HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 37


__ADS_3

Adara berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya, Kanaya yang melihat Adara berlari menyusul ke kamar putrinya.


Kanaya mengetuk pintu kamar putrinya tapi Adara tidak membuka pintunya, Kanaya mencoba mengulan mengetuk tapi tetap pintu tidak terbuka.


Di dalam kamar Adara melucuti semua pakaiannya hingga tidak tersisa di tubuhnya, dia kembali menangis.


"Ini semua hanya mimpi bukan? Aku harus bangun dari mimpi buruk ini." Adara mencubit lengannya berharap semua hanyalah dalam mimpinya.


"Hiks,,hiks."


Tangisan Adara bergema di dalam kamarnya, Kanaya yang sedang merapikan kamar Kavin mendengar tangisan putrinya. Dia pun keluar dari kamar Kavin dan pergi ke kamar Adara, Kanaya mengetuk-ngetuk pintu tapi tidak di buka oleh Adara hanya tangisan pilu yang terdengar dari dalam kamar.


"Adara buka pintunya nak." Teriak Kanaya, ia masih mengedor-ngedor pintu kamar Adara.


"Adara kamu kenapa? Biarkan bunda masuk nak, buka pintunya." Kanaya kembali berteriak.


Ceklek, pintu kamar pun terbuka, Kanaya terkejut saat melihat putrinya tidak memakai pakaian dan begitu banyak tanda merah di tubuhnya.


"Apa yang terjadi padamu nak, siapa yang melakukan ini semua?" tanya Kanaya dengan wajah paniknya.


Adara langsung memeluk Kanaya dan menangis dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu, tidak ada penjelasan yang di berikan oleh Putrinya Kanaya kembali bertanya. "Apa yang terjadi Adara, beritahu bunda dan kenapa banyak tanda merah di tubuhmu?"


"Maafkan Adara bunda, ini kesalahan Adara, kebodohan Adara yang tidak mendengarkan perkataan ayah, bunda dan kakak." jawab Adara.


"Apa Devano yang melakukan ini?" tanya Kanaya.


Adara hanya mengangguk dan betapa syoknya Kanaya saat melihat putrinya menganggukkan kepalanya.


"Bunda akan memberitahu ayah dan kakakmu." Kanaya mengambil ponselnya dari saku bajunya tapi di tahan oleh Adara.


"Jangan bunda, jangan memberitahu mereka apa yang terjadi pada Adara." pinta Adara.


Dengan terpaksa Kanaya menganggukkan kepalanya dan Kanaya pun menenangkan putrinya.


Di bandara Devano sedang duduk di kursi tunggu penumpang dia terus menatap ponselnya, foto seorang gadis yang tengah tersenyum manis terpasang di layar depan ponselnya.


"Tuan Muda penerbangannya akan di lakukan sepuluh puluh menit lagi." ucap Arka.


"Aku memang laki-laki pengecut." ucap Devano yang masih terfokus di layar ponselnya.


Arka hanya terdiam, cara yang di lakukan majikannya memang cara pengecut dan brengs*k tapi dia tidak ingin berkomentar apapun dan ikut campur dengan masalah pribadi Tuan Mudanya.


"Saat aku tidak ada disini tolong lindungi Adara sampai aku kembali, walaupun papa sudah percaya padaku sekarang tapi papa belum melepaskan Keluarga Handoko." pinta Devano


"Baik Tuan Muda." Arka pun membungkukkan badannya.

__ADS_1


Devano pun berdiri, dia melangkahkan kakinya saat mendengar namanya sudah di panggil karena pesawatnya sudah akan berangkat.


Di kantor Alex sedang rapat, sebuah video tiba-tiba masuk dalam ponselnya. "Pengirimnya tidak ada nama?" batin Alex.


Dia pun menyerahkan ponselnya ke Gio, dia tidak ingin di ganggu saat rapat Gio pun menerima benda persegi milik Alex dan menyimpannya di dalam saku jasnya.


Tiga jam berlalu rapat pun di akhiri, Alex dan Gio kembali ke ruangan Direktur. Di dalam ruangan Alex sudah ada Kavin yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponsel miliknya.


"Apa kamu sudah lama disini nak?" tanya Alex pada putranya.


"Belum yah, bagaimana rapatnya." Kavin pun kembali bertanya.


"Ya berjalan lancar, ayah ingin kamu segera masuk ke perusahaan nak." ucap Alex.


"Saat kondisi Kavin sudah fit." jawab Kavin.


Ponsel Alex berdering di saku jas Gio, dengan cepat dia mengambilnya dan memberikannya pada Alex yang sedang duduk di sofa bersama Kavin.


Alex pun mengangkat panggilan telepon, betapa terkejutnya saat mendengar suara wanita di seberang telepon.


"......"


"Evelyn?" ucap Alex.


"Video? Apa itu penting yang harus aku lihat?"


"......."


Dengan cepat Alex mematikan panggilan itu dan membuka file video yang di kirim oleh Evelyn ke ponselnya.


Syok, ya wajah Alex tampak syok dan ekspresinya berubah merah padam saat menyaksikan video yang di kirim Evelyn ke ponsel miliknya.


"Ayah, ada apa?" tanya Kavin.


Alex menyodorkan ponselnya pada putra sulungnya, Kavin dan Gio pun melihat video itu, mereka berdua sangat terkejut saat melihat hal memalukan yang di lakukan oleh Adara dan Devano.


"Mereka memang licik, dengan menghancurkan Nona Muda seperti itu." ujar Gio.


"Aku harus bertemu dengan Devano, dia harus menjelaskan semuanya." Kavin pun berdiri dan siap untuk melangkahkan kakinya menuju pintu tapi di tahan oleh Alex.


"Jangan gegabah Kavin, adikmu adalah target awal mereka, dan mungkin selanjutnya kamu atau Kenan yang akan menjadi target." ucap Alex.


Kavin kembali duduk raut wajahnya sudah tidak bersahabat, begitu pun dengan Alex yang saat ini menahan amarahnya.


****

__ADS_1


Devano pun sudah sampai di Inggris, sebuah email dari papanya masuk dalam ponsel. Devano yang enggan untuk mengecek apa yang papanya kirim kepadanya, tidak lama papanya menghubungi Devano untuk melihat apa yang ada di dalam email itu.


Dengan terpaksa dia membukanya, dan Devano sangat terkejut saat melihat sebuah video dirinya dengan Adara saat melakukannya di apartement.


"Kerja yang bagus nak, papa percaya kalau kau tidak akan mengecewakan kepercayaan papa." Sebuah pesan masuk ke ponsel milik.


"Arggghh! Kenapa jadi seperti ini, ternyata papa sudah menyiapkan semuanya." teriak Devano.


"Aku harus mencapai tujuanku secepatnya, dan menjelaskan semuanya pada Adara." gumam Devano.


Alex sudah pulang bersama Kavin, mereka berdua di sambut hangat oleh Kanaya. "Adara dimana sayang?" tanya Alex saat Kanaya mengambil tas kerjanya.


"Dia sedang istirahat mas." jawab Kanaya.


"Apa aku beri tahu mas Alex soal Adara? Ah, tidak aku sudah berjanji pada Adara untuk merahasiakan masalah ini." batin Kanaya.


Kavin melihat bundanya sedang melamun, dia mendekati Kanaya dan bertanya. "Bunda, apa yang sedang bunda pikirkan?"


Kanaya kaget lalu tersenyum pada putranya, "Tidak ada nak, sekarang pergi bersihkan dirimu, lalu turun untuk makan." Kavin pun mengangguk dan pergi ke kamarnya.


Kanaya menyusul suaminya masuk kedalam kamar, dia menatap punggung Alex yang sedang membelakanginya.


"Ada apa Kanaya?" tanya Alex.


"Tidak ada, aku akan menyiapkan air hangat untuk mas mandi." Kanaya pun melangkah ke kamar mandi.


"Evelyn sudah mengirimku video Adara dan Devano." ucap Alex, Kanaya terkejut mendengar ucapan suaminya.


kanaya berbalik dan mendekati Alex yang sudah melepaskan bajunya, "Video? Maksud mas soal ....." Kanaya tidak melanjutkan ucapannya saat Alex menganggukkan kepalanya.


"Mereka memang kejam." Air mata kanaya menetes, dia takut putrinya akan sedih jika dia tau ternyata Devano memvideonya.


"Jangan biarkan Adara melihat video itu, aku tidak ingin putriku terluka lebih dalam lagi mas." Kanaya menangis dalam pelukan Alex.


"Tidak akan sayang, aku akan mengurus semuanya." jawab Alex.


Alex dan Kanaya tidak menyadari ada Adara yang sedang berdiri di depan kamar mereka, karena pintu kamar Kanaya terbuka sedikit membuat Adara mendengar semuanya.


"Kamu brengs*k Devano." batin Adara.


Adara pun kembali kekamarnya, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang...


Bersambung....


Jangan lupa Like, Komen dan Vote kakak...

__ADS_1


__ADS_2