
Kira menatap pantulan dirinya di cermin, senyum manis terukir di wajah cantiknya. Dokter Syarif mengetuk pintu karena Kira belum juga keluar.
"Kira apa masih lama?" tanya Dokter Syarif di balik pintu.
"Aku gugup sekali," gumam Kira.
"Ceklek!" Pintu ruang ganti pun terbuka, Kira keluar dengan gaun pengantin yang indah di tubuhnya.
Sesaat Dokter Syarif terpana saat Kira keluar dari ruang ganti, dengan cepat dia mengalihkan topik dan pandangannya.
"Apa ini cocok dengan gaun itu?" tanya Dokter Syarif.
"Emm ... aku rasa yang di tangan kanan deh, coba Dokter pakai," jawab Kira.
Dokter Syarif pun memakai jas yang telah di pilihkan Kira, jas berwarna putih cocok untuknya sehingga membuat Dokter Syarif sangat tampan di mata Kira.
"Apa ini bagus?" tanya Dokter Syarif.
"Ya, sangat cocok untuk Dokter." Mereka pun tertawa dan memilih jas berwarna putih tulang.
Di kediaman Alex, Adara masih memantau mobil berwarna hitam itu. "Dasar pria Br*ngsek." gerutu Adara.
Ping.... Sebuah pesan masuk di ponsel Adara.
"Aku sudah memilih jas, untuk hari pernikahan kita."
Adara hanya membaca pesan dari Dokter Syarif, lalu dia kembali fokus pada mobil itu.
"Aku harus memberi tahu Ayah, mencari penjaga untuk keamanan rumah ini." gumam Adara.
Adara pergi ketempat tidurnya, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Pernikahanku minggu depan, aku akan menjadi istri dari Dokter Syarif, tapi kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku." Adara memejamkan matanya.
"Adara, apa kau ingin meninggalkanku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Devano menggenggam jemari Adara.
Adara melangkah mundur, dia ingin berbicara tapi suaranya tidak bisa keluar.
Dengan cepat Devano menarik Adara dalam pelukannya, "Apa kamu ingin memisahkanku dengan putra kita?" bisik Devano.
Adara menatap bingung mendengar ucapan Devano, dia menggelengkan kepalanya berharap apa yang Devano katakan tidak benar.
"Adara, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak ingin berpisah denganmu dan bayi kita." Devano mengusap perut Adara.
Saat Devano ingin mencium bibir Adara, tiba-tiba mata Adara terbuka. Dia bangun dengan keringat dingin bercucuran di keningnya, "Apa itu mimpi, kenapa begitu nyata?" gumam Adara.
Pintu kamar Adara terbuka, Kenan memberi tahu kalau Adara ditunggu di meja makan, mereka berdua pun turun bersama dan dan ikut bergabung dengan keluarga.
Kanaya memberikan makanan pada kedua anaknya yang baru bergabung, sedangkan Adara pikirannya masih pada mimpinya yang baru saja dia alami.
"Itu hanya bunga tidur, tidak akan pernah jadi nyata." Batin Adara.
__ADS_1
Dia memegang perutnya, Kanaya yang duduk di sebelahnya melihat putrinya sedang mengusap perutnya.
"Adara, apa perutmu tidak enak Nak?" tanya Kanaya, membuat semua orang yang ada di meja makan menatap Adara.
"Ti-tidak Bunda, cuma agak lapar saja." Jawab Adara sambil tersenyum.
"Aku harus memastikannya sendiri," batin Adara.
Di kamar Kanaya terlihat termenung, dia menatap foto pernikahannya dengan Alex, tanpa terasa air matanya menetes di pipinya.
Klek! Pintu terbuka, Alex masuk lalu menutup kembali pintu kamarnya.
"Kanaya." Panggil Alex.
"Ya, Mas," jawab Kanaya.
"Apa adara sakit? Dia tampak pucat dan seperti banyak pikiran," tanya Alex.
"Entah Mas, akhir-akhir ini dia tidak ingin menceritakan apapun padaku." Jawab Kanaya lalu meletakkan foto itu di atas meja.
Dia menghampiri suaminya yang sudah ada di atas kasur, Kanaya menatap wajah Alex lalu tersenyum.
"Mas, andaikan waktu bisa di ulang. aku tidak ingin bertemu denganmu," ujar Kanaya.
"Apa? Jadi kamu menyesal menikah denganku?" tanya Alex.
"Haha, karena permusuhan keluargamu membuat putriku jarang sekali tersenyum," jawab Kanaya.
"Tapi aku bahagia Kanaya, kamu sudah memberiku keluarga yang sempurna dan tiga seorang anak." Ucap Alex.
Kanaya mengangguk-anggukkan kepalanya, Alex menggeser posisinya dengan mendekati Kanaya. "Apa malam ini adalah waktu yang bagus untuk begadang," bisik Alex di telinga Kanaya.
"Di usia tua, tidak baik begadang." Kanaya mencoba menolak keinginan Alex.
Alex tidak menghiraukan perkataan Kanaya dia dengan cepat mengambil posisi yang membuat Kanaya tidak bisa mengelak lagi.
"Kenapa Mas makin tua makin mesum," ucap Kanaya.
"Aku mesum pada istriku, dan karena mesum ini aku memiliki tiga anak, sekarang aku ingin menambahnya lagi."
"Dari awal kita bertemu wajah Mas memang sudah terlihat mesum, pantas saja aku bisa langsung ham...." Kanaya tidak melanjutkan perkatanyaan membuat Alex ikut diam di posisinya.
Dengan cepat Kanaya mendorong Alex lalu berlari ke pintu, saat ingin membukanya Alex lebih dulu menahannya.
"Kamu ingin kabur kemana?" tanya Alex.
"Aku mau ke kamar Adara Mas," jawab Kanaya.
"Apa kamu ingin melakukannya di kamar putrimu?" tanya Alex kembali tapi tidak di jawab dengan Kanaya.
Alex pun membiarkan istrinya keluar, "Terpaksa malam ini gagal." Gumam Alex.
__ADS_1
Dia pun menyusul Kanaya ke kamar Adara, saat Alex sudah berada di dekat pintu kamar Adara, dia mendengar perkataan istrinya yang membuatnya terkejut.
"Adara, jawab dengan jujur apa kamu sedang hamil?" tanya Kanaya.
"Adara ti-tidak tahu Bun." Jawab Adara.
"Besok Bunda akan membawamu untuk periksa."
"Ini belum satu bulan Bun, apa itu sudah terbukti? Bunda aku yakin kalau aku tidak hamil." Adara mencoba menjelaskan pada bundanya yang sudah terlihat khawatir padanya.
Kanaya memeluk putrinya, "Bunda berharap, kamu tidak mengalami hal yang pernah Bunda rasakan Nak," batik Kanaya.
"Sekarang Bunda kembali ke kamar, Ayah pasti sedang menunggu," ujar Adara.
"Bunda akan tidur disini," ucap Kanaya.
"Aku bukan anak kecil lagi Bunda, sebentar lagi aku akan menikah."
"Baiklah. Jika ada apa-apa padamu atau beban pikiran yang tidak bisa kamu tanggung, bicaralah pada Bunda."Ucap Kanaya lalu mencium kening putrinya, Adara pun mengangguk.
Saat Kanaya sudah pergi meninggalkan kamarnya Adara menutup pintu, dia kembali ke tempat tidurnya.
"Aku tidak bisa bilang apapun pada Bunda, cukup hanya aku yang tahu." Gumam Adara.
****
Pagi ini Adara sudah bersiap-siap untuk pergi ke butiknya, ketika ia sudah ada di meja makan, ponselnya berdering.
"Halo, Dokter."
"....."
"Baiklah. Aku juga ingin bilang kalau tidak perlu mengantarku ke butik."
"...."
Adara pun memutuskan panggilannya, tidak lama Kavin dan Kenan datang dan duduk di kursi untuk sarapan.
"Ayah, besok aku akan pergi ke Inggris." Ucap Kavin.
Adara menatap kakaknya yang sedang duduk di depannya.
"Untuk apa kesana?" tanya Alex.
"Salah satu teman kuliahku akan menikah, aku mendapatkan undangan darinya," jawab Kavin, "aku akan kembali sebelum pernikahan Adara."
"Ya, sudah. Kamu selesaikan pekerjaanmu lalu urus keberangkatanmu." Ujar Alex.
"Baik Ayah."
Setelah sarapan, Adara pamit untuk ke berangkat ke butik, dia pun masuk kedalam mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
Bersambung....