
Hari ini aku bangun di pagi hari, saat merasa benda berat menimpa perutku. Semakin aku bergerak, semakin tangan itu melingkar di pinggangku.
Aku terkejut dan langsung terbangun. Ternyata itu tangan Dean. Aku baru ingat kalau aku sudah sah menjadi istrinya kemarin sore. Laki-laki ini terlihat menggemaskan dan sangat tampan saat tertidur.
Perlahan coba kulepaskan pelukannya.
"Hmm.. kamu mau kemana? Aku ga mau ditinggal." kata Dean dengan mata terpejam.
"Saya mau ke kamar mandi Dean." jawabku sambil tetap berusaha melepas tangannya dari pinggangku.
"Cepat kembali ya." pesan Dean lalu kembali terpejam.
"Iya" jawabku.
"Ah!!" aku merasakan agak sakit di sana.
Perlahan aku berjalan menuju kamar mandi.
Selesai aku mandi, Dean masih tertidur. Aku lanjut memasak sarapan di lantai bawah.
2 porsi omelet dengan potongan paprika dan tomat, beberapa lembar roti panggang dengan selai kacang, 2 gelas susu, 2 gelas orange jus, dan 2 gelas air putih.
"Ok.. semua sudah siap. Tinggal membangunkan Dean." kataku.
Kemudian aku berjalan menuju kamar kami di lantai atas. Ternyata Dean baru selesai mandi.
"Saya kira masih tidur." kataku.
"Mana bisa tidur lagi. Ditinggal pergi istri." sungut Dean.
Aku tersenyum melihat respon dari Dean.
"Iya deh maaf. Sarapan sudah siap, kita makan dulu yuk?" tanyaku.
"Habis makan ngapain?" tanya Dean balik.
"Ya.. ngapain ya? Mungkin rapih-rapih rumah. Atau mengunjungi Ma, Pa, Ibu, dan Ayah." jawabku asal.
"Kalau begitu aku tidak mau makan." jawab Dean sambil duduk di sisi tempat tidur.
Laki-laki tetaplah laki-laki, mau seberapa pun umur mereka. Ada saatnya kekanakannya keluar. Betul yang Ma bilang, saat menikah kita bukan hanya memiliki pasangan. Tetapi juga memiliki seseorang untuk diasuh.
"Jadi kamu maunya kita ngapain? Saya nurut deh!" kataku lembut, sambil menyusulnya duduk di sisi tempat tidur.
"Aku?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, terserah kamu." jawabku.
"Betul ya tidak ada bantahan?" tanyanya.
"Iya, sungguh." jawabku sambil mengangguk.
"Ok, ayo kita sarapan!" katanya sambil mengenggam tanganku mengajak turun ke lantai bawah untuk sarapan.
***
Selesai sarapan, aku membereskan meja makan dan mencuci semua perlengkapan makan yang kami pakai. Baru saja hampir selesai, tiba-tiba..
"Kamu lama amat sih cuci piringnya." kata Dean yang hadir memelukku dari belakang.
"Ini sudah mau selesai kok. Jadi habis ini kita mau apa?" tanyaku sambil berbalik kepadanya.
"Aku mau.." perkataan Dean terpotong dengan ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok!
"Arrgh!!" erang Dean kesal karena merasa terganggu.
Tok tok tok!
"Saya atau kamu yang buka pintu?" tanyaku.
Ternyata yang datang Ma, Pa, Mey, Ibu, Ayah, Kakak-kakak Dean, dan juga anak mereka. Suasana rumah menjadi ramai.
Anak kecil berlarian. Ma dan Ibu langsung saja menuju dapur dan memulai memasak dengan bahan makanan yang mereka bawa. Aku membantu Ma dan Ibu.
Para pria membawa Dean ke taman belakang. Entah apa yang mereka lakukan. Tadi aku lihat wajah Dean berubah kecut. Terlebih saat aku terpegok diam-diam mengetawainya. Matanya langsung melotot kepadaku. Kasihan Dean, rencananya berantakan kali ini.
Kami menikmati makan siang bersama dan bercengkrama tentang banyak hal. Dean dipaksa anak-anak kecil bermain. Orang tua mereka sengaja melakukan itu. Katanya biar Dean belajar, agar sudah terbiasa saat nanti menjadi ayah.
"Sally, besok kami mau pulang ke dusun Lembah Asri. Kamu dan Dean baik-baik ya. Perselisihan itu wajar, apalagi kalian berdua punya sifat yang berbeda. Kalian harus saling menerima kekurangan dan harus saling melengkapi di saat yang sama." pesan Pa kepadaku.
"Iya Pa" jawabku.
"Kalau Dean galak atau kasar kepadamu. Segera lapor kepada Ayah. Nanti Ayah yang turun tangan." kata Ayah Dean sambil terkekeh.
"Iya Ayah" jawabku sambil tersenyum.
Dean, melihat ke arahku. Dia memberikan kode meminta tolong agar anak-anak disingkirkan darinya sementara. Karena dia sudah tampak kelelahan. Bagaimana tidak, total ada 5 orang anak umur 5 sampai 10 tahun yang sedang aktif-aktifnya.
"Permisi, saya mau ke sana dulu." pamitku pada para orang tua.
__ADS_1
"Iya, kamu bantu Dean sebelum dia pingsan. Ha ha ha.." kata Ayah Dean.
Diikuti tawa dari yang lainnya, karena merasa tujuan mereka mengerjai Dean berhasil.
"Sayang... tolong aku. Aku tidak mau meninggal kecapaian dengan anak-anak ini. Sedangkan anakku sendiri aja masih dalam proses, itupun terganggu." kata Dean memelas.
"Ssst.." kataku dengan jari telunjuk di bibir.
Karena takut Dean meracau lebih aneh lagi di depan anak-anak yang polos ini.
***
Semua keluarga sudah pulang. Hari sudah malam. Besok pagi aku dan Dean akan mengantar keluarga kami ke bandara.
Aku dan Dean sudah sangat kelelahan menerima tamu tadi. Jadi saat ini, sehabis mandi kami langsung menuju peraduan.
"Huuh... gagal deh." gerutu Dean.
"Sudah jangan marah-marah melulu. Ayok kita tidur. Besok harus bangun pagi, karena mereka naik pesawat di jam pertama." kataku sambil membelai pipi Dean.
"Kamu ga usah mancing-mancing bisa? Aku sedang menahan, kalau aku tidak bisa mengontrol diri lagi. Yang ada, besok kita tidak bisa mengantar mereka ke bandara." kata Dean mengancam.
"Ok..ok.." kataku sambil membetulkan selimut dan terpejam.
***
Pa, Ma, Mey dan seluruh keluarga Dean baru saja masuk ke ruang boarding. Tadi waktu perpisahan sempat diwarnai tangis-tangisan dan pelukan hangat.
Aku masih rindu dengan mereka. Tetapi, kami semua punya kewajiban masing-masing. Aku dan Dean berjanji di hari raya nanti akan pulang ke dusun Lembah Asri.
Hari ini adalah hari terakhir cuti kami. Besok aku Dean harus sudah masuk kerja lagi. Maunya mengambil cuti lebih lama. Tetapi, karena sebentar lagi musim liburan. Jadi hotel dan resort mulai sibuk. Terpaksa kami tidak bisa mengambil cuti lebih lama.
"Ayok sayang kita pulang! Kita teruskan yang tertunda." kata Dean sambil merangkul pundakku menuju tempat parkir mobil.
"Dean.. tapi kayanya ga bisa deh. Hmm.. sang bulan sedang datang. Baru saja tadi pagi.." kataku takut-takut.
"Arrghh!! Gagal lagi.. gagal lagi." keluh Dean dengan wajah ditekuk.
Aku hanya tersenyum melihatnya.
---
Terima kasih buat teman-teman yang masih mampir dan membaca cerita saya.
salam
__ADS_1
vatty