HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 54


__ADS_3

Adara dan Kenan pun sampai di kediaman Handoko, mereka masuk dan melihat sekeliling ternyata sudah sepi. Adara dan Kenan pun pergi ke kamar masing-masing, Adara membuang dirinya di atas tempat tidur, ucapan Tuan Raka kembali terdengar di telinganya.


"Apa benar akar dari masalah ini adalah Opa membunuh salah satu keluarga Hanendra?!" gumam Adara.


Adara mengirimkan pesan pada Arka kalau orang tua Devano sudah pulang tapi tidak ada jawaban dari Arka membuatnya menghembuskan nafas kasar "Hah!"


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, mata Adara sudah mulai tertutup tiba-tiba ponselnya bergetar tanda sebuah pesan masuk.


"Mereka sudah pulang dan malam sudah larut, Nona bisa datang besok pagi." Isi pesan singkat dari Arka.


Adara hanya membaca pesannya lalu melanjutkan tidurnya yang tertunda karena pesan singkat dari Arka.


***


Pagi menjelang Alex beserta keluarga kecilnya pamit kepada Hadi Handoko, ucapan Tuan Raka masih melekat di kepala Adara ingin rasanya dia menanyakan apa benar opanya telah membunuh salah satu keluarga Hanendra? Tapi wanita yang berpakaian merah itu masih ragu.


"Lain kali aku bertanya pada Opa," gumam Adara di dalam hatinya.


Adara mengendarai mobilnya sendiri sedangkan kedua orang tuanya dan saudaranya berada di mobil Kavin, dia ingin mampir sebentar di rumah sakit untuk melihat kondisi Devano lalu pergi ke butik miliknya.


Mobil berwarna merah berhenti di depan rumah sakit, Adara pun keluar dan masuk ke dalam rumah sakit. Setibanya di depan kamar ICU dia meminta ijin untuk menemui Devano pada Arka.


"Aku ingin melihat kondisi Devano, apa kamu mengijinkanku? tanyanya pada Arka yang duduk di kursi.


"Masuklah Nona, semoga Tuan Muda bisa sadar jika Nona ada disampingnya," jawab Arka.


Adara pun masuk ke dalam kamar, dia melihat Devano yang masih belum sadar dengan beberapa alat bantu. Ia pun mendekati Devano dan duduk disampingnya.


"Selamat pagi, Dev!" sapanya, "Setiap aku datang kamu selalu tidur," sambungnya sembari tersenyum.


Adara menggenggam jemari tangan Devano, "Baiklah, kalau kamu tidak ingin bangun aku akan pergi!" ancam Adara.


Tapi masih tidak ada respon dari Devano membuat Adara melepaskan genggamannya dan beranjak berdiri untuk meninggalkannya, saat dia berbalik tiba-tiba tangan Adara di genggam.


Senyum manis terukir di wajah cantiknya ketika ia melihat pria yang di cintainya tengah menatapnya, "Dev!" panggilnya.


"Aku akan mengabari Arka untuk memanggil Dokter," ucap Adara.


Saat Adara berbalik pintu kamar terbuka, Tuan Raka dan Evelyn menatap tajam ke arah Adara yang masih di genggam tangannya oleh Devano.


"Putra Mommy sudah sadar." Evelyn menghampiri Adara dan melepaskan genggaman tangan Devano.


"Arka, panggil Dokter!" perintah Tuan Raka tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Adara.

__ADS_1


"Selamat pagi!" sapa Adara tapi tidak ada yang membalas sapaannya.


Ketika Tuan Raka ingin bicara Dokter dan Arka sudah datang, Suster meminta mereka berempat keluar karena Dokter akan memeriksa kondisi pasien.


"Aku menyuruhmu menjaga putraku untuk melindunginya dari orang yang ingin mencelakainya!" ujar Tuan Raka dengan tegas pada Arka yang berdiri tidak jauh darinya.


"Maafkan saya, Tuan!" balas Arka sembari membungkukkan badannya.


Adara yang tidak ingin berlama-lama di intimidasi oleh Tuan Raka memilih pamit pergi, walaupun ia masih ingin berada di sana tapi situasinya tidak mendukung.


***


Di butik Adara tengah termenung di mejanya, Echa yang duduk di depannya menatap bingung. "Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Echa.


"Tidak ada!" jawabnya diikuti dengan gelengan kepala.


"Kamu tidak ingin bertanya padaku?" tanya Echa kembali.


Adara menatap sahabatnya yang sedang duduk di depannya. "Kmu ingin aku bertanya apa?"


"Kamu tidak ingin tahu, aku sedang memikirkan apa?!"


"Tidak!" ucap Adara seraya tersenyum.


Drrrttt... Drrrttt... Ponsel Adara berdering dengan cepat ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


Echa berlari kesamping Adara untuk melihat sahabatnya juga, "Apa semalam tidurmu nyenyak atau harus begadang sampai pagi," ejeknya diikuti ketawa mereka membuat wajah Kira memerah.


"A-aku tidak mengerti apa yang kalian maksud?!"


"Gimana rasanya jadi pengantin baru, Kira?" tanya Echa.


Adara menoleh ke arah sahabatnya yang ada disampingnya. "Kamu juga ingin menikah? Dengan siapa?" tanyanya dengan selidik.


"Dengan kak Kavin, hahaha!" jawab Echa seraya tertawa terbahak-bahak.


"Aku tidak merestui kalian," ucap Adara.


"Aku juga!" teriak Kira di seberang telepon.


"Kalian!" Echa memasang wajah cemberutnya membuat kedua sahabatnya tertawa.


Setelah panggilan terputus Adara ingin menghubungi Arka tapi dia sedikit takut jika Tuan Raka masih berada di rumah sakit, itu bisa membuat Arka kena amarah papanya Devano. Dia memilih untuk tidak menghubunginya tapi hatinya sangat gelisah ingin mengetahui keadaan Devano.

__ADS_1


Ping...! sebuah pesan masuk di ponselnya.


"Nona, Tuan Muda ingin bertemu." Isi pesan singkat dari Arka.


"Baiklah aku akan ke sana tiga puluh menit lagi." balasnya.


Dengan cepat Adara menyelesaikan pekerjaannya, tapi saat salah satu pegawainya membawakan makan siang dengan menu daging membuatnya pusing dan perutnya seakan di kocok dari dari dalam.


"Ria tolong bawa makanan itu keluar, aku tidak bisa mencium baunya!" pinta Adara sembari menutup mulutnya.


"Tapi kan Bu Adara minggu lalu ingin sekali makan daging, tapi kenapa sekarang menolak?" tanya Ria dengan wajah kebingungan.


"Pokoknya bawa itu keluar," perintah Adara.


Pegawainya akhirnya membawa keluar makanan siang Adara, Echa yang melihatnya langsung bertanya pada Ria pegawai di butik Adara.


"Kenapa kamu membawa kembali makanan ini?" tanya Echa.


"Bu Adara tidak ingin makan, Bu Echa!" jawab Ria.


"Ya sudah!" ujar Echa lalu pergi ke ruangan Adara.


Di dalam ruangan, Adara sedang memijit kepalanya yang terasa sangat pusing. "Aku akan ke rumah sakit untuk memeriksa kondisiku, apa ini efek kelelahan?" gumamnya.


Klek... Echa masuk ke dalam ruangan Adara, dia melihat sahabatnya yang terlihat pucat.


"Kamu sakit, Ra?" tanya Echa seraya menempelkan tangannya di dahi sahabatnya.


"Seperti begitu, kepalaku sangat pusing," jawabnya sembari memijat pelipisnya.


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," ujar Echa.


Echa pun membantu Adara berdiri dan memapahnya keluar dari ruang kerja Adara, "Kita pakai mobilku saja," ucap Echa dan diangguki oleh Adara.


Ketika Adara masuk ke mobil Echa pusingnya langsung hilang membuatnya sedikit bingung, "Apa yang terjadi, kenapa pusing kepalaku langsung hilang?!" gumamnya dalam hati.


Adara menoleh kesamping saat Echa masuk ke dalam mobilnya ingin rasanya Adara untuk meminta pada sahabatnya agar mengantarnya ke rumah sakit di mana Devano di rawat.


"Apa kamu masih pusing?" tanya Echa setelah menghidupkan mesin mobilnya.


"Tidak! Pusingku sudah hilang," jawabnya.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Echa dengan wajah kebingungan.

__ADS_1


"Entahlah! Tapi kita ke rumah sakit saja periksa, aku tidak ingin Ayah dan Bunda khawatir jika melihatku sakit nantinya," ujar Adara.


Echa pun menuruti keinginan sahabatnya, mereka berdua meninggalkan butik dan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Adara.


__ADS_2