HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 44


__ADS_3

Di meja makan, Adara tampak gelisah. Kanaya melihat putrinya dengan khawatir, "Adara, kamu kenap?" tanya Kanaya.


"Adara mau bicara," jawab Adara, "Ayah, Adara ingin pernikahanku dengan Dokter Syarif di percepat saja."


Alex menatap Adara, "Bukannya kamu ingin mengenal Dokter Syarif lebih dalam lagi."


"Dokter Syarif akan pergi ke Singapura, sedangkan perusahaan saat ini sudah diambang kehancuran Ayah," ujar Adara.


"Besok Ayah akan membicarakan ini pada Opa dan Dokter Gunawan," ucap Alex.


Mereka berlima menyelesaikan makan malam, Bibi Fia dan Om Yogi sudah pulang tadi pagi. Adara kembali ke kamarnya, Saat dia ingin merebahkan tubuhnya, pintu kamarnya terbuka.


"Kakak,"


Kavin berjalan masuk menghampiri adiknya yang tengah duduk di atas tempat tidur.


"Apa Devano mengancammu?" tanya Kavin.


"Tidak," jawab Adara sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa tiba-tiba kamu ingin pernikahanmu di percepat?"


"…a-aku, aku sudah mengenal Dokter Syarif. Kira juga memberitahuku kalau dia pria yang baik, jadi tunggu apa lagi."


Kavin mengusap pucuk kepala sang adik, "Kita memang tumbuh berjauhan tapi, batin kita selalu sama," ujar Kavin, "Jadi, jangan menutupi apapun dariku, Adara."


Adara memeluk Kavin, "Aku takut kak, Devano akan datang menemuiku tiga bulan lagi," tangis Adara.


"Apa dia menghubungimu lagi?" tanya Kavin, Adara pun mengangguk.


"Baiklah, sekarang kamu istirahat, jangan pikirkan ucapan Devano." Kavin menenangkan Adara.


Adara merebahkan tubunya lalu memejamkan matanya dan tak lama dia sudah tertidur, Kavin menyelimuti adiknya.


Setelah memastikan Adara sudah tertidur dia pun pergi meninggalkan adiknya yang sudah terbawa ke alam mimpi.


"Aku harus membicarakan ini dengan Ayah," gumam Kavin.


Kavin turun ke lantai satu dan menghampiri orang tuanya dan adiknya yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Kavin, apa Adara sudah tidur?" tanya Kanaya saat putra sulungnya duduk di sampingnya.


"Iya Bunda, alasan Adara ingin pernikahannya di percepat memang ada hubungannya dengan Devano," jawab Kavin.


"Besok Ayah akan mengurusnya," ujar Alex.


***


Suara kicauan burung di pagi hari membangunkan membangunkan Adara dari tidurnya, suara ketukan pintu terdengar di telinganya.


Dengan cepat dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu, "Ceklek!" Adara membuka pintu kamarnya.


"Bunda," ucap Adara.

__ADS_1


"Apa kamu tidak kebutik hari ini, sayang?" tanya Kanaya.


"Tidak, pekerjaanku sudah selesai."


"Anu Nyonya, di bawah ada kiriman paket," ujar Ani.


Kanaya dan Adara saling memandang dengan tatapan bingung, "Bunda turun dulu, kamu istirahat saja Nak," ucap Kanaya.


Kanaya dan Ani turun menemui pengantar paket, Kanaya menghampiri kurir itu.


"Dari siapa, Mas?" tanya Kanaya.


"Tidak ada nama pengirimnya Bu, hanya ada alamat rumah dan nama penerimanya," jawab kurir.


Kanaya menandatangani tanda penerima, setelah itu kurir pun pergi meninggalkan rumah Kanaya.


"Untuk Adara," gumam Kanaya.


Dengan cepat Kanaya pergi ke kamar putrinya dengan membawa paket yang di tujukan pada Adara.


Kanaya mengetuk pintu kamar Adara, dan pintu itu pun terbuka.


"Ada apa Bunda?" tanya Adara.


"Ini paket untukmu Nak." Kanaya menyodorkan paket yang dia terimanya tadi.


Adara mengambil bungkusan paket yang di berikan Kanaya padanya, "Dari siapa Bun?" Adara kembali bertanya.


"Bunda juga tidak tau, tidak ada nama pengirimnya," jawab Kanaya.


"Gaun pengantin!" ujar Adara.


"Apa ini dikirim dari Dokter Syarif?" tanya Kanaya.


"Aku akan bertanya padanya." Adara mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.


Adara mencoba menghubungi ponsel Dokter Syarif tapi tidak ada jawaban, "Aku akan mengirim pesan padanya," gumam Adara.


"Dokter, apa kamu yang mengirim gaun pengantin ini?" Adara mengirim pesan pada Dokter Syarif.


"Bunda turun dulu, jangan di pikirkan, jika bukan Dokter Syarif yang mengirimnya kita akan membuangnya," ujar Kanaya, Adara hanya mengangguk.


Kanaya meninggalkan kamar putrinya, Adara berjalan di depan cermin dengan membawa gaun pengantin itu.


"Gaun ini mewah, tapi apa benar ini dari Dokter Syarif atau…." Gaun pengantin yang di tangan Adara jatuh ke lantai saat sebuah nama terlintas di kepalanya.


"Devano?" batin Adara.


"Ping...." sebuah pesan masuk ke ponsel Adara, dengan cepat dia membukanya.


"Bukan, mungkin paket salah kirim." Isi balasan dari Dokter Syarif.


"Bukan? Apa benar gaun itu dari Devano?" gumam Adara.

__ADS_1


Di kediaman utama Handoko sudah ada Alex dan Dokter Gunawan, mereka sedang menunggu Hadi Handoko untuk membahas pernikahan Adara dan Dokter Syarif.


Hadi Handoko menghampiri Alex dan Dokter Gunawan, "Papa, Tuan," ucap Alex dan Dokter Gunawan bersamaan.


"Apa kedua anak itu sudah memutuskan untuk menikah cepat?" tanya Tuan Handoko.


"Iya Pa, Adara memutuskan pernikahannya di percepat sebelum Syarif pergi ke Singapura," jawab Alex.


"Bagaimana menurut Dokter Gunawan, apa pihak jeluarga Dokter menerimanya?" Hadi Handoko bertanya pada Dokter Gunawan.


"Jika ini terbaik untuk mereka berdua, keluarga kami siap Tuan Besar," jawab Dokter Gunawan.


"Kapan Nak Syarif pergi?" tanya Hadi Handoko.


"Dua minggu lagi Tuan."


"Baik, acara pernikahan akan di langsungkan minggu depan."


Alex dan Dokter Gunawan menyetujui ucapan Tuan Handoko, "Aku akan mengabarkan Kanaya," ujar Alex.


"Kalau begitu, saya juga akan mengabarkan Maya pernikahan akan di langsungkan minggu depan." Dokter Gunawan pun pamit pulang.


"Alex, apa yang membuat Adara memutuskan untuk menikah secara mendadak seperti ini?" tanya Hadi Handoko pada putranya.


"Ini bersangkutan dengan pria brengs*k itu, sehingga putriku memutuskan menikah secara mendadak," jawab Alex dengan wajah geram.


Hadi Handoko menepuk-nepuk bahu putra sulungnya, "Mungkin ini hal yang bagus, masalah perusahaan harus segera di selesaikan." Ujar Tuan Handoko.


Alex menghubungi Kanaya kalau acara pernikahan akan di langsungkan minggu depan, dia meminta Kanaya mengajak Adara berbelanja dan menyiapkan apa yang diperlukan untuk resepsi pernikahan putrinya.


Kanaya pun mengiyakan ucapan suaminya, dia akan bersiap-siap untuk mengajak putrinya ke butik untuk mencari gaun pengantin.


"Adara," panggil Kanaya sambil mengetuk pintu kamar putrinya.


Pintu kamar terbuka, "Bunda," ujar Adara, "Bunda mau kemana?" tanya Adara.


"Pernikahanmu dan Nak Syarif sudah di tentukan, kalian akan menikah minggu depan," ucap Kanaya.


Adara tersenyum mendengar pernikahannya sudah di tentukan, ada rasa lega di hatinya mendengar dia akan menjadi istri dari Dokter Syarif.


"Lalu Bunda mau kemana?" tanya Adara lagi.


"Hari ini, Bunda akan mengajakmu ke butik untuk mencari gaun pengantin untukmu," jawab Kanaya.


"Aku akan bersiap-siap Bunda."


"Bunda akan menunggumu di bawah." Adara mengangguk.


Kanaya turun dari lantai dua, dia menunggu putrinya di ruang keluarga. Tidak lama Adara sudah turun dari dari lantai dua dan menghampiri bundanya yang tengah duduk di sofa.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya...

__ADS_1


Apa ini cocok dengan visual Dokter Syarif?



__ADS_2