Hai Cinta Kembalilah

Hai Cinta Kembalilah
bab.29. Orang Itu


__ADS_3

Dean bolak balik di lobby dengan cemas. Wajahnya berubah cerah saat melihatku turun dari taxi. Kemudian dia menghampiriku.


"Kamu kok di sini Dean?" tanyaku heran.


"Tadi aku lihat kamu pergi dengan taxi terburu-buru. Aku takut tambah merepotkan kamu, kalau menelpon menanyakan ada apa. Jadi aku tunggu kamu di sini." jawabnya sambil tersenyum.


"Dean, saya baik-baik saja. Tadi ada keperluan kantor mendadak. Resort kami sedang ada pesta besar, semuanya sibuk. Jadi kamu tidak perlu cemas." kataku.


"Ok, ayo kita ke kamar masing-masing" ajak Dean.


Aku mengikutinya dari belakang.


***


Sepertinya sebentar lagi acara akan dimulai. Aku lihat dari ruang kerjaku, area outdoor mulai ramai. Di sana akan diadakan pemberkatan pernikahan. Nanti dimalam hari baru diadakan pesta di venue.


Tok tok tok!


"Iya masuk!" jawabku pada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjaku.


"Ini Bu report yang kemarin Ibu minta." kata Lilac sambil memberikan dokumen kepadaku.


Kemudian dia mencuri pandang pada pemandangan di belakang kaca.


"Terima kasih" jawabku langsung membaca laporan yang Lilac berikan.


"Bu, indah sekali ya itu. Orang kaya sih apa saja bisa dibeli. Padahal pesta ini berharga fantastis. Memang ada harga ada barang." kata Lilac sambil melihat acara yang sedang berlangsung di bawah sana.


"Ya memang seperti itu Lilac. Tetapi kita harus bersyukur. Setidaknya kita bisa menikmati keindahan itu dari atas sini. Coba reporter tv dan koran, mereka malah tidak bisa bebas meliput pernikahan megah pasangan ini." jawabku.


"Iya ya Bu. Saya senang bekerja di sini Bu. Sering bertemu selebriti baik dalam maupun luar negri. Yah.. walaupun kita cuma bisa melihat tanpa bisa berinteraksi atau minta photo seperti penggemar pada umumnya." kata Lilac.


"Nah itu kamu tahu. Iya, mereka ke sini untuk berlibur. Kita sebagai bagian dari resort ini harus menjaga privasi mereka dan memberikan kenyamanan untuk mereka." jawabku lagi.


"Ini sudah ok, tinggal sedikit aja revisi di sini." kataku pada Lilac sambil menunjukan bagian yang harus direvisi.


"Baik Bu, terima kasih" jawab Lilac kemudian keluar dari ruanganku.


***


"Bagaimana Glen semua lancar?" tanyaku kepada Glen saat tidak sengaja bertemu di lobby resort ketika aku akan pulang.


"Sejauh ini lancar. Semoga tidak ada kendala nanti malam" jawabnya.


"Iya, semoga semuanya lancar sampai akhir ya Glen. Tadi aku lihat dari atas, bagus sekali loh. Kamu hebat Glen!" kataku.


"Terima kasih Sally. Selesai acara aku punya hutang mentraktir kamu makan karena sudah membantu di saat genting." kata Glen.


"Tidak usah Glen, saya hanya melaksanakan tugas saja kok. Tidak perlu seperti itu. Saya pulang dulu ya." pamitku.


"Ok, hati-hati di jalan Sally!" pesannya.


***


Orang itu, pria yang semalam kulihat sedang duduk di sofa lobby. Wajahnya menunduk melihat telepon genggamnya. Secangkir kopi ada di tangan kanannya.


Aku berjalan seperti biasa, berharap dia tidak melihatku. Tetapi..


"Kamu.., kamu Sally kan?" kata wanita yang tiba-tiba datang lalu memegang lenganku.

__ADS_1


"Hmm.. Hai kak Claudia, apa kabar?" tanyaku berbasa basi karena terlanjur dikenali.


"Ya ampuun Sally! Aku rindu kamu. Kenapa selama ini tidak ada kabar? Nomor telepon kamu yang lama pun sudah tidak aktif." dia bertanya balik.


Aku cuma bisa tersenyum kecut.


"Nomor yang lama sempat hilang kak bersama telepon genggamnya. Dan saya tidak ingat nomor kakak." jawabku setengah berbohong.


Betul telepon genggamku pernah hilang, tetapi sudah dengan nomor yang baru. Sedangkan nomorku yang lama sudah aku buang.


"Kalau begitu, sekarang aku minta nomor teleponmu yang baru." katanya sambil mengeluarkan telepon genggamnya lalu memberikan kepadaku.


Dengan terpaksa kutuliskan nomor teleponku di sana. Tidak lama Kak Claudia meneleponku dari telepon genggamnya.


"Itu nomorku, kamu simpan baik-baik! Jangan lupa tetap berkabar ya! Ingat tetap berkabar jangan hilang lagi!" pesannya wanti-wanti.


"Oh iya! Andrew juga datang loh! Di mana ya dia tadi. Ah.. itu dia. Drew!! Drew!!" panggil Kak Claudia kepada Andrew, sedangkan tanganku masih digenggamnya.


Duuh.. aku tidak bisa pergi. Aku hanya bisa pasrah.


Merasa namanya dipanggil Andrew menoleh lalu bangkit berdiri menuju tempat Mamanya berada. Sedangkan aku masih di posisi membelakangi Andrew.


"Drew, kamu masih ingat Sally? Ini Sally!" kata Kak Claudia sambil menunjukku.


Rasanya aku ingin punya ilmu halimunan agar bisa tidak terlihat.


"Hai Sally!" sapa Andrew kepadaku.


"Hai Drew!" jawabku masih sambil tertunduk.


"Iih.. kalian ini seperti orang lain saja. Ga perlu canggung kenapa sih! Kan sudah lama kenal. Sally saya tinggal mencari belahan jiwa saya dulu ya?" kata Kak Claudia pamit kemudian pergi.


"Sekarang kamu bekerja di sini?" tanya Andrew saat melihat kartu karyawan yang tergantung di leherku.


Reflek aku balik kartu karyawanku sehingga photonya ada di sisi dalam. Tetapi bodohnya bagian belakang juga tertulis jelas kata "Employee".


"Iya" jawabku masih tidak berani mengangkat wajahku.


Setelahnya hanya ada keheningan. Aku pikir saat yang tepat untuk berpamitan.


"Sa.." baru saja aku mau pamit.


"Sally, kamu ternyata kenal Andrew?" tanya Glen yang tiba-tiba saja hadir.


"Iya" jawabku.


"Drew, Sally ini sahabat yang asik banget loh. Hampir selalu ada di kala sulit." kata Glen bercerita.


"Glen.. ga usah berlebih gitu deh, kita kan rekan kerja sudah sewajarnya dong." kataku.


"Sally, mempelai pria di pesta ini sepupu Andrew. Andrew secara tidak langsung memberikan project ini kepadaku." jelas Glen dengan bersemangat.


"Oh" jawabku singkat.


"Nah, sudah ada Glen kan. Saya pamit pulang dulu ya, bye.." aku pamit kepada Glen dan Andrew lalu berjalan menuju pintu lobby.


"Sally!" panggil Andrew yang mau tak mau mengentikan langkahku.


"Ya Drew?" kataku sambil berbalik kepada Andrew.

__ADS_1


"Glen, aku tinggal dulu!" kata Andrew kemudian menarik tanganku ke arah taman.


Glen yang melihat itu hanya terbengong lalu mengangguk mengiyakan perkataan Andrew.


"Drew.. ga usah seperti ini, saya tidak enak dilihat teman-teman dan tamu." kataku merajuk dan merasa risih.


Andrew tetap tidak menjawab sambil terus menggengam tanganku.


***


Akhirnya setelah melewati tatapan-tatapan heran dari para staff resort. Kamipun tiba di taman belakang bekas acara pemberkatan tadi pagi.


"Sally, aku minta maaf!" kalimat pertama yang keluar setelah aksi tarik menarik tangan dari lobby tadi.


"Hah! minta maaf untuk apa? Kamu ga ada salah apa-apa kok." jawabku.


"Aku salah karena meninggalkan kamu. Seharusnya aku tetap di sana saat kamu melewati hari penghianatan itu. Aku dengar cerita dari mama mengenai Om Chris. Setelah tahu aku mencarimu, tetapi kamu.. sudah tidak di Agria lagi." kata Andrew sambil menarik napas dalam-dalam dan mengehmbuskannya.


"Oh soal itu. Kamu ga salah kok Drew. Chris juga ga salah. Dia cuma mengikuti kemana hatinya menuntun. Kamu lihat sendiri, aku sekarang baik-baik saja kan? Jadi kamu tidak perlu kuatir." jawabku tersenyum.


Ring..ring.. telepon genggam Andrew berbunyi. Direjectnya panggilan itu.


"Ada lagi yang mau dibicarakan Drew? Kalau tidak saya pamit pulang." kataku berusaha cepat-cepat mengakhiri percakapan kami.


"Aku lihat kamu semalam Sally. Tetapi aku takut salah orang, jadi aku tidak menegurmu. Ternyata benar kamu." kata Andrew, bukannya mengiyakan aku yang pamit malah bercerita lagi.


"Oh" jawabku singkat.


"Wanita yang kamu lihat semalam itu Vivian, dia baru dekat denganku belakangan ini. Aku tidak pernah menyukainya apalagi mencintainya. Tetapi keluarga kami berteman baik." jelas Andrew mengenai wanita yang semalam menggandengnya mesra.


"Oh, dia cantik Drew. Aku lihat kalian serasi. Sayang loh kalau nanti keburu diambil orang. Apalagi keluarga kalian sebegitu dekat." kataku.


"Dia memang cantik Sally, tetapi hatiku tidak pernah berubah. Aku pernah katakan kepadamu. Kapanpun hatimu butuh tempat untuk pulang, aku tetap ada di sana." kata Andrew mengingatkanku akan malam itu.


Malam disaat dia mengucapkan hal yang sama.


Andrew mengangkat daguku yang sedari tadi tertunduk ataupun melihat ke arah lain saat berbicara dengannya.


"Lihat aku Sally!" katanya penuh harap.


Perlahan kuangkat wajahku. Tatapan penuh damba yang kulihat di matanya. Sendu sekaligus hangat.


"Drew, tolong jangan membuat situasinya jadi sulit. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang. Dan keluargamu pun akan senang bermenantukan anak dari sahabatnya. Lupakan aku Drew.. aku tidak pantas untuk tetap ada di sini." kataku sambil kutunjuk dadanya.


"Kamu ingat beberapa tahun lalu? Kita pernah mencobanya. Sampai saat aku menerima Chris, dan kamu akhirnya terluka. Tolong jangan ulangi lagi. Sudah tepat tindakanmu pergi jauh dariku. Lakukan juga untuk hatimu, pergilah dariku!" kataku lagi disertai senyuman di bibirku.


"Apakah selama ini tidak pernah ada sedikitpun rasamu untukku?" tanya Andrew.


"Hmm.. jujur saja pernah. Tetapi sekarang sudah berubah." jawabku lirih.


"Aku berjanji akan menggembalikan rasa itu kepadamu. Jadi jangan pernah berharap hatiku untuk menjauh darimu!" kata Andrew dengan nada ancaman kemudian pergi meninggalkanku.


Aku ditinggalnya begitu saja sendiri. Aku bergegas untuk pulang. Di depan sana Andrew bertemu dengan Vivian. Saat gadis itu akan mengalungkan tangannya di lengan Andrew, Andrew menepisnya.


----


Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca.


salam

__ADS_1


vatty


__ADS_2