
"Tom, kerja hebat! Karena kerja keras kamu, kita bisa dapat project sebesar ini." kata Kak Tiza dengan senyum merekah.
"Terima kasih Kak, ini semua berkat kerja sama tim juga." jawab Tom tersenyum singkat.
"Saya pamit melanjutkan pekerjaan saya." lanjut Tom sambil berlalu menuju meja kerjanya.
Kak Tiza lagi-lagi tidak dapat melanjutkan perkataannya. Dia pun ikut kembali ke ruang kerjanya.
Untung saja hampir seluruh pekerjaan Tom sangat baik. Kalau tidak, bisa jantungan Tiza menghadapi kelakuan Tom yang sangat dingin seperti itu.
Sekilas dia lihat Tom sudah hanyut dalam pekerjaannya.
"Anak itu seperti robot, bekerja bekerja dan bekerja. Hampir tidak ada interaksi sosial. Kalaupun ada itu hanya seperlunya dan kaku." kata Tiza dalam hati.
***
"Apapun itu, dan apa yang akan terjadi nanti. Aku tetap menunggumu Sally." kata Tom sambil memandang photo gadis pada jam sakunya.
"Perasaan ini tidak seperti debu di musim kemarau, yang saat musim hujan datang. Dia hilang tanpa bekas." lanjutnya.
Ditutup jam sakunya. Kemudian diletakan di meja di sebelah bidang gambar. Mata dan tangannya kembali fokus pada rangkaian garis-garis pada kertas besar.
Wajahnya kaku tanpa ekspresi. Namun, di sana di dadanya dia merasakan sakit. Terasa sesak dan perih seperti tergores sembilu.
***
"Jadi karena itu, saya ijin beberapa hari untuk pulang ke dusun, Pak!" kataku kepada Pak Lucas sehabis menyerahkan laporan.
"Tentu saja boleh Sally. Dan selamatnya!" jawab Pak Lucas sambil mengulurkan tangan kepadaku.
"Terima kasih Pak." jawabku sambil membalas uluran tangan Pak Lucas.
Tidak lama kemudian aku kembali ke ruang kerjaku.
Satu minggu lagi aku akan pulang ke dusun Lembah Asri. Aku akan pulang bersama Dean. Rencananya Dean akan melamarku kepada Pa dan Ma.
***
"Sudah siap semua sayang?" tanya Dean.
"Sudah!" jawabku.
"Ok, sini aku bawakan kopermu." kata Dean.
Kami menuju bandara pada pagi ini. Tidak banyak persiapan yang kami lakukan. Lagipula rencananya hanya lamaran sederhana, yang dihadiri keluarga inti dan kerabat dekat.
1 jam perjalanan dengan pesawat terbang. Kami sudah sampai di kota Harapan, kota besar dengan sejuta harapan. Kota ini seperti punya daya tarik tersendiri. Seolah magnet yang menarik para penduduk negeri. Mereka berlomba mencari peruntungan dalam penghidupan.
__ADS_1
Dengan mobil sewaan kami menuju dusunku. Bibi Gina dan keluarga sudah berangkat terlebih dahulu, karena beliau akan pulang lebih awal juga nantinya.
Dean mengantarku pulang. Sebelum dia kembali ke rumahnya.
Setelah berbincang dengan keluargaku, Dean pamit pulang.
"Sayang, sampai bertemu besok. Berdandan yang cantik, biar bunga paling cantik sekalipun iri padamu." kata Dean menggodaku.
"Hadeh.. ga lebay gitu juga Dean. Iya, sampai bertemu besok. Hati-hati di jalan." jawabku ketus.
Disambut tertawa lebar oleh Dean.
Mobil yang mengantarnya berlalu.
"Betul-betul aku tidak menyangka, ternyata kamu bersama Dean." kata Mena sambil tertawa.
"Jodoh memang susah ditebak Mena. Seperti kamu malah menikah dengan Nic. Dan aku menikah dengan Juan. Padahal dulu kamu sangat suka Juan. Dan aku, kalian tahu sendiri" kata Kela dengan tersenyum malu.
"Iya, kita tidak tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Yang terpenting, kita lakukan segala sesuatu sebaik mungkin. Untuk hasil, biar Sang Pencipta yang menentukannya." jawabku.
***
Di atas bukit Penantian seorang pria sedang memandang hamparan sawah dan rumah penduduk dusun Lembah Asri.
Angin berhembus membelai rambutnya. Tatapannya tetap lurus ke depan. Hati dan kenangannya menerawang entah kemana.
"Andai kamu juga ada di sini. Sedetikpun aku tidak akan pergi darimu." katanya lagi.
***
Para sahabat dan kerabat sudah pulang. Tinggal aku, Pa, Ma, dan Mey.
Mey adikku sudah berubah menjadi gadis yang cantik. Saat ini usianya sudah 17 tahun. Beberapa pemuda tetangga mulai mencari perhatian kepadanya. Tetapi, tidak satupun yang Mey respon. Katanya dia tidak mau berpacaran dahulu. Dia ingin bekerja di luar dusun sepertiku.
"Pa.. Ma.. saya mau pergi sebentar ya." pamitku pada Pa dan Ma.
"Mau kemana kamu sayang?" tanya Ma.
"Saya rindu dusun Ma. Mau berkeliling sebentar." jawabku sambil berjalan ke gudang mengambil beky.
Kukayuh beky menembus angin sejuk dusun kami. Kulewati sawah, kebun, dan pepohonan. Rambutku berkibar bebas.
Aku paling bahagia pada saat seperti ini. Seolah aku burung yang terbang bebas mengelilingi jangat raya.
Dan sekarang, aku ada di sini. Dataran tinggi dengan jalan setapak dan pepohonan di sisi kanan kirinya.
__ADS_1
Aku turun dari sepeda. Kutuntun beky pada sisi kiriku. Kami menapaki jalan menanjak bersama.
Saat aku tiba pada lokasi favoritku. Sudah ada seseorang di sana. Tampaknya seorang pria, kalau ku lihat dari belakang. Ada sebuah sepeda juga terparkir di sana.
Akhirnya, aku urungkan langkahku ke tujuan. Aku memutar balik beky menuju tempat lain. Baru beberapa langkah seseorang menahan langkahku.
"Sally!" panggil orang itu.
Aku menengok ke arahnya. Dia pria yang kukenal. Pria yang pernah bersamaku di tempat ini. Saat itu kami sekedar bercerita dan memandang indahnya ciptaan Tuhan.
"Ternyata benar kamu." katanya tersenyum haru.
"Hai Chris!" jawabku dengan senyum dipaksakan.
Dia berjalan menghampiriku. Tanpa butuh persetujuan, dia memelukku dan menangis di sana.
"Ternyata alam mendengar kata hatiku. Dia mengirimmu ke tempat ini." bisik Chris.
"Chris, tolong lepaskan saya." kataku sambil berusaha mendorong tubuhnya.
"Mohon berikan aku beberapa menit Sally. Aku teramat merindukanmu. Dadaku sesak saat mengingatmu. Aku sangat mencintaimu." bisik Chris lagi.
"Maaf Chris, saya tidak bisa." tolakku.
Tidak lama Chris merenggangkan pelukannya.
"Aku mohon untuk kesekian kalinya. Kembalilah cintaku." kata Chris dengan tatapan memelas.
"Sepertinya saya tidak bisa kembali padamu Chris. Besok seorang pria akan melamar saya. Jadi, tolong lupakan saya. Buka hatimu dan temukan kebahagiaan lain." jawabku kemudian melangkah pergi darinya.
Chris masih di sana. Dia berdiri mematung sambil menatap ke arahku. Dadanya terasa sangat sesak, bahkan sempat membuatnya sulit bernapas.
"Tidak Sally, kamu tidak boleh menoleh ke belakang. Semua sudah berlalu. Kalaupun ada rasa yang tersisa, itu hanya kenangan. Mantapkan hatimu." bisikku pada diri sendiri.
Sebetulnya aku tidak tega melihat Chris seperti itu. Tetapi saat ini, sudah terlambat untuk aku kembali kepadanya. Aku harus menatap langkahku di depan sana.
Aku tidak mau menangis, namun mengapa buliran bening ini terus keluar dari kedua mataku. Dadaku sakit, sangat sakit. Aku tetap berjalan menuruni bukit.
Aku tidak boleh kembali ke sana. Akan banyak hati lagi yang terluka jika aku kembali ke sana.
---
Buat pembuka minggu yang penuh tanggal merah.
Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
__ADS_1
vatty