
Alex dan Gio sudah sampai di parkiran apartemen mereka, Alex dan Gio naik lift langsung yang ada di parkiran. Alex sudah sampai di depan apartemennya dan mulai menekan angka password pintu apartemennya.
Alex terkejut melihat Jenni dan Adara tertidur di sofa, Alex membangunkan putrinya dari alam mimpi.
"Sayang kenapa tidur disini dan tante Jenni?" Tanya Alex.
Adara yang masih setengah sadar bangun "Ayah." Adara langsung memeluk Alex.
"Bunda mana." Alex kembali bertanya kepada putrinya.
"Bunda lagi sakit, aku dan tante Jenni menjaganya." Jawab Adara dan kembali menguap karena masih ada rasa kantuk di pelupuk matanya.
Alex langsung menelpon Gio mengabarkan kalau Jenni ada di apartemennya, setelah menutup panggilannya Alex masuk kedalam kamar dan melihat Kanaya sedang tertidur nyenyak di tempat tidur mereka.
"Kanaya." Panggil Alex.
Kanaya yang mendengar suara Alex langsung membuka matanya. "Mas." Kanaya ingin bangun tapi Alex menahannya dan membaringkannya kembali.
"Istirahat, aku akan memanggil dokter kemari."
"Jangan, tadi hanya pusing saja sekarang aku udah baikan setelah tidur. Kita akan berbelanja ke supermarket." Kanaya kembali ingin bangun tapi Alex tetap menahannya.
"Tidak, biar aku yang berbelanja kamu tulis saja apa yang kita butuhkan." Ucap Alex.
"Aku mau pergi." Kanaya memeluk pinggang Alex dengan manja, Alex menatap istrinya yang tiba-tiba manja padanya.
"Kenapa kamu tiba-tiba manja seperti ini." Alex mencoba melepaskan tangan Kanaya yang melingkar di pinggangnya.
****
Dengan banyak drama akhirnya Alex mengalah dan membiarkan Kanaya pergi berbelanja, "Jangan mengambil yang tidak kita butuhkan." Kanaya mengangguk mendengar ucapan Alex.
Kanaya mengambil seperlunya saja makanan ringan, kini mereka menuju ke tempat sayur dan daging tiba-tiba kepala Kanaya pusing dan perutnya seperti di aduk-aduk "Mas." Panggil Kanaya saat dirinya hampir terjatuh.
"Kanaya." Alex menahan tubuh Kanaya yang sudah lemas.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit." Alex sangat panik saat melihat wajah Kanaya sudah mulai pucat.
__ADS_1
Alex memapah Kanaya ke kursi dekat pintu keluar untuk menunggunya membayar barang yang sempat Kanaya ambil, pandangan Alex tak lepas dari istrinya yang kini sedang menunggunya.
"269 ribu pak." Ucap kasir, Alex mengambil uang cash di dompetnya dan menyerahkan kepada kasir supermarket. "Ambil saja kembaliannya." Alex langsung berlari menghampiri Kanaya.
Sampai di apartemen Alex memapah Kanaya masuk ke lift walaupun Kanaya menolak tapi Alex masih khawatir sama Kanaya. "Mas, aku bisa jalan sendiri aku sudah baik-baik saja." Ucap Kanaya tapi Alex tidak menghiraukan ucapan istrinya.
Mereka sudah sampai di depan pintu apartemen, Alex meletakkan barang belanjaan di atas meja makan lalu mengantar Kanaya ke kamar untuk istirahat.
"Sekarang istirahat, kalau masih tidak enak badan aku akan memanggil dokter kemari." Alex menyelimuti Kanaya.
"Kenapa sakitnya setelah sampai disini." Gerutu Alex.
Kanaya yang mendengarkan langsung bangun dan menatap sinis kearah Alex, "Oh! Apa aku sakit sangat membebankan mas?"
"Siapa bilang."
"Aku mendengar sendiri, gak usah membantuku." Kanaya langsung membaringkan tubuhnya dan membelakangi Alex yang masih bingung dengan sikap Kanaya.
"Dia ini kenapa? Kadang manja dan kadang juga marah tanpa sebab, aku harus tanya siapa? Gio dan Andra gak bisa di andalkan." Gumam Alex lalu meninggalkan Kanaya di kamar.
Kanaya mendengar suara pintu kamar di tutup, dia kemudian membalikkan badannya dan bangun menyandarkan tubuhnya di kepala kasur.
Di ruang tamu Alex dan Gio membahas pekerjaannya, Alex tidak ingin meninggalkan Kanaya jadi Gio membawakan semua dokumen dan berkas yang masih belum Alex periksa.
"Apa sudah semua kamu kerjakan apa yang harus kita bahas besok saat rapat?" Tanya Alex.
"Sudah Tuan Muda. Bagaimana kesehatan Nyonya Muda?"
"Aku bingung, kadang dia manja kadang juga dia marah-marah tanpa sebab." Alex menggaruk alisnya yang tidak gatal.
"Setelah rapat kita harus mengganti pegawai yang kerjaannya tidak bagus, kita harus melakukannya secepat mungkin, Kanaya sakit kalau tinggal lama disini."
"Sejak kapan ada orang sakit tinggal di luar negeri." Batin Gio. Tapi dia hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Adara masuk ke kamar untuk menemui Kanaya, Kanaya yang tertidur membuka matanya dan tersenyum melihat putrinya berdiri di sampingnya.
"Bunda aku kangen kakak, kapan kita pulang?" Wajah Adara terlihat sedih.
__ADS_1
Kanaya bangun dan mengangkat putrinya naik ke kasur, "Kita akan menelpon kakak." Kanaya mengambil ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur.
Kanaya mulai panggilan ke ponsel Kavin tapi tak di angkat, satu kali, dua kali dan ketiga kalinya tapi tak di angkat. Kanaya menelpon mama mertuanya tapi sama saja tak ada jawaban, Kanaya sudah mulai panik dia kembali menelpon ponsel putranya tapi tetap tak ada jawaban.
"Bunda Adara sangat ingin bertemu kakak." Adara mulai menangis entah kenapa dirinya sangat rindu pada kakak kembarannya, tidak seperti biasa mungkin karena mereka terpisah dengan jarak yang sangat jauh.
"Mungkin kakak lagi belajar jadi ponselnya tidak di beri nada." Kanaya mulai menenangkan putrinya yang sudah menangis.
Alex yang mendengar suara tangisan putrinya langsung berlari ke kamar di susul oleh Gio. Alex membuka pintu dan melihat Kanaya sedang memeluk Adara.
"Kanaya ada apa?" Alex menghapiri mereka.
Mata Kanaya sudah di penuhi dengan cairan bening yang sudah siap tumpah membasahi pipinya "Kavin tidak mengangkat ponselnya." Dan benar saja air mata Kanaya mengalir di pipi cantiknya.
"Aku akan menelponnya jadi jangan menangis." Alex mengambil ponselnya di saku depan celananya.
Begitupun tak ada jawaban, berkali-kali tetap tak ada jawaban kini dia menelpon Andra tak lama Andra menjawab panggilannya.
"Halo."
"........"
"Tidak Kanaya dan Adara ingin bicara dengan Kavin, ya sudah aku tutup teleponnya." Alex mengakhiri panggilannya.
Kanaya menatap suaminya yang masih berdiri di depannya. "Kavin kemana?"
"Kavin memilih tinggal di asrama, mama dan papa sudah melarangnya tapi dia tetap ingin tinggal di asrama sekolah."
Kanaya menenangkan putrinya yang masih menangis dalam pelukannya, Alex kembali ke ruang tamu untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertunda.
Malam ini Adara tidur di kamar orang tuanya, dia masih menangis entah kenapa begitupun dengan Kanaya hati dan pikirannya tidak bisa tenang memikirkan putranya, apalagi saat dia tau putranya memilih tinggal di asrama sekolah.
"Kakak, huhuhu." Adara mengigau.
Kanaya memegang dahi putrinya dan sangat panas, Adara terkena demam. Saat dia ingin keluar kamar Alex sudah membuka pintu kamar "Ada apa?"
"Adara demam, dia sampai memaggil Kavin." Kanaya terlihat panik.
__ADS_1
Alex langsung berlari dan mengangkat putrinya "Kakak, huhuhu." Adara masih mengigau sampai mereka tiba di rumah sakit. Kanaya menghubungi Jenni dan memberitahunya kalau mereka ada di rumah sakit.
Bersambung....