HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 33


__ADS_3

Tuan Sanjaya yang merasa tersinggung karena teriakannya di abaikan oleh Kanaya, saat tangan Tuan Sanjaya ingin menarik lengan Kanaya Kenan lebih dulu mencengkram lengan Tuan Sanjaya.


"Jangan berani menyentuh bagian tubuh Bundaku dengan tangan kotormu lelaki tua." Kenan menatap tajam Tuan Sanjaya.


Kanaya menoleh ke arah Kenan dengan tersenyum, lalu kembali menatap tajam ke arah Evelyn, "Aku bisa berbuat apa saja jika itu menyangkut dengan anak-anakku." Ucap Kanaya.


Hati Kanaya kembali marah saat mengingat kondisi putra sulungnya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.


"Kamu tau aku adalah Nyonya Hanendra, aku bisa membuat suami dan putraku menghancurkan keluarga Handoko." Ucap Evelyn.


"Kau pikir Keluargaku takut dengan Keluargamu? Kau hanya wanita yang lemah, hanya karena cintamu tidak di balas dengan suamiku kau dan orang tuamu mengambil putraku dan menyiksanya dengan obat." Kanaya melepaskan tarikannya di rambut Evelyn.


"Kenan ayo kita kembali." Panggil Kanaya.


Saat Kanaya membuka pintu mobil dia kembali menoleh kearah Evelyn dan Tuan Sanjaya, "Oh iya, aku dan Keluarga Handoko akan siap menghadapi Keluarga Hanendra." Kanaya dan Kenan tersenyum mengejek, dan mereka pun masuk kedalam mobil lalu meninggalkan kediaman Hanendra.


Evelyn mengepalkan kedua tangannya dan "Aku tidak akan mengampuni penghinaan ini Kanaya, aku akan membuat putrimu menderita." Ucap Evelyn.


*****


Mobil Kenan berhenti di depan rumah sakit, Kanaya keluar dari mobil. Kenan memarkirkan mobilnya sedangkan Kanaya masuk ke rumah sakit.


"Kanaya." Panggil Alex.


Kanaya berbalik dan melihat suaminya bersama putra bungsunya berjalan ke arahnya.


"Mas." Kanaya tersenyum.


"Kamu tidak apa-apa?" Alex memeriksa seluruh tubuh Kanaya, Kanaya yang merasa malu dengan kelakuan Alex mencubit perut suaminya.


"Aw! Apa yang kamu lakukan, kenapa mencubitku." Tanya Alex yang sedang memegangi perutnya yang Kanaya cubit.


"Kamu tidak melihat, semua orang menatap kita." Ucap Kanaya.


Alex melihat sekeliling lalu melihat ke arah putranya, Kenan yang menyadari ayahnya menatapnya dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Kenan yang merasa risih karena ayahnya masih menatap ke arahnya membalas menatap ayahnya "Ke-kenapa ayah menatapku seperti itu? Aku tadi tidak melihat apa yang ayah lakukan pada bunda." Ucap Kenan.


"Kalian berdua hanya mau diam disini? Aku akan ke kamar Kavin duluan." Ucap Kanaya.


"Ayo." Alex menggenggam tangan istrinya dan masuk ke dalam lift di susul oleh Kenan.


*****


Kavin membuka matanya, dia melihat sekeliling dan terkejut melihat pacar kakaknya tidur di sampingnya sambil menggenggam jemari tangannya.


Kavin menarik tangannya membuat Adara terbangun dan melihat bahwa Kavin sudah sadar.


"Kakak." Adara tersenyum.


Ceklek, Adara dan Kavin menoleh kearah pintu. Terlihat orang tuanya masuk bersama Kenan.


Adara berlari menghampiri orang tuanya "Bunda, Ayah kakak sudah sadar." Adara memeluk Kanaya.


Mereka pun menghampiri Kavin di tempat tidurnya, Kanaya sangat bahagia melihat putra sulungnya membuka matanya.

__ADS_1


"Putraku." Panggil Kanaya.


Kavin yang masih bingung menatap Kanaya yang ada di sampingnya, ada rasa sedih melihat wanita parubaya yang seumuran dengan mommynya meneteskan air mata, tiba-tiba jemari tangan Kavin menghapus air mata Kanaya. "Aku tidak suka melihat air mata jatuh." Ucap Kavin.


"Apa keluargaku belum datang?" Tanya Kavin.


"Kami adalah keluargamu nak, kamu adalah putra kami yang di culik dua puluh tahun lalu." Jawab Alex.


Kavin terkejut mendengar ucapan Alex, "Maksudnya di culik dua puluh tahun lalu? Maaf saya putra kedua Keluarga Hanendra Tuan."


Alex pun menceritakan semuanya pada Kavin dengan ekspresi wajah menahan emosi, ada rasa kecewa di hati Kavin mendengar penjelasan dari Alex, dia tidak menyangka selama ini keluarga yang dia anggap keluarganya ternyata orang yang telah memisahkannya dari keluarganya.


"Jadi namaku bukan Rio tapi Kavin?" Semua orang mengangguk.


*****


Seminggu kemudian, Kavin sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah jauh lebih baik, tapi dua kali seminggu Kavin harus menjalani perawatan untuk menghilangkan kecanduannya mengomsumsi obat penghilang ingatan.


Kanaya dan Adara tidak menjemput Kavin hanya Alex dan Gio yang menjemputnya di rumah sakit, saat mereka ingin meninggalkan kamar tiba-tiba Devano masuk bersama Arka.


"Saya tidak tau kalau Rik, ah Kavin sudah boleh pulang." Devano tersenyum canggung.


Alex yang peka memutuskan meninggalkan Kavin dan Devano, "Kalian bicara lah, ayah akan menunggumu di parkiran nak." Alex menepuk bahu putranya lalu melangkah ke luar, Alex berhenti di samping Devano dan menoleh lalu menepuk juga bahu pria yang tengah berdiri di sampingnya.


Pintu kamar tertutup hanya tinggal mereka berdua, "Apa kamu juga mengetahui kalau aku putra Alex Handoko?" Tanya Kavin saat tubuhnya sudah menyentuh sofa.


"Iya." Jawab Devano.


"Apa kamu juga komplotan dengan mereka yang memisahkan aku dari keluargaku?" Devano hanya diam.


"Maaf." Jawab Devano.


Kavin meninggalkan Devano yang masih berada di dalam kamar, Kavin Kecewa pada Devano yang sudah di anggapnya kakak ternyata juga membohonginya.


Ponsel Devano berdering, tertulis nama Adara di layar ponselnya


"Halo."


"......."


"Aku akan kesana."


Setelah mengakhiri panggilannya Devano keluar dari kamar VIP tempat Kavin di rawat dan pergi ke parkiran menemui Arka yang sedang menunggunya di mobil.


"Kita ke cafe Alam Indah." Ucap Devano. Arka hanya mengangguk dan mengendarai mobil ke tujuan.


Lima belas menit mobil Devano masuk ke pekarangan cafe, dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam cafe. Adara yang melihat Devano masuk melambaikan tangannya.


"Sudah lama." Devano mengusap pucuk kepala kekasihnya.


"Kamu sangat sibuk ya, kasih kabar saja tidak bisa." Adara cemberut.


"Perusahaan sangat sibuk sekali akhir-akhir ini." Ucap Devano.


"Kita sudah lama pacaran tapi serasa asing." Ucap Adara.

__ADS_1


Devano diam, "Ini hanya sementara Dev, setelah aku mendapatkan perusahaan sepenuhnya aku bisa mengubah semuanya." Batin Devano.


"Dev." Panggil Adara.


"Ya."


"akhir pekan kam-" belum sempat Adara menyelesaikan ucapannya ponsel Devano berdering.


"Aku akan mengangkat telepon dulu." Devano pun menjauh dari Adara.


"Ada apa?"


"......"


"Kenapa mendadak seperti ini, baiklah aku akan segera ke kantor."


"....."


"Ya, urusanku sudah selesai."


Devano kembali ke Adara, "Adara, aku harus kembali ke kantor segera. Nanti malam kita dinner." Ucap Devano, Adara hanya mengangguk.


Di Kediaman Alex, Kanaya sudah menyiapkan makanan kesukaan Kavin. Dia begitu semangat mempersiapkan kedatangan putranya kembali ke rumah mereka. "Ani tolong siapkan cake yang ada di dapur." Ucap Kanaya.


"Yang red velvet itu Nyonya?" Kanaya mengangguk.


Tidak lama Alex, Kavin dan Gio datang, Kanaya yang melihat mereka pun menghampiri putranya.


"Ani tolong bawa koper Tuan Muda ke kamarnya." Perintah Kanaya.


"Baik Nyonya." Jawab Ani.


Mereka berempat duduk di meja makan, Kanaya mengambilkan makanan untuk Alex dan juga Kavin, "Apa ini cukup sayang." Tanya Kanaya pada Kavin.


"Iya cukup." Jawab Kavin.


Kanaya menatap putranya yang makan di sampingnya, tanpa terasa air matanya jatuh. Dua puluh tahun berpisah kini putranya tengah duduk makan di sampingnya dengan lahap, Alex yang melihat Kanaya meneteskan air mata dia mengusap-usap lengan istrinya.


Setelah mereka selesai makan, Alex dan Gio kembali ke kantor sedangkan Kanaya sibuk di dapur bersama Ani. Kavin masuk ke kamarnya dia menatap sekeliling kamar semasa kecilnya, ada rasa nyaman di hatinya.


Kavin pun masuk, di melihat foto yang ada di atas meja belajar, kedua anak kecil yang tengah tertawa bahagia. Ingatan tersamar kembali membuat kepala Kavin sakit, "Akhh!" Teriak Kavin.


Kanaya yang ingin ke kamar Adara mendengar teriakan putranya, Kanaya berlari ke kemar Kavin untuk melihat apa yang terjadi pada putra sulungnya.


Kanaya menghampiri Kavin yang sudah duduk di lantai sambil memegang kepalanya, "Kavin." Panggil Kanaya.


"Akkhh!" Kavin kembali berteriak.


Kanaya berlari keluar kamar dan berteriak memanggil Ani yang tengah membersihkan di ruang keluarga, "Ani, hubungi dokter sekarang." Ucap Kanaya."


Bersambung...


*Maaf beberapa hari ini gak update karena lagi sakit...


Jangan lupa Like, Komen dan Vote. 😊*

__ADS_1


__ADS_2