
Seandainya bisa aku kembali pada saat itu..
Saat hanya ada kita dan hujan
Kita tertawa bersama tanpa perlu alasan
Saling berceloteh ringan namun menguatkan
Semua sudah pergi bersama angin..
Larut bersama rinai hujan yang dahulu menari di antara kita
Aku kamu dan hujan..
Semuanya tinggal cerita dalam benakku
Aku tidak yakin apa itu masih ada dalam kenangmu
Aku ingin berlalu...
Maaf.. aku tidak bisa
Aku masih menginginkanmu
Tidak...
Aku tidak bisa berhenti
Tawamu..
Kisah lukamu...
Suaramu..
Dan semua yang ada padamu
Selalu ada di sini..
Andrew menutup bukunya. Lalu meletakannya pada laci kerjanya. Dibaringkan tubuhnya pada peraduan.
Rasa sakit dan perih menyesakan dadanya. Dia tahu ini berakhir, tetapi tidak rela dilepasnya.
Laki-laki itu tak kuat berusaha tegar. Bulir bening mengalir tanpa permisi dari kedua mata indahnya.
Kisah mereka harus berakhir. Menyesalpun tidak ada guna. Semua harus berakhir karena sang takdir. Siapa yang tahu jikalau besok terjadi apa. Namun hati tidak mudah berpindah.
***
Laki-laki itu menatap jendela luar ruang kerjanya. Bulir hujan yang mengalir di antara kaca jendela menyita perhatiannya.
Di kejauhan tampak sepasang pria dan wanita berbagi di bawah naungan payung biru. Sepasang kekasih muda, tawa ceria menghiasi wajah mereka. Sepertinya hujan tidak membuat hati mereka dingin.
__ADS_1
"Seandainya dulu aku tidak pergi. Saat ini ada kamu di sini. Mungkin, pedih dan sunyi tidak perlu kurasa. Aku hanya pria bodoh yang penuh dengan ambisi." kata Chris pelan sambil menatap jauh keluar sana.
Wanita tak seperti angka-angka pada perhitungan yang sudah pasti. Jika kurang maka akan rugi, sedangkan jika lebih menjadi laba. Mereka lebih memusingkan daripada itu.
Dia tahu kalau dia pernah salah. Tetapi salahkah bila saat ini dia berharap lebih? Dia ingin kembali di sisinya. Bukan siapapun yang lain.
***
Di bawah atap halte bus. Seorang pria tampan menatap gambar seorang gadis pada jam sakunya.
"Kamu dan kenangan-kenangan kita. Itu semangatku." katanya dalam hati.
30 menit berlalu hujan tidak juga mereda. Jarak yang harus ditempuh tidak jauh lagi. Hanya butuh beberapa kelok dengan berjalan kaki.
Dia berjalan menembus derasnya hujan. Sudah tidak dihiraukan lagi hembusan angin dingin. Pikirnya saat ini, dia harus segera tiba di rumah.
Bertumpuk pekerjaan menantinya. Demi mewujudkan mimpi. Semangatnya belum pudar, hasratnya masih sama. Wanita yang selalu mengisi seluruh ruang hatinya tanpa kecuali. Tidak perduli apa yang terjadi nanti.
"Gila kamu Tom! Kenapa hujan-hujanan? Kan bisa berteduh dulu." kata temannya yang bertemu di lobby apartment.
Dia hanya tersenyum dan berlalu.
Selalu seperti itu. Laki-laki gunung es tanpa ekspresi.
Dia hanya berpikir tidak ada alasannya untuk membuang waktu. Jika dalam setiap detik yang dia lewati, maka akan semakin lama juga dia menemui pujaan hati.
***
Sesekali kusesap coklat panas sambil menatap jauh di luar jendela. Hujan malam ini membuat hatiku syahdu.
Aku suka mentari, tetapi aku juga suka hujan.
Telepon genggamku berbunyi.
"Ya Dean!" jawabku.
"Kamu tahu? Aku rindu." kata Dean.
"Hahahah.. aku kira apa Dean." jawabku dengan tawa menggelegar.
"Yah.. dia malah tertawa. Iya aku rindu, tolong lah berperasaan sedikit. Mood awalku romantis. Kenapa dirusak sih?" protes Dean.
"Haha.. Maaf! Habis kamu kan biasanya konyol Dean. Jadi agak lucu aja kamu bilang seperti tadi." jawabku
"Entahlah.. mungkin karena malam hari ini hujan pertama di tahun ini. Setelah hampir 6 bulan tidak turun. Jadi hatikupun ikut terbawa sejuknya." kata Dean.
"Kekasihku yang cantik apa juga merindu?" tanya Dean menggoda.
"Hmm.. mau dijawab jujur?" tanyaku balik.
"Ya terserah sih kalau tega." jawab Dean seolah merajuk.
__ADS_1
"Iya, aku juga rindu." kataku.
"Nah, kalau seperti itu mimpiku pasti indah di malam ini. Sayang, jangan tidur larut malam ya. Apalagi hujan-hujan seperti ini. Ga baik." lagi-lagi kata Dean menggoda.
"Ga baik bagaimana?" tanyaku.
"Ga baik. Nanti kamu tambah rindu kepadaku. Aku bisa merasa sangat bersalah. Kalau sudah seperti itu, jangan salahkan aku jika memaksa kamu untuk segera menjadi istriku." jawab Dean.
"Ah itu sih bisa-bisa kamu saja." kataku.
"Ya... iya sih! Hehe.." jawab Dean kemudian terkekeh.
"Ya sudah, ayo kita tidur. Semoga bertemu di alam mimpi. Besok pagi aku harus jemput kamu. Awas jangan pergi ke kantor sendiri!" ancam Dean.
"Siap boss!" jawabku.
"See you baby. Love you so much!" kata Dean.
"Love you too Dean, bye!" kataku mengakhiri percakapan kami.
***
Dean duduk bersandar pada bagian kepala tempat tidur. Baru saja ditaruh telepon genggamnya. Tatapannya menuju bulir hujan yang menyentuh jendela kamarnya.
Angannya membawa dia pada suatu kejadian. Saat itu mereka duduk di kelas kedua sekolah menengah atas. Hujan turun dengan derasnya di jam mereka pulang dari sekolah.
Dengan sepeda menembus hujan, dengan harapan akan segera sampai di rumah. Karena sangat bersemangatnya roda sepedanya masuk ke dalam lumpur. Dia pun terjatuh. Tubuh dan bajunya penuh dengan lumpur.
Di belakang sana teman-teman sekelas mentertawai dia. Tidak ada yang membantunya, karena saat itu dia sudah dicap anak nakal. Bahkan Sally dan teman-temannya sudah menganggap dia musuh.
Tetapi... mungkin dia salah..
"Ayo Dean, aku bantu berdiri." kata Sally yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya. Kemudian mengulurkan tangan kepadanya sambil tersenyum.
Dean menatap wajah Sally yang ikut basah terguyur hujan. Ada tatapan tulus di sana. Perlahan Dean mengulurkan tangannya. Hatinya tak karuan, rasa senang sepertinya hampir melontar ke luar dari sana.
Untuk kali pertama dia bisa menyentuh tangan gadis yang selama ini dipujanya. Entah mengapa, rasa malu amat sangat malah ikut hadir.
Setelah ditolong berdiri oleh Sally, tanpa mengatakan terima kasih Dean langsung berlalu dengan sepedanya.
Sepanjang perjalanan Dean sampai ke rumah, dihiasi senyum bahagia pada bibirnya.
---
Maaf ikutan mellow, terbawa hujan di sore dan malam ini.
Terima kasih buat semua teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
salam
vatty
__ADS_1