
Suasana di bandara kota Contento cukup ramai sore ini. Seperti biasanya, setiap akhir pekan orang-orang kembali ke kotanya. Masing-masing pulang untuk memulai aktifitas hariannya setelah berlibur di kota Contento.
"Ann, hati-hati di jalan! Salam untuk teman-teman di sana." pesanku pada Ann sambil kupeluk sahabatku itu.
"Terima kasih Sally untuk liburannya. Maaf kalau aku sempat membuatmu kesal." kata Ann di telingaku.
"Tidak masalah Ann. Malah saya yang minta maaf, kalau masih ada yang kurang berkenan bagimu selama liburanmu di sini." jawabku.
"Semuanya menyenangkan Sally, bahkan aku sampai tidak rela harus mengakhiri liburan kali ini." katanya.
"Iya, nanti kalau kamu libur silahkan kembali ke sini." kataku.
"Waah.. terima kasih Sally!" jawab Ann senang.
Selama Ann liburan di sini. Kami pergi ke beberapa tempat wisata. Mulai dari pantai, gunung, dan lembah. Seperti liburan pertama, ke semua tempat kami jalani berempat.
Jika hanya aku dan Ann, paling kami hanya bisa pergi ke tempat-tempat yang dekat dari apartment. Selain keterbatasan transportasi, juga demi keamanan.
Dean dan Ricard juga mengetahui banyak tempat-tempat hebat yang tidak semua orang tahu. Itu karena mereka lebih dulu beberapa tahun tinggal di sini dibanding aku.
"Card! Aku pulang dulu." pamit Ann dengan haru kepada Ricard.
"Ann!!" panggil Ricard dengan mimik sedih.
"Ricard!!" panggil Ann tidak kalah seru.
Kemudian berpelukan seperti di film-film.
"Iih.. Apaan sih kalian lebay tahu!" kataku jijik.
"Jijik banget sih kalian? Bikin malu aja. Tuh lihat orang-orang memperhatikan. Aku ga kenal kalian." kata Dean sambil berbalik badan.
Aku pun ikut berbalik badan dan menutup muka.
"Kalian itu ga tahu seni sih. Justru dengan kelebayan seperti ini, momennya lebih akan dikenang." jawab Ricard asal.
Diikuti senyuman dan anggukan dari Ann.
"Pa an sih Lu Card? Iya dikenang sebagai hal memalukan." kata Dean.
"Lu belum rasain sih Dean, bagaimana ga relanya berpisah sama orang yang kita sayang. Iya kan Ann ku?" jawab Ricard masih dengan gaya sok dramanya.
Dijawab anggukan oleh Ann.
"Lu aja kebanyakan nonton drama. Sebelum elu, gue pernah kok berpisah sama orang yang sangat gue sa..yang.." kata Dean tersendat sambil menatapku.
Melihat tatapan Dean, aku membuang pandangan ku ke samping.
"Sudah.. sudah.. berantemnya diselesaikan nanti. Kasihan kalau Ann tertinggal pesawat." kataku menengahi.
__ADS_1
Tidak lama Ann pergi meninggalkan kami sambil melambaikan tangannya. Kami pun membalas lambaian tangannya.
Ricard dan Ann memang betul-betul cocok sebagai pasangan. Sama-sama konyol dan lebay. Setiap ada mereka aku dan Dean selalu saja dibuat ketawa, jijik, ataupun malu karena tingkah mereka. Sepertinya kali ini Ann menemukan sosok yang pas. Semoga saja hubungan mereka langgeng.
***
Aku pulang diantar Dean. Sedangkan Ricard pulang sendiri.
"Kok belok ke sini Dean!" teriakku saat motor yang Dean kendarai berbelok bukan ke arah apartment.
"Tunggu sebentar lagi sampai. Nanti aku jelaskan." jawab Dean.
Motor berhenti di dermaga yang sebelumnya pernah kami kunjungi.
"Kenapa ke sini Dean?" tanyaku lagi penasaran.
"Kamu lupa janji kamu?" tanya Dean.
"Janji apa ya?" kataku kebingungan.
"Ok, aku ingatkan. Janji kamu di rumah kayu pada malam itu." jawab Dean.
Ternyata dia masih ingat. Jadi saat itu, Ricard dan Dean mengajak kami berlibur ke rumah kayu di atas bukit. Rumah kayu yang indah dengan hutan pinus di sekelilingnya. Di dekatnya ada danau yang jernih. Dean dan Ricard memancing ikan di sana.
Ide permainan ini berasal dari Ann. Judul permainan itu "Katakan dengan jujur". Caranya 1 orang berjaga di tengah dengan mata ditutup kain, yang lain melingkarinya.
Yang lain boleh berpindah tempat, sampai dibilang stop oleh yang berjaga. Kemudian, yang berjaga akan menujuk seseorang. Peserta yang ditunjuk wajib menjawab jujur apapun yang ditanyakan. Setelahnya, orang yang ditunjuk itu gantian berjaga.
Ann mendapat giliran pertama, dan yang orang terkena tunjuk adalah Dean.
"Dean! Apa aib mu yang sangat berkesan?" tanya Ann.
"Waktu sekolah menengah pertama aku anak yang pemalu." Dean memulai ceritanya.
"Suatu waktu aku tertidur di kelas, karena malamnya habis menjaga ibuku yang sakit. Saat Guru memanggilku untuk mengerjakan soal di depan kelas aku masih setengah sadar. Masih ada air liur di wajahku. Seisi kelas mentertawaiku." Dean menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
"Aku merasa sangat malu. Kulihat seorang gadis mengangkat tangan. Dia menyanggupi, mengerjakan soal yang harusnya aku kerjakan." kata Dean sambil menatapku.
"Gadis itu maju ke depan kelas memberikan sapu tangannya kepadaku, kemudian menepuk dia pundakku seolah menenangkanku. Setelahnya dia mengerjakan soal. Mulai saat itu aku jatuh cinta kepadanya, dan bertekad akan menjadi seorang yang kuat di matanya." cerita Dean menerawang sambil menatapku.
Aku sangat tahu gadis itu. Jadi ternyata sejak saat itulah Dean menyukaiku.
Saat Dean berjaga yang tertunjuk berikutnya adalah Ricard. Ricard ditanya apa yang paling dicemaskannya dalam hidup. Karena melihat tingkahnya yang selalu santai, seolah tidak ada permasalahan hidup.
Ricard menjawab, "Yang paling aku cemaskan adalah, Ann menolak cintaku. Karena saat ini aku betul-betul sayang padanya. Aku tidak pernah merasa seserius ini dengan seorang wanita." katanya dengan penekanan, tidak santai seperti biasanya.
Kami semua melihatnya. Ann mengatakan, kalau dia juga sudah mulai menyayangi Ricard dan menerima Ricard menjadi kekasihnya. Aku dan Dean memberikan mereka selamat.
__ADS_1
Sekarang Ricard yang berjaga. Ricard menunjukku.
"Sally, apa perasaanmu terhadap Dean?" tanya Ricard kepadaku.
"Hmm.." aku tidak bisa menjawab.
"Jawab dong Sall, tadi kita udah jawab jujur." pinta Ricard lagi saat melihatku masih terdiam.
"Card, Sally itu cewek. Dia ga akan ungkapkan perasaannya seperti ini. Nantilah dia bilang saat berdua sama gue. Ya kan Sally? Udah lanjut berikutnya." kata Dean sambil menatapku.
Dean berusaha agar Ricard tidak terus memaksaku menjawab.
Aku menjawab dengan anggukan.
***
Kembali ke saat ini. Di dermaga Dean ingin aku mengatakan bagaimana perasaanku kepadanya. Saat ini hanya kami berdua.
Dean memandangku lekat-lekat menanti jawaban.
"Aku sudah menolak perjodohan dengan sepupuku. Aku juga sudah berhasil meyakinkan Ayahku, kalau aku akan menikah dengan wanita yang betul-betul aku cintai nanti." cerita Dean seolah mengetahui pertanyaan yang tidak terucap dari mulutku.
"Dalam beberapa hari ini, aku menerka-nerka dari tatapan dan perlakuanmu kepadaku. Tetapi aku tidak mau terlalu percaya diri, tanpa tahu yang sebenarnya dari mulutmu." kata Dean lagi.
"Aku sudah mencintaimu sedari dulu. Sejak sejak peristiwa memalukan itu. Dan rasa ini terus bertambah. Padahal sempat beberapa tahun kita berpisah. Tetapi aku tidak pernah bisa berpaling pada siapapun Sally." sambung Dean.
"Aku tidak memintamu untuk segera menikah denganku. Dengan kamu menerimaku menjadi satu-satunya orang yang ada di sisimu. Aku sudah sangat bahagia." sambil menatap lekat manik mataku.
"Tolong jawab aku Sally! Maukah bersama ku untuk saling menjaga dan mengasihi satu sama lain? Hanya kita berdua!" tanyanya.
Mata teduhnya yang hangat itu, dalam beberapa bulan terakhir selalu terasa menusuk hatiku. Lebih-lebih kali ini, tatapannya seperti hujaman beribu anak panah menembus jantungku.
"Kamu mau kan? Hemm?" tanyanya penuh harap.
Sepertinya hatiku memberi sinyal pada otak, kemudian otak memberi komando pada kepalaku. Di akhiri anggukan oleh kepalaku.
Dean tersenyum lebar. Dipeluknya tubuhku erat dan dibelainya rambutku dengan lembut.
Kami berdua bersama melihat matahari kemerahan yang perlahan terbenam di ujung sana.
----
Terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
vatty
__ADS_1