HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 26


__ADS_3

Setelah makan siang, Devano mengantar kembali Adara ke butiknya, "Aku akan menghubungimu nanti." Ucap Devano. Adara terlihat bahagia mendengar perkataan Devano saat mengantarnya.


****


Hari sudah malam dan jam sudah menunjuk pada angka 9.25 PM, Adara, Kira dan Echa sudah berada di dalam mobil Adara.


Kira yang penasaran soal hubungan sepupunya sekaligus sahabatnya dengan Devano pun memulai pertanyaannya "Apa kencan kalian tadi menyenangkan?"


"Kami hanya makan siang biasa saja." Ujar Adara,tapi tiba-tiba Adara mengingat kejadian yang mereka tidak sengaja, saat bibirnya dan bibir Devano bersentuhan wajah Adara langsung bersemu merah.


"Hey, wajahmu memerah. Apa tuan Devano mengatakan sesuatu?" Tanya Kira.


"Jadi beneran kalian berkencan tadi siang?" Echa ikut bertanya.


"Kami tidak berkecan, hanya makan siang bersama saja." Jawab Adara.


"Sama saja." Celetuk Kira.


Adara mengantar Echa lalu Kira, tidak lama dia pun sampai di rumah. lampu sebagian sudah mati, sekarang sudah jam 10 malam Adara masuk ke dalam kamarnya.


Setelah melepaskan semua pakaiannya Adara masuk ke kamar mandi dan berendam air hangat untuk menhilangkan rasa capek yang sangat terasa.


Lima belas menit berendam Adara pun membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air shower, saat dia keluar dari kamar mandi Kanaya sudah ada di kamarnya.


"Bunda."


"Kemarilah sayang." Adara meghampiri Kanaya yang sedang duduk di pinggiran kasur.


"Bunda belum tidur? Apa ayah belum pulang?"


"Ayahmu sudah tidur, Apa kakaknu disana masih mengingat kita." Ucap Kanaya sambil mengeringkan rambut putrinya.


"Kalau kakak masih hidup, nanti kita akan ketemu kok bun. Jadi jangan bersedih lagi." Kanaya tersenyum karena putri kecilnya sudah tumbuh dewasa.


Ponsel Devano berdering keras di atas nakas membuat pria yang sedang tertidur lelap membuka matanya. "Siapa sih yang mengganggu malam-malam begini." Devano mengambil benda persegi dan melihat siapa yang telah mengganggu tidur nyenyaknya.


Panggilan Video dari Inggris, Devano menggeser tombol hijau dan panggilan mereka pun terhubung.


"Disini sudah malam, apa kamu tidak tau?"


"Kakak bagaimana kabar mommy? Dia tidak ingin mengangkat teleponku."


"Mommy masih kecewa denganmu. Jangan menggangguku, aku sangat mengantuk."


"Aku dan papi akan kembali lusa." Ucap Riko Hanendra.


"Aku akan menjemputmu dan papi di bandara besok lusa. Jadi akhiri panggilanmu aku sangat nengantuk." Devano mengakhiri panggilannya dan saudara laki-lakinya.


Saat dia ingin kembali tidur sebuah pesan masuk di ponselnya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tidur?" kening Devano berkerut sebuah nomor tanpa nama baru saja mengiriminya pesan.


Niat tak ingin mebalasnya tapi pesan kedua dari nomor yang sama kembali mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya. "Apa kamu sudah tidur?" Tanpa menunggu lama Devano menghubungi nomor itu.


Tut...tut...tut...


"Halo." terdengar suara merdu Adara.


"Adara?"


"Iya, apa aku sudah mengganggumu."


"Tidak. Ah! Aku lupa janji untuk menghubungimu saat pulang kerja, aku langsung tertidur."


"Tidak apa-apa."


"Besok aku akan menjemputmu."


"Aku tunggu." Mereka berdua mengobrol lewat telepon hingga Adara maupun Devano tertidur tanpa mengakhiri panggilan teleponnya.


***


Pagi ini Adara sudah duduk di meja makan bersama ayah dan bundanya, Kanaya memberikan piring berisi nasi goreng kepada putrinya dan juga susu coklat hangat, Kanaya menatap putrinya yang sedang menatap ponselnya dengan tersenyum.


"Kenapa putri bunda suka senyum-senyum dan selalu melihat ponsel terus." Tanya Kanaya setelah meletakkan piring nasi goreng untuk suaminya.


"Tidak ada bunda." Adara kembali fokus dengan makanannya.


"Ayah, bunda Adara sudah mau berangkat." Adara mencium Alex dan Kanaya.


"Makananmu belum habis sayang." Ucap Kanaya saat melihat putrinya yang akan pergi.


"Teman Adara sudah dekat, tidak baik membuatnya menunggu bun." Jawab Adara sambil melambaikan tangannya.


Tidak lama Kenan pun menghampiri Alex dan Kanaya dan duduk di samping wanita yang telah melahirkannya dua puluh tahun lalu. Kanaya mengambilkan nasi goreng untuk putranya dan segelas susu putih.


"Tumben kakak cepat perginya bun." Tanya Kenan.


"Katanya ada temannya yang menjemputnya, kamu tidak kuliah hari ini sayang?"


"gak ada kelas pagi bunda."


Alex menatap putra bungsunya lalu ikut berbicara "Ayah ingin kamu fokus dengan bisnis Kenan." Kenan yang mendengar ucapan ayahnya langsung menoleh.


"Aku belum siap ayah, apalagi aku tidak tertarik dengan dunia bisnis." Ucap Kenan lalu memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya.


"Kalau bukan kamu yang meneruskan perusahan keluarga lalu siapa? Kamu anak laki-laki di keluarga Handoko." Suara Alex mulai meninggi, Kanaya yang tau suaminya sudah mulai emosi mengusap lengan suaminya untuk meredakan emosi Alex.


"Mas, biarkan Kenan menikmati masa kuliahnya dulu, apalgi kan dia baru berumur 20 tahun." Kanaya mencoba membela putranya.

__ADS_1


"Mas sendiri umur 16 tahun sudah belajar berbisnis dari papa." Ucap Alex.


"Dulu dan sekarang berbeda yah, aku ingin seperti paman cukup kerja dikantor jadi pegawai saja."


Alex menghela nafasnya dengan kasar "Hah!" Dia tidak tau harus bicara apa lagi, karena putra bungsunya memang seperti Andra yang selalu melakukan apa yang di inginkannya.


"Tuan pak Gio sudah datang dan sedang menunggu tuan di ruang tengah." Ujar Ani cucu mbo Asih yang menggantikan neneknya karena sudah tua.


Alex yang mendengar Gio sudah datang meninggalkan Kanaya dan Kenan di meja makan lalu menghampiri Gio.


"Selamat pagi tuan."


"Kita bicara di ruang kerja saja." Alex pergi ke ruang kerjanya di ikuti Gio di belakangnya.


Alex langsung duduk di kursi kerjanya dan Gio pun menyerahkan berkas-berkas yang di bawanya, Alex menerimanya "Apa ini sudah lengkap penyelidikanmu dan Romi?" Tanya Alex.


"Romi dan anak buahnya masih mengumpulkan data-data Keluarga Hanendra dan berusaha mencari tuan muda Kavin." Ujar Gio.


"Pantas saja selama 20 tahun ini informasi soal keluarga Sanjaya tidak bisa kita dapatkan karena Keluarga Hanendra yang melindungi mereka." Alex mengepalkan tangannya.


"Gio aku ingin keamanan Adara dan Kenan di perketat lagi, kita tidak boleh ceroboh untuk kedua kalinya."


"Baik tuan, aku akan memberitahu Romi untuk memperketat keamanan nona muda dan tuan muda."


Alex pun kembali fokus pada berkas-berkas yang ada di genggamannya, ternyata yang mendukung keluarga penculik putranya adalah rival bisnis keluarganya Raka Hanendra.


"Saya akan pergi kekantor untuk menyelesaikan pekerjaan saya tuan." Alex pun mengangguk.


Saat pintu ruang kerjanya tertutup Alex menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya, harusnya dari awal dia sudah membereskan keluarga Sanjaya agar tidak membuat keluarganya menderita tapi karena kecerobohannya putra sulungnya yang harus jadi korban kebodohannya.


****


Devano yang tengah duduk di sofa dan sedang menatap layar ponselnya menoleh ke arah pintu dan Arka pun menghampirinya "Tuan muda, ini berkas informasi dari Keluarga Handoko." Devano pun mengalihkan pandangannya ke tangan Arka yang sedang menyerahkan beberapa berkas informasi Keluarga Handoko.


Devano memeriksa semua berkas yang di berikan oleh Arka, "Jadi putra sulung Keluarga Handoko diculik dua puluh tahun lalu? Terus siapa yang berani menculik pewaris perusahaan Handoko." Ucap Devano.


"Hanya orang-orang Keluarga Handoko yang mengetahuinya tuan, informasi itu sangat tertutup." Jawab Arka.


"Ternyata pengamanan Keluarga Handoko tidak terlalu kuat sehingga pewarisnya bisa di culik, berarti orang itu bukan orang biasa sehingga bisa menembus keamanan Keluarga Handoko." Gumam Devano.


Bersambung....


Devano Hanendra



Maaf Kalau cerita ini menurut kalian tidak jelas atau apalah...Kenapa authornya langsung loncat ke 20 tahun kemudian karena kami tidak ingin membuat cerita yang tidak terlalu panjang dan bertele-tele.


Ikuti terus cerita Hamil Sebelum Menikah dan di pertengahan nanti akan dibahas apakah Devano itu Kavin?

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya kakak....


__ADS_2