tamu yang merasa kehilangan barang itu." tanya Sally.
"Iya, aku menemukannya." kata Andrew sambil tersenyum.
"Aku pun bisa pastikan kalau cincin ini adalah milikmu" sambung Andrew.
"Tetapi Drew, itu bukan milik saya. Saya tidak pernah merasa memilikinya." jawabku.
__ADS_1
"Ini milikmu Sally, ini kamu bisa baca sendiri. Ada ukiran nama di dalamnya." kata Andrew sambil memberikan cincin itu kepadaku.
Ku terima cincin itu. Ternyata yang terukir di sana "Sally mylove".
"Ini memang nama saya Drew. Tetapi nama Sally kan bukan hanya saya. Pasti ada tamu resort yang bernama Sally juga." kataku.
"Tidak Sally, ini betul-betul milikmu. Aku menemukannya di toko perhiasaan beberapa tahun lalu saat kamu pergi ke toko lain untuk membeli sesuatu." jawab Andrew.
"Maksudmu?" kata Sally kebingungan.
"Aku membeli ini untuk mu saat kita masih di Agria. Di suatu akhir pekan saat kita masih sering pergi bersama. Tadinya aku akan memberikannya untukmu saat kamu kembali dari dusun Lembah Asri. Tetapi saat kamu kembali, kamu sudah mejadi milik Chris." jelas Andrew kemudian tertunduk.
"Drew.. please. Saya sudah pernah bilang kalau.." ucapanku terputus dipotong Andrew.
"Percuma Sally, apapun yang kamu katakan tidak akan membuat aku menyerah lagi. Cukup satu kali aku mengalah lalu menjauh pergi darimu. Tetapi tidak untuk kali ini. Ini ambil benda yang memang seharusnya milikmu." kata Andrew kemudian melangkah keluar dari ruanganku.
"Drew.. Andrew.." panggilku.
Dia tidak diperdulikannya. Dia terus berlalu, dan tidak mungkin aku berteriak memanggilnya dan berlari mengejarnya di koridor kantor. Nanti yang ada teman-temanku akan bertanya mengenai kegaduhan yang terjadi.
Setelah jam makan siang aku masih ada meeting. Jadi aku makan siang di ruangan sambil mengerjakan bahan meeting. Pikirku nanti sore setelah pulang kerja akan aku kembalikan cincin ini kepada Andrew.
***
Selesai merapihkan dokumen-dokumen aku menyambar tasku lalu turun ke lobby. Saat ini aku sudah ada di bagian reservasi.
"Willy, apakah tamu dengan nama Pak Andrew sudah check out?" tanyaku pada Willy yang saat ini bertugas .
"Sebentar saya lihat Bu. Sudah Bu sekitar jam 1 an" jawab Willy.
"Ok, terima kasih Willy." kataku lemas.
Jadi ada pekerjaan lagi untuk ku mengembalikan cincin ini. Tetapi tidak mungkin aku pergi ke tempat Andrew. Yang ada orang itu akan tambah salah paham. Akhirnya aku masukan saja cincin itu ke dalam tas.
***
Di dalam pesawat yang membawanya ke kota Harapan Andrew, tersenyum penuh arti. Dia merasa rencananya berhasil.
"Sally pasti akan serba salah. Jika dia akan mengembalikan cincin itu, dia harus menghubungiku. Kalaupun tidak, maka cincin itu terpaksa ada padanya. Baguslah cincin itu berada pada pemilik cincin yang sesungguhnya." kata Andrew dalam hati.
Sedangkan urusannya dengan Vivian. Dia akan mencari cara agar bisa lepas dari Vivian, tanpa melukai dua keluarga yang bersahabat sejak lama.
---
Terima kasih teman-teman yang sudah bersedia mampir dan membaca cerita saya.
__ADS_1
salam
vatty