
Di dalam kamar Devano dan papinya duduk di sofa, Tuan Raka menatap tajam ke arah Devano.
"Papi tahu kau dari kediaman Alex," ucap Tuan Raka dengan wajah dinginnya.
Devano terdiam dia tidak tahu papinya mengetahui dirinya dari kediaman Alex, dia menatap papinya dengan tatapan dingin.
"Papi memata-mataiku?" tanya Devano dengan nada kesal.
"Tidak! Tapi anak buah papi melihatmu disana," jawab Tuan Raka, "Ingat Devano, jika kau ingin melihat gadis itu bahagia lakukan apa yang Papi perintahkan," ucap Tuan Rakan dengan suara tegasnya.
Devano mengepalkan kedua tangannya mencoba menahan amarahnya yang ada di dadanya, ingin rasanya dia memukul papinya tapi untuk saat ini dia tidak berdaya karena kekuasaan belum sepenuhnya ada di tangannya.
Tuan Raka berhenti di depan pintu sebelum keluar dari kamar Devano, "Papi sudah memesan tiket untukmu kembali ke Inggris besok, Papi tidak mau kamu membuat masalah di kemudian hari," ucap Tuan Raka.
***
Devano terbangun dia melihat jam ponselnya teenyata sudah pukul delapan pagi, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya lalu pergi bertemu dengan Adara sebelum dia berangkat ke Inggris.
Sepuluh menit dia sudah selesai bersiap-siap, Devano menatap cincin yang sudah ia persiapkan untuk Adaradan berharap keputusan wanita yang di sayanginya itu akan berubah lalu kembali padanya.
"Aku harap kamu mengubah keputusanmu Adara," gumam Devano lalu memasukkan cincin itu ke tempatnya.
Devano pun turun ke lantai bawah untuk pamit pada orang tuannya, Evelyn dan Tuan Sanjaya sudah menunggu Devano dibawah.
"Mom, Papi dimana?" tanya Devano saat dia tidak melihat Tuan Raka.
"Di ruang kerjanya," jawab Evelyn.
"Aku akan kesana, aku ingin pamit," ujar Devano dan di angguki Evelyn.
Devano berjala menuju ruang kerja papinya, pintunya terbuka setengah. Saat Devano ingin langsung masuk tanpa sengaja dia mendengar percakapan papinya bersama seseorang lewat telepon.
"Gagalkan pernikahan itu, jangan biarkan mereka melangsungkan acara." ucap Tuan Raka.
"....."
Devano tersenyum mendengar papinya juga ingin peenikahan itu tidak terlaksana, tapi tiba-tiba senyum Devano hilang dan wajahnya berubah dingin mendengar perkataan papinya.
"Culik putri Alex," ucap Tuan Raka sembari tertawa.
Devano mengetuk pintu dan mencoba menenangkan dirinya berpura-pura tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh papinya.
"Pi, aku pamit!" Devano menghampiri papinya dan langsung memeluknya.
"Apa perlu papi antar?" tanya Tuan Raka.
__ADS_1
"Tidak, Arka yang akan mengantarku," jawab Devano.
***
Devano sudah sampai di cafe tempat dia dan Adara janjian dia pun melihat jam tangannya, "Setidaknya masih ada waktu setengah jam," ucap Devano.
Dia memesan kopi untuk menemaninya menunggu wanita yang di cintainya. Dua puluh menit berlalu Adara masih belum datang, Devano mencoba menghubungi ponsel Adara tapi di luar jangkauan, ia mencoba berulang kali tapi tetap saja sama.
Devano membayar kopinya lalu pergi keluar dari cafe menghampiri Arka yang tengah menunggu di mobil.
"Arka kita ke Mansion Keluar Handoko!" perintah Devano.
"Apa Nona Adara tidak bisa datang?" tanya Arka.
"Ponselnya tidak bisa di hubungi, aku takut Papi melakukan sesuatu padanya," jawab Devano.
"Tapi sepuluh menit lagi pesawat Tuan Muda ak...." ucapan Arka terpotong karena tatapan tajam Devano.
Arka membawa mobilnya ke Mansion Keluarga Handoko sesuai keinginan Tuan mudanya, lima belas menit mobil Arka berhenti di depan pagar tinggi berwarna putih, halaman luas yang di penuhi dekorasi pernikahan dan kursi untuk para tamu undangan.
"Apa kita pulang saja Tuan Muda?" tanya Arka saat melihat wajah sedih Devano.
"Tidak, kita sudah sampai disini, maka aku harus bertemu dengan Adara," jawab Devano.
Kira yang melihat Devano dan Arka berjalan ke arahnya tampak kebingungan, "Untuk apa kalian kemari, bukannya Adara dari tadi pergi untuk menemuimu?" tunjuk Kira ke arah Devano.
"Aku belum bertemu dengan Adara makanya aku kemari untuk menemuinya," ujar Devano.
Tiba-tiba mereka bertiga saling memandang satu sama lain, Kanaya yang keluar tanpa sengaja melihat Devano berada di halaman bersama keponakannya.
Dia pun menghampiri mereka bertiga yang masih saling menatap satu sama lain, "Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kanaya saat dia sudah sampai di tempat mereka bertiga.
Kira, Devano dan Arka menoleh ke arah Kanaya yang sedang menatap tajam padanya.
"Tante, Adara menghilang," ucap Kira.
Trang...!! Nampan yang berisi bunga hias terlepas dari dari tangan Kanaya, badannya langsung lemas tak bertenaga dan hampir tersungkur di lantai tap dengan cepat Devano menangkapnya.
"Jangan khawatir Nyonya, saya akan mencari Adara," ucap Devano.
Kanaya begitu syok sampai-sampai ucapan Devano tidak dia dengar, "Putriku!" gumam Kanaya.
"Arka berikan kunci mobilnya," ucap Devano.
"Aku akan pergi bersamamu, Tuan Muda!" ujar Arka.
__ADS_1
"Tidak, kau harus membawa Tuan Alex dan Kavin untuk menyelamatkan Adara saat malam sudah datang jika aku belum menghubungimu."
"Kemana?" tanya Arka dengan wajah kebingungan.
"Hutan timur, dekat dengan Villa Keluarga Hanendra," jawab Devano.
Akra pun mengangguk dan menepuk lengan Tuan mudanya, tanpa berpikir panjang Devano berlari menuju mobilnya yang terparkir di luar pagar.
Raut wajah kekhawatiran terlihat jelas, dia pun masuk kemobil dan bergegas meninggalkan Mansion Keluarga Handoko menuju ke Villa Keluarga Hanendra.
Satu jam perjalanan akhirnya Devano sampai di depan Villa milik keluarga besarnya, dia berlari memasuki hutan timur untuk mencari Adara.
Saat dirinya sudah terlalu dalam dia melihat ada sebuah bangunan yang berada di tengah hutan lebat, Devano yakin Adara ada di dalam bangunan itu.
"Tunggu aku Adara, aku akan menolongmu," gumam Devano dalam hati.
Devano mengintip di lubang kecil yang ada di jendela kayu, dia melihat Adara tengah menangis sembari memeluk lututnya.
"Adara," panggil Devano dengan suara kecil.
Adara mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Adara di jendela," ucap Devano dengan suara kecil.
Adara berjalan ke jendala saat ingin membukanya pintu ruangan itu terbuka, anak buah Tuan Raka masuk sembari tersenyum.
"Tikus kecil ingin pergi? Tidak akan semudah itu gadis cantik," ucap salah satu anak buah Tuan Raka seraya memegang rambut Adara.
Devano yang melihat kejadian itu sangat marah, tanpa persiapan apapun dia berlari memasuki bangunan tua dan menerobos untuk melindungi wanita yang di cintainya.
"Jangan menyentuh apapun yang ada di tubuhnya!" teriak Devano dengan tatapan tajam.
"Devano?" gumam Adara.
"Pahlawannya sangat berani. Hey anak muda lebih baik kau pikirkan nyawamu jika ingin menyelamatkan gadis can..." ucapan preman itu terpotong saat Devano melayangkan pukulan di wajah preman yang tengah memegang rambut Adara.
"Anak kurang ajar, terima ini brengsek!" Preman itu memukul perut Devano.
"Ugh!" pekik Devano.
Devano tersungkur di lantai, dia mencoba tersenyum saat melihat Adara tengah menangis menatapnya.
Devano memberi isyarat pada Adara untuk lari saat dia memberinya kode, Adara yang mengerti maksud Devano pun mengangguk dengan pelan.
Bersambung....
__ADS_1