Hai Cinta Kembalilah

Hai Cinta Kembalilah
bab.33. Aku Mau Milikku


__ADS_3

Pagi-pagi sekali seorang gadis cantik terlihat sibuk di bandara kota Harapan. Hampir saja dia tertinggal pesawat pertama pada hari ini.


"Boleh saya lihat boarding pass dan tanda pengenalnya?" pinta petugas pada area boarding.


"Ini, silahkan!" kata Sally saat memberikan boarding pass dan tanda pengenalnya.


Itu karena kemarin dia kelelahan sehabis melakukan perjalan selama 6 jam dari dusunnya. Dia tiba di kota Harapan saat malam sudah beranjak larut. Dia harus kembali secepatnya ke kota Contento untuk menyiapkan materi meeting.


Seharusnya masih tersisa 1 minggu ke depan sesuai hari cuti yang disetujui. Tetapi, Pak Lucas memintanya segera kembali hari itu juga. Karena takut tidak terburu hingga hari meeting tiba.


Kabarnya, akan ada investor baru yang akan berinvestasi di Ferie Group. Tiap cabang dimintai segera menyampaikan laporan keuangan sampai dengan bulan berjalan.


"Sally, kamu jadi kan kembali hari ini?" pesan text masuk dari Pak Lucas.


"Iya Pak, saya sudah boarding. Sebentar lagi sudah mau take off. Maaf saya matikan teleponnya." jawab Sally dengan pesan text sebelum mematikan telepon genggamnya.


***


Suasana resort lumayan ramai walaupun tidak sepenuh saat musim liburan. Di sudut ruang makan tampak seorang pria tampan menikmati sarapannya. Sepotong roti bakar dengan selai kacang dan segelas kopi.


"Di sini sepertinya posisi yang pas untuk melihat kedatangan seseorang dari arah lobby." pikir pria itu dalam hati.


Roti bakar sudah hampir habis. Tetapi wajah yang ditunggu belum nampak juga.


"Ah, mungkin dia terlambat. Tidak.. tidak.. dia bukan type seperti itu. Mungkin sedang ada urusan di luar kantor, jadi belum terlihat di sini." batin pemuda itu.


Setelah lebih dari 1 jam menunggu. Sepertinya dewi fortuna sedang memihak kepadanya. Seorang gadis yang selalu mengisi hati dan mimpinya, dengan langkah tergesa memasuki lobby resort.


"Pagi Bu!" sapa Anton yang hari ini bertugas sebagai bellboy.


"Pagi Anton!" jawabnya dengan senyum lalu bergegas menuju lift karyawan menuju ruang kerjanya.


Pria tampan yang sedari tadi memperhatikan gadis itu tersenyum senang. Karena tujuannya ke tempat ini berhasil.


***


"Lilac, tolong kirimkan saya data assets kita yang terbaru! Avan, tolong kirimkan saya juga data omzet beserta seluruh pengeluaran yang terbaru!" kataku saat melewati ruangan mereka berdua sebelum memasuki ruanganku.


Hari ini sepertinya akan sangat sibuk. Pak Lucas minta reportnya sudah ada pada sore ini. Lalu besok pagi akan meeting bersama dengan para manager. Setelahnya semua data akan dikirimkan ke pusat.


"Bu, untuk makan siang apa mau dibawakan ke sini, atau Ibu akan pergi sendiri?" tanya Lilac kepadaku, karena sudah hampir jam 1 siang aku masih berkutat dengan angka-angka.


"Hmm.. bisa minta tolong dibawakan ke sini saja Lilac? Terima kasih sebelumnya." jawabku menengoknya sebentar lalu kembali terfokus pada laptopku.


Akhirnya selesai juga tepat waktu. Pak Lucas pun sudah setuju dengan laporan sementara yang sudah kubuat. Tinggal sisanya menunggu hasil meeting dengan para manager besok pagi.


***


Pria tampan itu saat ini menunggu sang gadis di sofa lobby. Beberapa pasang mata para gadis dan wanita dewasa sempat melirik kepadanya. Bahkan ada yang coba menyapa, tetapi dia hanya membalasnya singkat. Lalu kembali larut dalam penantiannya menunggu seseorang.


"Selamat sore Bu Sally! Ibu sudah masuk kerja? Bukannya masih minggu depan?" tanya Frans yang baru saja berganti shift pada bagian reservasi.


"Selamat sore juga Frans. Iya, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan. Jadi kembali masuk lebih awal. Saya pulang dulu ya. Selamat bekerja Frans!" jawabku.


Kulanjutkan langkah menuju pintu lobby. Tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan kiriku.

__ADS_1


"Andrew!" kataku kaget.


"Kamu kalau serius selalu tidak memperhatikan sekitarmu. Sedari tadi aku panggil, tetapi kamu terus saja berjalan." protesnya.


"Maaf, tetapi aku betul-betul tidak mendengarnya." jawabku.


"Sepertinya kamu sudah free. Ayok kita makan malam di luar." kata Andrew menarikku untuk ikut dengannya.


"Drew! aku.." jawabku.


"Tolong jangan ada alasan lagi. Aku mau mengambil milikku." katanya memberikan alasan atas perbuatannya kepadaku.


Aku baru teringat, iya memang ada cincin Andrew padaku. Aku kira dia akan mengambil cincin itu. Kebetulan sekali, akupun akan mengembalikannya.


***


Andrew membawaku ke sebuah rumah makan pinggir pantai. Dia mengendarai mobil yang disewanya selama di Contento.



Di sini tidak begitu ramai. Hanya di beberapa bagian yang terisi tamu.


"Silahkan Bapak.. Ibu.." kata pelayan rumah makan ramah saat mengantarkan kami ke meja yang dimaksud Andrew.


"Terima kasih!" jawabku.


Andrew memesankan 2 porsi makanan yang sama beserta minumannya. Karena aku serahkan kepadanya mengenai pilihanku.


"Oh iya Drew. Inikan barang yang kamu maksud? Saya juga memang mau memberikan kepadamu." kataku sambil mengeluarkan kotak cincin yang beberapa waktu lalu ditinggalkan Andrew.


"Kamu pegang dulu aja Sally, nanti takut terlupa. Aku tidak bawa tas, lagipula makanan kita belum datang." jawabnya cuek.


Selesai makan kami hanya membicarakan kabar kami saja. Sesekali Andrew bercerita lucu yang membuat kami tertawa bersama.


"Drew sudah malam. Saya mau pulang. Besok saya ada meeting pagi." pamitku kepadanya.


"Ayok aku antar!" katanya sambil bangkit berdiri.


"Tidak usah Drew. Saya akan naik taxi saja. Tidak telalu jauh kok tempat ini ke tempat saya tinggal." jawabku.


"Tidak bisa seperti itu Sally. Aku yang membawamu menemaniku makan di sini. Sudah seharusnya aku mengantarmu pulang." jawabnya tanpa minta persetujuanku menarik tanganku setelah membayar semua yang kami makan.


***


Saat sampai di depan Apartment tempat tinggalku..


"Sally! Aku minta nomor teleponmu." kata Andrew.


"Buat apa Drew?" tanyaku.


"Ya untuk nanti kalau sewaktu-waktu aku butuh bantuanmu. Apa perlu aku minta sambungkan staff resort tiap kali membutuhkan bantuanmu? Ya sudah kalau mau mu seperti itu. Aku akan sering-sering telepon ke resort untuk disambungkan kepadamu." jawabnya dengan santai.


"Jangan Drew! Aku tidak suka urusan pribadi, tetapi yang direpotkan staff resort. Ya sudah ini sini teleponmu." kataku menyerah.


Andrew memberikan telepon genggamnya dan segera kuketikan nomor teleponku.

__ADS_1


"Ini sudah!" kataku sambil kukembalikan teleponnya sambil membuka pintu mobil.


"Tunggu jangan pergi dulu! Aku periksa dulu nomornya, nanti kamu memberikan nomor telepon palsu lagi." katanya sambil menekan nomor teleponku pada telepon genggamnya.


Kutarik napas dalam-dalam dan mengehempaskannya.


riing..ring.. telepon genggamku berbunyi.


"Ok betul nomornya. Nanti kalau kamu ganti nomor lagi beri tahu aku. Kalau tidak setiap hari aku akan menelepon resort!" ancamnya.


"Ya..ya.. terima kasih makan malamnya." jawabku sambil segera turun dan berjalan memasuki pintu apartment.


Aku lelah, tidak kutunggu lagi jawaban dari Andrew. Nanti yang ada aku tidak bisa segera istirahat.


Di dalam mobil Andrew memperhatikan Sally sambil tersenyum penuh arti.


***


"Akhirnya aku bisa beristirahat juga!" kataku sambil duduk di tepian tempat tidur.


Tadi dari bandara aku langsung ke apartment menaruh koper. Setelahnya langsung menuju resort.


Kuambil tas ku untuk mengambil telepon genggam di dalamnya.


"Yah.. tadi lupa kasihkan cincin ini! Huuh!" gerutuku.


"Besok pagi di resort deh aku langsung kembalikan kepada Andrew." pikirku.


"Drew, maaf cincinnya masih terbawa di saya. Besok pagi di resort segera saya kembalikan!" pesan text kukirim ke nomor Andrew yang tadi kuterima.


Tidak ada jawaban darinya. Kuletakan telepon genggam dan kubaringkan tubuhku yang lelah.


Tidak lama akupun terlelap.


***


"Drew, saya sudah sampai lobby resort. Kamu di mana? Saya mau kembalikan cincin kamu!" pesan text kukirim kepada Andrew.


Dari semalam tidak ada jawaban dari pesan text ku. Saat ini pun tidak terlihat batang hidungnya.


"Simpan saja Sally. Aku sudah sampai Salaria dari semalam. Bukan cincin itu yang kumaksud. Cincin itu memang milikmu, dan akan selalu seperti itu. Milikku yang ada padamu adalah, hari-hari yang seharusnya kumiliki bersamamu. Seperti tadi malam." jawabnya dengan pesan text.


Baru selesai aku baca pesan text dari Andrew. Kulihat jam sudah menunjukan 7 lewat 49 menit. Aku harus siap-siap untuk meeting nanti jam 8.


Aku bergegas menuju ruang kerjaku.


----


Terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir dan membaca tulisan saya.


Saya masih membutuhkan saran dan kritik jika memang ada yang ingin disampaikan. Hal itu saya jadikan sebagai bahan koreksi mengenai tulisan saya ke depannya.


Untuk reaksi ketidaksukaan melalui rate peringkat. Ada baiknya bisa disampaikan melalui tulisan di comment. Misalnya tidak suka di bagian mana atau seperti apa.


Apalagi jika pemberian rate tanpa membaca terlebih dahulu isi dari cerita. Menurut saya agak aneh sih 😁.

__ADS_1


salam


vatty


__ADS_2