HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
Bab 61


__ADS_3

Echa pamit pada Adara dan Kanaya untuk kembali ke butik, selepas kepergian sahabatnya Adara berencana kembali ke kamarnya tapi di hentikan oleh Kanaya.


"Nak, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan. Tante Adele juga ingin pergi jadi bisa barengan," tanya Kanaya.


"Adara dirumah saja Bunda," jawab Adara, dia pun pergi meninggalkan Kanaya di ruang tamu.


Di perusahaan Handoko Group Devano membantu Kavin dan juga Alex dia terlihat serius menyelesaikan masalah yang terjadi karena ulah keluarganya Kavin melihat Devano, "Apa aku boleh bertanya padamu?" tanya Kavin.


"Boleh."


"Jadi benar kamu akan menetap di Inggris?"


Devano menoleh kearah Kavin, "Iya, mungkin aku pria yang sangat pengecut."


Kavin menepuk pundak Devano, ia hanya bisa memberikan semangat untuk pria yang pernah menyayanginya sebagai adik, "Jadi, kapan kamu akan pergi?" tanyanya.


"Setelah masalah di perusahaanmu selesai, aku akan berangkat besoknya," jawab Devano tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Sebenarnya Kavin ingin bertanya lebih banyak lagi pada Devano tapi dia urungkan, jadi ia memutuskan meninggalkan Devano di ruangannya dan pergi keruangan ayahnya.


Saat masuk kedalam ruangan Kavin melihat ayahnya sedang berbicara dengan Tuan Raka, entah apa yang di bicarakannya ia pun ikut bergabung dengan mereka.


"Apa masalahnya sudah selesai, Nak?" tanya Alex saat melihat putra sulungnya duduk disampingnya.


"Sedikit lagi Yah. Devano sudah bekerja keras," jawab Kavin.


"Alex, maafkan aku karena kebodohanku kedua anak kita harus menderita," ucap Raka penuh penyesalan.


"Bagaimana kalau kita nikahkan anak kita," usul Alex.


Raka melihat Alex yang ada di depannya, "Bukannya anakmu tidak ingin bertemu dengan anakku?"


"Benar, Yah." Kavin ikut menimpali.


Alex tampak berpikir mencari cara agar putrinya bisa melupakan kesedihannya, mereka bertiga pun membicarakan rencana yang akan dilakukannya.


Malam pun tiba Alex dan keluarga kecilnya tengah menikmati makan malam, seperti biasa Kenan selalu berisik.


"Ayah, besok aku akan mengantar Tuan Raka dan Devano ke bandara," ucap Kavin sembari melirik adiknya yang duduk di depannya.


Alex ikut melirik putrinya yang tidak tertarik dengan ucapan kakaknya, "Padahal Ayah baru saja dekat dengan Tuan Raka tapi dia sudah mau pergi dari negara ini," balas Alex yang masih melirik putrinya.


"Aku sudah kenyang, selamat malam," ucap Adara lalu pergi meninggalkan keluarganya yang masih ada di meja makan.

__ADS_1


Adara berlari ke kamarnya, ia pun masuk kedalam kamar lalu menguncinya bohong jika hatinya sudah tidak mencintai Devano tapi sakit kehilangan bayinya membuatnya tidak bisa memaafkan keluarga pria yang sangat dia cintai, "Apa yang harus aku lakukan," lirihnya.


***


Pagi sudah menyapa hari ini Adara ingin ke butiknya ia pergi ke ruang keluarga hanya ada bundanya disana, ingin bertanya tapi di urungkan niatnya.


"Bunda hari ini aku ke butik," ucap Adara Kanaya hanya mengangguk.


Tidak biasanya bundanya seperti itu hanya merespon dengan anggukan kepala, "Apa bunda sedang sakit?" tanya Adara sembari menempelkan tangannya di dahi wanita yang telah melahirkannya.


"Tidak, hanya saja ...." Ucapan Kanaya menggantung membuat Adara menatapnya penasaran.


"Hanya saja apa, Bun?"


"Tidak apa-apa sayang, makanlah bukannya kamu mau ke butik."


Sebuah pesan dari Kira masuk ke ponsel Adara, "Kamu tidak kebutik?"


"jadi, aku lagi sarapan sama bunda."


"Aku kira kamu kerumah sakit."


"Untuk apa?"


Jantung Adara serasa berhenti membaca pesan dari sepupunya, dia langsung menoleh ke arah bundanya yang hanya diam saja.


"Bunda, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Adara namun Kanaya hanya diam.


"Kenapa Bunda hanya diam, Ayah, Kakak dan Kenan kemana?"


"Adara, tenang nak. Ayah dan Kavin pergi ke kantor lalu Kenan ke kampus."


"Bukan ke rumah sakit?"


Kanaya terkejut mendengar ucapan putrinya, tapi Kanaya mencoba mengelak dia tidak ingin kondisi Adara kembali seperti dulu jika mendengar pria yang dicintainya tengah kritis di rumah sakit.


"Siapa yang mengatakan itu?" tanya Kanaya.


"Kira. Adara akan ke rumah sakit setelah dari butik," jawab Adara lalu memasukkan makanan di dalam mulutnya.


Setelah selesai sarapan dengan bundanya Adara pun bersiap-siap untuk ke butiknya, ia pun pamit pada Kanaya lalu pergi. Hati Adara sudah berdamai dengan keadaan sehingga dengan cepat perasaannya sudah merasa lebih bahagia dari sebelumnya.


"Ayah dan Kakak pasti belum makan, aku akan membawakannya lalu pergi ke butik," ucap Adara.

__ADS_1


Di rumah sakit Alex terlihat mondar mandir seperti setrikaan, sedangkan Kavin duduk di kursi dan menyandarkan kepalanya ke tembok. lampu operasi masih menyala itu berarti Tuan Raka dan Devano masih di operasi karena beberapa tembakan.


Tidak lama lampu operasi padam dan pintu pun terbuka, lima dokter yang menangani Tuan Raka dan Devano keluar. dengan cepat Alex dan Kavin menghampirinya, "Dokter bagaimana keadaan pasien?" tanya Alex penuh kekhawatiran.


"Mereka berdua masih dalam kondisi kritis, jangan khawatir kami akan berusaha untuk menolongnya," jawab salah satu Dokter.


Dari kejauhan Adara berjalan cepat saat melihat Dokter tengah berbicara dengan ayahnya, dengan hati yang gelisah dia melangkahkan kakinya dengan cepat untuk sampai di sana.


"Ayah, Kakak!" panggil Adara.


Alex dan Kavin menoleh kearah Adara yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka, Dokter pun pamit setelah Adara sudah datang.


"Ayah bagaimana keadaan Tuan Raka dan Devano?" tanya Adara.


"Kondisinya masih kritis," jawab Alex lalu membawa putrinya duduk di kursi.


"Arka kemana? Kenapa dia tidak bersama dengan Devano?" tanya Adara ketika melihat Arka tidak ada.


"Arka sedang menyelidiki siapa yang telah menyerang mereka berdua," Jawab Alex seraya mengusap bahu putrinya.


***


Hari berganti hari kondisi Tuan Raka mulai membaik berbeda dengan kondisi Devano yang masih koma, Adara yang baru datang langsung masuk dan menghampiri pria yang di cintainya yang sedang tertidur nyenyak.


Adara duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur pasien, dia menatap wajah Devano yang terlihat pucat, "Wajah tampanmu menghilang, Dev. Jadi kamu harus bangun agar wajah tampanmu kembali lagi," ucap Adara.


Pintu kamar terbuka, Alex masuk dan mendekati Adara yang duduk di samping tempat tidur, "Bagaimana keadaannya, Nak?" tanya Alex dan Adara hanya menggeleng.


"Ayah tidak ke kantor?"


"Ayah hanya mampir sebentar lalu ke kantor."


"Ayah, apa aku bisa bahagia?"


Hening, Alex melihat Adara yang tengah menundukkan kepalanya.


"Devano akan bangun, pria ini sangat mencintaimu. Kamu tahu, Ayah dan Tuan Raka akan menikahkan kalian jika dia sudah sembuh."


Adara mendongakkan kepalanya dan menatap ayahnya, "Ayah!" panggilnya.


Jemari Devano bergerak Adara dan Alex melihatnya sangat senang itu tandanya jika Devano akan segera bangun.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2