
Halaman rumah Sally sudah ramai dengan para kerabat dan saudara. Di dalam rumah Sally sedang berhias.
Hari ini adalah hari besar baginya. Sebentar lagi dia akan terikat sebagai tunangan Dean. Pria yang 7 tahun lalu pernah melamarnya.
Ternyata hanya masalah waktu saja. Prianya tetap Dean.
"Sally, kamu cantik sekali!" kata Mena dan Kela.
"Terima kasih." kalian juga tidak kalah cantik kataku tersenyum.
"Sally, kamu sudah beri tahu Tom mengenai ini?" tanya Mena.
"Nah itu yang membuat saya bingung. Beberapa waktu lalu, Tom pernah bilang sedang ada di Contento. Kami sempat janjian untuk makan bersama. Tetapi saya tunggu sampai lewat waktunya, dia tidak ada. Saya telepon dan kirim pesan tidak ada jawaban." kataku sambil menarik napas panjang.
"Kenapa Tom aneh seperti itu? Aku pikir sudah tidak ada masalah dengan persahabatan kita. Semua sudah clear saat hari raya waktu lalu." kata Mena.
"Saya juga tidak tahu Mena." jawabku sambil menunduk.
Ma dan para kerabat sedang sibuk mempersiapkan hidangan. Sedangkan Pa, beliau sedang berbincang dengan Paman Geo.
Tidak lama kemudian..
"Sally, ada tamu mencari kamu. Kamu mau temui?" tanya Ma lembut.
"Siapa Ma?" tanyaku.
"Chris.. menurut Ma, tidak ada salahnya kamu temui. Toh, dia juga mantan atasanmu dulu. Terlepas dari hubungan yang pernah ada antara kalian. Tetap berteman dengan siapapun itu lebih baik." kata Ma.
Aku ragu..
"Bagaimana Sally?" tanya Ma.
"Iya Ma, sebentar saya ke depan." jawabku lemas.
***
Kulihat Chris ikut bergabung mengobrol dengan Pa dan Paman Geo. Dengan tatap sayu Chris melihat ke arah aku datang.
__ADS_1
"Hai!" sapaku.
Chris membalasku dengan senyuman.
Pa dan Paman Geo meninggalkan kami berdua.
"Ada apa Chris?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Aku.." katanya terputus kemudian tertunduk.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan. Saya mau masuk ke dalam rumah. Kamu bisa menunggu sampai acara dimulai." kataku.
"Aku ingin berbicara berdua denganmu. Di sini terlalu ramai." katanya.
"Maaf, saya tidak bisa pergi kemana-mana. Kamu lihat sendiri, tamu sudah banyak. Dan sebentar lagi Dean dan keluarganya akan sampai." kataku.
"Baiklah.. aku pamit." katanya.
"Terima Chris sudah datang." jawabku tetap berusaha ramah.
Chris berbalik dan pergi.
***
Demikian juga dengan Dean. Sedari tadi, senyuman mengembang di wajahnya. Tatapannya penuh arti kepadaku.
Saat kami sedang mengobrol dengan teman-teman. Dean menarik tanganku. Dia mengajakku menaiki sepeda.
Dikayuhnya sepeda kuat-kuat. Sebelumnya diraihnya tanganku, untuk berpegangan melingkari pinggangnya.
Sampailah kami pada sebuah bukit dengan hamparan padang rumput. Ini bukan Bukit Penantian.
Kamu duduk beralaskan rumput. Dean ada di sebelahku. Ditatapnya wajahku, dan dia meraih daguku.
"Sally.. terima kasih sudah membantu mewujudkan harapan terbesarku. Aku sangat senang sekali. Saat ini, semua orang tahu kalau kamu... adalah milikku. Dan akupun hanya milikmu." bisiknya.
__ADS_1
Tatapannya penuh cinta. Dan.. selalu saja tajam itu menusuk hingga kerelung hatiku.
Aku hanya tersenyum kepadanya. Bibirku terasa kelu. Aku tidak mampu berkata apa-apa dengan tatapan mautnya itu.
"Aku sangat mencintaimu Sally. Dahulu.. sekarang.. dan selamanya.." kata Dean.
Beberapa detik kemudian, dia merapatkan bibirnya pada bibirku. Tidak lama, namun itu sudah cukup. Apa yang ada di hati kami jauh lebih besar.
Dean merangkul pundakku. Kami duduk menatap ke hamparan berundak di bawah kami. Angin sejuk menerpa wajah dan rambut kami.
Saat ini, semua orang tahu kalau kami adalah pasangan. Aku satu-satunya miliknya. Dan Dean satu-satunya milikku.
Semoga tetap akan seperti itu. Hingga rambut kami berdua memutih. Sampai waktunya kami berpisah menghadap Sang Pencipta.
Aku.. dia.. kita..
Biar semua tahu, ada dua anak manusia yang sedang mencinta. Senyum bahagia menghiasi wajah kami.
***
Di rumah.. semua orang bingung tidak menemukan kami berdua. Padahal itu acaraku dan Dean. Tetapi Dean, malah membawaku kabur ke sebuah bukit.
"Kemana anak itu berdua" kata Ma cemas.
"Tenang Ma, tidak akan terjadi apa-apa. Mereka berdua anak baik dan sudah dewasa." kata Pa menenangkan Ma.
Tidak ada yang aku dan Dean bawa selain pakaian yang melekat di badan. Telepon genggam kami tergeletak mesra di tempatnya di rumahku.
Aku tidak habis pikir dengan kelakuan Dean. Dia bilang, tidak nyaman ada di keramaian. Dia suka seperti ini, berdua denganku. Hanya duduk berdua melihat keindahan ciptaan Tuhan.
Sikap tertutup dan pendiam dia masih ada. Walaupun sifat pemalunya sudah hampir hilang.
---
Maaf dikit dan baru update..
Terima kasih teman-teman yang sudah mampir dan membaca cerita saya.
__ADS_1
salam
vatty