
Malam ini Adara sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Dokter Syarif, Kanaya memanggil putrinya yang masih ada di dalam kamar.
"Adara, Nak Syarif sudah menunggu di bawah." Ucap Kanaya sembari mengetuk pintu kamar.
Klek!! Pintu kamar terbuka, Adara dan Kanaya turun bersamaan.
"Bunda, Adara pergi dulu." Adara memeluk Kanaya.
"Kalian hati-hati, nikmati waktu berdua." Ujar Kanaya.
Di dalam mobil, Adara hanya diam dia sedang merangkai kata-kata yang akan ia katakan pada Dokter Syarif.
Taidak lama mobil Dokter Syarif berhenti di depan restauran milik Keluarga Handoko, mereka pun keluar dari mobil dan berjalan bersama masuk ke dalam restauran.
Adara memilih meja yang paling pojok, karena suasana yang ramai dia tidak ingin kebisingan.
"Tuan dan Nona ingin makan dan minum apa?" tanya pelayan.
"Aku pesan kopi hitam tanpa gula," jawab Dokter Syarif, "Adara kamu pesan apa?" tanya Dokter Syarif pada Adara.
"Aku pesan nasi goreng dan cappucino latte," jawab Adara.
Setelah menulis pesanan Adara dan Dokter Syarif pelayan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Dokter Syarif saat melihat Adara yang tampak gelisah.
"Dokter, ini tentang pernikahan kita. Aku merasa kalau kita harus mem...." Ucapan Adara terpotong karena kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka.
Adara ingin melanjutkan ucapannya tapi Dokter Syarif menyuruh Adara memakan makanannya terlebih dahulu.
"Aku harus mengatakannya, pernikahan kami tinggal dua hari lagi. Aku tidak ingin menyesal dikemudian hari karena keegoisanku," gumam Adara dalam hati.
Akhirnya Adara selesai makan, dia menarik nafas dalam-dalam dan hembuskannya, "Hah!"
"Dokter, aku ingin per...." Ucapan Adara kembali terpotong saat ponsel milik Dokter Syarif berbunyi.
Dokter Syarif memberi isyarat pada Adara untuk mengangkat telepon dari rumah sakit.
"Ya ampun, kenapa selalu saja ada yang mengganggu saat aku ingin mengatakan tentang pembatalan pernikahan ini dan perasaan Kira...." Gumam Adara.
Tidak lama Dokter Syarif kembali menghampiri Adara, "Adara, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Dokter Syarif
"Y-ya, a-aku juga merasa tidak enak badan," jawab Adara.
Mereka pun meninggalkan restoran di dalam mobil, Adara ingin mengatakan apa yang ada di pikirannya tapi selalu kurang pas.
"Apa yang harus aku lakukan, kenapa setiap ingin mengatakannya selalu saja ada gangguan," batin Adara.
Mobil berhenti di depan rumah Adara, "Dokter, aku ingin mengat...." Ucapan Adara kembali terpotong.
__ADS_1
"Kamu katakan nanti saja, di rumah sakit sedang membutuhkanku." Ucap Dokter Syarif sembari mengusap kepala Adara.
Adara pun mengangguk lalu keluar dari mobil, hatinya masih belum bisa tenang sebelum mengatakannya.
Mobil Dokter Syarif meninggalkan kediaman Adara, "Maafkan aku Adara, aku tidak bisa membatalkan pernikahan kita. Aku mencintaimu jadi biarkan aku sedikit egois untuk memilikimu," ucap Dokter Syarif.
Beberapa menit yang lalu, Dokter Syarif menerima telepon dari Kira yang mengatakan agar dia tidak membiarkan Adara bicara, karena malam ini dia akan membatalkan pernikahannya.
***
Di kediaman Keluarga Hanendra, Evelyn sedang menunggu putranya yang tengah di perjalanan ke Mansion Keluarga Hanendra.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah Tuan Raja Hanendra pun keluar dari mobil, "Mas, aku kira putra kita yang datang?" ujar Evelyn.
"Kata pak Adi, mereka sudah dekat." Ucap Tuan Raka.
Saat mereka ingin masuk mobil yang menjemput Devano di Bandara berhenti di samping mobil Tuan Raka, Tidak lama Devano keluar dari dalam mobil.
"Putra kesayangan Mommy." Evelyn menghampiri Devano lalu memeluknya.
Evelyn melepaskan pelukannya dan menatap tubuh Devano, "Kamu kurus tinggal jauh dari Mommy?" tanya Evelyn sembari mengamati tubuh Devano.
"Karen rindu sama Mommy jadi aku kurusan," jawab Devano dengan cekikikan.
"Tolong bawa koper Tuan Muda ke kamarnya!" perintah Evelyn pada salah satu pelayannya yang berada di taman.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, "Kita langsung makan malam dulu, Mommy sudah menyuruh pelayan membuatkan makanan kesukaanmu," ujar Evelyn.
Begitu banyak makanan yang tersaji di meja makan, Devano duduk di depan Evelyn, piringnya pun disisi dengan makanan kesukaannya udang asam manis.
"Terima kasih, Mommy!" ucap Devano.
Mereka makan malam bersama, sesekali Evelyn menanyakan bagaimana rasanya tinggal di Inggris.
Ponsel Tuan Raka berbunyi, Devano melirik ponsel papinya yang terletak di atas meja makan tidak ada nama dari penelpon.
"Kalian lanjutkan makannya," ujar Tuan Raka lalu pergi meninggalkan Devano dan Evelyn di meja makan.
"Mommy, ada apa memanggil Devano kembali?" tanya Devano.
"Mommy merindukanmu Nak ... Jadi Mommy memintamu kembali," jawab Evelyn, "Habisin makanannya, Mommy pergi dulu." Devano mengangguk.
Setelah menghabiskan makan malamnya Devano kembali ke kamarnya, dia mengambil ponselnya di dalam saku celana.
Dia mencoba menghubungi Adara tapi tidak ada jawaban dari wanita yang dia cintai.
Sebelum masuk ke kamarnya Devano berlari ke luar dari Mansion, Evelyn yang melihat putranya berlari keluar dia pun ikut keluar.
"Devano, kamu ingin pergi kemana?" tanya Evelyn.
__ADS_1
"Devano ada urusan sebentar," jawab Devano.
Devano masuk ke mobil lalu pergi meninggalkan Evelyn yang masih berdiri di depan pintu.
***
Adara yang berada di Kediaman Hadi Handoko, tengah ikut bergabung bersama keluarganya, dia tidak mendengar ponselnya berbunyi karena ada di kamar.
Semua keluarga tampak bahagia begitupun dengan Kira, ia mencoba tersenyum dan menyembunyikan hatinya yang masih terasa sakit.
Di depan pagar rumah Alex, Devano memberhentikan mobilnya dia keluar dan bertanya pada Security.
"Pak, saya bisa masuk?" tanya Devano.
"Aduh, maaf Mas. Majikan saya sedang tidak ada di rumah," jawab Security.
"Mereka kemana?" Devano kembali bertanya.
"Besok lusa acara pernikahan Nona Muda, mereka sekarang ada di Mansion Utama Keluarga Handoko."
DEG...!!! Devano menatap rumah wanita yang di cintainya, dia pun kembali ke dalam mobil.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau kembali lagi padaku, Adara!" gumam Devano.
Dia kembali ke rumahnya Evelyn melihat dan Tuan Raka sedang duduk di sofa Keluarga, Devano berlalu tanpa menyapa pada orang tuanya.
Devano masuk ke dalam kamarnya dia sangat frustasi mengetehui lusa wanita yang dicintainya akan menikah dengan pria lain.
"Kenapa aku begitu bodoh melepaskanmu!" Devano mengusap kasar wajahnya.
Devano kembali menghubungi Adara kali ini panggilannya di jawab, senyum Devano terukir saat mendengar suara Adara.
"Apa kita bisa bertemu?"
"....."
"Aku tahu, lusa kamu sudah mau menikah."
"....."
"Bai..." Ucapan Devano terputus saat Adara mematikan teleponnya.
Devano membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, rasa lelah membuatnya ingin tidur lebih awal.
Ketukan pintu membuat dia membuka kembali matanya yang sudah terpejam, ketukan pintu kembali terdengar dengan berat melangkah ia membuka pintu kamarnya.
"Papi!" ucap Devano saat melihat Tua Raka berdiri di depan pintu kamarnya.
Bersambung....
__ADS_1