
Hari ini adalah hari ke-12 liburanku. Aku sudah menyiapkan semua barang yang akan ku bawa ke rumah Bibi Gina. Termasuk titipan gaun cantik yang Ma jahit sendiri untuk Bibi Gina.
Suara deru mesin mobil terdengar dari halaman. Rupanya dia sudah datang. Segera ku tarik koperku ke luar kamar.
"Pagi Pa.." sapa Chris kepada Pa yang sedang berada di halaman.
"Pagi Nak Chris" jawab Pa
"Sally!! Nak Chris sudah datang!" Pa manggilku sambil masuk ke dalam rumah.
"Ya Pa.." jawabku.
Saat aku muncul di ambang pintu. Chris langsung mengambil alih koperku dan memberikannya kepada Pak Paul untuk dimasukan ke dalam bagasi mobil.
"Cuma ini saja yang kamu bawa sayang?" tanya Chris kepadaku.
Semenjak peristiwa di sungai kemarin Chris mulai memanggilku dengan sebutan "Sayang". Aku belum terbiasa mendengarnya, masih terasa risih sekaligus membuat jantungku berdebar-debar.
"Iya cuma itu saja" jawabku.
"Kalian sudah selesai? Ayok kita sarapan dahulu. Pak Paul juga ya." kata Ma yang baru saja muncul di depan pintu masuk rumah.
"Sudah Ma. Ayo Chris... ayo Pak Paul kita sarapan dulu!" ajakku kepada Chris dan Pak Paul.
Chris menggandeng tanganku menyelipkan jari jemarinya di antara jemariku.
"Boleh dong? Kan kita sudah menjadi sepasang kekasih." tanya Chris meminta persetujuanku, saat aku tiba-tiba terkejut dengan apa yang dia lakukan.
Kuanggukan kepalaku sebagai tanda aku setuju. Chris pun tersenyum bahagia.
***
Selesai bersarapan, aku memeriksa kembali kalau-kalau ada yang terlupa. Aku dan Chris pamit kepada Pa, Ma, dan Mey. Sepertinya tanpa kukatakan Pa dan Ma sudah mengetahui apa yang telah terjadi antara aku dan Chris. Mungkin karena mereka sudah jauh lebih berpengalaman dalam hal percintaan.
"Nak Chris, saya titip Sally. Tolong jaga dia baik-baik." pesan Pa kepada Chris saat memeluknya.
"Tentu Pa." jawab Chris dengan jelas.
Kupeluk dan kucium Pa, Ma, dan Mey. Lalu aku dan Chris berjalan menuju mobil. Rasanya masih kurang kebersamaanku bersama keluargaku. Tetapi ada tanggung jawab lain yang siap menantiku.
Aku dan Chris melambaikan tangan kepada Pa, Ma, dan Mey. Baru saja beberapa ratus meter kami menjauh dari rumah orang tuaku. Chris sudah bertingkah seperti anak kecil.
"Hoaam.. aku masih mengantuk." katanya tanpa permisi meletakan kepalanya di pangkuanku.
"Chris!" kataku agak terkejut.
Chris seolah tidak menghiraukan malah langsung memejamkan matanya. Beberapa menit ternyata dia benar-benar tertidur.
Awalnya aku ragu menyentuhnya. Tetapi akhirnya ku beranikan diri untuk membetulkan letak kepalanya agar tidak sakit lehernya saat bangun nanti. Kubelai lembut rambutnya.
Saat tertidur pulas seperti ini wajah Chris terlihat sangat damai seperti seorang bayi. Dan.. ternyata dia sangat tampan jika dilihat dengan posisi sedekat ini.
Seperti sebelumnya, perjalanan kali ini membutuhkan waktu 5-6 jam untuk sampai di kota Harapan. Tidak lama aku menyusul Chris ke alam mimpi.
Semalaman Chris meneleponku, yang membuat kami berdua saat ini sangat mengantuk karena kurang tidur. Padahal kami baru saja bertemu sebelumnya dari pagi sampai sore menjelang.
Katanya dia sangat senang hari itu. Jadi dia mau membagikannya kepadaku. Padahal alasan yang membuat dia sangat senang adalah karena aku membalas cintanya.
***
Tadi kami berhenti sebentar untuk makan siang, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Bibi Gina. Gerbang kota Harapan sudah di depan kami. Berarti sebentar lagi aku kan tiba di rumah Bibi Gina.
Bibi Gina menyambutku dengan senang.
"Sayang.. kamu tambah cantik. Bibi sangat merindukanmu. Bagaimana kabar keluargamu?" tanya Bibi Gina sehabis memberikan pelukan kepadaku.
"Mereka semua baik-baik Bi." jawabku.
"Hmm.. ternyata ada pria tampan di sini." kata Bibi Gina sambil menggodaku.
"Saya Chris" kata Chris sambil mengulurkan tangan kanan kepada Bibi Gina.
"Saya Gina, Bibinya Sally. Ayo kita masuk dulu!" ajak Bibi Gina kepada kami berdua.
__ADS_1
Chris juga berkenalan dengan Paman Geo dan Rick. Setelah berbincang beberapa lama kemudian Chris pamit.
"Bibi.. Paman.. saya pamit dulu. Senang mengenal Bibi dan Paman sekeluarga." kata Chris ramah.
"Kami juga senang bisa mengenalmu Chris." jawab Paman Geo.
Aku mengantar Chris sampai ke mobil.
"Sayang.. sampai nanti malam aku jemput." katanya sambil mengacak puncak rambutku.
"Tapi aku takut Chris." jawabku.
"Kenapa harus takut?" diangkatnya daguku dengan tangan kanannya kemudian menatap mataku.
"Aku berada di sisimu. Lagi pula kamu juga sudah kenal Andrew kan? Kakak-kakakku hanya ingin mengenalmu. Berdandanlah yang cantik!" kata Chris berusaha menenangkanku.
Chris andai kau tau, justru yang membuatku takut adalah reaksi Andrew. Kutarik nafas dalam-dalam kemudian aku mengangguk pelan.
"Aku sangat mencintaimu sayang.." bisik Chris di telingaku kemudian memasuki mobil.
***
Aku sudah siap menunggu di teras rumah Bibi Gina. Tadi sore Chris mengirimkan seseorang dari butik ternama membawakanku gaun cantik selutut berwarna putih berpotongan sederhana tetapi elegan. Sedikit riasan wajah dan tatanan rambut sederhana melengkapi penampilanku.
Sekitar 10 menit kemudian, Chris pun tiba. Akupun berdiri menyambutnya.
"Kamu cantik sekali!" Chris tertegun dengan penampilanku.
"Ayo kita pergi nanti kita terlambat." kataku
"Ayo, sebentar aku pamit kepada Paman dan Bibi." kata Chris.
"Mereka sedang pergi ke acara keluarga." jawabku.
"Ok!" kata Chris sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.
Kami berjalan menuju mobil.
***
Setelah mobil berhenti kami turun bersamaan. Chris kembali melingkarkan tangannya di pinggangku masuk ke dalam rumah.
Papa dan Mama Andrew menyambut kami. Sedangkan Andrew mematung dengan wajah tertunduk gelisah. Andrew maafkan aku, bisikku dalam hati.
"Hai cantik, perkenalkan saya Claudia kakak Chris." Mama Andrew mengulurkan tangan kanannya kepadaku.
"Senang berkenalan dengan anda, saya Sally." jawabku sambil membalas uluran tangannya.
"Ini suamiku Daniel, dan pria muda tampan ini putra kami Andrew." Mama Andrew mengenalkanku dengan suami dan Anaknya.
"Hai Sally, Daniel" kata Papa Andrew saat kami saling berjabat tangan.
"Hai Sally.. akhirnya kita bertemu lagi." kata Andrew dengan tatapan yang berbeda.
Ditatap seperti itu membuatku tambah merasa bersalah kepadanya.
"Hai Drew.." jawabku sambil tertunduk tidak berani menatap matanya. Andrew menggenggam tanganku erat seperti tidak ingin dilepasnya.
Semua mata tertuju kepada kami. Aku coba melepaskan pegangan tangan Andrew. Tetapi dia memegangnya sangat erat.
Melihat situasi yang canggung antara aku dan Andrew, Chris mencoba mencairkan suasana.
"Kakak! Andrew sudah mengenal Sally loh. Sally salah satu mahasiswinya." kata Chris sambil menarikku kepelukannya.
"Oh seperti itu. Ayo kita makan malam dulu aku sudah lapar." ajak Daniel kepada kami semua sambil merangkul istrinya menuju ruang makan.
Chris merangkul pundakku. Kami mengikuti Daniel dari belakang. Andrew mengikuti jauh di belakangku dan Chris.
Di meja makan Chris bertingkah manja kepadaku. Seperti memintaku mengambilkan semua makanan untuknya. Atau sesekali menggenggam tanganku mesra. Padahal persis di depan posisi Chris duduk, ada tatapan kesal dari sepasang mata pria muda yang kukenal.
Kak Claudia dan Kak Daniel adalah orang yang ramah dan hangat sehingga kami mudah akrab. Sedangkan Andrew dia lebih banyak terdiam.
***
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan semua keluarga Chris. Akupun pulang ke rumah Bibi Gina diantar oleh Chris.
"Sayang nanti beristirahatlah dengan baik, besok kita berangkat ke Agria." kata Chris sambil menatap mataku saat aku berada dipelukannya.
"Iya Chris, kamu juga." jawabku.
Satu kecupan singkat mendarat di bibirku.
"Itu sebagai tanda kamu harus memimpikanku juga malam ini," kata Chris melihat aku terkejut dengan kecupan tiba-tiba darinya.
Setelahnya Chris berjalan memasuki mobil. Dia melambaikan tangannya sambil tersenyum menggodaku. Kutunggu sampai mobil Chris berlalu dari pandangan mata. Baru aku masuk ke dalam rumah.
Bibi Gina dan keluarga baru kembali 1 jam setelah aku tiba.
***
Saat aku mulai merebahkan tubuhku di tempat tidur, terdengar bunyi pesan text di telepon genggamku.
"Sally, kita perlu bicara. Boleh aku ke tempatmu? Tolong kirimkan alamatnya" pesan text dari Andrew.
Aku tarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pesan Andrew.
"Ok Drew, ini alamatnya" jawabku.
Aku pikir Andrew memang butuh penjelasan dariku. Mengingat hubungan baik yang kami miliki, dan juga perasaan bersalah yang menghantuiku.
30 menit Andrew sudah tiba di rumah Bibi Gina. Aku sudah meminta ijin kepada Bibi Gina kalau ada temanku yang akan menemuiku, dan kami hanya akan berbincang di teras rumah.
Aku temui Andrew yang sudah duduk di teras. Sebelumnya aku mengganti baju tidurku dengan pakaian yang pantas untuk menerima tamu.
"Hai Drew!" sapaku sambil menaruh minuman untuk Andrew kemudian ikut duduk di kursi teras.
"Sally, kamu sangat membuatku terkejut dan marah. Selama hampir 2 minggu ini aku sampai hampir gila merindumu. Tetapi malam ini kamu datang ke rumahku dengan status baru sebagai kekasih Om Chris. Aku sangat kecewa!" kata Andrew.
"Maaf Drew.." kataku sambil tertunduk.
"Aku tahu Om Chris memang menyukaimu. Aku sudah berjaga-jaga dengan hatiku. Tetapi ini sangat mendadak. Lagi pula kamu sudah berjanji akan memberikan jawaban kepadaku terlebih dahulu, sebelum memiliki hubungan lain. Aku mau tahu alasanmu lebih memilih dia daripada aku?"sambungnya.
"Maafkan aku Drew, semuanya terjadi tanpa terencana. Aku sendiri tidak berniat melanggar janjiku kepadamu. Tetapi.. semuanya sudah berjalan seperti itu." jawabku.
"Tidak ada pembanding antara kamu dan Chris. Ini tidak menyangkut masalah kekurangan ataupun kelebihan yang kalian punya. Awalnya aku sempat bingung akan aku labuhkan kemana hatiku ini. Ternyata dia membawaku kepada Chris. Aku mohon maafkan aku Drew." kataku lagi masih dengan tertunduk karena takut melihat tatapan Andrew.
"Baiklah jika memang seperti itu. Terima kasih atas penjelasanmu. Aku pamit pulang." katanya sambil bangkit berdiri.
Aku mengikutinya dari belakang. Untuk mengantarnya pulang.
Tiba-tiba Andrew berbalik, dipeluknya tubuhku dan mendaratkan bibirnya pada bibirku. Aku mematung sesaat, kucoba melepaskan tautan bibirnya dengan mendorong dadanya.
Andrew menghentikan ciumannya tetapi dengan posisi masih memelukku.
"Tolong ijinkan aku untuk terakhir kalinya Sally. Ijinkan aku memeluk dan menciummu. Aku ingin kamu tahu seberapa besar cinta dan sayangku kepadamu. Setelah ini aku akan menguburnya rapat-rapat." kata Andrew sambil menatapku penuh harap.
"Boleh?" tanya Andrew dengan posisi bibir sangat dekat dengan bibirku.
"Tapi Drew aku.." jawabku.
Mendengar jawaban dariku. Andrew tidak menyia-nyiakannya. Pikir Andrew, dengan ada keraguan yang tersirat pada jawaban dariku, berarti separuh hatiku menginginkannya.
"Terima kasih" kembali disentuhnya bibirku dengan bibirnya yang hangat.
Ciuman yang terasa sangat dalam sehingga kami berdua menutup kedua mata kami. Andrew melepaskan pagutan bibir kami. Kemudian merenggangkan pelukannya.
"Terima kasih Sally, suatu saat jika kamu butuh tempat untuk hatimu pulang. Aku tetap menunggu di sana." kata Andrew, kemudian berjalan memasuki mobil dan berlalu.
Aku masih berdiri mematung di sana. Aku mengutuki diri sendiri dengan apa yang baru saja terjadi. Mengapa separuh hatiku menolak, dan sebagian lagi malah menerimanya. Sedangkan saat ini, aku adalah kekasih Chris.
----
Maaf baru sempat update. Terima kasih buat teman-teman yang sudah mampir dan membaca.
salam
vatti
__ADS_1