
Setelah berbincang-bincang, Dokter Gunawan sekeluarga mohon pamit pulang begitupun dengan Alex dan Andra.
Didalam mobil, Adara hanya terdiam. Kenan yang mempunyai sifat ceria, mencoba membuat suasana di dalam mobil tidak hening.
"Kak Kavin, kamu tahu saat Kakak belum ditemukan, hidupku sangat penuh tekanan," ujar Kenan.
"Oh ya? Kenapa bisa?" tanya Kavin dengan senyum tipis.
"Karena Ayah," bisik Kenan yang duduk di sebelah Kavin.
"Ekhem! Ayah mendengarnya Kenan," ujar Alex yang duduk di belakang Kavin.
Mereka semua tertawa hanya Adara yang tersenyum, entah apa yang dia pikirkan sekarang.
"Pingg...." Sebuah pesan masuk di ponsel Adara.
"Besok kita ketemu, Adara." Adara hanya membaca pesan dari Dokter Syarif.
Kanaya menoleh ke arah putrinya yang tengah duduk diantara dia dan Alex.
"Ada apa sayang?" tanya Kanaya.
"Dokter Syarif, mengajak Adara ketemu besok," jawab Adara.
"Ayah menyukainya, dia pria yang bertanggung jawab dan cocok menjadi suamimu," ujar Alex.
"Aku juga menyukainya Ayah," ungkap Kenan.
Tidak lama mobil Alex berhenti di depan rumah, mereka semua keluar dari dalam mobil dan masuk ke rumah.
Adara langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya, dia langsung membuang tubuhnya di atas kasur.
Adara langsung duduk saat ponselnnya berdering, dia melihat sebuah nomor baru dengan kode area bukan dari Indonesia.
"Devano!" Batin Adara.
Adara membiarkan ponselnya berdering, dia takut jika benar itu Devano rasa sakit di hatinya tidak akan hilang dengan cepat.
"Pinggg...." Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Adara, aku akan kembali tiga bulan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya, beri aku kesempatan, 'Devano'."
Dengan cepat Adara melempar ponselnya, kebencian yang kini dia rasakan sudah tidak ada yang bisa mengobatinya walaupun dengan kata maaf.
"Aku harap kita tidak bertemu lagi Dev, aku akan menikah dengan orang lain," gumam Adara.
Adara menutup matanya, mencoba untuk tidur tanpa memikirkan apapun, tapi bayangan Devano terlintas sehingga dia membuka matanya.
Berulang kali dia mencoba memejamkan mata tapi tetap saja bayangannya kembali melintas di pelupuk matanya.
Adara bangun dan meraih ponselnya yang dia lempar di atas kasur, saat dia mengecek ada tiga ratus panggilan tak terjawab dan lima puluh pesan yang berisi tulisan "Adara."
Saat Adara ingin mematikan ponselnya, benda persegi yang di genggamnya kembali berdering, dengan cepat dia menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Halo."
"......."
"Kenapa kau diam, apa dengan diam kau kira aku tidak mengenalmu?"
".... Adara Ak...."
"Jangan menghubungiku lagi Dev, kita sudah selesai. Kau sudah mendapatkan apa yang sudah kau rencanakan, jadi jangan ganggu diriku lagi."
"Adara, aku akan kembali tiga bulan lagi. Beri aku kesempatan kedua."
"Itu tidak akan terjadi, aku akan menikah dengan orang lain sebelum kamu kembali. Jadi jangan ganggu kehidupanku dan keluargaku."
Adara memutuskan panggilan itu, sedangkan di Inggris Devano membanting semua barang-barangnya.
"Arghh!" teriak Devano, "Tidak Adara, Kau tidak bisa menikah dengan orang lain, kamu hanya milikku...." Devano mengacak rambutnya hingga berantakan.
***
Pagi ini Adara sudah berada di meja makkan bersama dengan keluarganya dan juga Dokter Syarif.
Sepuluh menit yang lalu, Dokter Syarif datang kerumah Adara dengan alasan untuk mengantarnya ke butik.
"Nak Syarif, makan yang banyak Nenek memasak terlalu banyak," ucap Bibi Fia.
"Terima kasih, Nek." Jawab Dokter Syarif.
Alex dan Kavin sudah selesai makan, mereka pamit untuk ke kantor, "Kak Kavin, Kenan ikut di mobil Kakak," teriak Kenan saat Alex dan Kavin akan pergi.
"Emmm... di pinjam sama teman," jawab Kenan dengan senyum lebarnya.
"Buruan, aku dan Ayah banyak pekerjaan."
"Baik. Bunda Kenan berangkat dulu," teriaknya sambil berlari menyusul Kakak dan Ayahnya.
Dokter Syarif menatap Adara yang duduk di depannya, entah kenapa hatinya begitu bahagia melihat wajah cantik wanita yang sudah di jodohkan dengannya.
Adara yang sudah menyelesaikan sarapannya berdiri, "Bunda, berangkat dulu," pamit Adara.
"Aku akan mengantarmu." Dokter Syarif langsung berdiri dari duduknya.
"Baiklah."
Mereka pun pamit pada Kanaya, Bibi Fia dan Paman Yogi. Adara dan Dokter Syarif masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan kediaman Adara.
Dokter Syarif mencoba memecahkan keheningan diantara mereka, "Nanti siang kamu tidak sibuk, Adara?" tanya Dokter Syarif.
"Sibuk," jawab Adara.
"Apa kita tidak bisa makan sia ...." Belum sempat Dokter Syarif melanjutkan ucapannya Adara sudah memotongnya duluan.
"Pekerjaanku akhir-akhir ini sangat banyak," tolak Adara, "Apa Dokter tidak sibuk di rumah sakit?" Adara menoleh ke arah Dokter Syarif.
__ADS_1
"Iy-iya, aku juga sibuk." Dokter Syarif tersenyum tipis.
Mobil Dokter Syarif berhenti di depan butik, saat Adara ingin keluar Dokter Syarif menarik pergelangan tangannya.
"Beri aku kesempatan untuk mengenalmu Adara," pinta Dokter Syarif.
"...." Adara hanya diam, dia tidak tau harus menjawab apa.
Di pintu masuk butik, Kira sedang memandangi mobil Dokter Syarif, dia melihat pria yang selama ini dia cintai secara diam-diam sedang menatap sahabatnya.
Rasa sakit di hati Kira membuatnya meneteskan air mata, saat dirinya sudah siap untuk mengatakan pada Dokter Syarif tentang perasaannya, terpaksa harus dia kubur dalam-dalam karena perjodohan pria idamannya dengan sepupunya untuk menyelamatkan nama baik keluarga.
"Apa rasa sakit ini akan hilang dengan cepat?" gumam Kira dan dia pun masuk ke dalam butik.
Saat Adara ingin berbicara ponsel Dokter Syarif berdering, tertulis "Papa." di layar ponselnya.
"Dari Papa," ucap Dokter Syarif.
Dengan cepat dia mengangkat telepon dari papanya, tidak lama panggilan itu terputus.
"Papa memintaku ke rumah sakit, ada pasien yang harus di operasi," ujar Dokter Syarif.
"Baiklah, terima Kasih." Adara pun keluar dari mobil.
"Adara apa kamu bisa memberiku waktu untuk mengenalmu?" Dokter syarif kembali bertanya saat Adara sudah menutup pintu mobilnya.
"Ya. Sampai ketemu lagi," jawab Adara, Dokter Syarif pun sangat senang mendengar jawaban Adara.
"Kalau begitu, aku pergi." Pamit Dokter Syarif.
"Hati-hati."
Saat mobil Dokter Syarif sudah tidak terlihat di pandangan Adara, dia pun masuk.
Adara masuk ke ruangan Kira dan Echa, "Kira kenapa kamu menangis?" tanya Adara.
"Tidak, aku masih teringat dengan film yang ku tonton semalam," Jawab Kira.
"Lihat aku Kira." Adara mengangkat wajah sahabatnya. "Kamu berbohong."
"Ya, aku berbohong. Aku berusaha menghilangkan rasa cinta ini Adara," Kira memukul dadanya.
Adara memeluk sahabatnya sekaligus sepupunya itu, dia ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Kira tapi tidak tau rasa sakit itu karena perjodohannya dengan Dokter Syarif.
"Ceritakan padaku, Kira." Adara menepuk-nepuk punggung Kira.
"Adara benar Kira, kita adalah sahabat maka kesedihan pun harus di bagi." Echa ikut memeluk kedua sahabatnya.
Echa dan Adara melepaskan pelukannya, dia ingin Kira menceritakan masalahnya pada mereka.
Kira menatap kedua sahabatnya yang sudah menunggunya bercerita, entah apa yang harus dia katakan sekarang. Jika jujur pernikahan sahabatnya bisa saja terancam batal, tapi jika dia tidak jujur sakit hati akan menyiksanya.
Bersambung.....
__ADS_1
Beberapa episode lagi, mas Devano bakal di kroyok...