
Sejak kepergian Tom yang seperti jalangkung datang tak diundang dan pergi tak diantar. Aku sudah tidak tahu lagi mengenai kabarnya. Pernah sih kucoba bertanya nomor telepon Tom kepada Lazo, tetapi Lazo tidak diizinkan Tom untuk memberi tahukan segala yang hal tentangnya kepadaku.
Baiklah.. ada saatnya untuk bertemu dan saatnya untuk berpisah. Seperti halnya aku, demikian juga dengan pribadi lain yang punya keinginan dan kehendaknya masing-masing.
***
Belakangan ini malah AwanKelabu yang sering menghubungiku lewat kotak pesan di chat room.
Tuing!! notifikasi chat room ku berbunyi. Siapa lagi kalau bukan dari si AwanKelabu jelek itu.
AwanKelabu (AK): "Sally.. Sally.."
Sally (Sal): "Eh.. Hai apakabar? Ada apakah?"
AK : "Jujur loh biasanya aku ga mau berteman apalagi bersahabat, ujung-ujungnya akan ada perpisahan"
SAL : "Ya ga gitu juga kali, kita kan butuh orang lain untuk bersosialisasi. Datang dan pergi itu biasa. Di mana-mana ada awal pasti ada akhir"
AW : "Aku cape selalu berakhir seperti itu"
SAL : "Coba deh kamu buka hati lagi, ga ada salahnya kan mencoba untuk menjadi manusia normal dengan bersosialisasi"
AW :"Ok, aku coba saran kamu"
SAL :"Nah, gitu dong, siapa tahu selain ketemu teman bisa ketemu jodoh juga ya kan? Eh btw kenapa kamu suka chat sama aku deh?"
AW :"Ga tahu, kamu orangnya aneh. Di forum suka absurd, menulis yang ga jelas dan kadang susah dimengerti. Tapi seru sih"
SAL :"Haha.., ya udah kalau butuh temen ngobrol dan aku online senggol aja"
AW : "Ok"
Percakapan berakhir, kututup laptop dan menuju peraduanku yang nyaman.
***
Selain sibuk bekerja, dan berinteraksi dengan sahabat-sahabatku. Hari-hari ku juga diwarnai celoteh teman dunia mayaku si AwanKelabu, kadang kami meracau bersamaan. Menyimak puisi sedihnya tentang hujan, wanita, dan awan. Termasuk juga.. ceritanya tentang seorang gadis yang sedang disukainya.
SAL : "Kamu tuh harus jujur loh sama gadis yang kamu suka, harus terbuka. Iya kali orang berpacaran kaya beli kucing dalam karung. Sedang kamu curang sudah tahu wajah asli dia kaya apa"
AK :"Nanti kalau dia menerima ku, aku akan terbuka kok sama dia"
SAL :"Betul ya, ga lucu aja kamu nikahin orang secara online ga jelas kamunya siapa. Kalau aku sih ga akan mau"
AK :"Eh tapi seru juga ide kamu soal menikah online itu"
SAL :"Kamu tuh ya, aku tuk tuk loh"
AK : "Iya.. iya.. aku akan jujur sama dia, aku minta no rek kamu mau transfer untuk minta tolong dibelikan buku yang waktu itu, pengirimannya nanti aku kasih alamat"
__ADS_1
SAL : "Wah.. asik. Alamat kamu dong ya?"
AK : "Ya enggalah, aku kasih kamu alamat kantor Bibinya temanku, ini alamatnya Ibu Rossy, Perpustakaan Pusat Kota Salaria no.1"
SAL : "Haha.. oh ok.. nanti kalau aku ga online kamu bisa telepon aku di nomor 23344444 ya kalau mau ada yang dibicarakan"
AK :"Ok, mungkin besok sore aku telepon kamu"
SAL :"Ok, bye.."
***
Aku baru tahu ternyata alamat yang diberikan AwanKelabu kepadaku adalah alamat Bibi dari PawangHujan. Lucunya PawangHujan mengira aku adalah gadis spesial yang disukai AwanKelabu. Padahal aku tahu siapa gadis itu. Gadis itu adalah temanku di forum diskusi. Dia gadis pintar, kata-katanya tertata rapih, dan sikapnya lemah lembut.
PawangHujan, kamu seperti tidak kenal sifat senior kamu. Sudah pasti bukan aku yang ngaco dan aneh seperti ini wanita spesial si AwanKelabu.
AwanKelabu agak egois. Saat aku bercerita ada temanku yang menyukaiku, dia malah seolah tidak suka. Aku tidak berpikir terlalu jauh. Kukira dia tidak suka karena takut temannya tidak ada waktu untuknya jika sudah berpasangan. Sedang dia asik bercengkrama berbalas puisi-puisi indah dengan wanita pujaannya.
Tingkah sok misterius AwanKelabu konsisten. Contohnya saat dia menghubungiku melalui telepon. Bukan dia sendiri yang berbicara padaku, tetapi dia malah minta PawangHujan yang menghubungiku. Tambah-tambah PawangHujan disuruh menyamarkan suaranya dengan mengubah dialek saat berbicara. Hasilnya malah aneh mirip seperti orang ngelenong. Belum lagi gagang telepon ditutup sapu tangan.
Belum cukup sampai di situ, yang paling aneh mereka menelepon dari telepon umum agar tidak terdeteksi keberadaannya.
***
Beberapa bulan berlalu, sudah tidak ada kabar lagi dari AwanKelabu sepertinya dia kembali asik menikmati kesendiriannya yang sendu. Mengutuki diri dan membenci dunia nyata di mana dia berada. Hubungannya dengan temanku, entahlah mungkin putus di tengah jalan.
Hingga pada suatu hari..
Drrt.. drrt.. telepon genggamku bergetar, muncul nomor telepon yang tak kukenal.
"Halo.. haloo.." jawabku tetapi tidak ada jawaban dari sana.
Bukan hanya sekali tetapi beberapa kali dia melakukan itu. Sudah pasti aku kesal dibuatnya. Sepertinya aku mengenal seseorang yang biasa seperti ini. Dulu sebelum akhirnya berbicara sendiri ditelepon denganku. Beberapa kali AwanKelabu pun seperti ini.
Akhirnya kukirimkan pesan text.
"Kamu AwanKelabu ya? Biasanya yang suka misterius-misterius begini kepadaku dia deh"
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
Malam berikutnya beberapa kali telepon tanpa suara lagi. Akhirnya dengan kesal kukirim kembali pesan text.
"Kamu AwanKelabu kan? Kenapa sih ga jawab juga" pesan terkirim.
"Siapa AwanKelabu?" jawab orang itu melalui pesan text.
"AwanKelabu teman aku. Kalau kamu AwanKelabu, ayolah ga usah misterius terus kaya gini? Kamu niat ga sih menghubungi aku? Kamu niat ga sih berteman dengan ku? Kalau ga niat lebih baik kamu ga usah hubungi aku lagi." jawabku dengan perasaan kesal.
"Betul aku AwanKelabu, aku cuma mau tahu selama ini kamu anggap aku sebagai apa. Ok, kalau kamu ga mau aku hubungi lagi aku akan tutup semua akses yang berhubungan dengan kamu. Setelah pesan ini, kartu telepon ini akan aku buang ke sungai" jawab AwanKelabu melalui pesan textnya mengakhiri percakapan termasuk pertemanan kami.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku, aku ga suka beberapa kali kamu telepon tanpa bersuara. Aku kirim pesan text pun tidak kamu jawab" kukirim pesan text kepadanya.
Ternyata benar-benar pesan text terakhir. Karena status pesan text itu tidak pernah terkirim. Mungkin kartu telepon itu sudah tenggelam ke dasar sungai bermain bersama batu koral atau bisa jadi ada di dalam perut seekor ikan.
Saat ini di saat hujan turun dengan derasnya.. Seperti saat itu, saat aku bertemu denganmu di sunyinya malam.
Jika suatu saat nanti aku dapat bertemu denganmu lagi..
Aku hanya ingin mengatakan..
Terima kasih sudah hadir dalam perjalanan hidupku..
Terima kasih sudah menjadi kenangan yang selalu ada..
dan..
sorry.. for knowing you
sorry.. for letting me go through you life
sorry.. for the absurd things between us
sorry.. for every single time we've been through
and...
sorry.. if i can't leave
***
Kalian para lelaki itu aneh. Serapat mungkin kalian simpan rahasia tentang apa yang kalian harapkan kepadaku. Dari mana aku tahu apa maksud kalian? Kalian kira aku paranormal? Namun pada saat mendapat respon yang tidak kalian inginkan, kalian malah pergi menjauh seperti angin lalu.
Sulit kujumpai persahabatan antara lelaki dan perempuan tanpa ada perasaan lain di dalamnya. Kecuali dengan Lazo.
Lazo itu sangat menjaga sahabat-sahabat wanitanya. Tetapi di saat yang bersamaan malah tidak tahu malu terhadap kami.
Contohnya dia akan mewanti-wanti aku dan Ann agar tidak terlambat makan, karena kalau sakit akan tidak enak bagi kami yang jauh dari keluarga. Tetapi di sisi lain, dengan tidak tahu malunya menumpang makan kepadaku dan Ann. Karena uangnya menipis untuk pergi berkencan dengan Rina gadis pujaannya.
----------
Hai.. sudah dulu ya untuk bab ini
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca ceritaku.
salam
vatti
__ADS_1