
Arka langsung pergi memanggil Dokter yang ruangannya tidak jauh dari kamar ICU yang di tempati oleh Devano, sedangkan Adara kembali masuk ke dalam kamar.
Kenan yang tidak tahu ingin kemana akhirnya mengikuti Arka untuk memanggil Dokter.
Senyum bahagia terukir di wajah cantik Adara, dia begitu bahagia pria yang dicintainya akhirnya menggerakkan tangannya.
"Dev, ayo buka matamu!" pinta Adara seraya menggenggam tangan Devano.
Tapi tidak ada respon dari pria yang di cintainya, tidak lama Dokter pun datang. Suster meminta Adara untuk keluar karena mereka akan memeriksa kondisi Devano dahulu.
Adara keluar dia memilih duduk di kursi lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Pulanglah, Nona. Bukannya hari ini pernikahan anda," ucap Arka saat melihat Adara tengah duduk di kursi.
"Aku tidak jadi menikah," balas Adara.
Arka sedikit terkejut mendengar ucapan Adara, "Lalu untuk apa anda masih di sini, walaupun tidak menikah tapi anda tidak memiliki hubungan dengan Tuan Muda!" ujar Arka.
Deg... Hati Adara sakit mendengar perkataan Arka, memang benar dia tidak memiliki hubungan dengan Devano tapi dari lubuk hatinya ia masih mencintainya walaupun sudah disakiti oleh pria yang tengah berbaring di dalam kamar ICU itu.
Saat ingin bicara pintu kamar terbuka buka, Adara, Arka dan Kenan menghampiri Dokter yang baru saja keluar.
"Dokter bagaimana keadaan Devano?" tanya Adara.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, tapi dia belum sepenuhnya sadar. Ini adalah keajaiban kalian telah membantunya melewati masa kritisnya," jawab Dokter lalu pergi meninggalkan tiga orang itu yang masih berdiri di depan kamar.
"Apa ini kekuatan cinta, sebelum wanita ini datang kondisi Tuan Muda belum ada perubahan tapi setelah dia datang dan menemuinya masa kritis Tuan Muda bisa terlewati," batin Arka.
"Saya permisi dulu, Nona. Jika ingin melihat Tuan Muda silahkan," ucap Arka lalu pergi meninggalkan Adara dan Kenan di sana.
Ponsel Kenan berdering dan melihat kalau bundanya yang menghubunginya.
"Kakak, Bunda menelpon!" ucap Kenan.
__ADS_1
"Angkat saja, jika Bunda memintamu pulang kamu duluan saja," balas Adara lalu masuk ke dalam kamar untuk menemui Devano.
Ketika Adara masuk dia melihat pria yang dicintainya masih tertidur nyenyak di atas tempat tidur pasien, Adara kembali duduk di kursi disamping tempat tidur pasien.
Adara menatap wajah tampan pria yang dicintainya, dia menyentuh mata dan bibir Devano lalu tersenyum.
"Dev, saat jari telunjukmu bergerak aku kira kamu sudah sadar tapi kata Dokter kamu masih belum sadar sepenuhnya," ucap Adara, "Aku harap secepatnya kamu sadar, aku juga memakai cincin yang kamu berikan padaku di hutan," sambungnya.
Pintu kamar terbuka, "Kakak Ayah menyuruh kita kembali karena pernikahan akan di laksanakan sebentar lagi," ucap Kenan pada Adara.
Adara pun mengangguk dan menghapus air matanya yang menetes, dia pun beranjak berdiri saat ingin pergi genggaman tangannya dan tangan Devano tidak bisa terlepas.
Dia menatap wajah Devano tapi matanya belum terbuka juga, Adara mencoba melepaskan genggaman tangan Devano tapi tidak bisa.
"Dev!" ucap Adara.
"Dev, jika kamu mendengarku tolong lepaskan genggaman tanganmu aku akan datang menemui setelah acara pernikahan selesai," ujar Adara.
Genggaman Devano pun terlepas, Adara tersenyum dan mencium kening Devano lalu pergi meninggalkan Devano. Saat pintu tertutup tiba-tiba air mata Devano mengalir keluar dari sudut matanya.
"Kira selamat, aku harap kamu bahagia karena cintamu sudah menjadi milikmu." Ucap Adara sembari memeluk sahabatnya.
"Terima kasih Adara, aku juga berharap cintamu dan Devano bersatu tanpa halangan orang tua," balas Kira.
Adara berencana untuk mengklarifikasi jika dirinya dan Devano putra tunggal sekaligus pewaris keluarga Hanendra yang ada dalam video panas yang mengakibatkan terjadinya perdebatan antara para pemegang saham Perusahaan Handoko Group.
Acara pernikahan berjalan dengan lancar hingga selesai, para tamu sudah pulang semuanya hanya tinggal keluarga Dokter Syarif dan keluarga Handoko. Adara pun pamit untuk keluar dengan alasan ada yang ingin dia lakukan.
Kanaya pun menyuruh putra bungsunya untuk mengantar putrinya, Kenan mengiyakan ucapan Kanaya.
Di dalam mobil Kenan melirik kakaknya yang tengah duduk disebelahnya, "Kita mau kemana Kak?" tanya Kenan memecah keheningan di dalam mobil.
"Rumah sakit!" jawab Adara tanpa menoleh ke arah adiknya.
__ADS_1
"Oke!" balas Kenan.
Mobil berhenti di depan rumah sakit, Adara langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah sakit. Dia melewati lorong saat dia berada tidak jauh dari kamar ICU ia melihat kedua orang tua Devano ada di depan kamar.
Ingin rasanya dia pergi tapi ia sudah janji pada Devano akan datang kembali setelah acara pernikahan selesai, dengan keberanian yang lumayan Adara berjalan ke arah kamar.
Tuan Raka, Evelyn dan Arka menoleh ke arah Adara yang sudah ada di depan kamar juga. Wajah dingin dan tatapan tajam dari Tuan Raka membuat Adara sedikit takut.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak ingin berhubungan dengan keluarga Handoko!" ucap Tuan Raka dengan nada tinggi.
"Om, biarkan saya bertemu dengan Devano sebentar," pinta Adara.
"Putraku mulai menjadi anak pembangkang setelah kenal denganmu, dan karena kau juga putraku hampir kehilangan nyawa. Apa kau mengikuti jejak keluargamu yang telah membunuh keluarga Hanendra!" teriak Tuan Raka.
Adara terkejut mendengar ucapan papanya Devano, Membunuh? Keluarga Hanendra? Siapa? itulah yang ada di pikiran Adara.
Kenan menghampiri kakaknya yang tengah berdiri di depan Tuan Raka, "Kakak!" panggil Kenan.
"Sekarang kalian pergi, keluarga Handoko memang ingin menghabisi keturunan keluarga Hanendra," ucap Tuan Raka dengan tatapan dinginnya.
"Keluarga Handoko bukan pembunuh!" teriak Adara.
Dia tidak ingin keluarganya sampai dihina seperti ini apalagi harus dibilang pembunuh, "Keluargaku bukan pembunuh," ucapnya kembali.
"Arka bawa mereka pergi dari hadapanku sebelum aku melakukan apa yang bisa membuatnya tidak bisa menampakkan dirinya di depan putraku," perintah Tuhan Raka.
Arka pun mencoba membawa Adara pergi dari sana tapi Adara tetap kekeh untuk tetap disana, dia tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Devano.
"Nona, anda bisa datang saat Tuan Besar dan Nyonya pergi!" bisik Arka.
Adara pun mengangguk lalu mereka bertiga pergi meninggalkan Tuan Raka dan Nyonya Evelyn disana.
"Saya akan menghubungi anda jika orang tua Tuan Muda sudah pergi!" ujar Arka dan di balas dengan anggukan kepala Adara.
__ADS_1
Adara dan Kenan pun masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan rumah sakit, di perjalanan Adara menangis kenapa takdirnya seperti ini. Dia ingin takdir cintanya seperti orang tuanya, yang selalu harmonis tanpa rintangan apapun.
Bersambung....