
Arka kembali memejamkan matanya, Kavin pun berdiri dan berjalan ke arah pintu ruang ICU.
"Apa aku bisa melihatnya?" tanya Kavin.
"Masuklah, jangan lama-lama Dokter tidak mengijinkan Devano diganggu!" jawab Arka.
Kavin pun mengangguk, dia masuk ke dalam kamar ICU suara patient monitor terdengar di telinga Kavin, ia berjalan mendekati Devano yang tengah terbaring di atas ranjang pasien.
"Terima kasih sudah menyelamatkan adikku, keluarga Handoko berhutang nyawa padamu," ucap Kavin ketika dia sudah duduk di kursi yang ada disamping ranjang pasien Devano.
"Semoga kamu cepat sadar," ucap kembali Kavin.
Dia pun keluar dari kamar ICU dan pamit pada Arka. Kavin pun masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan rumah sakit, saat sampai di kediaman Handoko dia bergegas pergi ke dalam kamarnya.
Kavin kaget ketika Adara masuk ke dalam kamarnya, Adara mendekati kakaknya yang tengah menatapnya dengan mata sembab Adara memeluk Kavin.
"Kakak, apa dia baik-baik saja?" tanya Adara tapi Kavin tidak menjawabnya.
Adara menatap kakaknya air matanya kembali mengalir, "Kakak!" panggil Adara.
"Ah! Dia masih belum sadar," jawab Kavin.
Adara menangis dalam pelukan Kavin, ingin rasanya dia pergi menemui Devano tapi dia tidak ingin melawan Ayahnya.
Pintu kamar Kavin kembali terbuka, Kanaya melihat kedua anaknya ada di dalam sembari berpelukan.
"Ayo turun, Dokter Syarif dan keluarganya datang." Ucap Kanaya.
Kavin dan Adara saling menatap dengan kebingungan, mereka bertiga pun turun dan pergi ke ruang tamu di sana sudah ada semua keluarga Handoko dan keluarga Dokter Syarif.
Sebagai orang tertua Hadi Handoko memulai pembicaraan, "Dokter Gunawan, apa ada yang perlu dibicarakan sebelum pernikahan?" tanya Hadi Handoko.
"Putra saya ingin menyampaikan sesuatu pada keluarga anda Tuan," jawab Dokter Gunawan.
Dokter Syarif melihat Adara yang masih dalam pelukan Kavin, dia mengambil nafas dalam-dalam untuk memulai pembicaraannya.
"Sebelumnya saya ingin minta maaf, karena keegoisan yang sesaat aku menerima pernikahan ini padahal aku tidak mencintai Adara." ucap Dokter Syarif, semua orang yang ada di sana.
"Tapi aku tidak akan membatalkan pernikahan ini tapi aku meminta pada Tuan Handoko tolong kabulkan permintaan saya untuk mengganti Adara dengan Kira," sambung Dokter Syarif.
"Apa-apaan ini Syarif!" ucap Dokter Gunawan pada putranya.
"Aku mencintai Kira, Pa!" ujar Dokter Syarif.
Kira sangat terkejut mendengar pria yang dicintainya mengatakan perasaannya, begitupun dengan Adara dia masih tidak percaya Dokter Syarif mengatakan perasaannya pada Kira di depan semua keluarga.
"Huh! Baiklah Nak Syarif saya akan mengabulkan permintaanmu ketika keluarga kami menginginkannya," ucap Hadi Handoko.
__ADS_1
"Adara apa kau siap digantikan oleh Kira?" tanya Hadi Handoko pada cucu perempuannya.
Adara melihat Dokter Syarif yang tengah tertunduk begitupun juga dengan Kira yang menundukkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa, Opa. Jika mereka saling mencintai aku akan bahagia saat mereka bersama," jawab Adara sembari tersenyum manis.
Hanya Alex yang tidak ingin pernikahan putrinya dibatalkan, tapi Adara memohon pada Ayahnya untuk menerima permintaan Dokter Syarif untuk menikahi Kira.
"Sebegitu tidak inginnya dirimu menikah denganku Adara," batin Dokter Syarif ketika melihat Adara memohon pada Alex untuk menerima permintaannya.
Hadi Handoko pun menerima permintaan Dokter Syarif untuk mengganti Adara dengan Kira, dan pernikahan akan tetap di laksanakan sesuai rencana.
Di dalam kamar Adara mengambil kotak cincin yang di berikan oleh Devano, dia pun memakainya. "Aku akan menemuimu Dev," ucap Adara.
***
Pagi hari Adara terbangun karena seseorang mengetuk pintu kamarnya, dia turun dari tempat tidurnya lalu berjalan ke pintu untuk membukanya.
"A-ayah!" ucap Adara.
"Apa Ayah boleh masuk?" tanya Alex pada putrinya, Adara pun mengangguk.
Adara menutup pintu kamar lalu mengikuti ayahnya yang kini sudah duduk di tepi tempat tidurnya.
"Ada apa Ayah, kenapa pagi-pagi datang ke kamarku?" tanya Adara sembari duduk di samping Alex.
Alex menatap putrinya yang tengah melihatnya, "Apa kamu yang meminta pada Dokter Syarif untuk menggantikanmu dengan Kira?" tanya Alex balik.
"Kira mencintai Dokter Syarif dari dulu, dan aku tidak bisa merusak cinta itu Ayah. Kira sahabatku sekaligus sepupuku dan aku tidak bisa mencintai Dokter Syarif walaupun diriku sudah berusaha," ujar Adara.
"Tapi Ayah lihat Dokter Syarif tidak benar-benar mencintai Kira," ucap Alex.
"Itu pemikiran Ayah."
"Apa kamu masih mencintai pria brengsek itu?" tanya Alex kembali.
Adara melihat ayahnya lalu kembali menunduk, dia takut mengatakan iya pada Alex dan memilih untuk diam.
"Kenapa hanya diam, apa itu sama dengan jawaban ya."
"Apa Ayah akan marah? Aku ...."
"Tidak, maafkan Ayah karena semalam sampai harus menampar wajah putri Ayah," ucap Alex sembari mengangkat wajah Adara.
Adara langsung memeluk Alex dia sangat bahagia ternyata ayahnya bisa menerima cintanya dengan Devano.
"Tapi Ayah tidak akan memaafkan pria brengsek itu jika dia sampai membuat putri kesayangan Ayah menangis lagi."
__ADS_1
"Ayah!"
Tok...!! Alex dan Adara menoleh ke arah pintu.
"Bunda sedang mencari Ayah, katanya Ayah menghilang tiba-tiba." Ucap Kenan.
Alex pun berdiri dan mencium pucuk kepala Adara lalu pergi meninggalkan kedua anaknya.
Adara memanggil Kenan masuk, "Ada apa, Kak?" tanya Kenan.
"Antar Kakak ke rumah sakit," jawab Adara.
"Tapi Kak ...." Ucapan Kenan terpotong saat Adara menempelkan PS5 di wajah adiknya.
"Masih tidak mau?" tanya Adara.
"Kalau bayarannya seperti ini aku siap Kak, kemanapun Adik ganteng Kakak ini akan mengantar," jawab Kenan sembari tersenyum.
"Ayo!" ajak Adara.
"Aku belum man...."
Adara langsung menarik tangan adiknya untuk mengantar dirinya pergi menjenguk Devano.
Setelah mendapat SMS dari Kavin mobil Kenan berhenti di depan rumah sakit tempat Devano di rawat, Adara berlari di lorong mencari kamar ICU.
"Kakak hah.. hah.. kenapa larinya hah.. hah.. cepat sekali hah.. hah..!" ujar Kenan sembari ngos-ngosan.
"Di sana!" ucap Adara saat melihat Arka tengah berdiri di depan kamar ICU.
Adara berlari menghampiri Arka yang tengah berdiri di depan kamar dengan wajah letih, "Arka!" panggil Adara.
Arka menoleh ke asal suara yang memanggil namanya, dia melihat Adara berdiri tidak jauh darinya.
"Nona Adara," ucap Arka.
"Bagaimana keadaan Devano?" tanya Adara.
"Tuan Muda belum sadar," jawab Arka.
Adara langsung masuk ke dalam kamar Devano, bau obat dan suara patient monitor terdengar ditelinganya.
Dia duduk di kursi dan menggenggam tangan Devano, tanpa terasa air matanya jatuh mengenai punggung tangan Devano.
"Dev, aku datang menemuimu tapi kamu belum bangun," ucap Adara, "Dev, aku memakai cincin yang kamu berikan padaku jadi aku mohon bangunlah. Ayah juga sudah menerima hubungan kita, Dev!" sambungnya.
Jari telunjuk Devano bergerak, Adara melihatnya dia berlari keluar untuk memberi tahu pada Arka jika jari Devano sudah bergerak.
__ADS_1
Bersambung.....
Maaf baru bisa update karena baru keluar dari rumah sakit, sekali lagi author minta maaf 🙏🙏