
Pagi ini setelah kutaruh tas di ruang kerja, aku beranjak pergi ke kamar Chris untuk merawat lukanya. Kutekan tombol bel kamarnya.
Ting tong!
Tidak lama pintu kamar terbuka. Chris sudah terlihat rapih memakai celana kerja dan kemeja putih. Kututup pintu kamarnya.
"Tolong ambil dasiku di laci lemari baju!" pinta Chris kepadaku.
"Ini Chris!" kataku sambil kuberikan dasi itu kepadanya.
"Apa menurut kamu aku bisa memakai dasi dengan satu tangan? Bantu aku memakainya!" perintahnya sinis kepadaku.
Dengan terpaksa kupakaikan dasi kepadanya. Tubuhnya yang tinggi membuatku sulit untuk menggapai lehernya. Sepertinya dia sengaja menyulitkanku, seharusnya dia membungkuk agar aku mudah menggapai lehernya.
Sudah berjinjit tetapi tidak sampai juga. Dia tetap bergeming, ekspresi wajahnya pun tetap datar.
"Chris, tolong membungkuk saya tidak sampai." pintaku.
Tiba-tiba dicondongkan wajahnya sehingga berjarak sangat dekat dengan wajahku. Aku berusaha mengabaikannya, walaupun risih dengan jarak sedemikian dekat.
Aku bisa dengan jelas mencium harum tubuhnya dalam jarak sedekat ini. Harum tubuh yang dulu memelukku dengan lembut. Aah.. aku tidak boleh berpikir ke sana. Kutepiskan semua pikiran yang aneh.
"Ok, sudah!" kataku sambil melangkah mundur ke belakang.
Namun, secepat itu juga tangannya menangkap tubuhku. Saat ini dia malah menempelkan dahinya di dahiku.
"Chris hentikan! Lepaskan saya! Ini tidak ada dalam perjanjian kita!" kataku sambil berusaha lepas darinya.
"Maaf.. aku hampir lepas kendali." jawab Chris sambil melepaskan pelukannya dariku.
"Tolong jangan lakukan lagi. Saya di sini mewakili resort. Jadi jika kamu bertindak kurang ajar, saya bisa menuntut kamu juga." ancamku.
"Ok, segera rawat lukaku. 30 menit lagi aku ada meeting. Dan tolong pastikan staff mu untuk menyiapkan ruang meeting kalian. Aku tidak mau meetingku terganggu." perintahnya.
"Ok, sebentar saya hubungi staff resort untuk memastikan ruang meeting siap." jawabku kemudian menelepon rekanku.
"Mereka bilang semua sudah siap. Kemarikan tanganmu, akan saya ganti kasanya." kataku.
Chris memberikan tangannya kepadaku. Tatapannya lurus ke arah wajahku. Aku tetap berusaha tidak perduli. Pikirku harus segera selesai dan keluar dari ruangan ini.
"Sudah! Nanti sore akan saya ganti lagi kasanya." kataku.
"Hmm.." jawabnya.
Segera aku rapihkan peralatan luka. Lalu pergi cepat dari kamar Chris.
***
Aku makan siang di kafetaria yang disediakan resort untuk pekerjanya. Aku duduk bersama Lilac.
"Bu, tamu kita yang kecelakaan di bar itu aneh ya? Kok minta Ibu yang mengobati lukanya. Padahal kan ada staff lain. Lagi pula masa merawat luka dikerjakan Manager Keuangan." tanya Lilac keheranan.
"Bukankah kita sudah tahu Lilac, kalau para tamu VIP suka meminta yang aneh kepada kita. Bahkan sering tidak masuk logika kita. Tetapi sebagai bagian dari service kita, mau tidak mau harus dikabulkan selama masih bisa ditolerir." jawabku berusaha meyakinkan Lilac.
"Iya sih bu. Cuma lebih aneh dari biasanya aja." tambahnya masih penasaran.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan! Yang harus kita pikirkan sekarang, report harus segera selesai." kataku mencoba mengakhiri rasa penasaran Lilac.
"Hai Sall! Hai Lilac!" sapa Neth kepada kami.
"Hai Neth!" jawabku.
"Boleh bergabung?" tanya Neth.
__ADS_1
"Silahkan!" jawabku mempersilahkan Neth duduk.
"Sally, terima kasih bantuannya. Maaf juga kalau menambah pekerjaanmu." kata Neth.
"Terima kasih kembali Neth. Ini kan buat resort kita juga. Jadi ga usah sungkan" kataku.
Ku lirik Lilac tertunduk diam tanpa berucap sepatah katapun. Sepertinya ada yang salah tingkah dengan kehadiran Neth. Okay, aku harus tahu diri.
"Neth, saya sudah selesai. Saya duluan ya! Lilac belum habis makanannya, bisa menemani kamu makan." pamitku sambil beranjak pergi membawa baki makananku.
"Bu.." kata Lilac kikuk.
"Sudahlah Lilac, kamu selesaikan makanmu. Pak Neth baik kok." kataku sambil tersenyum melirik Neth juga yang ikutan salah tingkah.
***
Kutarik napas dalam-dalam sebelum kutekan bel kamar Chris.
Tingtong!
Tidak menunggu lama pintu kamarnya terbuka. Kali ini dia masih mengenakan pakaian seperti yang tadi pagi dia kenakan.
"Chris, kalau kamu belum mandi seperti ini, bagaimana saya akan mengganti kasanya. Baiklah, saya akan pergi dulu. 30 menit lagi saya kembali. Mohon kamu sudah mandi saat itu." kataku sambil beranjak dari kursi menuju pintu.
"Tidak usah!" jawab Chris.
"Maksudmu?" kataku, jawabannya membuatku menghentikan langkahku.
"Kamu tidak usah pergi. Aku tidak akan lama." jawabnya sambil melangkah ke kamar mandi.
Aku menyiapkan peralatan P3K untuknya. Sambil menunggu Chris selesai mandi.
Tidak sampai 10 menit dia sudah keluar dari kamarnya. Tetapi hanya mengenakan celana pendek dan jubah mandi.
"Nah, sudah selesai. Saya pulang Chris!" kataku bangkit berdiri menuju pintu keluar.
"Tunggu!!" katanya menahanku.
"Apalagi? Kan saya sudah ganti kasanya." jawabku.
"Kemarin.. Terima kasih buat kemarin malam. Pelukanmu membuatku tenang. Mimpi buruk itu tidak hadir lagi setelah kamu memelukku dan membiarkanku tertidur di pangkuanmu." katanya lirih.
"Syukurlah kalau seperti itu. Saya tidak bermaksud apa-apa melakukannya. Hanya sebagai teman yang perduli kepada temannya." kataku.
Mendengar perkataanku Chris tersenyum kecut.
"Jadi.. cuma itu?" tanya Chris.
"Iya, saya cuma bisa menjadi temanmu Chris." jawabku tegas.
"Aku tidak mau Sally! Aku mau kamu, dan cuma kamu!" katanya murung.
"Chris.. saya tidak bisa. Cerita kita sudah berlalu." kataku.
"Tolong maaf kan aku Sally, beri aku satu kali saja kesempatan. Aku mohon!" pintanya memelas.
"Maaf..." jawabku sambil kembali meneruskan langkahku keluar.
Tiba-tiba Chris sudah ada di belakangku. Dipeluknya aku dari belakang dengan erat seperti waktu dulu.
"Chris hentikan! Lepaskan aku!" perintahku.
Bukannya melepaskanku, dia malah mempererat pelukannya dan mencium pipi dan leherku.
__ADS_1
"Chris hentikan!!" kataku berteriak dan berusaha berontak.
"No Sally, you are mine.." katanya berbisik di telingaku.
"Chris tolong jangan kurang ajar!!" teriakku semakin berontak dipelukannya.
Kuhentakan kakiku keras-keras menginjak kakinya yang di belakangku.
"Aduh!!" pekik Chris.
Pelukannya melonggar. Aku ambil kesempatan itu untuk melarikan diri. Namun ternyata dia lebih sigap menarik tanganku.
"Chris, aku mohon jangan seperti ini." pintaku sambil menangis.
Melihat tangisanku Chris melemah.
"Maaf Sally, tetapi aku tidak mau kehilangan kamu." katanya.
"Kamu egois Chris, saya ini manusia bukan barang. Saya juga punya hati punya perasaan. Dulu seenaknya kamu mencampakan saya begitu saja, saya tidak protes ataupun marah. Saya merelakan kamu dengan pilihan hati kamu." kataku sambil terisak.
"Lalu sekarang, kamu dengan mudahnya memintaku menjadi milikmu lagi. Bahkan, tadi berlaku kurang ajar kepada saya. Apa itu balasan dari kerelaan saya waktu kamu tinggalkan begitu saja?"
"Beberapa hari ini pun saya tahu kalau kamu sedang mempermainkan saya. Alih-alih penggantian ganti rugi resort kepadamu. Tetapi saya tetap melakukannya. Sampai kemarin malam saat kamu bermimpi buruk. Saya rela menunggu kamu sampai terlelap." sambungku terputus-putus dalam tangisan.
"Saat ini saya tidak bisa menjadi milikmu lagi. Saya sudah memiliki seseorang yang lain, dan saya juga mencintai dia. Saya cuma bisa menjadi teman kamu." kataku mengakhiri.
"Aku akan tetap menunggu dan mengawasimu Sally!" katanya.
"Buat apa Chris? Apa kamu yakin rasa yang kamu miliki kepada saya bukan sekedar obsesi? Sebelumnya kamu pernah memaksakan obsesimu dengan Jo. Tetapi lihat sekarang? Berhenti Chris, belajar hidup dengan baik. Temukan wanita yang sesungguhnya kamu cintai." kataku.
"Aku sudah menemukannya Sally. Wanita yang sesungguhnya aku cintai itu kamu. Bukan obsesiku seperti kepada Jo dulu." jawab Chris.
"Saya kira tidak Chris. Seharusnya kalau kamu mencintai saya, tidak akan kamu lakukan hal tadi. Kalau kamu betul-betul mencintai saya kamu akan menjaga saya. Dan kamu akan berusaha menarik hati saya kepadamu. Bukan dengan paksaan seperti tadi." kataku.
"Ok, kalau itu maumu Sally. Aku akan berusaha membuatmu kembali kepadaku." jawabnya sambil tertunduk.
Tidak ada jawaban lagi dariku. Aku melangkah terus keluar meninggalkan Chris sendiri.
***
Ring.. ring..
"Ya Dean, saya sudah sampai lobby. Tunggu sebentar ya." jawabku kepada Dean yang meneleponku.
Di depan sana Dean melambaikan tangannya kepadaku.
"Sayang, kok kamu murung begitu?" tanya Dean kepadaku.
"Biasalah Dean, masalah perkerjaan. Yuk kita pulang!" ajakku mengalihkan agar Dean tidak bertanya lebih.
Iya, tadi yang terjadi antara aku dan Chris adalah bagian dari pekerjaanku dalam membayar ganti rugi resort. Walaupun di sana ada unsur lain.
Angin dingin menerpa wajah kami yang saat ini di atas motor yang dikendarai Dean. Aku memeluk erat pinggang Dean, tidak seperti biasanya. Aku berusaha menenangkan diri atas kejadian tadi bersama Chris.
Dean tersenyum saat merasa pinggangnya dipeluk erat olehku.
----
Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
vatty
__ADS_1